HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 82 TAK ADA PERTOLONGAN


__ADS_3

"Bik, aku naik dulu ya?" ucap Tania setelah selesai makan.


"Iya, Neng. Terus tidur atau nyalakan televisi yang kenceng, biar enggak kedengeran suara-suara itu," sahut Asih.


Tania mengerutkan dahinya.


"Bik Asih denger juga?"


Asih mengangguk. Tania hanya menganggukan kepalanya lalu naik ke lantai dua.


Sampai di depan pintu kamar Tono, Tania mendengar suara wanita menangis dan dengkuran Tono yang cukup keras.


Tania turun kembali dan mencari Asih yang masih berada di dapur.


"Ada apa, Neng?" Asih menatap wajah Tania.


Tanpa menjawab, Tania menarik tangan Asih dan memberi kode agar Asih tak bersuara.


"Sstt...!"


Asih pun mengangguk dan mengikuti kemana Tania menariknya.


Tania memberi kode lagi pada Asih untuk mendengarkan suara tangisan dari dalam kamar Tono.


Asih mendekatkan telinganya, lalu menatap wajah Tania.


Tania hanya mengangkat bahunya.


Lalu keduanya berpisah. Asih turun dan Tania masuk kembali ke kamar barunya.


Kenapa wanita itu menangis? Bukankah mereka habis bersenang-senang? Tapi tadi aku juga mendengar suara teriakan seperti orang kesakitan. Apa yang dilakukan bandot tua itu?


Hiih! Tania bergidig ngeri. Lalu dia tertidur karena kekenyangan.


Esok harinya, Asih mengetuk pintu kamar Tania.


"Ada apa, Bik?" tanya Tania setelah membukakan pintu.


"Juragan minta Neng Tania turun dan makan bareng," jawab Asih.


"Wanita itu?" tanya Tania lagi.


"Ada. Tapi sepertinya dia mau pergi. Dia sudah rapi dan membawa tasnya," jawab Asih.


Dengan malas Tania turun mengikuti Asih.


Sampai di ruang makan, Tania melihat Tono dan wanita yang bernama Linda itu sudah duduk di kursi makan.


"Duduk!" perintah Tono dengan nada ketus seperti biasanya.


Tania duduk di kursi seberang mereka berdua.


"Makan! Apa harus aku suapi?" Kembali Tono bersuara ketus.


Tania menatap Tono sekilas dengan rasa jijik. Lalu menatap Linda yang sedang menatap seperti meremehkan Tania.


Tania tak peduli. Dia ikut makan tanpa bicara apapun.

__ADS_1


"Hari ini, aku akan menikahi Linda. Dan mulai besok, Linda akan tinggal disini. Bersikaplah baik pada calon istriku ini." Tono menyentuh tangan Linda dengan lembut.


Tania membelalakan matanya. Bagaimana mungkin dia harus hidup dengan istri Tono yang baru ini?


Tania menghela nafasnya. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjawab omongan Tono.


"Kalau begitu, ceraikan aku. Kembalikan aku pada paman dan bibiku," ucap Tania.


Tania tak sudi dimadu dan hidup satu atap dengan madunya.


"Enak aja! Kamu pikir uang yang aku keluarkan untuk kamu dan pamanmu yang dungu itu, udah terbayar dengan sikap kamu selama ini?" bentak Tono.


"Terus mau kamu apa, hah?" Tania berang karena Tono menghina kembali pamannya dengan sebutan dungu.


"Oh! Kamu menantangku? Kamu kembalikan dulu semua yang sudah aku keluarkan untuk kalian! Baru aku akan membebaskanmu!"


Glek!


Tania tak bisa berkata apa-apa lagi. Matanya mulai berembun mendengarnya.


"Air matamu tak akan mampu untuk membayarnya!" ucap Tono dengan ketus. Lalu dia berdiri dan menggandeng tangan Linda dengan mesra.


Sebelum pergi, Linda menatap wajah Tania lagi dengan tatapan meledek.


Tania hanya menatapnya dengan dada naik turun menahan emosi.


Dan dengan sengaja, Linda melendot manja ke lengan Tono.


Menjijikan! Teriak Tania dalam hati.


"Bajingan kamu, Tono!" teriak Tania di dalam kamarnya.


Tentu saja Tono tak mendengarnya. Karena dia sudah masuk ke dalam mobilnya dan siap untuk pergi.


Asih hanya mengelus dada melihat semua itu.


"Kasihan sekali neng Tania. Cantik-cantik, tapi nasibnya naas banget," gumam Asih.


"Biarkan aja, Bu. Itu bukan urusan kita," sahut Yahya yang mendengar gumaman Asih.


Asih hanya diam. Lalu membereskan bekas makan mereka.


Yahya berlari keluar membukakan pintu gerbang untuk Tono.


Saat melewati mobil Tono, sepintas dia melihat Tono sedang mencumbui Linda.


Yahya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu berjalan kembali ke pintu gerbang.


Setelah membereskan meja makan dan yakin kalau Tono sudah pergi, Asih naik ke kamar Tania.


"Neng...! Neng Tania!" panggil Asih sambil mengetuk pintu.


Dari luar terdengar isakan Tania yang cukup keras.


"Masuk, Bik," sahut Tania sambil menyeka hidungnya.


"Neng....!" Asih mendekati Tania dan memeluknya seperti anak sendiri.

__ADS_1


"Yang kuat, ya?" ucap Asih sambil menepuk-nepuk punggung Tania perlahan.


Tania melepaskan pelukan Asih.


"Enggak, Bik! Aku enggak akan kuat!" sahut Tania. Lalu tangisnya meledak lagi.


Asih mendekapnya lagi. Dia pun ikut menangis. Tak bisa dibayangkannya bagaimana perasaan Tania saat ini.


Asih berpikir, dia pun pasti tak akan kuat mengahadapinya kalau jadi Tania.


Yahya yang mengikuti langkah Asih, hanya berdiri di depan pintu kamar Tania. Matanya pun mulai basah.


Yahya memilih kembali turun, karena dia merasa tak sanggup melihatnya.


Setelah puas menangis, Tania melepaskan pelukannya.


"Bik! Bantu aku untuk keluar dari rumah ini!" pinta Tania.


Asih membelalakan matanya. Lalu menggeleng.


"Enggak, Neng. Jangan! Nanti Bibik dan mang Yahya yang kena marah. Tau sendiri kan bagaimana kalau juragan Tono marah?" tolak Asih.


"Bibik enggak kasihan padaku?" pinta Tania memelas.


"Bukan begitu, Neng. Tapi Neng Tania juga harus kasihan sama kami. Tono bisa menghabisi kami kalau Neng Tania pergi sekarang," sahut Asih.


Asih seperti makan buah simalakama. Satu sisi dia kasihan melihat Tania. Tapi di sisi lain, dia mengkhawatirkan keselamatannya sendiri. Juga suaminya.


Tania menghela nafasnya.


Dulu, dia rela mengorbankan dirinya untuk menolong paman dan bibinya dari jeratan hutang pada Tono.


Tapi kini saat dia sedang bermasalah dengan Tono, tak ada yang bisa menolongnya.


Tania kembali menangis. Bukannya dia menyesal telah menolong pamannya, tapi dia merasa hidup sangat tak adil baginya.


Asih menghela nafasnya. Dia berpikir keras bagaimana jalan keluarnya.


"Neng Tania tenang aja dulu ya? Nanti Bik Asih coba bicara sama mang Yahya. Siapa tau mang Yahya ada solusi," ucap Asih. Walaupun dia yakin kalau suaminya tak mungkin bisa kasih solusi.


Tania mengangguk pasrah. Tak mungkin juga dia memaksa Asih untuk menolongnya. Mereka tak ada ikatan apa-apa. Dan bukan kewajiban Asih juga Yahya untuk menolongnya.


Mereka pasti ingin cari aman. Bukan mengorbankan dirinya untuk Tania.


Asih pergi meninggalkan kamar Tania dengan pikiran kacau dan sedih.


"Ada apa, Bu?" tanya Yahya yang menunggunya di bawah.


"Neng Tania pingin kabur, Pak. Dia minta kita membantunya," jawab Asih.


"Hah..! Enggak! Aku enggak mau kita yang menerima akibatnya!" Yahya menolak keras.


"Iya, Pak. Ibu juga udah bilang begitu. Tapi Ibu kasihan sekali padanya. Sebagai sesama wanita, Ibu merasa ikut sakit hati," sahut Asih.


"Enggak, Bu. Pokoknya aku enggak mau ikut campur. Aku enggak mau celaka!"


Yahya lalu pergi ke halaman belakang. Asih hanya menatap suaminya dengan kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2