
Di dalam kamar rawat, Rendi lagi asik ngobrol dengan Tania. Rendi tak melepaskan tangan Tania sedikitpun.
Tania sudah selesai menyuapi Rendi makan, juga meminumkan obat.
Tania juga sudah mengelap wajah Rendi dengan tissue basah yang dibawa di tasnya.
Rendi dan Tania terkejut saat mendengar pintu diketuk. Mereka langsung menoleh ke arah pintu.
Tangan Rendi semakin erat menggenggam tangan Tania. Dia tak mau Tania kabur lagi. Rendi siap menghadapi apapun yang akan terjadi.
"Dito....! Mike...!" ucap Rendi dan Tania bersamaan, saat pintu terbuka.
"Tania...!" Mike langsung berlari mendekat dan mendekap Tania.
"Ren...!" Dito pun berlari mendekati Rendi.
"Ya ampun, Ren. Lu, kenapa?" tanya Dito. Dia hampir menangis melihat keadaan Rendi.
"Gue kecelakaan,Bro," jawab Rendi berbohong.
"Darimana kalian tau, gue ada disini?" tanya Rendi.
"Bibi dan budenya Tania, barusan ke rumah Mike," jawab Dito.
"Hah? Mereka ke rumah Mike?" tanya Tania tercengang. Dia merasa tak pernah memberitahukan rumah Mike pada keluarganya.
"Iya. Barusan aja. Mereka lagi nyariin kamu, Tania," jawab Mike.
"Eh, kenapa lo sampai begini sih, Bro? Elo jatuh dari pintu gerbang rumah bokap lo, kan? Bukan kecelakaan?" tanya Dito.
"Iya, Bro. Gue mau jemput Tania. Eh, malah gue jatuh," jawab Rendi.
"Lah emang kagak dibukain pintu gerbangnya?" tanya Dito.
"Kalau dibukain, gue kagak sampai begini," jawab Rendi.
Rendi tak menyesali kondisinya kini, karena akhirnya dia bisa juga ketemu Tania.
"Gila, lo! Perjuangan cinta yang luar biasa!" Dito mengacungkan kedua jempolnya.
Rendi tersenyum bangga.
"Terus, kenapa kamu sampai kabur, Tan?" tanya Mike pada Tania.
"Kamu kan tau, Mik. Kalau aku dikurung di rumah itu. Mumpung ada kesempatan, aku kabur. Biar bisa ketemu Rendi lagi. Meskipun harus ngumpet-ngumpet begini," jawab Tania.
"Emang Mike tau, kalau selama ini Tania dikurung?" tanya Rendi.
"Tau, Bro. Mike pernah ke sana. Nyamar sebagai sales kosmetik. Malah dia mau di...." Dito tak meneruskan kalimatnya.
"Mau diapain?" tanya Rendi penasaran.
Mike dan Dito hanya diam. Tidak enak pada Rendi kalau mengatakannya.
__ADS_1
"Mau diperkosa sama papa kamu, Ren," sahut Tania.
"Gila! Emang udah gila tuh si tua bangka!" umpat Rendi.
"Jangan gitu, Bro. Gitu-gitu juga bokap lo!" ucap Dito.
"Males banget gue, punya bokap kayak dia. Malu-maluin aja!" sahut Rendi dengan kesal. Juga malu pada Mike dan Dito.
"Terus, kenapa kalian enggak bilang ama gue, kalau kalian udah pernah ke sana?" tanya Rendi.
"Heh! Kita udah pernah mau bilang ke elo. Tapi elonya malah...." Kembali Dito tak melanjutkan kalimatnya. Dia melirik ke arah Tania.
"Ooh, yang itu? Iya, gue inget. Maafin gue, Bro. Jadi nyesel gue," sahut Rendi.
Rendi ingat, terakhir Dito menghubunginya. Dito dan Mike bilang mau ngomong soal Tania, tapi Rendi malah pamer kemesraan dengan Monica.
Tania menatap wajah Rendi. Dia tak paham maksud perkataan Rendi.
Rendi menggenggam lagi tangan Tania. Dalam hati dia ingin minta maaf pada Tania. Karena pernah mengabaikannya.
Bahkan Rendi merasa berdosa, telah menghianati Tania.
"Terus sekarang kamu tinggal di mana, Tan?" Mike berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku ngekos di dekat sini. Biar gampang bolak baliknya," jawab Tania.
"Iya. Nanti kalau gue udah sembuh, kita bakalan kabur berdua!" sahut Rendi dengan yakin.
"Lo kayak kagak tau bokap gue aja! Gue mending kabur aja, daripada bermasalah terus ama dia. Jahat banget orangnya!" jawab Rendi.
"Iya, sih. Terus gimana ama nyokap lo?" tanya Dito.
Dito tahu kalau mamanya Rendi sangat sayang pada anak satu-satunya ini. Dan setelah kasus pernikahan Tania, hubungan ibu dan anak itu makin dekat.
"Gampanglah itu. Nyokap gue pelan-pelan bakalan gue kasih tau. Nunggu tuh, si tua bangka capek nyariin kita!" jawab Rendi.
Mike menghela nafasnya. Dia merasa sangat kasihan dengan kisah cinta dua sahabatnya ini.
"Sekarang, gimana kalau untuk sementara, Tania tinggal di rumah gue dulu?" ide Mike.
"Iya. Biar lebih aman juga. Bokap lo kagak bakalan nyariin ke rumah Mike. Keluarganya Tania juga tau, kalau Tania kagak ada di rumah Mike," timpal Dito.
"Enggak usah. Aku biar ngekos aja. Biar enggak terlalu jauh juga kesininya," sahut Tania. Dia tak mau merepotkan Mike.
"Tapi lebih aman buat elo, Tania. Kalau masalah kesini, entar bisa kita anterin. Kita juga bisa jagain elo saat lo ada di kamar ini," sahut Dito.
"Iya, Tan. Enggak usah sungkan. Kita akan bantu kamu. Semua demi kalian." Mike menambahkan.
Tania menatap wajah Rendi.
"Beneran kalian ikhlas menolong kami?" tanya Rendi.
"Yaelah, Bro! Kapan sih gue minta imbalan ama elo?" tanya Dito. Tak sadar Dito menepuk kaki kiri Rendi.
__ADS_1
"Auwh! Sakit, gila!" teriak Rendi.
"Oh iya. Sorry....sorry! Gue lupa! Hehehe." Dito nyengir sambil garuk-garuk kepala.
"Lupa, lupa! Pala lo, peyang!" maki Rendi sambil meringis.
"Iya, sorry." Dito mengelus kaki kiri Rendi yang masih dibalut perban tebal dan dikasih penyangga.
"Jadi fix nih, Tania tinggal di rumah gue dulu?" tanya Mike.
Tania kembali menoleh ke arah Rendi. Rendi mengangguk pada Tania, tanda setuju.
"Iya. Tolong jagain calon bini gue, ya? Gue kagak mau kehilangan dia lagi. Darah Tania juga udah menyatu ama darah gue!" ucap Rendi.
"Maksud lo apaan, Bro?" tanya Dito tak mengerti.
"Tania udah donorin darahnya ke gue. Gue kan katanya sempet kehilangan banyak darah," jawab Rendi.
Tania kembali menoleh ke arah Rendi.
"Dari mana kamu tau?" tanya Tania.
"Perawat di sini tadi yang cerita. Makasih ya, Sayang." Rendi mengecup tangan Tania yang dari tadi tak lepas dari genggamannya.
"Ya ampun...! So sweet banget sih, kalian. Gue jadi terharu," ucap Mike. Matanya benar-benar berkaca-kaca.
"Makanya gue kagak mau lagi berpisah dari Tania. Kabur, kabur deh. Daripada Tania jadi emak tiri gue terus! Hahaha." Rendi sudah mulai bisa tertawa lagi.
Hatinya sudah sangat bahagia. Dia sudah bisa mengira bakalan memiliki Tania selamanya.
Dito dan Mike hanya tersenyum. Sebenarnya Dito gatel kepingin mengomentari omongan Rendi barusan, tapi tidak enak pada Tania.
Tengah asik ngobrol dan bercanda, Rendi mendengar suara mamanya di luar.
"Sstt. Mamaku!" ucap Rendi perlahan.
"Waduh, gawat! Gimana ini?" tanya Mike panik.
Tania pun tak kalah paniknya.
Rendi menggenggam tangan Tania semakin erat.
Dito diam. Dia lagi berpikir keras dan cepat.
"Gini aja." Dito menarik tangan Mike, biar mendekat ke arah Tania dan Rendi.
Dito membisikan rencana yang baru saja muncul di kepalanya.
"Gimana?" tanya Dito.
"Aman enggak?" Mike balik bertanya.
"Udah! Jalani aja. Darurat ini! Let's go!" sahut Dito.
__ADS_1