
Tania menangkup wajah dengan kedua tangannya. Tangisnya sudah reda.
Seharian dia hanya bisa melamun. Memikirkan nasibnya juga caranya untuk bisa lepas dari semua ini.
"Neng Tania. Kita makan siang, yuk," ajak Asih.
Tania hanya menggeleng. Perutnya tak terasa lapar sama sekali, meskipun tadi pagi dia hanya makan sedikit.
"Bibik bawakan kesini saja makanannya, ya?"
Tania tetap menggeleng.
"Neng.... Neng Tania harus makan. Berpikir pun butuh tenaga, Neng. Biar otaknya enggak buntu," ucap Asih.
Tania hanya menatap wajah Asih. Asih mengangguk, lalu menggandeng tangan Tania biar mau turun dan makan.
Tania mengangguk. Lalu mengikuti Asih turun.
"Makan ya, Neng." Asih mengambilkan makanan untuk Tania.
Tania memandang makanan itu dengan malas.
"Makan, Neng. Biar Neng Tania kuat," ucap Asih lagi.
Tania memakannya sedikit-sedikit.
Yahya mendekati mereka.
"Neng, Mang Yahya tau apa yang dirasakan oleh Neng Tania. Tapi maaf, kami enggak bisa membantu. Kami takut sama juragan, Neng," ucap Yahya.
Dia merasa tidak enak pada Tania. Meski dalam hatinya juga merasa sangat kasihan.
Yahya jadi ingat dengan anak perempuannya yang telah meninggal dunia. Seandainya masih hidup, mungkin seumuran Tania.
"Bapak kenapa ngeliatin Neng Tania terus?" tanya Asih.
"Aku ingat sama Tari anak kita, Bu." Yahya menghapus air mata yang tiba-tiba menggenangi mata tuanya.
"Sudah, jangan diingat-ingat, Pak. Tari sudah tenang di sana," sahut Asih.
"Siapa Tari, Bik?" tanya Tania pelan.
"Tari anak kami, Neng. Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu," jawab Asih.
"Meninggal kenapa?" tanya Tania lagi.
"Dia sakit parah, Neng. Sampai akhirnya tak bisa tertolong lagi. Padahal kami sudah berbuat semaksimal mungkin. Tapi takdir berkata lain," jawab Asih.
Tania mengangguk. Ikut prihatin dengan kejadian yang pernah dialami dua suami istri ini. Mereka pasti sangat sedih.
"Iya, Neng. Harta kami habis untuk pengobatannya. Itu makanya kami ikut juragan Tono. Karena kami sudah tak punya tempat tinggal lagi," sahut Yahya.
__ADS_1
Tania terdiam.
"Itu salah satu alasan, kenapa kami tak bisa menolong. Kalau kami sampai diusir dari sini, kemana kami akan pergi? Tak ada tempat buat kami berteduh lagi," ucap Yahya.
"Kami dulu sampai punya banyak hutang, untuk pengobatan Tari. Kami pinjam uang dari juragan Tono. Karena kami tak bisa mengembalikannya, kami bersedia bekerja padanya selama sepuluh tahun, tanpa digaji," lanjut Yahya.
Hah...! Tania membelalakan matanya. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang dijadikan alat untuk membayar hutang. Yahya dan Asih pun mengalami hal yang sama.
"Jadi, Bibik mohon Neng Tania mengerti, ya? Biarkan kami menyelesaikan urusan dengan juragan Tono lima tahun lagi. Dan setelah itu, kami bisa bebas dan hidup tenang. Meski kami tak tahu mau tinggal dimana lagi," sahut Asih.
Tania semakin merasa benci dengan Tono. Dia memperbudak Asih dan Yahya seenaknya sendiri.
Terus apa aku harus tetap bertahan diperlakukan seperti ini? Sampai kapan? Apa sampai aku mati?
Tidak! Aku enggak mau mati konyol. Mati sia-sia tanpa bisa menolong diriku sendiri.
Ya! Aku harus bisa menolong diriku sendiri. Bagaimana pun caranya.
Ah! Bodohnya aku tak membuat surat perjanjian, sampai kapan aku jadi istrinya. Tania merutuki kebodohannya sendiri.
"Baiklah, Bik. Aku tak akan melibatkan kalian. Aku paham posisi kalian sangat sulit. Biar aku coba hadapi dan selesaikan masalah ini sendiri," ucap Tania.
"Iya, Neng. Sekali lagi kami minta maaf." Asih menundukan kepalanya. Tak terasa air matanya pun mengalir.
"Sudah, Bu. Ini sudah jadi nasib kita. Nasib Neng Tania juga. Harus terjebak dengan juragan Tono." Yahya membelai kepala Asih dengan lembut.
"Iya, Bik. Bibik jangan sedih lagi. Ayo kita hadapi dan nikmati semua ini." Tania menggenggam tangan Asih. Asih pun balas menggenggamnya dengan erat. Mereka saling menguatkan.
Tania berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dia tak mau kalah pada kenyataan. Juga pada Asih dan Yahya.
Mereka yang sudah tua saja biaa kuat, masa dia yang jauh lebih muda harus menyerah.
"Kami nanti gampang, Neng. Neng Tania habiskan dulu saja makannya," sahut Asih. Dia senang melihat senyuman hadir kembali di bibir Tania.
Meski Asih tak pernah tahu kalau itu adalah senyuman palsu. Sekedar untuk menutupi kesedihannya.
Tin!
Tin!
"Pak, itu mungkin mobil juragan Tono!" seru Asih.
Yahya langsung keluar. Dan benar saja. Mobil Tono ada di luar pintu gerbang.
Yahya segera berlari membukakan pintu gerbang.
Asih pun langsung menyibukan dirinya. Ini masih jam makan siang. Bisa jadi Tono akan makan siang di rumah.
Sedangkan Tania yang sudah merasa lebih kuat, tak beranjak sedikitpun. Dia terus saja menikmati makanannya.
Tania sudah bertekad, apapun yang akan terjadi akan dihadapinya. Dan akan melawan siapapun yang akan menyakitinya.
__ADS_1
Tania berpikir, dia akan jadi seorang pembangkang saja. Biar Tono kesal dan mengembalikannya pada paman dan bibinya.
Tono masuk bersama Linda. Dan masih seperti pagi tadi, Linda melendot mesra di bahu Tono.
Dalam hati, Tania merasa jijik. Melendot pada seorang tua bangka seperti Tono.
Tania hanya menatapnya sekilas. Tanpa komentar apapun. Tania mencoba meredam perasaannya dan menguatkan hatinya.
Toh, dia tak pernah mencintai Tono.
"Siapa yang mengijinkan kamu makan?" tanya Tono dengan ketus.
Asih yang mendengarnya langsung deg-degan. Karena dia yang menyuruh Tania makan. Bagaimana kalau Tania mengatakannya?
Tapi Tania tak setega itu. Dia tak mungkin mengatakannya. Karena pasti Tono akan memarahi Asih.
"Memangnya aku enggak boleh makan?" tanya Tania dengan santai. Dia terus saja mengunyah makanannya.
"Tak ada yang boleh makan, tanpa seijinku!" sahut Tono.
Linda menatap sinis pada Tania.
"Ooh. Kalau begitu, aku sekarang minta ijin," sahut Tania seperti tanpa dosa.
"Enak saja! Aku tak mengijinkannya!" Tono menggebrak meja.
Tania terkesiap dan langsung berdiri.
"Baik. Nih! Ambil kembali makananmu!" Tania melemparkan piringnya ke arah Tono.
Prang!
Piring itu jatuh dan pecah berantakan di lantai.
Tania melenggang dengan santai, mau naik ke kamarnya.
Tono langsung mendekat dan meraih tangan Tania.
"Kurang ajar sekali, kamu!" Tono mengangkat tangannya yang lain, siap menampar Tania.
Dengan sigap, Tania menangkisnya.
"Sudah berani, kamu?" Tono makin berang.
Ya, Tania harus berani. Dia tak mau lagi dianiaya oleh Tono. Sudah cukup semua yang dilakukan Tono selama ini padanya.
Tania menatap wajah Tono dengan tajam dan penuh kebencian. Tono pun tak kalah tajam menatap Tania.
"Kamu pikir bisa menamparku lagi seenakmu? Tak semudah itu, Pak Tua!" ucap Tania.
Lalu dengan kasar menepis tangan Tono yang mencengkeramnya. Dan berlari naik ke kamarnya.
__ADS_1
"Bangsat kamu, Tania!"