
Sari masih menunggui Rendi. Dia sampai tertidur di sofa.
Tak ada keinginan sedikitpun untuk menemui Tono di kamar rawat inapnya.
Biarin aja. Kan ada anak buahnya. Ngapain aku mesti repot-repot ngurusin dia. Batin Sari.
Rendi sendiri, asik dengan ponselnya. Dia berbalas pesan dengan Tania.
Sebisa mungkin Rendi menjaga agar tidak ketahuan Sari. Bisa kacau semua rencananya.
Diam-diam Rendi dan Tania menyusun rencana. Dan rencana mereka didukung oleh Dito dan Mike. Mereka berjanji akan membantu.
Rendi sendiri nanti sepulangnya dari rumah sakit, akan mulai mempersiapkan diri. Dia akan mengumpulkan barang-barang berharganya yang sekiranya bisa buat modal kabur.
Karena Dito mengingatkan jangan sampai mereka makan batu di pelariannya.
Sebenarnya Mike sudah menawari mereka tinggal di rumahnya. Tapi Rendi menolak. Alasannya gampang terendus orang tuanya. Terutama papanya.
Semua rencana itu mereka bahas dalam sebuah grup whatsapp. Grup yang mereka buat dadakan.
Di kamar rawat inapnga, Tono yang sudah mulai sadar, menatap sekelilingnya.
"Juragan! Juragan udah sadar?" tanya Yahya yang dengan setia menunggui Tono.
Tono menatap wajah Yahya.
"Aku ada dimana?" tanya Tono. Dia merasa seperti ada di kamar rawat Rendi. Tapi malah dirinya yang tidur di ranjang.
Tono juga melihat pergelangan tangannya yang dipasangi selang infus.
"Juragan ada di kamar rumah sakit," jawab Yahya.
"Kamar rumah sakit?" Tono mengernyitkan dahinya.
"Iya. Tadi pagi, Juragan pingsan di kamar rumah. Lalu kami bawa ke sini," jawab Yahya.
Tono berusaha mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya.
Tono hanya mampu mengingat saat dirinya keluar dari kamar mandi, lalu kepalanya terasa berat.
Setelah itu, Tono sudah tak mengingatnya lagi.
Jelas saja. Dia pingsan.
"Istriku sudah tau?" tanya Tono.
"Mm...Maaf, Juragan. Istri yang mana, ya?" tanya Yahya.
Karena setahu Yahya, istri Tono ada banyak. Dan yang terakhir baru dipulangkannya adalah Linda.
Mungkin nanti akan diretur, ganti yang baru. Pikir Yahya.
"Sari. Istriku ya Sari!" jawab Tono.
"Ooh, bu Sari?" sahut Yahya.
"Iya! Siapa lagi!" seru Tono.
Busyet, udah sakit aja, masih teriak-teriak. Belum tahu dia sakitnya apa? Gumam Yahya dalam hati.
__ADS_1
"Bu Sari udah tau. Yadi yang mengabarinya. Bu Sari juga yang menyuruh saya menjaga Juragan di sini. Katanya, dia mau jagain mas Rendi," sahut Yahya.
Tono menghela nafasnya.
Tono ingat kembali bagaimana kondisi Rendi tadi pagi. Dan Tono punya satu janji pada Rendi. Membawa Tania kepadanya.
"Dimana Diman?" tanya Tono.
"Diman sama orang tuanya neng Tania, mau nyariin neng Tania lagi katanya," jawab Yahya.
"Jadi Tania belum juga ketemu?" Mata Tono sudah mulai memerah.
"Tadi sih belum, Juragan. Waktu Juragan pingsan, mereka ada di rumahnya Juragan," jawab Yahya.
"Orang tua Tania?" tanya Tono.
"Iya, Juragan. Ada tiga orang. Satu laki-laki dan dua wanita. Yang satunya gendut," jawab Yahya.
"Widya...!" gumam Tono.
"Iya, mungkin. Saya kurang paham, Juragan. Saya hanya tau nama yang lelaki. Kalau enggak salah namanya Danu," sahut Yahya.
"Ya sudah. Coba kamu telpon Diman. Lagi dimana mereka?" suruh Tono.
"Tapi saya kan enggak punya hape lagi, Juragan," ucap Yahya.
"Hmm." Tono ingat kalau dia yang membanting hape Yahya hingga hancur.
"Kamu pakai hapeku!" ucap Tono.
"Memangnya Juragan bawa hape?" tanya Yahya. Setahunya tadi Tono sudah berganti baju rumahan saat terjatuh.
"Kenapa tidak kamu bawakan hapeku?" bentak Tono.
"Ah! Banyak alasan! Sekarang kamu pulang. Ambilkan hape dan tasku! Bawa kesini secepatnya! Aku mau ke kamar anakku!"
Tono berusaha bangun. Tapi kembali terjatuh, karena kepalanya terasa sangat pusing.
"Akh...!"
Tono memegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
"Juragan! Juragan kenapa?" tanya Yahya.
"Kepalaku sakit sekali! Panggilkan dokter!" jawab Tono sambil meringis menahan sakit.
Yahya menekan sebuah tombol untuk memanggil perawat. Dia tahu guna tombol-tombol itu, karena almarhumah anaknya, pernah dirawat berbulan-bulan di rumah sakit.
Tak lama perawat jaga datang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya. Dia melihat Tono yang sedang memegangi kepalanya.
"Juragan saya kepalanya sakit, Suster," jawab Yahya.
Perawat itu mendekati Tono. Lalu membetulkan letak kepala Tono di atas bantal.
"Sebaiknya jangan banyak bergerak dulu, Pak. Aliran darahnya belum lancar," ucap perawat mengingatkan.
"Aku mau ke kamar anakku!" sahut Tono.
__ADS_1
"Nanti saja, Pak. Kalau kondisi Bapak sudah normal kembali." Perawat itu mengecek aliran infus.
"Oh, iya. Keluarga Bapak diminta segera menghadap ke dokter. Ada yang mau disampaikan. Soal hasil cek lab," lanjutnya.
"Istriku ada di kamar anakku. Gimana mau kasih tau, kalau aku tidak bisa kesana," ucap Tono.
"Bapak bisa menelponnya?" tanya perawat itu.
"Hapeku ketinggalan di rumah!" jawab Tono.
"Bapak ini, mungkin bisa membantu." Perawat itu menunjuk pada Yahya dengan sopan.
"Kenapa enggak dokternya saja yang kesini? Ngomong langsung ke aku!" tanya Tono.
"Maaf, Pak. Sebaiknya pihak keluarga saja yang menemui dokter. Soalnya istri Bapak juga tadi ikut cek lab," jawab perawat itu.
"Istriku? Kenapa dengan istriku?" tanya Tono. Kepalanya semakin terasa pusing. Karena dia ngomong sampai hampir teriak.
"Biar dokter yang menjelaskan, Pak. Permisi." Perawat itu bergegas keluar. Sepertinya dia sudah malas berdebat dengan Tono.
"Yahya! Bukankah istriku baik-baik aja?" tanya Tono pada Yahya dengan panik.
Yahya mengerutkan keningnya.
"Bu Sari kayaknya baik-baik aja, Pak," jawab Yahya.
"Sekarang, kamu ke kamar anakku Rendi. Panggilkan istriku. Suruh dia kemari. Cepat...!" seru Tono.
"Iya, Juragan." Yahya bergegas melangkah keluar.
"Eh, kamarnya mas Rendi di sebelah mana ya, Juragan?" tanya Yahya.
"Hhmm." Tono menghela nafasnya. Lalu menyebutkan letak kamar Rendi.
"Siap, Juragan." Yahya melangkah dengan pasti.
Sampai di kamar Rendi, Yahya mengetuk pintunya.
Sari yang ketiduran, jelas saja tak mendengar.
"Masuk aja!" seru Rendi yang sedang asik main ponsel.
Yahya membuka pintu kamar Rendi. Matanya terbelalak melihat kondisi Rendi yang mengenaskan.
Kasihan sekali mas Rendi. Dasar Tono, bapak biadab! Enggak punya akhlak! Gumam Yahya dalam hati.
"Cari siapa, Pak?" tanya Rendi dengan sopan.
"Saya cari bu Sari. Dipanggil sama bapak. Disuruh ke kamarnya. Katanya suruh ambil hasil cek lab," jawab Yahya dengan sopan juga.
Sari terbangun mendengar suara Yahya.
"Nanti aku ambilkan. Kamu balik lagi ke sana!" ucap Sari.
"Iya, Bu. Permisi." Yahya pun keluar dari kamar Rendi.
"Siapa dia, Ma?" tanya Rendi.
"Anak buah papamu. Entahlah. Mama juga enggak paham. Mama ke dokter dulu, ya. Mau ambil hasil cek lab tadi," pamit Sari.
__ADS_1
"Iya, Ma," sahut Rendi. Dia malah senang mamanya pergi. Dia lagi kangen sama Tania.
Rendi pun langsung melakukan panggilan video pada Tania.