
"Ayo kita makan," ajak Rendi. Lalu dia menarik kursi di sebelah Sari.
"Mila...!" Rendi berteriak memanggil Mila.
Mila yang dari tadi standby pun segera menghampiri.
"Iya, Mas Rendi," sahut Mila dengan sopan.
"Tolong kamu bereskan pecahan gelas itu," perintah Rendi.
"Siap." Lalu Mila kembali ke dapur.
"Papa juga makan sekalian ya? Biar Mila nanti siapkan obat buat Papa," ucap Rendi pada Tono.
"Iya. Papa juga lapar," sahut Tono untuk menyenangkan hati Rendi.
Padahal sebenarnya mood makan Tono sedang kurang baik. Gara-gara tadi berdebat dengan Sari. Dan dilanjutkan mendengar perdebatan Rendi dengan Sari juga, dengan permasalahan yang sama.
Sari pun hanya bisa diam. Dia tak protes lagi karena Tono ikut makan juga bersama mereka.
"Mama mau Rendi ambilkan?" tanya Rendi.
Selama ini Rendi memang sangat menyayangi Sari. Karena Rendi merasa Sari lah satu-satunya keluarga. Tono sebagai papanya, malah asik dengan dunianya sendiri.
"Enggak, Ren. Biar Mama ambil sendiri," tolak Sari.
Tono menatap ke arah Sari. Dari pancaran matanya seolah dia ingin dilayani layaknya seorang suami.
Tapi sayangnya Sari malah melengos.
Rendi yang mengetahui kondisi itu, berusaha meraih piring Tono.
"Biar Rendi yang mengambilkan buat Papa," ucap Rendi.
"Rendi! Papamu bisa sendiri! Kamu kan juga masih sakit!" ucap Sari dengan ketus.
Mungkin kalau Rendi orangnya emosian, pasti bakal naik darah lagi mendengarnya.
Rendi hanya menghela nafasnya dalam-dalam.
"Papa juga lagi sakit, Ma," sahut Rendi, tetap mengambilkan makanan untuk Tono.
Kondisi fisik Tono sangat dipengaruhi oleh pikirannya. Kalau sedang banyak masalah, Tono bisa langsung drop.
Badannya terasa lemah, seolah tak bertenaga. Kepalanya terasa pusing. Dan perutnya pun mual.
Tono hanya bisa diam dan berharap tak ada perdebatan lagi. Dia sudah capek. Terlalu banyak energi yang dia keluarkan untuk berdebat.
"Suruh ngapain sama mas Rendi?" tanya Sri.
"Bersihin gelas yang pecah tadi," jawab Mila.
"Tuh pake serok yang kecil. Sama sapunya. Nanti aku bantu ngepel biar lantainya enggak basah." Sri menunjuk ke arah pojokan.
__ADS_1
Mila pun dengan sigap mengambilnya. Lalu kembali ke ruang makan.
Pelan-pelan Mila membersihkan pecahan gelas yang berserakan kemana-mana.
Untungnya mereka terbiasa memakai sandal, meski di dalam rumah. Jadi masih aman kalau ada pecahan gelas yang tak keambil.
"Mila. Nanti kamu siapkan obat buat papa," ucap Rendi pada Mila.
"Iya. Sekalian obatnya mas Rendi juga, kan," sahut Mila.
"Iya. Tapi punya papa dulu aja. Aku sih gampang, nanti." Rendi mengalah meski sebenarnya Mila adalah perawat untuknya.
"Jangan gampangin begitu. Kamu juga harus minum obat. Biar lukamu cepat kering," ucap Sari.
Sari seakan tak terima kalau Rendi dikalahkan oleh Tono.
"Rendi udah baikan, Ma. Rendi juga bisa melakukannya sendiri," sahut Rendi.
"Kamu itu kalau dibilangin, selalu aja begitu. Pentingkan kesehatanmu dulu, baru orang lain." Sari terlihat sangat kesal karena Rendi tak mau menurutinya.
Tono hanya bisa menghela nafas. Tak disangkanya Sari bakalan berubah sejahat itu.
"Ma. Papa bukan orang lain. Papa juga orang tua Rendi. Seperti Mama," sahut Rendi.
Sari mendengus kesal. Dia kesal pada Rendi yang akhirnya menganggap Tono baik. Karena kenyataannya, dari dulu Tono tak pernah baik. Terutama padanya.
"Udah. Selesaikan makanmu!" ucap Sari.
"Mas Rendi. Ada mas Dito sama mba Mila," ucap Mila.
Mila tadi mlipir ke depan. Dia jenuh dengan suasana dapur. Apalagi terus saja mendengar pertikaian keluarga Rendi.
"Suruh tunggu sebentar, Mil. Aku selesaikan makan dulu," sahut Rendi.
"Suruh mereka makan aja sekalian, Mil. Ini juga kan tadi Sri masaknya banyak," ucap Sari.
Sari sudah paham kedekatan Rendi dengan dua orang temannya itu. Dan Dito pun dari dulu sudah sering berada di rumah mereka.
Tono tak berani berkomentar apapun. Sebenarnya dia juga ingin Dito dan Mike ikut bergabung makan dengan mereka. Tapi dia takut kalau Sari menolak idenya.
"Ya udah, Mil. Suruh Dito dan Mike makan sekalian." Rendi menyetujui usul Sari.
"Baiklah." Mila kembali ke depan.
Mila malah senang kalau ada Dito dan Mike ikutan bergabung. Berharap pertikaian diantara keluarga Rendi tak berlanjut.
Masa iya, ada tamu masih saja berdebat. Mestinya malu, kan. Batin Mila.
"Mas Dito. Mbak Mike. Disuruh masuk aja. Langsung ke ruang makan, ya," ucap Mila.
Dito dan Mike berpandangan. Mike seperti ingin menolak. Tapi Dito segera menarik tangannya.
Dito tak enak hati kalau menolak ajakan makan keluarga Rendi. Bagaimanapun, dia sudah dianggap anak sendiri di rumah Rendi.
__ADS_1
"Tapi kita kan barusan makan," bisik Mike.
Tadi Mike minta makan bakso. Makanan yang biasanya dihindari oleh Mike. Meski sebenarnya Mike sangat menyukainya.
Dulu pun saat masih SMA, Mike sering mengajak Tania makan bakso di dekat sekolahannya. Tentu saja Mike yang bayar. Karena Mike tahu kalau uang saku Tania tak seberapa.
"Basa-basilah. Makan sedikit, gak akan bikin kamu gemuk," sahut Dito.
Mila mencubit perut Dito. Mike memang paling takut kalau badannya gendut. Apalagi bagian perutnya yang gampang sekali melar.
"Malah empuk, kalau kamu gendut," lanjut Dito meledek Mike.
Dito tak pernah mempermasalahkan badan Mike. Mau gendut atau melar kayak apapun, Dito tetap akan mencintai Mike.
"Iih, tapi aku gak mau jadi gendut," ucap Mike dengan manja.
Mila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua sejoli itu. Pasangan yang selalu akur. Kalau datang ke rumah Rendi selalu berduaan.
Kadang Mila suka iri melihatnya. Dito kelihatan sangat menyayangi Mike. Dan Mike sangat manja pada Dito.
Mila iri karena selama ini belum ada lelaki yang memanjakannya. Mereka hanya mau enaknya saja. Setelah mengajak Mila kencan, mereka bakalan ngilang.
"Met sore Om. Tante," sapa Dito pada Tono dan Sari.
Mike hanya mengangguk dengan sopan.
"Sore juga, Dito. Mike. Ayo sekalian makan. Temani Rendi biar makannya banyak," sahut Sari.
Tono hanya mengangguk pada keduanya sambil tersenyum ramah.
Matanya menatap Mike agak malu-malu. Karena dulu dia hampir melakukan hal yang tak senonoh pada Mike.
Untung hal itu tak sempat terjadi. Kalau sampai kejadian, pasti Tono akan merasa sangat berdosa.
Dalam hati Rendi, kalau mamanya tak bikin masalah, makannya juga banyak.
Tapi selera makan Rendi bakal langsung ilang, begitu ada hal yang mengganggu pikirannya.
"Siap, Tante." Dito menarik satu kursi untuk Mike.
"Silakan tuan putriku," ucap Dito.
Mike tersenyum malu-malu.
Sari menatap keduanya juga sambil tersenyum.
Dalam hati mengagumi Mike sebagai seorang wanita yang sempurna.
Cantik.
Anak orang kaya.
Benar-benar sosok wanita idaman.
__ADS_1