
Tania keluar dari kamar mandi setelah merasa kedinginan. Tubuhnya hanya dibalut dengan handuk.
Tania mengambil pakaian yang disediakan untuknya, karena Tono belum juga memberikan tasnya.
Setelah selesai berpakaian, Tania duduk merenung di kursi balkon. Matanya menatap ke arah luar.
Dia ingin mencari Rendi, tapi ponselnya tertinggal di rumah pamannya.
Perutnya sudah keroncongan, tapi Tania tak berani keluar dari kamarnya.
Dia takut bertemu dengan Tono. Tadi Tono sudah menamparnya dan mengata-ngatainya.
Cukuplah bagi Tania menerima perlakuan Tono di dalam kamar. Jangan sampai kedua pembantu di rumah ini melihatnya.
Tania malu, apalagi kalau Tono kembali mengungkit masalah tadi di depan mereka.
Tania hanya bisa meminum air putih dari dispenser yang ada di kamar itu.
Hingga malam menjelang, Tono tak kembali ke kamar. Dua pembantu di rumah itu pun tak mengantarkan makanan untuknya seperti tadi siang.
Dengan perut yang terus saja berbunyi, Tania membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
Tania mencoba memejamkan matanya untuk bisa melupakan rasa laparnya.
Tengah malam, Tania terbangun. Tangannya menyentuh tubuh seseorang di sebelahnya.
Tania membuka matanya lebar-lebar. Lampu kamar yang temaram, membuatnya susah melihat dengan jelas. Apalagi dia baru saja membuka matanya.
Tono tengah terbaring menelentang. Mulutnya terbuka dan suara dengkurannya cukup keras.
Tania menggeser tubuhnya. Dia batasi dirinya dengan guling yang tadi dipeluknya.
Suara dengkuran Tono sangat mengganggunya hingga dia sulit tidur lagi.
Tania beringsut untuk turun. Mumpung Tono sudah tertidur, dia akan mencari letak dapur. Siapa tahu ada makanan yang bisa buat mengganjal perutnya.
Tania membuka pintu kamar perlahan. Jangan sampai Tono terbangun.
Bagaikan pencuri yang memasuki rumah sasarannya, Tania berjalan berjinjit. Hingga dia sampai di lantai satu.
Di lantai satu pun cahaya lampunya remang-remang. Banyak lampu yang sengaja dimatikan.
Tania berjalan perlahan-lahan mencari di mana letak dapur. Rumah Tono yang besar membuat Tania kesulitan menemukannya.
Dan akhirnya Tania pun menemukan dapur. Dia bernafas dengan lega.
Tania melihat ke meja makan. Beruntung masih ada banyak makanan di sana. Tania mencari piring dan sendok.
Lalu mengambil makanan yang diinginkannya. Karena lapar, Tania makan dengan lahap.
Selesai makan, untuk menghilangkan jejak, Tania membuat makanan-makanan itu seperti tak tersentuh. Dia rapikan makanan itu seperti semula.
__ADS_1
Lalu Tania mencuci piring dan sendoknya perlahan. Tania mengambil gelas dan mencari letak dispenser. Tapi tidak ketemu.
Akhirnya Tania mengembalikan gelas ke tempatnya. Dia berfikir untuk minum di kamar saja. Kalau cuma air putih, isi dispenser di kamar masih lebih dari cukup.
Tania kembali berjinjit untuk naik ke lantai dua. Dia masuk ke kamarnya lagi.
"Dari mana kamu?" Tania kaget setengah mati. Tono terbangun.
"Mm. Aku...Cari minum," jawab Tania menundukan wajahnya.
"Minum apa?"
"Air putih," jawab Tania.
"Apa kamu tidak melihat dispenser segede itu?"
Tania menelan ludahnya. Alasannya jelas sangat tidak tepat.
Tania tak menjawab omongan Tono. Dia berjalan ke arah dispenser lalu menuangkan air ke dalam gelas yang sudah dipakainya.
"Ganti gelasnya yang baru!"
Tania tersentak. Tono begitu kasar suaranya.
"Biar ini saja." Tania segera meneguk air putihnya karena makanan tadi terasa masih berhenti di tenggorokannya.
"Kalau kamu lapar, di meja makan sudah aku suruh sediakan makanan buat kamu. Aku tidak mau kamu mati di sini karena kelaparan!"
Jadi dia tidak merasa bersalah memakannya. Meski dia kesal dengan omongan Tono barusan.
"Aku tidak lapar," jawab Tania, lalu duduk di sofa. Dia tak berniat untuk terus tidur. Perutnya masih terasa begah karena makan terlalu banyak.
"Kamu mau tidur di situ?" tanya Tono.
Belum sempat Tania menjawab, Tono sudah melemparkan sebuah bantal untuknya.
"Pakai bantal itu. Aku tidak mau bantal sofa terkena ilermu!" seru Tono.
Mata Tania langsung berkaca-kaca. Kalimat Tono sangat menyinggung perasaannya. Tapi Tania tak bisa berbuat apa-apa. Karena dia hanya tamu di rumah mewah Tono ini.
Tania menyingkirkan bantal sofa yang dilapisi kain berenda emas. Dengan kesal Tania melemparnya ke sisi lainnya.
Bantal begitu saja tidak boleh dipakai. Dasar pelit! Tania menggerutu.
Lalu merebahkan tubuhnya dengan bantal yang tadi dilemparkan Tono.
Tania melihat Tono sudah kembali mendengkur. Tania melihat dengan tatapan jijik.
Aku juga tidak mau tidur dekat kamu bandot tua! Tania terus menggerutu.
Dan akhirnya Tania tidur meringkuk di sofa.
__ADS_1
Tania terbangun lagi jam lima pagi. Dia lihat Tono masih mendengkur. Tania masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu.
Tania mulai sadar kalau selama ini dia terlalu malas beribadah.
Selesai sholat, Tania melihat Tono menggeliat.
"Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Aku juga mau sholat subuh!" ucap Tono dengan suara serak.
Tania menahan senyumnya. Apa tidak salah yang dia dengar? Sejak kapan seorang lintah darat seperti Tono sadar beribadah?
Dengan kesal, Tono masuk ke kamar mandi. Tania pikir, Tono akan berwudhu dan segera sholat meski sudah kesiangan.
Ternyata Tono langsung berganti pakaian dan bergegas keluar kamar.
"Kalau kamu mau sarapan, turun ke bawah. Tak ada yang akan mengantarkan makanan ke sini!" ucap Tono sebelum menutup pintu.
Tania sangat senang mendengarnya. Itu artinya dia tidak dikurung lagi dalam kamar.
Tania bergegas turun setelah merapikan penampilannya.
Dia akan menyampaikan keinginannya mengambil ponsel di rumah pamannya.
Tania menghampiri Tono yang sedang sarapan. Bukan untuk sarapan bareng. Tania masih kenyang karena semalam dia sudah diam-diam makan banyak.
"Duduklah. Jangan makan sambil berdiri." Ucapan Tono masih saja ketus.
Tania menarik kursi di seberang Tono. Dia hanya menatap aneka makanan saja yang ada di meja. Sebagian adalah makanan yang disantapnya semalam.
Rupanya si bandot tua itu tidak mau rugi. Makanan kemarin masih disantapnya. Kayak orang susah saja, batin Tania.
"Kenapa cuma dilihat saja?" tanya Tono.
Tania menatap suaminya itu sekilas. Lalu mengambil makanan dengan piring yang sudah ada di dekat makanan-makanan itu.
"Aku nanti minta ijin ambil ponselku di rumah paman," ucap Tania tanpa menatap wajah Tono.
"Tidak perlu. Nanti aku belikan kamu ponsel baru."
Tono juga tak ingin Tania berhubungan kembali dengan Rendi. Meski Rendi adalah anak semata wayangnya, tapi saat ini Tono sangat membencinya. Karena Rendi telah mengambil haknya.
Tania bukannya tidak senang akan dibelikan ponsel baru, tapi dia tidak hafal dengan nomor teman-temannya. Terutama Rendi.
"Tapi aku butuh nomor-nomor yang ada di ponselku," sahut Tania.
"Nomor siapa? Pamanmu? Bibimu? Atau budemu yang kayak gajah bengkak itu? Nanti aku kasih!"
Tania mati kutu. Dia tak punya alasan lagi. Akhirnya Tania hanya bisa mengangguk lalu menyantap makanannya.
"Aku pergi dulu. Ada kerjaan pagi-pagi. Jangan berani-berani keluar rumah tanpa seijinku. Atau pamanmu akan menanggung akibatnya!" ancam Tono.
Selalu saja pamannya yang akan menjadi sasaran. Tania menatap Tono dengan kesal.
__ADS_1