HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 158 SARI MULAI CURIGA


__ADS_3

Mereka langsung terdiam. Tak ada lagi yang berani membicarakan tentang Tania.


"Selamat sore Om, Tante," sapa Dito. Dia sudah sangat mengenal kedua orang tua Rendi. Meskipun dengan Tono, baru beberapa kali bertemu.


"Sore, Dito," sahut Sari.


Mike terdiam sambil menundukan kepalanya. Dia merasa kikuk bertemu lagi dengan Tono, yang sempat akan memperkosanya.


"Kamu...?" Tono menunjuk ke arah Mike.


Mike semakin salah tingkah. Dia yakin Tono mengingatnya. Meskipun saat itu penampilan Mike berbeda.


Tono melepaskan tangan Sari. Lalu mendekati Mike dan menarik tangan Mike. Tono membawa Mike keluar dari kamar Rendi.


"Aakkhh...!" pekik Mike.


"Om! Mau dibawa kemana istri saya?" seru Dito. Tanpa sadar Dito menyebut Mike sebagai istrinya.


Spontan tangan Ditopun meraih tangan Mike, dan menahannya.


"Aku mau bicara sama dia!" sahut Tono, sambil terus menarik tangan Mike.


"Pa! Jangan apa-apakan, Mike! Dia istrinya Dito!" seru Rendi.


Sari juga kebingungan dengan ulah Tono. Ada apa dia sampai segitunya pada teman Rendi?


Tono tak mempedulikannya. Dia terus menarik tangan Mike.


Ditopun terpaksa mengikuti, daripada tangan Mike sakit karena ditarik sana sini. Mau melawan juga tak enak, karena Tono adalah bapaknya Rendi.


Sampai agak jauh dari ruangan Rendi, Tono baru berhenti dan melepaskan tangan Mike.


Dito yang juga sudah sampai di sebelah Mike, langsung menggenggam tangan Mike dengan erat.


"Kamu temannya Tania, kan?" tanya Tono.


Mike mengangguk.


"Kamu pasti tau dimana Tania sekarang?" tanya Tono.


"Enggak, Om. Kami enggak tau, sekarang Tania ada dimana." Dito yang menjawabnya.


"Aku enggak nanya sama kamu. Tapi sama Lisa ini!" Tono menunjuk Mike.


Dia masih ingat saat Mike memperkenalkan diri sebagai Lisa. Bahkan Tono masih menyimpan nomor telponnya.


"Tapi Mike istri saya, Om. Jadi saya punya hak buat mewakilinya," sahut Dito.


"Istri kamu?" tanya Tono.


Tono menatap Mike dan Dito bergantian.


"Iya, Om. Kami sudah menikah," aku Dito.


"Bukannya kalian masih kuliah?" tanya Tono. Setahunya Dito teman SMA Rendi dan melanjutkan kuliah.

__ADS_1


"Iya, Om. Tapi kami sudah menikah," jawab Dito.


"Oke. Sekarang aku mau nanya soal Tania. Dimana dia? Kalian pasti tau!" tanya Tono.


"Kami tidak tau, Om. Kami juga lagi membantu mencarinya," jawab Dito berbohong.


Tono menatap wajah Dito dengan tajam.


Dito mengangguk.


"Baik, kalau begitu kalian bantu cari Tania. Aku akan menyerahkannya pada Rendi. Jangan sampai mamanya Rendi menjodohkannya dengan siapa itu wanita yang pakai bajunya minimalis?" tanya Tono.


"Monica, Om," jawab Dito.


"Kamu mengenalnya?" tanya Tono.


"Dia teman kuliah saya, Om. Teman SMA kita juga. Dia kakak kelas kita," jawab Dito.


"Kakak kelas? Berarti usianya lebih tua dari Rendi?" tanya Tono.


"Iya sepertinya, Om. Saya enggak paham kalau soal usia," jawab Dito.


"Ya, pokoknya tolong bantu menemukan Tania. Dan jangan biarkan Rendi dijodohkan dengan Monica itu. Meskipun dia mengaku sudah pernah ditiduri Rendi," ucap Tono.


"Hah...?" Dito dan Mike terkejut.


"Itu pengakuan Monica. Bahkan dia bilang soal kehamilan juga, sampai mamanya Rendi pingsan," sahut Tono.


"Iya, Om. Kami akan bantu mencari Tania. Kami juga enggak mau Rendi jalan dengan Monica. Dia..." Dito tak melanjutkan kalimatnya. Dito bertatapan dengan Mike.


"Dia...terkenal wanita enggak bener, Om," jawab Dito.


Tono manggut-manggut.


"Ya udah. Aku minta kerja sama kalian, buat menjauhkan Monica dari Rendi. Terutama mamanya Rendi. Dia ketakutan kalau Monica itu sampai hamil anak Rendi," ucap Tono.


"Iya, Om. Pasti kami bantu. Rendi dan Tania sahabat kami. Kami juga ingin mereka bisa bersatu lagi," sahut Dito.


Tono terdiam sejenak. Dia merasa bersalah karena telah memisahkan Rendi dengan Tania.


Sekarang malah dikejar wanita yang enggak bener macam Monica.


"Ya udah. Kalian bisa kembali ke kamar Rendi. Aku capek. Mau istirahat," ucap Tono. Lalu berjalan menuju kamar rawatnya.


Dito dan Mike bernafas lega. Ternyata Tono cuma ingin mereka membantu mencari Tania.


"Kita balik ke kamar Rendi yuk, Sayang," ajak Dito. Lalu menggandeng tangan Mike.


"Aduh...! Mau copot tadi jantungku, Sayang," ucap Mike.


"Iya, Sayang. Aku juga tadi deg-degan banget. Mau aku hajar, itu papanya Rendi. Makanya aku ikuti dulu apa maunya," sahut Dito.


Mike menyandarkan kepalanya di bahu Dito, sambil terus berjalan kembali ke kamar Rendi.


Sampai di kamar Rendi, Sari masih duduk di sofa. Matanya langsung menatap Dito dan Mike. Seakan mau menginterogasi.

__ADS_1


Dito dan Mike hanya tersenyum ke arah Sari.


"Ada apa, Bro?" tanya Rendi yang juga penasaran.


Dito dan Mike mendekati Rendi.


"Mm...enggak apa-apa. Cuma...papa kamu kaget aja melihat Mike. Waktu itu kan Mike pernah ke rumah papa kamu. Nyamar sebagai sales kosmetik," jawab Dito pelan.


Mereka tak mau Sari mendengar tentang Tania. Karena dari cerita Tono tadi, mereka tahu kalau Sari tak setuju Rendi dengan Tania.


"Oh, yang itu. Terus?" tanya Rendi lagi. Dia sudah mendengar cerita tentang penyamaran Mike untuk bisa menemui Tania.


"Nanti aja, aku ceritain," bisik Dito di telinga Rendi.


Rendi mengangguk mengerti. Matanya melirik Sari. Sementara Sari sendiri masih menatap Dito dan Mike penuh curiga.


Sari mencurigai kalau mereka berdua yang menyembunyikan Tania. Karena Sari tahu kalau mereka juga teman SMA Tania.


"Mama kalau mau pulang, enggak apa-apa. Biar Mama bisa istirahat di rumah," ucap Rendi pada Sari.


"Enggak. Mama mau nginap di sini aja. Mama bisa tidur di sofa ini." Sari menepuk tempatnya duduk.


Rendi dan Dito berpandangan. Mike juga ikut saling pandang.


Berarti malam ini Tania tak bisa menunggui Rendi. Dan dari kejadian tadi siang, bisa dipastikan akan sulit bagi Rendi dan Tania ketemu.


"Ya udah, kita pulang dulu, Ren. Mike juga udah capek katanya," ucap Dito.


Rendi terlihat sangat kecewa. Dia bakal kesepian ditinggal Dito dan Mike.


Apalagi Tania tak bisa datang karena ada Sari menungguinya.


"Kalian bisa saling kirim pesan. Atau cari-cari waktu buat video call," bisik Mike.


Rendi hanya bisa mengangguk pasrah. Kondisinya belum bisa berbuat apapun. Kakinya masih belum bisa digerakan. Kepalanya juga belum bisa tegak.


Aakkhh! Rendi ingin bisa segera sembuh dan kabur bersama Tania.


"Tante, kami pulang dulu," ucap Mike dengan sopan pada Sari.


"Iya. Silakan," sahut Sari masih dengan tatapan curiga.


Dito menggandeng tangan Mike keluar dari kamar Rendi.


"Jangan dekat-dekat lagi dengan mereka," ucap Sari saat Dito dan Mike sudah keluar.


"Kenapa, Ma?" tanya Rendi.


"Mama enggak suka dengan mereka!" jawab Sari.


"Enggak suka kenapa? Mereka teman baik Rendi, Ma. Rendi tak punya teman lain!" sahut Rendi.


"Masih ada Monica!" sahut Sari. Meski dalam hati dia sangat tak menyukai Monica.


"Enggak! Rendi enggak mau lagi dengan Monica! Dia wanita gila!"

__ADS_1


__ADS_2