
Sementara sebelum Tono sampai, Danu dan Eni sedang membicarakan tentang Tania.
Keponakan yang tak lagi bisa mereka temui. Karena Tono selalu membuat alasan agar mereka tak bisa menemui Tania.
"Pak. Aku kangen sama Tania. Beberapa malam ini, aku selalu dimimpiin Tania," ucap Eni dengan sedih.
"Aku juga kangen banget, Bu. Aku berkali-kali lewat rumahnya Tono. Tapi pintu gerbangnya yang tinggi itu selalu terkunci," sahut Danu.
Danu berhasil mendapatkan alamat rumah Tono dari beberapa temannya.
"Besok aku diantar ke sana ya, Pak," pinta Eni.
"Kamu enggak bakalan bisa masuk, Bu. Aku pernah mencoba menggedornya. Tapi tak ada yang bukain. Dan tak ada tanda-tanda Tania di sana," sahut Danu.
"Terus si Tono itu ngumpetin Tania dimana, ya?" tanya Eni.
"Entahlah. Besok aku coba cari info lagi," jawab Danu.
"Memang sialan itu si tua bangka! Tau begini, aku enggak menyetujui permintaannya menikahi Tania," ucap Eni.
"Dan kamu tega membiarkan aku membusuk di penjara?" tanya Danu.
Eni menatap wajah Danu dengan kesal. Selalu itu senjata Danu untuk melemahkan Eni.
"Masih mending kamu di penjara, Pak. Aku masih bisa menjenguk. Paling juga setahun!" sahut Eni dengan kesal.
"Enak aja! Aku kamu suruh tidur di penjara setahun? Bisa mati kedinginan aku di sana!" Danu menyalakan rokoknya. Dia juga sangat kesal pada Tono.
"Percuma saja kita punya rumah. Punya angkot. Punya kios. Kalau kita harus kehilangan anak," ucap Eni dengan sedih.
Dia yang sudah merawat dan membesarkan Tania seperti anak sendiri, benar-benar merasa sangat kehilangan.
Danu juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur.
Bahkan sekarang Widya, kakaknya Danu, menjauhi mereka. Widya merasa kesal dengan mereka berdua.
"Udahlah, Bu. Besok kita ke sana. Bagaimana pun caranya, kita harus menemui Tania!" ucap Danu mencoba menenangkan istrinya.
Danu menarik tangan Eni.
"Mau apa kamu, Pak?" tanya Eni.
"Kita olah raga sebentar. Aku juga kangen sama kamu, Bu," ucap Danu sambil terus menarik tangan Eni menuju kamar.
"Lebay kamu, Pak! Kayak enggak pernah ketemu aja!" sahut Eni, tapi dia menurut juga.
"Memangnya enggak boleh, kangen sama istri sendiri? Apa aku mesti kangen sama istri orang?" goda Danu.
"Ya sana! Kalau kamu kepingin burungmu aku potong!" ancam Eni.
Danu terkekeh. Lalu mulai melucuti pakaian Eni.
__ADS_1
Eni yang cuma mengenakan daster, membuat Danu lebih cepat melepaskannya.
Sejenak mereka melupakan soal Tania. Mereka sangat menikmati saat-saat seperti ini.
Semua masalah seakan hilang saat mereka sudah bergulat di atas ranjang.
Mereka terus saja saling menyerang dan menerjang. Sampai akhirnya, aktifitas mereka terhenti saat mendengar teriakan Tono sambil menggedor pintu rumah.
"Itu suara Tono, Pak!" Eni menahan tubuh Danu yang sedang bergerak di atas tubuhnya.
Danu pun menghentikan gerakan, dan menajamkan pendengarannya.
"Danu! Keluar kamu!" teriak Tono lagi. Dia terus saja menggedor pintu rumah Danu.
Danu segera turun dari tubuh Eni.
"Pak! Pakai baju kamu! Apa kamu mau keluar telanjang begitu?" ucap Eni.
Danu ternyata tak sadar kalau dia sedang telanjang bulat.
Lalu dengan malas, Danu memakai kembali bajunya.
Ada rasa kesal, karena senjatanya yang hampir saja memuntahkan peluru, terhenti begitu saja.
Eni menahan senyumnya, melihat wajah Danu yang ditekuk. Dia juga buru-buru memakai kembali dasternya.
Eni mengikuti langkah Danu keluar. Dia ingin tahu apa yang dimaui Tono selanjutnya. Setelah Tono mengambil anak mereka.
"Mana Tania!" Tono langsung saja berteriak.
"Tania? Bukannya kamu yang sudah menyembunyikannya!" sahut Danu.
"Jangan macem-macem kamu, Danu! Mana Tania, hah!" Tono menarik kerah baju Danu.
Danu langsung menepiskan tangan Tono dengan kasar. Dia sekarang tak merasa takut lagi pada Tono.
Sekian lama dia dipisahkan dengan Tania, membuat Danu lebih berani.
"Kamu yang jangan macem-macem!" sahut Danu setelah berhasil melepaskan cengkeraman Tono.
" Diman! Geledah rumah ini!" perintah Tono pada Diman.
"Siap, Juragan!" sahut Diman.
"Awas! Minggir!" Tono menyingkirkan tubuh Danu dengan kasar. Dia langsung nyelonong masuk, diikuti Diman.
Danu dan Eni membiarkannya saja. Toh, memang Tania tak ada di dalam rumahnya.
Tono dan Diman membuka semua pintu kamar. Termasuk kamar mandi juga. Tapi Tania tak ditemukan.
"Dimana kalian sembunyikan Tania?" teriak Tono lagi. Dia sudah tak bisa lagi menahan amarah.
__ADS_1
Kemarahan yang semestinya bukan kepada Danu dan Eni. Mereka tak tahu apa-apa. Bahkan tak pernah lagi ketemu dengan Tania.
Hanya sekali Tania pulang, saat mengambil ponselnya. Tapi kemudian nomor telpon Tania tak bisa dihubungi lagi.
"Kenapa kamu tanyakan pada kami? Kan kamu yang sudah menyembunyikannya!" sahut Danu.
"Jangan berkelit kamu, Danu! Aku bisa melaporkan kamu ke polisi! Kamu telah menyembunyikan istriku!" ancam Tono.
"Laporkan saja! Aku tak takut! Aku juga akan melapor balik. Kamu telah menyembunyikan anak kami selama ini!" sahut Danu dengan lantang.
"Kurang ajar, kamu!" Tono hendak melayangkan tangannya ke wajah Danu.
Danu segera menangkap tangan Tono dan memelintirnya.
"Berani kamu teriak lagi, aku patahkan tanganmu!" ucap Danu dengan geram.
Diman segera berusaha melepaskan cengkeraman tangan Danu.
Danu menghempaskan Tono, hingga hampir jatuh. Lalu Danu beralih pada Diman.
Eni menelan ludahnya. Dia mundur beberapa langkah. Dia melihat wajah Danu yang penuh amarah.
Eni melirik ke kanan dan ke kiri. Dia mencari alat apa yang sekiranya nanti bisa untuk menolong Danu saat terjepit.
Danu menatap wajah Diman dengan tajam.
"Apa kamu? Mau coba-coba sama aku?" Danu melipat lengan bajunya.
Diman tak takut ditantang Danu. Karena dia memang dibayar Tono untuk melindunginya.
Tono yang sudah tegak kembali, menoyor lengan Danu.
"Katakan saja dimana kamu sembunyikan Tania. Aku akan mempertemukannya dengan Rendi anakku. Rendi sedang kritis! Dan dia sangat membutuhkan Tania!" ucap Tono mengalah. Semua dia lakukan demi anaknya.
Danu dan Eni terkesiap. Rendi sedang kritis? Kenapa? Tanya mereka dalam hati.
Tono tak bisa berlama-lama. Karena Rendi pasti sudah menanyakan Tania lagi.
"Aku sudah bilang, Tania tak ada di sini!" sahut Danu.
Eni mendekat. Dia merasa kondisi sudah aman.
"Awas, kalau sampai kamu bohong! Aku tak akan segan-segan menghabisi kamu, bangsat!" seru Tono.
Sebenarnya Danu ingin sekali menggampar mulut Tono, tapi berita tentang Rendi yang sedang kritis dan membutuhkan Tania, membuatnya sedikit trenyuh.
Tiba-tiba ponsel Tono berdering. Tono segera mengambilnya dari kantong celana.
Sari yang menelponnya. Tono langsung mengangkatnya.
"Ya, hallo. Ada apa, Ma?" tanya Tono dengan panik. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Rendi lagi.
__ADS_1
"Pa! Mana Tanianya? Rendi mengamuk!"