HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 234 MENAKUT NAKUTI


__ADS_3

Keesokan harinya saat Sari dan Tono pergi, Monica datang ke rumah Rendi. Kebetulan Rendi sedang duduk-duduk di teras.


Rendi sudah janjian siang nanti mau ke rumah Tono, setelah Tono check up ke rumah sakit.


Tono memang harus mematuhi jadwal kontrolnya agar penyakitnya bisa segera sembuh.


"Hay, Ren," sapa Monica. Seperti biasanya Monica mengenakan pakaian ketat dan minimalis.


Rendi hanya melirik sekilas. Rendi tak lagi tertarik dengan keindahan semu itu. Keindahan yang juga dinikmati banyak orang.


Monica menghampiri.


Cup!


Rendi langsung melengos dan sesaat kemudian menatap sinis ke arah Monica.


"Mau apa kamu?" tanya Rendi dengan sinis. Dihapusnya bekas kecupan Monica di pipinya.


"Kok mau apa? Ya mau ketemu kamu dong sayang," jawab Monica.


"Sekarang udah ketemu, kan? Mau ngapain lagi?" Suara Rendi masih sinis.


"Aku kangen kamu, Sayang." Monica berusaha meraih tangan Rendi. Tapi dengan cepat, Rendi menepisnya.


"Kok gitu?" tanya Monica tak mau mengerti. Padahal kalau dia mau lebih sensitif lagi, mestinya dia paham dengan penolakan Rendi.


Bukan cuma sekarang, sejak Rendi menemukan Tania lagi, Rendi sudah berusaha menjauh dari Monica.


Baginya Monica hanyalah tempat singgah, hanya sebagai pelampiasannya saja. Bukan tempat berlabuh yang bisa memberinya kenyamanan.


"Hari ini aku mau pergi!" ucap Rendi.


"Kemana? Aku ikut..." pinta Monica dengan manja.


"Aku mau menemui Tania!" sahut Rendi.


Monica terkesiap. Matanya langsung terbelalak.


"Tania? Cewek matre dan kampungan itu?" tanya Monica.


Rendi menatap sinis lagi pada Monica.


"Jangan pernah menghina Taniaku!" seru Rendi.


"Hhh! Taniamu? Sejak kapan? Ingat Rendi, dia itu ibu tiri kamu!" ucap Monica di telinga Rendi.


Monica sudah mencari tau tentang Tania. Dan informasi yang didapatnya bukan cuma hoax.


"Mantan ibu tiri!" sahut Rendi.


Rendi tak memungkiri itu, karena kenyataannya memang begitu.


"Terus, kamu mau menjalin hubungan dengan mantan ibu tirimu itu?" tanya Monica dengan nada merendahkan.


"Kenapa tidak," jawab Rendi cuek.


"Mama kamu pasti tak akan setuju, Rendi!" ucap Monica.


"Suatu saat mamaku pasti akan setuju!" sahut Rendi. Dia tak mau dikalahkan oleh Monica.


"Aku akan membuat mama kamu semakin tak menyetujuinya!" ucap Monica dengan yakin.

__ADS_1


"Oh ya? Silakan saja!" tantang Rendi.


Rendi yakin, Sari juga tak akan pernah menyetujui kehadiran Monica.


Mila datang membawakan air putih dan obat untuk Rendi. Mestinya obat itu sudah harus dikonsumsi Rendi tadi pagi setelah makan. Tapi Rendi mengulur-ulur waktunya.


Mila yang dari awal sudah tak menyukai Monica, menatap sinis wanita dengan pakaian minimalis itu.


Lalu tatapannya beralih ke Rendi. Mila ingin memastikan dulu apakah Rendi menyukai kedatangan Monica atau tidak.


Jangan sampai Mila sudah bersikap garang, malah justru dia yang ditendang oleh Rendi.


Rendi pun menatap Mila, dan memberi tanda pada Mila, kalau dia tak menyukai kehadiran Monica.


Mila mengangguk mengerti.


Wah, kayaknya ada mainan asik pagi ini. Batin Mila.


Mila memang suka sekali kalau mengerjai orang. Apalagi ada yang mendukungnya.


"Mas Rendi....Minum obatnya dulu, ya," ucap Mila dengan nada dibikin manja.


Rendi pun mengangguk. Terpaksa nurut. Padahal dari pagi tadi, Rendi malas sekali meminum obatnya.


Rendi maunya minumnya nanti kalau sudah ketemu Tania. Dan Tania yang membantunya meminum obat itu.


Dengan lembut Mila melayani Rendi. Sengaja biar bikin Monica bete.


Monica menatapnya tak suka. Lalu merebut gelas yanv dipegang Mila.


Tapi karena Mila berusaha mempertahankannya, membuat isi gelas tumpah berceceran di lantai.


Mila terkesiap. Lalu sekalian saja membuang isi gelas yang sudah kembali di tangannya.


"Heh! Jangan kurang ajar, kamu!" bentak Monica.


"Memangnya kenapa?" tantang Mila.


"Kamu itu cuma perawat di sini! Cuma babu!" seru Monica menghina Mila.


Mila tak gentar. Juga tak tersinggung. Hanya geram saja mendengarnya.


"Enggak masalah, kalau jadi babunya mas Rendi! Dari pada kamu....!" Mila menelisik penampilan Monica dengan pandangan jijik.


Ih, amit-amit. Punya badan diumbar-umbar kayak gitu. Batin Mila.


Mila paling tak suka dengan wanita yang terlalu mengumbar auratnya. Meski dirinya juga belum sepenuhnya tertutup, tapi setidaknya masih punya malu.


"Kepedean!" gumam Mila.


"Mas Rendi. Kita minum obatnya di kamar aja, yuk. Biar enggak ada yang mengganggu," ucap Mila dengan lembut pada Rendi.


Rendi kembali mengangguk.


Mila meletakan gelas di atas meja dan mengantongi obat Rendi. Lalu Mila mendorong kursi roda Rendi.


"Heh! Rendi mau dibawa kemana?" tanya Monica. Dia berusaha menghalangi jalan.


"Ke kamar," jawab Mila dengan santai.


"Biar aku aja yang membawanya!" Monica berusaha merebut lagi. Merebut kursi roda Rendi.

__ADS_1


"Jangan! Ini tugasku! Kamu silakan tunggu disini, atau pulang!" ucap Mila.


"Enak aja! Kamu enggak bisa mengusirku!" sahut Monica dengan ketus.


"Oh ya? Kenapa enggak bisa?" tanya Mila meledek.


"Aku kekasih Rendi. Jadi aku berhak ada dimanapun Rendi berada!" jawab Monica.


Mila kembali menatap Monica dengan jijik. Mila menatap belahan dada Monica yang nyaris terlihat.


"Kayaknya waktu itu mas Rendi hanya khilaf aja deh. Atau cuma mau bersenang-senang aja dengan kamu," ucap Mila.


Sialan, si Mila! Memangnya aku laki-laki hidung belang, yang cuma suka bersenang-senang saja. Batin Rendi memaki Mila.


Tapi demi bisa membuat Mila mengusir Monica, Rendi diam saja.


"Jaga mulut kamu! Rendi sangat mencintaiku! Iya kan, Ren?" Monica berharap Rendi mengingat semua yang telah mereka lakukan dan mengiyakan ucapannya.


"Benar begitu, Mas Rendi?" tanya Mila.


Rendi menggeleng sambil mencibir.


"Kamu lihat sendiri kan? Apa perlu diucapkan?" Mila menatap meledek pada Monica.


"Rendi! Kamu lupa, apa yang pernah kita lakukan?" rengek Monica.


"Aku udah membayarnya, kan?" sahut Rendi dengan entengnya.


"Rendi! Aku bukan wanita bayaran!" sahut Monica dengan geram.


"Tapi kamu sudah meminta banyak dariku. Anggap aja impas dengan apa yang telah kita lakukan," ucap Rendi.


"Rendi!" Monica merasa tak terima.


"Masih kurang?" ledek Rendi.


"Rendi!" Monica kembali berteriak.


Sri yang mendengar ada kegaduhan, berlari keluar. Dia juga merasa bertanggung jawab dengan keselamatan Rendi.


"Mbak Sri. Tolong tangani itu wanita. Aku mau mengurus mas Rendi dulu di kamar," ucap Mila pada Sri.


Siap! Jawab Sri dalam hati.


Dan Sri pun maju menghampiri Monica.


Kesempatan itu dimanfaatkan Mila untuk membawa masuk Rendi.


Sri pun mulai meladeni Monica. Dan mereka adu mulut.


Mila tak mau lagi peduli. Dia membawa masuk Rendi. Tapi ke ruang makan, bukan ke kamar. Karena di kamar Rendi tak ada air minum.


Sedangkan Mila tetap harus bisa membuat Rendi meminum obatnya.


Mila mengambil lagi gelas dan mengisinya.


"Sekarang minum obatnya," ucap Mila. Dia mengulurkan gelas dan obat Rendi.


"Enggak mau!" tolak Rendi.


Hhmm! Mila menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kalau enggak mau, aku panggilin Monica nih. Biar Monica yang meminumkannya," ancam Mila.


Rendi mendengus kesal. Lalu meraih gelas dan obatnya. Mila pun tersenyum puas. Berhasil menakut-nakuti Rendi.


__ADS_2