
Malam itu Tono dan Linda tak pulang. Entah tidur di mana mereka.
Jam lima pagi, Tania terbangun. Perutnya terasa sangat lapar. Karena semalam dia ketiduran dan tak jadi makan.
Tania sholat dulu, sebelum turun ke lantai satu.
Tania berjalan melewati kamar Tono. Pintunya masih terbuka seperti tadi malam.
Tania meliriknya sekilas. Dia takut kalau ternyata Tono sedang bercinta dengan Linda.
Tania kembali melirik, karena tak didapatinya Tono ataupun Linda. Lalu Tania membuka lebih lebar pintu kamar itu.
Dan ternyata kamar benar-benar kosong.
Kemana mereka? Apa mereka semalam tak pulang? Tania hanya mengangkat bahunya. Dia tak mau tahu tentang itu.
Malah Tania berharap mereka tak pernah pulang lagi. Biar dia bisa bebas kabur kapan saja.
Tania melanjutkan langkahnya, turun ke dapur. Dilihatnya Asih sedang menyiapkan makan pagi.
"Udah bangun, Neng?" tanya Asih yang melihat kedatangan Tania.
Ya jelas sudah dong bik Asih. Kalau belum, masa aku bisa sampai di dapur. Gumam Tania, tapi cuma dalam hati.
"Udah, Bik. Mana mang Yahya?" Tania balik bertanya.
Tania berharap Asih dan Yahya sudah berbaikan lagi seperti hari-hari sebelumnya. Dimana mereka terlihat sangat harmonis.
Asih mengangkat bahunya. Mau pergi atau tidur dimana kek, Asih tak mau peduli.
"Semalam Neng Tania enggak makan?" tanya Asih.
"Enggak, Bik. Ketiduran. Sekarang malah laper banget. Udah ada yang bisa dimakan?" Tania melihat ke atas meja makan.
"Sebentar ya, Neng. Tapi ini makanan yang semalam. Bibik panasin lagi." Asih terus mengaduk masakan yang dipanaskannya.
"Iya, Bik. Enggak apa-apa. Sayang juga kalau enggak kemakan."
Dulu di rumah pamannya juga Tania sering sarapan makanan kemarin. Atau sekedar bikin nasi goreng pakai nasi sisa.
Tania membuat teh hangat untuknya sendiri. Karena Asih selalu menolak kalau dibuatkan.
Tak lama, Yahya masuk ke dapur. Dia menatap Asih yang masih asik di depan kompor.
"Bu. Aku laper," ucap Yahya. Semalam dia juga tidak makan. Bahkan tak masuk ke dalam rumah lagi.
Asih hanya diam saja. Sepertinya dia masih marah.
Tania hanya menatap keduanya. Kasihan sekali mang Yahya. Sepertinya, kesalahan mang Yahya cukup berat, sampai bik Asih enggak kelar-kelar marahnya. Batin Tania.
__ADS_1
Akhirnya Yahya bikin kopi sendiri. Dia mengambil kopi yang letaknya dekat Asih yang sedang mengaduk masakannya.
"Jangan minum kopi dulu! Perut masih kosong. Nanti kalau sakit perutnya, aku juga yang repot." Asih merebut stoples yang berisi kopi. Yahya diam saja.
Lalu Asih membuatkan teh hangat buat Yahya.
"Nih. Minum teh aja." Asih memberikan gelas teh pada Yahya.
"Makasih, Bu," ucap Yahya sambil tersenyum. Meskipun dia kepinginnya kopi dari semalam, tapi melihat Asih yang mulai baik, Yahya tak bisa menolaknya.
Tania pun tersenyum melihat Asih yang ternyata masih peduli pada Yahya.
Yahya duduk di depan Tania. Dia tak berani menatap wajah Tania. Yahya malu juga pada Tania. Meskipun Yahya yakin kalau Tania tak tahu masalah sebenarnya.
"Sabar, Mang. Nanti kita sarapan bareng," ucap Tania.
Yahya mengangguk. Dia salut dengan Tania yang selalu rendah hati meskipun kedudukannya di rumah ini sebagai majikannya.
Asih menyajikan masakannya di meja makan.
"Makan dulu, Neng." Asih mengambilkan piring untuk Tania.
Yahya menunggu Asih mengambilkan piring juga untuknya.
"Kamu makan di belakang sana. Tuh, makanannya di atas kompor," ucap Asih pada Yahya.
"Biar mang Yahya makan di sini, Bik. Bik Asih juga sekalian makan. Mumpung yang punya rumah belum pulang," sahut Tania.
Dia juga tak mau kalau harus makan sendirian, meskipun lagi laper berat.
"Jangan, Neng. Nanti kalau juragan Tono tau, bisa ngomel dia," sahut Asih. Dia tak mau bermasalah dengan Tono.
"Aman, Bik. Ayo makan bareng," ajak Tania.
Asih mengangguk karena Tania terus memaksanya. Dia pun mengambilkan makanan untuk Yahya. Yang disambut senyuman dari Yahya.
"Seneng! Awas aja kalau diulangi lagi! Aku kasih racun makananmu!" ancam Asih.
Tania menatap Asih yang terlihat masih menyimpan kemarahan.
"Iya, Bu. Aku janji enggak akan mengulanginya," sahut Yahya.
Yahya benar-benar kapok. Dia takut kalau sampai Asih tak mau lagi hidup dengannya, bagaimana mungkin dia menjalani kehidupannya ini sendirian.
Sebenarnya Tania kepo berat. Tapi disimpannya rasa itu. Biar Asih juga tak emosi lagi.
Baru saja selesai makan, suara klakson mobil terdengar dari luar pintu gerbang.
"Itu pasti mobil juragan Tono!" Yahya segera beranjak dan berlari ke pintu gerbang.
__ADS_1
Asihpun segera membereskan piring bekasnya mereka makan. Dia tak mau ketahuan Tono kalau habis makan satu meja dengan Tania.
Tania tetap duduk tenang. Sambil menghabiskan makanannya.
Tono masuk dengan Linda yang matanya terlihat sangat mengantuk. Seperti orang yang begadang semalaman.
"Asih! Buatkan aku teh hangat. Antarkan ke kamarku!" ucap Tono.
"Aku juga mau!" sahut Linda. Dia memperhatikan Tania yang masih asik makan.
Tania hanya meliriknya saja.
Tono pun tak menyapa Tania sama sekali. Bagi Tono, asal Tania masih ada di rumahnya dan baik-baik saja, itu sudah cukup.
Sekarang ini dia lagi banyak masalah dengan para peminjam uangnya. Kebanyakan mereka kabur saat ditagih. Karena biasanya Tono akan melipatgandakan bunganya kalau terlambat sebentar saja.
Dan Tono tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk menagihnya.
Tono berjalan naik ke kamarnya. Linda mengikuti dari belakang.
Melihat Tono yang tak bersikap kasar pada Tania, membuat Linda makin khawatir posisinya bakal tergeser.
Linda sadar kalau Tania adalah istri tua, dan biasanya istri muda akan mudah digeser. Makanya dia harus pintar-pintar mengambil hati Tono.
Meskipun dia harus menemani Tono begadang semalaman, untuk menunggu Toyib yang ternyata kabur lewat pintu belakang rumahnya.
Sampai di kamarnya, Tono langsung tepar. Mulutnya langsung menganga dan dengkurannya terdengar kencang.
Linda berdecak kesal. Meskipun dia juga sangat mengantuk, tapi kalau harus tidur di sebelah Tono, bakal tak nyenyak tidurnya.
Asih datang membawakan dua cangkir teh hangat. Lalu meletakannya di atas meja.
Asih tak menyapa Linda sama sekali. Hatinya masih sangat kesal dan juga cemburu. Meskipun Asih sadar, tak ada gunanya cemburu pada manusia seperti Linda.
Linda melirik pada Asih. Lalu dengan sengaja membuka seluruh pakaiannya di depan Asih. Dia ingin membuat Asih semakin kesal.
Asih memperhatikannya sebentar. Ingin rasanya dia siramkan teh ke badan Linda.
Seenak perutnya saja melepaskan pakaian. Sangat tidak sopan.
Asih hanya menahan kekesalannya dalam hati. Lalu segera keluar dari kamar Tono.
Dan saking kesalnya, Asih meraih handel pintu lalu membantingnya dengan keras.
Linda terjengit kaget.
"Siapa itu?" teriak Tono yang terbangun saking kagetnya.
Asih segera lari terbirit-birit.
__ADS_1