
Dito terbahak-bahak hingga menarik perhatian banyak pengunjung lain, termasuk seorang perempuan cantik yang duduk tidak jauh dari mereka.
Perempuan itu terus memperhatikan Dito dan Rendi. Dito pun yang duduk menghadap ke arah perempuan itu memperhatikannya.
"Bro, kayaknya itu kakak kelas kita deh," bisik Dito.
"Mana?" Rendi melihat ke sekelilingnya.
"Itu yang duduk di belakang elo." Dito masih berbisik.
Rendi menoleh ke belakang. Dan memperhatikan perempuan yang sedang duduk sendirian dan memperhatikan mereka.
Mata Rendi bertemu dengan mata perempuan itu. Sejenak mata mereka bertemu.
Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke samping. Menghindari tatapan Rendi.
"Ya dia malu, Bro. Elo sih, ngeliatinnya melotot," ucap Dito yang dibalas dengan toyoran di kepalanya oleh Rendi.
"Kalau tidak salah namanya Monica," ucap Rendi.
"Play boy cap sabun mandi tau aja!" sahut Dito yang sangat paham dengan sepak terjang sahabat koplaknya ini.
Jaman masih sekolah, bukan cuma teman seangkatan saja yang pernah dikencani oleh Rendi. Kakak kelas pun ada yang pernah diajak Rendi hang out. Bahkan adik kelas pun ada yang pernah diembatnya juga.
Rendi cuma nyengir dengan jawaban Dito. Memang kenyataannya Rendi sering berganti-ganti teman kencan.
"Lo pernah kencan ama dia, Bro?"
"Belum. Susah dia dideketinnya," jawab Rendi sambil menyuap makanannya.
"Sekarang aja lo deketin dia. Kali aja dia mau. Kan bisa buat gantiin emak tiri elo." Dito ngakak mengucapkannya.
Karena menurut Dito sangat lucu. Orang yang lagi dipacari tau-tau jadi ibu tiri.
"Sekali lagi elo bilang Tania ibu tiri gue, gue gundulin kepala elo!" Rendi melotot ke arah Dito.
Dito kembali terbahak. Dan Monica kembali menatap ke arahnya. Tepatnya ke arah Rendi meski Rendi duduk membelakanginya.
"Bro. Dia ngeliatin elo terus tuh. Udah sikat aja. Gue bantuin, ya?" Dito kembali bicara perlahan.
Dan tanpa persetujuan dari Rendi, Dito berjalan mendekati Monica dengan membawa piringnya.
Rendi hanya geleng-geleng kepala dengan sikap Dito.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dito setelah sampai di depan Monica.
"Boleh." Monica menatap ke kursi di depannya memberi tanda kalau Dito boleh duduk.
Dito langsung menarik kursi di depan Monica.
"Kamu Monica, kan? Dulu di SMA kakak kelasku?"
Monica mengangguk. Tadi dia sudah bisa mengingat dua laki-laki yang makan di meja depannya.
"Kenalin, aku Dito. Sahabat si kunyuk Rendi. Kamu masih kenal Rendi kan? Itu tuh orangnya." Dito menunjuk ke arah Rendi.
Monica kembali mengangguk. Dia ingat dulu Rendi pernah mengajaknya hang out, tapi dia menolaknya. Lalu Rendi malah mengajak sahabatnya kencan.
"Jangan mengangguk-ngangguk aja dong. Jadi kayak mainan anak-anak." Dito tertawa ngakak.
__ADS_1
Monica jadi tersedak makanannya. Dengan sigap Dito mengambilkan minuman untuk Monica.
"Maaf. Maaf. Kamu kaget ya denger suara tawaku?"
Monica meminum air putih yang disodorkan oleh Dito.
Rendi menoleh karena mendengar Monica terbatuk. Monica yang melihat Rendi menoleh malah terbatuk lagi.
"Minum hati-hati, Mon. Aku gak minta kok," ucap Dito dengan polos. Dia kasihan juga melihat Monica yang memerah mukanya.
Diapain itu si Monica, sampai terbatuk-batuk gitu. Tanya Rendi dalam hati.
Setelah Monica tenang kembali, Dito mulai mengajaknya mengobrol.
"Kamu kuliah di kampus biru?" tanya Dito.
Monica mengangguk.
"Yee, ngangguk lagi. Jawab dong."
Monica hanya tersenyum. Membuat Dito penasaran ingin mendengar suara Monica.
Dito diam sejenak. Mencari pertanyaan yang tidak mungkin dijawab dengan anggukan.
"Jurusan apa?" Dito menemukan juga pertanyaannya.
"Ekonomi," jawab Monica singkat.
Dito tersenyum. Akhirnya bisa juga mendengar suara Monica meski singkat.
"Aku juga kepingin kuliah di kampus biru. Pingin ambil jurusan ekonomi juga. Nanti dibantu ya?"
"Selain fakultas ekonomi ada fakultas apa saja di sana?" Dito masih belum kehabisan pertanyaan.
Monica mengunyah dulu makanannya, baru menjawab.
"Banyak. Datang sendiri saja ke sana. Sekarang kan sudah mulai pendaftarannya."
"Oh ya? Kapan-kapan antar aku ke sana mau?"
Monica mengangguk lagi. Dito menepuk jidatnya. Dia mesti memberikan pertanyaan yang tepat, biar Monica mau bicara, tidak cuma mengangguk.
Rendi yang diam-diam menyimak jadi tertawa terbahak-bahak.
Dito yang kesal diketawain, melempar Rendi dengan secuil makanannya.
Rendi menoleh dan melangkah mendekati Dito.
"Hay, Monica. Apa kabar?" sapa Rendi.
"Hay, Rendi. Baik, kamu sendiri?"
"Baik juga. Kamu kuliah di kampus biru ya?"
"Iya, Ren. Cari yang deket rumah aja. Biar tidak perlu ngekos."
Dito melongo melihatnya. Dari tadi dia setengah mati mengajak bicara, Rendi dengan mudahnya membuat Monica menjawab pertanyaannya.
"Dit, pulang yuk." Rendi malah mengajak Dito pulang.
__ADS_1
Padahal Monica lagi senang diajak bicara oleh Rendi.
"Ayo." Dito beranjak berdiri. Dito bete juga karena kalah saing dengan Rendi.
"Ren, boleh enggak aku minta nomor hape kamu?"
Dito makin melongo mendengarnya.
Rendi mengangguk dan berbagi nomor hape dengan Monica.
"Aku pulang duluan ya, Mon. Nanti aku whatsapp kamu."
"Oke, Ren. Aku tunggu ya." Rendi mengangguk dan melangkah keluar dari warung makan itu bersama Dito.
"Gila lo, Bro. Gampang banget bikin Monica bicara. Mana dia malah minta nomor elo lagi."
"Gue gitu loh!" Rendi melangkah mendahului Dito.
Dito mengejarnya. Lalu menjajari langkah Rendi.
"Tuh, Bro. Dengan mudah elo bisa dapetin cewek yang lebih dari Tania. Kurang apa coba si Monica itu?"
Rendi menatap wajah Dito. Lalu mengacak rambut Dito.
"Hati gak bisa dipaksakan, Bro."
Dito cuma melengos saja. Malas dia membahas soal cinta.
Mike yang katanya mencintainya, malah banyak menuntut waktunya.
Dan kalau Dito tidak bisa memberikannya, Mike akan ngambek yang bikin Dito jadi pusing.
"Ayo kita cari rumah bokap gue. Elo kan udah janji mau bantu nyariin?"
"Siapa yang janji? Enak aja!" Dito bermaksud menolak ajakan Rendi.
"Ya udah. Kalau elo kagak mau bantuin, gue cari sendiri." Rendi berjalan meninggalkan Dito.
"Yee, dia ngambeg".
"Ren! Rendi!" Dito memanggil-manggil sahabatnya itu. Tapi Rendi tak peduli dan terus melangkah.
Dito segera menaiki motornya dan menyusul Rendi yang sudah semakin jauh.
"Ayo naik! Ngambeg, kayak anak kecil."
Rendi menatap Dito lalu naik ke bagian belakang motor Dito.
Dito mengendarai motornya perlahan. Mata mereka melihat ke kanan dan ke kiri.
Tak ada tanda-tanda rumah papanya Rendi, hingga mereka sampai di ujung jalan.
"Bro. Kalau kita cuma nengak-nengok ya gak bakalan ketemu dong. Gimana kalau kita coba cari rumah pak RT-nya. Baru nanti kita tanya sama pak RT. Kali aja kenal," ucap Dito.
"Tumben elo pinter." Rendi menoyor kepala Dito dari belakang.
Mereka memulai menanyakan rumah pak RT dari ujung jalan tempat mereka berhenti.
Sampai sore mereka mencarinya tapi tak kunjung ketemu. Dan akhirnya mereka kembali ke kosan Dito.
__ADS_1