HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 275 MENAHAN EMOSI ENI


__ADS_3

Jam sembilan tepat, Dito dan Mike sampai di rumah Tania. Sebenarnya mereka sudah bersiap sejak pagi. Tapi karena ada tugas kuliah yang belum sempat diselesaikan, terpaksa Mike menyelesaikannya dulu.


Dito memaksa Mike menyelesaikannya pagi itu juga. Karena yakin kalau nanti-nanti bakal tak dikerjakan.


Sementara besok paginya, mesti dikumpulkan. Dan Mike nanti malam bakal beralasan capek.


Dito mengalah menyiapkan makan pagi buat mereka berdua. Meski hanya beberapa lembar roti dengan selai coklat yang kini jadi kesukaan Mike.


Dengan terpaksa dan bibir manyun, Mike mengerjakan juga tugasnya.


"Aku lapar, sayang," ucap Mike dengan manja, pagi tadi.


"Oke. Kamu tetep selesaikan tugasmu, aku suapin ya," sahut Dito.


Dengan telaten Dito menyuapi Mike. Juga segelas susu dengan rasa yang sama.


Mike pun dengan lahap memakan roti suapan Dito. Padahal biasanya, jangankan makan sampai berlembar-lembar, satu lembar saja Dito harus memaksanya.


Melihat Mike yang makan dengan lahap, Dito hanya berpikir kalau Mike memang sedang sangat lapar.


Dan tanpa sadar menghabiskan hampir semua roti yang sudah dioles oleh Dito. Dito sendiri hanya kebagian satu lembar saja.


"Hay, Tania...!" sapa Mike yang langsung memeluk dan cipika cipiki.


"Hay juga, Mike." Tania pun membalasnya.


Seperti biasanya Dito hanya menatapnya saja. Lalu masuk ke ruang tamu.


Di sana sudah kumpul keluarga Tania kecuali Danu.


"Tan. Kenapa pesan chat ku enggak kamu balas? Dibaca aja enggak," tanya Mike.


"Oh, iya. Sorry, Mik. Emm...tadi Rendi telpon, jadi enggak sempat buka-buka chat," jawab Tania berbohong.


Padahal Rendi tak telpon. Dia cuma mengirimkan pesan chat saja. Tapi gak ada berhentinya, hingga Tania tak punya kesempatan membuka chat lain.


"Hhmm....gitu deh kalau udah ama Rendi. Aku dilupain." Mike pura-pura kesal.


"Bukan gitu, Mik. Kalau aku sambil buka chat, ngomongnya gak bisa fokus. Nanti malah dikira aku gak dengerin," sahut Tania.


Alasan yang masuk akal siapapun. Mike pun percaya, lalu mengangguk.


"Ayo masuk," ajak Tania.


Mike pun mengikuti Tania, masuk ke ruang tamu. Lalu menyalami keluarga Tania satu persatu.


"Mbak Lintang, apa kabar?" tanya Mike pada Lintang.


Saudara sepupu Tania yang sudah dianggapnya sahabat sekaligus kakak sendiri.


"Baik. Kamu sendiri apa kabarnya? Katanya mau main ke rumah?" tanya Lintang.


"Iya, Mbak. Maaf belum sempet. Lagi banyak tugas kuliah. Nanti kalau senggang deh, kita pasti main ke rumah Mbak Lintang," jawab Mike.

__ADS_1


Menjelang ujian semester Dito dan Mike mesti fokus kuliah. Kalau enggak mau nilai mereka nantinya jeblok.


"Memangnya sekarang lagi senggang, Mik?" tanya Tania.


"Kalau buat healing mah, disenggang-senggangin. Hahaha." Dito yang menyahut sambil terbahak.


"Masa iya tiap hari ke kampus terus? Sekali-kali boleh dong cuci mata," sahut Mike.


"Cuci mata mah di kamar mandi, Mik," ucap Tania.


"Iya. Gosok pake sabun cuci piring biar kinclong matanya," sahut Dito.


"Ish! Nyebelin!" Mike melengos dengan kesal. Karena Dito malah meledeknya.


Yang lainnya malah ketawa melihat wajah Mike yang kelihatan bete.


"Jangan cemberut. Ntar ilang cantiknya," ucap Lintang.


"Udah yuk, kita beresin aja yang mau dibawa," pinta Widya. Dia tak mau kalau mereka keasyikan bercanda, malah jadi banyak yang ketinggalan.


"Iya. Sini saya masuk-masukin ke mobil aja, Bude," sahut Dito.


Widya mengangguk. Lalu dengan dibantu Eni, menyiapkan barang-barang yang mau dibawa.


Dito sudah berjalan duluan ke mobil. Membuka pintu bagasi.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Mike.


"Enggak usah, Mik. Kamu duduk aja nemenin mbak Lintang," jawab Tania.


Kondisi kandungan yang masih di trimester pertama, pastinya masih labil.


"Yaa..masa aku disamain ama bumil," ucap Mike. Dia pun bangkit dan ikut membantu membawa beberapa perlengkapan yang akan dipakai nanti di sana.


"Lho, Mike duduk aja," ucap Eni merasa tak enak.


Bagaimana pun Mike adalah tamunya. Setahu Eni, Mike juga anak konglomerat yang pastinya tak pernah kerja yang berat-berat.


Dan kenyataannya, Mike memang tak pernah pegang kerjaan. Semua pekerjaan rumah, dikerjakan oleh pembantunya yang datang tiap siang sampai sore.


Di saat Mike dan Dito kuliah. Dan saat mereka berdua pulang, rumah sudah bersih dan semua pekerjaan beres.


Mereka jarang ketemu dengan pembantu. Hanya kalau mereka pulang lebih awal saja.


Mike sudah sangat percaya pada pembantunya itu. Pembantunya itu juga istri dari salah satu security di komplek perumahan Mike.


"Enggak apa-apa, Tante. Sekali-kali pegang kerjaan. Lagian kan cuma angkut-angkut aja," sahut Mike.


Dengan sedikit kerepotan, Mike membantu membawa barang-barang dan meletakannya di bagasi mobil.


"Kuat?" tanya Dito. Dia melihat Mike agak keberatan membawa termos yang berisi nasi.


"Kuatlah. Enteng, kok," jawab Mike. Dia juga merasa tak enak kalau cuma duduk-duduk saja.

__ADS_1


Padahal tadi Dito melihat Mike keberatan membawanya.


Pasti gengsi juga kalau bilang berat. Batin Dito.


Tapi Dito senang juga, Mike mau melakukan hal yang hampir tak pernah dilakukannya.


Biasanya kalau di rumah, apa-apa Dito yang mengerjakan.


Dito berharap dengan begini, Mike bisa berubah, meski hanya sedikit. Setidaknya tak terlalu manja.


"Udah. Beres," ucap Widya.


"Udah masuk semua, Bude?" tanya Dito dengan sopan.


Widya mengangguk.


Lalu Dito pun menutup pintu bagasinya. Sekarang tinggal menunggu Rendi dan rombongan yang belum juga nongol batang hidungnya.


"Rendi gimana, Tan?" tanya Dito setelah kembali ke teras.


"Coba kamu aja yang telpon. Kalau aku, takutnya ketauan mamanya. Mungkin mamanya Rendi belum berangkat," jawab Tania.


"Oke. Aku telpon si kampret itu," sahut Dito.


Dito dan Rendi selalu memanggil seenaknya. Dan bagi mereka itu hal yang biasa. Wujud dari kasih sayang mereka sebagai sahabat.


"Rendi gimana?" Eni yang baru dari dalam, tiba-tiba menanyakan.


Eni khawatir juga kalau sampai acara mereka gagal. Sedangkan persiapan sudah beres semua.


"Ini lagi mau saya telpon, Tante," sahut Dito.


"Bi. Paman kemana?" tanya Tania.


"Oh iya. Kemana dia, ya?" Eni malah kebingungan sendiri. Dia sampai melupakan keberadaan Danu, saking asyiknya mempersiapkan segala sesuatunya.


"Tadi perginya enggak pamit?" tanya Mike.


Eni menggeleng.


Tadi Danu ngeloyor begitu saja. Setelah dia mengomentari Rendi dengan kurang baik. Dan bikin Tania sedikit emosi.


"Ditelpon aja, Bi," ucap Tania.


"Tuh, hapenya." Eni menunjuk hape Danu yang tergeletak di atas meja.


"Terus gimana, dong?" tanya Tania.


"Biar Bibi cari. Dia pasti di warung kopi janda gatel itu." Eni mulai emosi.


Tania dan Mike saling bertatapan.


"Biar Tania aja yang manggilin paman, Bi." Tania langsung berdiri. Matanya memberi kode pada Widya untuk menahan Eni.

__ADS_1


Tania pun menarik tangan Mike untuk menemaninya menyusul Danu.


Tania tak mau emosi bibinya membuat berantakan acara mereka. Lalu bergegas keluar sambil terus menarik tangan Mike.


__ADS_2