
Selesai makan, Rendi mengajak Dito dan Mike ke kamarnya. Kamar tamu yang masih ditempati Rendi, karena kondisi fisiknya belum memungkinkannya naik turun tangga.
Sengaja Rendi mengajak mereka ke kamarnya, agar lebih bebas ngobrol. Mila pun sudah dipastikan tidak bakalan masuk ke kamar.
Biar Mila lebih fokus mengurus Tono. Dan tak ada protes dari Sari yang kadang terlalu tega pada Tono. Lelaki yang masih berstatus sebagai suaminya.
"Belum pindah ke kamar lu sendiri, Bro?" tanya Dito.
Kamar tamu itu tak seluas kamar Rendi di lantai dua. Dengan fasilitas seadanya. Tak ada play station yang biasa dipakai mainan Dito dengan Rendi kalau lagi gabut.
"Gue kan belum bisa naik turun. Kalau jatuh, bakalan parah lagi," jawab Rendi.
"Ntar kagak kawin-kawin deh," ledek Dito.
"Nah, itu yang agak ribet urusannya, Bro," sahut Randi.
"Ribet gimana?" tanya Mike yang lagi asik menschrool medsosnya.
"Tau tuh, nyokap gue masih aja susah terima Tania. Padahal kan tinggal yes aja. Selesai kan, masalah gue," jawab Rendi.
Ya, kunci kebahagiaan Rendi hanya pada Sari. Kalau saja Sari mau ngalah dan merestui hubungan Rendi dengan Tania, masalah Rendi selesai.
Rendi bakalan melamar Tania saat ini juga. Meskipun kondisinya belum terlalu baik. Tapi justru kehadiran Tania nantinya bakal jadi mood booster bagi Rendi.
Tania bisa merawatnya, sampai saatnya nanti Rendi sembuh dan bisa beraktifitas kembali.
"Katanya lu mau kabur ama Tania?" tanya Dito tentang rencana Rendi dan Tania waktu itu.
"Hush! Ngaco aja, deh. Kalau masih bisa meminta restu baik-baik, kenapa mesti kawin lari," sergah Mike.
"Enak kan kawin lari. Kayak film-film india itu. Sambil lari-larian. Hahaha." Dito tergelak.
"Itu mah kawinnya yang sambil lari-larian!" Mike cemberut mendengar ocehan Dito yang dianggapnya gak nyambung.
"Itu opsi terakhir, Bro," sahut Rendi.
Bukan karena dia merasa didukung oleh Mike. Tapi Rendi masih berusaha meyakinkan Sari dulu. Sembari menunggu kondisinya pulih juga.
Gimana mau lari-larian, buat jalan saja kakinya Rendi masih terasa nyeri.
"Kata lu, bokap udah acc?" tanya Dito.
Rendi pernah bilang begitu pada Dito. Saat Dito menanyakan bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Tania.
"Iya. Tapi nyokap yang masih keras kepala. Belum lagi si Monica. Hadeeh." Rendi menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
"Kenapa lagi si Mon-Mon?" tanya Mike.
Mike juga sangat tak menyukai Monica. Karena dulu, Dito pernah pedekate, dan entah bagaimana urusan mereka selanjutnya.
Karena setelah tahu hal itu, Mike benar-benar membelenggu hidup Dito. Hingga Dito tak punya kesempatan melirik wanita lain.
"Dia datangi rumah Tania. Ngoceh disana. Bilang katanya dia lagi hamil anakku. Gila, kan?" jawab Rendi. Geram juga dengan sikap Monica yang memfitnahnya
"Hah....!" Mike sampai ternganga.
"Yang gila tuh, elu! Udah tau cewek model gituan, masih lu embat juga!" sahut Dito.
Rendi hanya bisa menatap Dito. Membenarkan ucapan Dito dan menyesali kebodohannya.
Saat itu Rendi sedang membutuhkan hiburan. Dan Monica datang tepat waktu. Jadi ya...embat aja. Meskipun mereka tak sampai melakukan hubungan intim.
"Dulu gue kan udah ngingetin elu, Bro. Ati-ati ama si Monica. Elu, dibilangin ngeyel. Malah tiap hari mesra-mesraan terus. Nyesel kan, lu?"
Dito merasa gemas pada Rendi yang susah dibilangin kalau sudah ada maunya.
Rendi masih ingat, saat itu dia sampai mengabaikan Dito. Dia lebih memilih menghabiskan waktu bersama Monica. Bermesraan sepanjang waktu.
Meskipun Rendi selalu menolak kalau Monica menginginkan hal yang satu itu.
Entah kenapa Rendi tak mau melakukannya. Padahal Monica selalu saja menggodanya.
Bagi Rendi, cukup satu wanita saja yang disentuhnya. Kecuali takdir tak bisa menyatukannya dengan Tania.
"Iya. Gue nyesel banget. Sekarang sih, dia gak bakalan berani dateng kesini lagi," sahut Rendi.
"Kenapa? Udah lu blacklist?" tanya Dito.
"Noh, bodyguard-bodyguard gue. Galak-galak banget!" Rendi menunjuk ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Dito lagi. Dia tak paham maksud Rendi. Karena yang ditunjuk Rendi hanya pintu.
"Mila sama mbak Sri. Mereka galak-galak dan siap jadi garda terdepan, kalau sampai Monica dateng lagi," jawab Rendi.
Lalu Rendi menceritakan gimana dua bodyguardnya itu mengusir Monica, dengan gagah berani.
"Baguslah. Paling enggak si Monica kagak bisa gangguin elu lagi. Tapi...gimana ama Tanianya?" tanya Dito khawatir.
Meski jaman SMA dulu, Dito pernah ngejar-ngejar Tania, tapi sekarang rasa itu berubah jadi persahabatan.
Apalagi setelah mengetahui perjalanan hidup Tania yang sangat pahit. Membuat Dito merasa kasihan.
__ADS_1
Dan lagi, sekarang sudah ada Mike di sisinya. Wanita yang sempurna di mata Dito.
Mike yang dulunya tak pernah dilirik Dito, kini bisa meyakinkannya bahwa cinta Dito hanya untuk Mike.
"Untungnya Tania percaya banget ama gue. Jadi gak ngaruh ama ocehan Monica," jawab Rendi.
Dito dan Mike manggut-manggut.
"Tapi om Danu kayaknya belum yakin ama gue. Dia masih kemakan omongan Monica," ucap Rendi dengan sedih.
Kalau saja kondisi fisik Rendi sudah normal, pasti masalah receh begitu udah langsung diselesaikannya.
"Kalau masalah itu, biar nanti kita bantu, Ren. Pulang dari sini, kita ke rumah Tania," ucap Mike.
Mike tak mau hubungan Tania dan Rendi terhambat oleh ulah Monica.
Apalagi Mike yang memang tak menyukai Monica, dalam hati malah ingin menghancurkan Monica.
"Iya, Bro. Tenang aja. Kita bakal bantu elu meyakinkan om Danu. Gampang itu mah." Dito mendukung ide Mike.
"Oke. Kalian nanti kesana aja. Tapi jangan bilang kalau kalian dari sini dan tau itu dari aku. Entar dikira aku yang nyuruh, lagi," ucap Rendi setuju.
"Jangan khawatir, Bro. Kita gak sebodoh itu. Masa iya, kita bilang elu yang nyuruh," sahut Dito.
"Oh iya, kalian besok mau ikut healing, enggak?" tanya Rendi.
Dito dan Mike saling berpandangan.
"Healing? Siapa, yang mau healing?" tanya Dito.
"Gue lah. Ama Tania juga. Mau nyenenging tuh, bodyguard-bodyguard gue." Rendi kembali menunjuk ke arah pintu.
Padahal juga, Rendi belum bilang sama Tania.
"Gila lu! Kaki masih kayak gitu, udah kepingin healing aja!" ucap Dito, sambil matanya menelisik kaki dan tangan Rendi yang masih terbalut perban.
"Justru biar gue bisa cepet sembuh, Bro. Kalau ati gue seneng, gue kan bisa cepet sembuh," sahut Rendi.
"Mana ada? Itu kalau elu sakit jiwa! Sakitnya elu mah, kagak ada hubungannya ama healing!" sahut Dito juga.
"Biarin aja. Suka-suka gue dong. Sekarang gue tanya sekali lagi. Kalian mau ikut kagak?" tanya Rendi.
"Mau....!" sahut Dito dan Mike kompak.
"Sstt...Jangan kenceng-kenceng. Entar nyokap gue denger." ucap Rendi pelan, sambil memberi tanda agar Dito dan Mike diam.
__ADS_1
Dan mereka pun kembali kompak menutup mulutnya dengan telapak tangan.