
Di kamar rawat inapnya, Rendi terbangun lewat tengah malam. Matanya menatap kedua orang tuanya yang tertidur lelap di sofa.
Tono tidur dengan posisi duduk, Sari meringkuk dengan kepala di atas pangkuan Tono.
Rendi tersenyum melihatnya. Kedua orang tuanya bisa kembali akur.
Tapi kemudian dia kembali sedih memikirkan Tania dan kondisinya yang sedang tak berdaya.
Kakinya yang kiri tak bisa digerakan. Begitu juga tangan kirinya. Belum lagi kepalanya yang masih dibalut perban tebal.
Rendi hanya bisa diam. Tenggorokannya terasa sangat kering. Perutnya pun terasa sangat lapar.
Rendi berusaha meraih tombol di atas ranjangnya untuk minta pertolongan perawat.
Rendi tak tega membangunkan kedua orang tuanya.
Seorang perawat datang.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang perawat dengan mata mengantuk.
"Saya haus dan lapar, Suster," jawab Rendi.
"Minum air putih saja sedikit, ya?"
Perawat itu mengambilkan air putih dan membantu Rendi minum.
"Apa tidak ada makanan?" tanya Rendi setelah minum sedikit.
"Kamu sudah keluar angin?" tanya perawat itu.
"Maksudnya?" tanya Rendi.
"Kentut atau bersendawa. Itu menandakan saluran pencernaan sudah kembali normal. Nanti pagi-pagi kamu akan berikan makanan sehat. Kalau sekarang lapar..."
Tiba-tiba, perut Rendi seperti bergejolak. Rendi berusaha menahannya.
"Suster, perut saya sakit," ucap Rendi.
"Oh, oke. Maaf, ya." Perawat itu meraba bagian perut Rendi.
"Keluarkan saja anginnya. Itu lebih baik biar perutmu kembali normal," ucap perawat itu.
Pprrtt....!
"Maaf, Suster," ucap Rendi malu-malu.
"Tidak apa-apa. Malah itu bagus. Artinya pencernaan kamu sudah mulai normal," sahut perawat.
Lalu perawat itu melihat ke arah meja. Dia mengambil selembar roti gandum.
"Makan ini saja dulu. Nanti tunggu kami sediakan makanan yang sehat." Perawat memberikan roti itu untuk Rendi.
"Bisa makan sendiri, kan?" tanya perawat.
Rendi mengangguk. Lalu meraih roti itu dan memakannya pelan.
"Suster, apa saya akan cacat selamanya?" tanya Rendi sambil melihat kondisi kakinya.
"Enggak. Cuma butuh waktu sampai tulangnya kuat lagi. Jangan terlalu dipaksakan. Pelan-pelan saja," jawab perawat.
"Auwh...! Ini sakit banget, Suster," ucap Rendi saat mencoba menggerakan kakinya.
"Jangan digerakan dulu. Kan kaki dan tangannya baru saja dioperasi," sahut perawat.
__ADS_1
"Iya. Maaf, Suster. Saya capek tiduran terus," ucap Rendi.
Perawat menaikan sedikit bagian kepala Rendi.
"Segini nyaman?" tanya perawat.
Rendi mengangguk.
"Kepalaku sangat pusing, Suster," ucap Rendi.
"Iya. Semua perlu waktu. Jangan banyak gerak dulu. Terutama bagian kepala. Nanti malah mual," sahut perawat.
"Ya udah, saya tinggal dulu ya. Kalau ada apa-apa, hubungi kami lagi," ucap perawat itu.
Sebelum pergi, dia pastikan dulu cairan infus Rendi normal.
Setelah perawat pergi, Rendi tertidur kembali. Dia masih dalam pengaruh obat bius.
Pagi harinya, Sari menggeliatkan badan. Lalu membuka matanya.
"Oh!" Sari baru sadar kalau dia tidur di pangkuan Tono.
Sari segera beranjak. Dia lihat Tono masih mendengkur dengan posisi duduk.
"Pa. Kepalanya ke sini, biar lebih enakan." Sari mengguncang lengan Tono pelan.
Tono memicingkan matanya. Lalu merebahkan tubuhnya dan kembali terlelap.
Sari melihat Rendi yang juga masih terlelap. Tapi di tangannya ada roti gandum yang dibelinya kemarin malam.
"Hhmm. Gimana caranya Rendi ngambil roti ini. Dan minuman ini?" Sari bergumam sendiri sambil melihat botol air putih yang berkurang isinya.
"Selamat pagi, Bu," sapa dua orang perawat yang datang hendak memeriksa kondisi Rendi.
Seorang dari perawat itu membuka tirai jendela kamar, yang satunya memeriksa urine Rendi.
"Suster, apa anak saya sudah bisa berjalan?" tanya Sari.
"Belum dulu, Bu. Kan baru saja dioperasi. Perlu waktu biar tulangnya yang patah, bisa tersambung lagi dengan sempurna," jawab perawat.
"Lha roti ini?" tanya Sari.
Rendi yang mendengar pertanyaan Sari langsung menjawab.
"Semalam minta bantuan perawat, Ma."
"Ooh. Kirain kamu jalan sendiri." Sari tersenyum. Karena sepertinya Rendi sudah mulai normal kembali.
"Sebentar lagi, kami akan bawakan makanan. Tolong dibantu dulu makannya ya, Bu," ucap perawat.
"Iya, Suster. Saya udah lapar banget dari semalam. Saya juga udah kentut kok. Tapi sedikit," sahut Rendi.
"Iya. Baguslah. Nanti dihabiskan makananya, biar bisa cepat pulih, ya," ucap perawat.
Rendi mengangguk pelan. Karena kepalanya masih sangat pusing kalau buat bergerak.
Dua perawat itu pamit keluar dari kamar Rendi.
"Ma. Mana Tania?" tanya Rendi. Dia kembali menagih janji mamanya.
Sari menghela nafasnya.
"Nanti tunggu papamu bangun. Biar dia jemput Tania, ya," jawab Sari. Dia terpaksa berbohong biar Rendi bisa tenang.
__ADS_1
"Kata Mama semalam papa jemput Tania," ucap Rendi.
"Semalam Tanianya udah tidur. Papamu enggak tega membangunkan," sahut Sari.
Rendi tersenyum senang. Dia sudah membayangkan bakal ketemu Tania.
Sementara di luar kamar rawat Rendi, Tania duduk sendirian. Matanya selalu mengawasi kamar itu. Berharap Tono dan Sari pergi, dan dia bisa menemui Rendi.
Tania masih dengan masker menutupi wajahnya. Sehingga tak ada yang mengenalinya.
Sementara di rumah Danu, Eni sudah bersiap untuk mencari Tania lagi. Meski matanya masih terasa mengantuk.
Dia baru bisa tidur menjelang pagi. Itu pun setelah Danu membuatnya benar-benar capek. Walaupun permainan mereka tidak tuntas, karena Eni terlanjur datang bulan.
Diman pun tadi pagi pindah tidur ke kamar belakang. Eni tak tega membiarkannya kedinginan di teras.
Eni menyiapkan kopi dulu buat mereka berdua yang masih tidur.
Ponsel Eni berdering. Widya yang menelponnya.
"En, jadi kan nyari Tania?" tanya Widya.
"Jadi, Mba. Tapi nunggu sopirnya bangun dulu. Masih pada tidur," jawab Eni.
"Ya udah. Aku ke situ sekarang, ya," ucap Widya.
"Enggak usah. Biar kami nanti yang jemput Mba Widya aja," sahut Eni.
"Udah enggak apa-apa. Daripada nunggu, lama. Aku kesitu aja naik angkot." Lalu Widya menutup telponnya.
Hhmm. Eni menghela nafasnya. Lalu masuk ke kamarnya membangunkan Danu.
"Pak, bangun. Kita cari Tania lagi." Eni mengguncang lengan Danu.
"Sebentar. Ini masih pagi," sahut Danu lalu kembali memeluk gulingnya.
"Eh, malah tidur lagi!" Eni menarik guling yang dipeluk Danu.
"Aahhkk...!" Danu menggeliat, lalu meringkuk tanpa guling.
"Pak. Sebentar lagi mba Widya ke sini lho. Kamu mau dibangunin dia?" tanya Eni.
Danu langsung membuka matanya.
"Mau ngapain mba Widya kesini?" tanya Danu.
"Ikut nyariin Tania. Ayo bangun! Sekalian bangunin tuh si Kebo!" ucap Eni.
Eni keluar dari kamarnya. Dia mau membuatkan teh buat Widya nanti.
Dan benar saja, tak lama setelah Eni selesai membuat teh, Widya datang.
"Nih, nasi uduk. Buat sarapan. Nyari Tania kan juga butuh tenaga," ucap Widya sambil memberikan bungkusan nasi uduk.
"Kebetulan, Mba. Aku belum masak." Eni meraih bungkusan itu.
"Danu mana?" tanya Widya.
"Di kamar. Dibangunin susah banget!" jawab Eni.
Danu yang mendengar suara kakaknya langsung beranjak bangun. Dia enggak mau pagi-pagi kena omel Widya.
Widya menoleh ke kamar Eni.
__ADS_1
Danu sudah berdiri di tengah pintu sambil nyengir.