HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 23 RENCANA YANG TERTUNDA


__ADS_3

Tania membuatkan teh hangat untuk Rendi. Sejujurnya Tania belum faham minuman kesukaan Rendi, jadi membuatkannya yang standar saja.


"Rendi tinggal dimana?" tanya Eni sok akrab. Eni memang sangat menyukai Rendi yang ganteng juga sangat sopan padanya.


"Di komplek Raflesia, Tante," jawab Rendi.


Komplek Raflesia? Itukan tempatku bekerja. Majikan Eni juga bertempat tinggal di komplek perumahan itu. Komplek perumahan elit. Hanya orang-orang berduit yang mampu membeli rumah di komplek itu.


"Oh ya? Di jalan apa?"


"Jalan Raflesia 1, Tan," jawab Rendi.


Wow! Eni kembali tercengang. Karena setahunya di blok satu rumahnya mewah-mewah. Berarti Rendi anak orang kaya dong? Minimal dia anak pejabat atau pengusaha sukses.


Eni jadi menyesali kesepakatan yang dibuat oleh Tania dengan si bandot tua itu. Coba kalau tidak, dia bakal besanan dengan orang yang lebih kaya dari Tono.


Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Batin Eni. Eni hanya bisa menelan ludahnya.


Tania keluar membawakan secangkir teh hangat untuk Rendi.


"Kok teh hangat sih, Sayang? Kan di kulkas ada sirup. Buah juga banyak. Kamu ih, malu-maluin Bibi saja."


Mm, Tania memang tidak mau memberikan buah-buahan yang dibawa Tono. Dia tidak mau kekasihnya memakan makanan dari si bandot tua itu. Takut terkontaminasi.


"Tidak apa-apa, Tante. Ini saja sudah cukup kok. Apalagi yang membuatkan Tania," sahut Rendi basa-basi.


"Ya sudah. Tante tinggal dulu ya. Tante sama Om mau ke rumah saudara dulu. Mau kasih undangan...." Eni yang keceplosan langsung menutup mulutnya yang kadang blong remnya.


"Undangan apa, Tante?"


"Mm...Anu...U..Undangan arisan. Ya, undangan arisan." jawab Eni terbata-bata.


Tania memelototi bibinya yang kalau ngomong asal bunyi saja.


Eni buru-buru kembali ke kamarnya, untuk bersiap pergi.


Duh, mulutku kenapa sering bocor sih? Eni memukul mulutnya sendiri.


Plak!


"Aduh! Sakit!" Eni meringis.


"Pak ayo bangun. Katanya mau mengantarkan undangan ke rumah kakakmu!"


Eni mengguncang tubuh suaminya yang masih asik ngorok.


"Nanti saja sih." Danu berganti posisi lalu memeluk gulingnya.


"Ish. Ini sudah sore lho. Banyak yang mesti kita antarkan." Eni mengguncang tubuh suaminya lagi lebih keras.


"Iya! Iya! Bawel!" Danu terpaksa membuka matanya. Dan....


Cup.


Eni mengecup pipi suaminya tercinta. Mereka memang pasangan yang selalu mesra walau pun tak jarang mereka saling memaki.


Danu menarik tubuh istrinya hingga Eni terjatuh di atas tubuhnya.

__ADS_1


"Sstt! Ada Rendi, Pak," bisik Eni. Lalu beranjak berdiri.


Kalau hanya Tania, mereka sering mengabaikannya. Dan Tania seringkali mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar mereka.


"Hmm. Anak itu lagi," ucap Danu kesal, karena hasratnya tak bisa disalurkan pada istrinya.


"Sstt! Pak. Rendi itu ternyata anak orang kaya lho. Rumahnya saja di komplek Raflesia blok satu. Itu kan rumah mewah. Rumahnya pejabat dan pengusaha sukses," bisik Eni.


"Terus kenapa kalau dia anak pengusaha sukses? Apa dia bisa membayar semua hutangku pada Tono?"


Eni hanya terdiam. Iya juga. Yang kaya kan orang tuanya. Rendi sendiri baru saja lulus SMA. Uang dari mana dia?


"Udah, ayo! Tadi minta cepat-cepat!" Danu meraih jaket jeansnya dan segera keluar dari kamarnya.


Ish, dasar jorok! Baru bangun tidur main pergi saja. Bukannya di bersihkan dulu ilernya. Gerutu Eni.


"Selamat sore, Om," sapa Rendi.


Danu hanya melirik lalu keluar dari rumahnya menuju ke parkiran angkotnya.


"Udah biarin saja. Paman lagi sakit gigi." Tania mencoba menutupi sikap pamannya yang lagi judes.


Tak lama Eni pun keluar dari kamarnya. Eni sudah berdandan ala emak-emak sosialita.


"Bibi pergi dulu ya, Tania. Nak Rendi, Tante pergi dulu. Titip Tania ya sampai kami pulang nanti," ucap Eni. Lalu dengan gaya kemayu dia berjalan menuju parkiran angkotnya.


Rendi bersorak senang dalam hati. Akhirnya dia punya kesempatan buat memadu kasih dengan Tania.


"Mereka naik apa perginya?" tanya Rendi setelah Eni tidak lagi nampak.


Tania langsung menutup mulutnya yang keceplosan. Ah, kenapa aku juga jadi asal ngomong begini sih. Bagaimana kalau Rendi nanya-nanya lagi. Sementara angkot itu kan pemberian Tono.


"Maksudku, paman menyewa angkot lagi yang baru," ucap Tania lagi sambil nyengir.


"Oh, jadi paman kamu angkotnya masih menyewa?" Tania menganggukan kepalanya. Berbohong demi kebaikan, pikir Tania.


"Kalau begitu, nanti aku bilang ke papaku untuk membelikan pamanmu angkot baru sendiri."


Tania hanya menelan ludahnya. Dia memang tahu kalau Rendi anak orang kaya. Mungkin bapaknya pengusaha sukses.


Tapi bagaimana kalau Rendi tahu sebentar lagi Tania akan menikah?


Tania menundukkan wajahnya. Dia tak berani menatap wajah Rendi.


"Hey, kenapa malah sedih? Apa aku menyinggung perasaanmu? Maaf, aku tak bermaksud begitu," ujar Rendi sambil mengangkat dagu Tania.


Tania menatap wajah Rendi dengan sedih. Sebentar lagi, dia tak akan bisa bersama lagi dengan Rendi.


Rendi mendekatkan wajahnya ke wajah Tania. Lalu hendak mengecup bibir Tania.


Tapi Tania menghindar dengan menolehkan wajahnya.


"Kenapa?" Rendi keheranan karena Tania seakan menolaknya.


"Maafkan aku, Ren," ucap Tania.


"Maaf? Kenapa?" Rendi tak mengerti dengan sikap Tania.

__ADS_1


"Entahlah, Ren. Aku bingung mengucapkannya." Tania memainkan jemarinya sendiri.


"Katakan saja, Ayang. Apapun yang kamu inginkan, aku akan memberikannya. Kamu sudah menginginkannya? Ayo, aku sudah siap. Aku juga sudah siap kalau aku harus menikahimu nanti," ucap Rendi yang membuat jantung Tania mencelos.


Rendi salah tanggap. Dikira Rendi, Tania menginginkan anu-anuan.


"Ren, aku ... emm...." Tania kesulitan mengatakannya.


"Kenapa, Ayang. Katakan saja." Rendi lalu meraih lagi dagu Tania, lalu mengecup bibir Tania sekilas.


Tania tak menolaknya. Tapi juga tak membalasnya.


Rendi menatap mata Tania tajam. Seperti ingin mencari rahasia yang sedang disembunyikan kekasihnya ini.


Tania justru sedang berfikir, apa dia pasrahkan saja tubuhnya pada Rendi, sebelum si tua bangka itu menyentuhnya?


Tapi bagaimana kalau dia nanti mengetahui kalau istrinya sudah tak perawan lagi?


Dia pasti akan sangat murka dan akan langsung menceraikan Tania.


Memikirkan kata cerai, malah Tania jadi berfikir kenapa mesti takut diceraikan? Bukannya Tania tidak pernah menginginkan pernikahan itu?


Justru akan lebih baik kalau si Tono langsung menceraikannya. Jadi dia tidak perlu lama-lama menjadi istri si tua bangka itu.


Tania seperti mendapatkan ide cemerlang. Lalu dengan semangat empat lima, dia menarik tangan Rendi untuk masuk ke kamarnya.


Toh rumah ini sepi. Paman dan bibinya bisa jadi malam baru pulang.


Tetangga di sini juga tidak ada yang usil. Tania keluar lagi untuk mengunci pintu rumah.


Lalu dia masuk lagi ke kamarnya. Dia mendapati Rendi tengah membuka kaosnya.


Tania menelan ludahnya saat melihat tubuh bagian atas kekasihnya.


Rendi menarik tangan Tania dan mendekapnya erat.


Yes! Hari ini aku akan merasakan apa yang selama ini aku tahan. Menjebol gawang Tania.


Rendi memulai aksinya. Dia membuka juga kaos Tania hingga bagian atas mereka sama-sama terbuka.


Jakun Rendi sudah naik turun. Jantungnya sudah berdetak lebih cepat.


Rendi mengangkat tangannya hendak meraih pemandangan yang ada di depannya.


Tapi tiba-tiba, dering ponselnya mengganggu konsentrasi Rendi. Sambil bergumam tidak jelas Rendi mengambil ponselnya, bermaksud mematikannya.


Tapi saat melihat siapa yang menelponnya, Rendi tak mungkin mengabaikannya. Papanya yang menelpon.


"Ya, hallo ... Pa. Apa? Iya, Pa. Rendi pulang sekarang!"


Lalu Rendi mematikan ponselnya dan segera memakai kaosnya lagi.


Tania melihatnya hanya melongo dengan dada yang masih terbuka.


"Tania, maafkan aku. Mamaku pingsan. Aku harus segera pulang. Kamu pakai pakaianmu. Besok aku janji akan melakukannya untukmu. Oke!" Lalu Rendi mengecup kening Tania dan berlari keluar dari kamar Tania.


Tania masih melongo. Dan dengan lesu memakai lagi kaosnya. Tania harus menunda rencananya.

__ADS_1


__ADS_2