
Yahya terkesiap. Dia diam sesaat, lalu buru-buru memindahkan tangannya ke pinggang Linda. Pura-pura mengguncangnya.
"Heh! Bangun! Kamu dipanggil juragan Tono!" Yahya pura-pura membangunkan Linda.
Linda hanya menggeliat.
"Bangun!" seru Yahya lagi.
Asih tak melihat saat Yahya tadi meremas gundukan Linda. Dia hanya melihat sepintas tangan Yahya tanpa tahu apa yang sedang dipegangnya.
"Ambil air aja! Guyur mukanya biar cepet bangun!" ucap Asih dengan kesal pada Linda.
Lalu Asih berlalu dan masuk ke kamar Tania.
Asih mengetuk pintu sebelum masuk. Lalu membukanya perlahan. Dilihatnya Tania sedang berbaring dengan bedcover menyelimuti sekujur tubuhnya.
Asih meletakan nampan yang dibawanya di atas nakas kecil. Lalu Asih membangunkan Tania.
Sebenarnya Asih tak tega, melihat wajah Tania yang pucat. Tapi tadi Tono mengatakan kalau Tania harus minum susu, makan roti, juga minum vitamin.
Asih yang belum tahu penyebabnya, takut kenapa-napa kalau sampai dia tak melakukan perintah Tono.
"Neng. Neng Tania. Bangun, Neng." Asih mengguncang bahu Tania perlahan.
Tania membuka matanya. Dilihatnya Asih sedang berdiri di dekatnya.
"Neng Tania kenapa?" tanya Asih.
Bukannya menjawab, Tania malah menangis. Tangis yang dari tadi ditahannya.
Asih duduk di tepi pembaringan, Tania langsung beranjak dan memeluk Asih dengan erat sambil terus menangis.
Tania menumpahkan tangisnya di pelukan Asih. Asih hanya bisa menepuk-nepuk punggung Tania dengan lembut. Berusaha memberi kenyamanan.
Asih membiarkan Tania menangis sampai puas. Dia tak bertanya apapun dulu.
Sampai akhirnya Tania melepaskan pelukannya, Asih menatap wajah Tania yang bersimbah air mata.
Dengan tangannya, Asih menghapus air mata Tania.
"Neng Tania kenapa? Mau cerita sama Bibik?" tanya Asih perlahan.
Tania mengangguk pelan.
"Minum dulu ya, Neng." Asih mengambil gelas berisi air putih, lalu memberikannya pada Tania.
Tania meneguknya sedikit.
Asih meletakan kembali gelas itu.
"Cerita sama Bibik. Biar Neng Tania lebih lega," pinta Asih.
Tania menghela nafasnya. Dia masih terus sesenggukan.
"Rendi, Bik. Rendi...." ucap Tania sambil sesenggukan.
"Kenapa Rendi? Dia selamat kan, Neng?" Asih juga sangat prihatin dengan keadaan Rendi.
"Rendi....kritis, Bik. Huwaa..." Tania kembali menangis.
__ADS_1
Asih yang mendengarnya pun ikut meneteskan air mata.
"Terus gimana, Neng?" tanya Asih.
"Rendi....kehilangan...banyak darah," jawab Tania setelah berhenti menangis.
"Terus?" Asih semakin mengkhawatirkan Rendi.
"Aku....aku menyumbangkan darahku....untuk...Rendi." Tania masih terus terisak.
"Alhamdulillah. Berarti Neng Tania habis diambil darahnya, kan?" tanya Asih.
Tania mengangguk.
"Kata juragan Tono, Neng Tania harus minum susu yang banyak. Makan roti sama vitamin. Ayo, Bibik bantu."
Asih yang tak mau melihat Tania sedih lagi, segera mengalihkan pembicaraan. Sebab dia sendiri pun tak tega mendengarnya.
Asih masih ingat saat tadi pagi dia melihat kepala Rendi berdarah.
Asih mengambil gelas berisi susu. Lalu pelan-pelan membantu Tania meminumnya.
"Udah, Bik," ucap Tania. Dia baru meminum setengahnya.
"Rotinya dimakan ya, Neng?" Tanpa menunggu persetujuan Tania, Asih menyuapkan roti ke mulut Tania.
Tania mengunyahnya perlahan. Dengan sabar, Asih menyuapi Tania.
Asih merasa seperti menyuapi anaknya sendiri, saat Tari sakit parah dahulu.
"Rendi akan dioperasi setelah Hb darahnya normal, Bik. Semoga darah yang tadi aku berikan, cukup," ucap Tania. Dia sudah bisa lancar bicara. Tangisnya sudah berhenti.
"Mungkin besok, aku akan diambil lagi darahnya. Ambil saja semua darahku. Aku rela, yang penting Rendi tertolong," lanjut Tania.
Asih tersenyum, melihat ketulusan hati Tania. Dalam hati Asih berdoa, semoga ini adalah jalan untuk Tania bisa mendapatkan cintanya kembali.
Sementara Yahya bernafas lega, karena aksinya tadi tak dilihat oleh Asih.
Linda sebenarnya tahu kalau Yahya sedang membangunkannya. Bahkan dia merasakan saat tadi Yahya meremas miliknya.
Linda sengaja membiarkannya. Dia berharap Yahya melakukan lebih.
Linda ingin menjebak Yahya. Biar tak hanya dia yang nantinya harus menghadapi kemarahan Tono.
Linda juga tahu saat Asih menegur Yahya. Linda berpura-pura tetap terlelap, biar Asih tak mengamuk padanya.
Linda memicingkan matanya sekilas, saat Yahya sedang melihat ke arah pintu untuk memastikan Asih sudah pergi.
Lalu memejamkan matanya lagi, saat Yahya melihat ke arahnya.
Kali ini Linda membuka lebih lebar lagi kakinya. Hingga pemandangan itu semakin menggoda Yahya.
Bahkan Linda pura-pura sedang mengigau. Dia mendesah perlahan dengan suara sangat menggairahkan.
Linda menggeliat-geliatkan bagian bawahnya perlahan.
Yahya menatapnya tak berkedip. Di mata Yahya, Linda seakan sedang menari dengan gerakan eksotis.
Linda membuka matanya sedikit, sangat sedikit, hingga Yahya yang tak memperhatikan mata Linda, tak menyadarinya.
__ADS_1
Linda melihat Yahya yang sedang berusaha menahan diri. Linda juga memperhatikan jakun Yahya yang naik turun.
Linda semakin menggeliatkan bagian bawahnya dan membuka lebar-lebar.
Yahya tak sanggup lagi menahan libidonya. Dan demi keamanan, Yahya duduk di sisi tempat tidur menghadap ke arah pintu.
Berjaga-jaga kalau ada orang lagi yang melihatnya.
Perlahan, tangan Yahya terulur kembali mendekat ke arah milik Linda. Kali ini dia ingin langsung menyentuhnya. Bukan cuma di balik ****** ***** Linda.
Yahya langsung memasukan tangannya ke dalam.
Hap!
Yahya mendapatkannya. Sebuah gundukan berbulu halus yang sangat lembut dan empuk.
Yahya semakin keranjingan, karena Linda semakin membuka aksesnya.
Yahya membelalak saat mendapati gundukan itu telah basah. Spontan Yahya menatap wajah Linda.
Linda pura-pura baru membuka matanya. Yahya langsung menarik keluar tangannya.
Linda tak mau permainan itu berakhir begitu saja. Dia tahan tangan Yahya yang mau keluar.
Yahya membeku. Dalam hatinya malah bertanya, apa yang akan dilakukan Linda.
Yahya berusaha menarik tangannya lagi, tapi Linda terus menahannya.
Benak Yahya berperang, antara keinginan melanjutkan akisnya atau menarik tangannya.
Lalu tiba-tiba, Yahya teringat saat Tajab akhirnya terjatuh dari balkon. Dan kini Tajab yang tidak jadi mati, harus melanjutkan hidupnya dengan bantuan tongkat.
Karena dari informasi yang didapat Yahya dari Wardi tadi pagi, kemungkinan besar Tajab akan cacat seumur hidup.
Yahya bergidig ngeri. Dia tak mau mengalami nasib yang sama, cuma karena kenikmatan sesaat.
Yahya meyakinkan dirinya untuk tak melanjutkan aksinya. Yahya memejamkan matanya sebentar.
Dan dasarnya Yahya memang mau, dia meremas lagi sebentar.
Linda sudah GR. Dia pikir Yahya terpedaya olehnya. Linda mendesah sambil menahan tangan Yahya.
Yahya yang sudah memantapkan diri karena takut, langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Bangun! Juragan Tono sudah menunggumu di bawah. Bawa juga semua pakaianmu!" ucap Yahya dengan tegas.
Linda tersenyum licik.
"Oke. Nanti aku turun. Tapi kita masih punya sedikit waktu, apa kamu tak ingin mencicipinya?"
Dengan nakal, Linda malah menurunkan ****** ********. Lalu membuka kakinya lebar-lebar.
Yahya menatapnya dengan jantung berdegup sangat kencang.
Pemandangan itu begitu nyata. Tak lagi terhalang.
Linda terus saja menggoda Yahya.
Mulut Yahya komat kamit.
__ADS_1
Ya Tuhan, lindungilah hambamu ini dari godaan Linda yang terkutuk! Doa Yahya dalam hati.