
"Ngapain Eni ke pasar, Mbak?" tanya Danu.
"Ya belanja lah, Danu...! Masa loncat-loncat. Pertanyaan kalian sama aja. Enggak bermutu!" jawab Widya.
Tania kembali terkekeh. Suasana seperti ini yang selalu dirindukan Tania, saat tinggal di rumah Tono.
"Maksudku belanja apaan dia?" tanya Danu kesal.
"Aku suruh dia belanja buat bikin selamatan kecil-kecilan. Menyambut kepulangan Tania. Emangnya kamu enggak seneng Tania pulang?" tanya Widya.
"Ya seneng lah, Mbak. Makanya aku ngopinya enggak lama. Masih kangen sama neng geulis ini." Danu menowel pipi Tania.
"Eit! Enggak boleh nowel-nowel!" Widya menepis tangan Danu dengan kasar.
"Ih, apaan sih? Cuma nowel aja enggak boleh. Aku kan kangen banget, Mbak!" sahut Danu.
"Dan, Tania bukan anak kecil lagi. Dia udah dewasa. Enggak baik kamu bersikap seperti itu!" ucap Widya.
"Sama anak sendiri, masa enggak boleh sih, Mbak?" Danu tak mau dilarang-larang. Dia sudah menganggap Tania seperti anaknya sendiri.
"Kamu itu kalau dibilangin, ngeyel aja!" sahut Widya.
Tak lama Eni pulang. Dia membawa banyak belanjaan.
"Tuh, bantuin Eni nurunin belanjaannya!" ucap Widya.
"Iya!" Danu menurut dan langsung bangkit dari duduknya.
Danu membawa belanjaan Eni yang banyak sekali.
"En, banyak amat belanjaan kamu?" tanya Widya.
Menurut perkiraan Widya, uang yang diberikannya tadi cuma cukup buat membuat sekitar sepuluh box saja.
"Katanya aku suruh nombokin. Ya aku tombokin lah," jawab Eni.
"Ya udah, terserah kamu. Asal jangan uang modal salon kamu aja yang dipakai!" sahut Widya. Karena biasanya kalau uangnya kepakai, Eni akan memohon-mohon pada Widya untuk meminjaminya.
"Memangnya mau pakai uang apaan lagi? Tukang angkotnya jarang-jarang narik," sahut Eni menyindir Danu yang sering absen narik dengan berbagai alasan.
"Kalau hari libur enggak banyak penumpang, Bu. Percuma aja narik, ngabis-abisin bensin aja," sahut Danu tak mau disalahkan.
"Alasan aja, kamu. Namanya rejeki itu pasti ada kalau kita mau usaha!" ucap Widya sambil ikut membawa belanjaan ke dapur.
"Ini juga udah usaha, Mbak. Memangnya aku molor aja apa?" Danu tetap tak mau disalahkan.
"Iya deh. Kamu itu, kalau dibilangin yang bener, nyaut aja!" ucap Widya dengan kesal.
__ADS_1
"En, kamu bantu aku masak. Biar cepet!" perintah Widya pada Eni.
"Iya. Tapi entar ya, Mbak. Aku capek banget!" sahut Eni.
"Baru segitu aja udah capek. Gimana jadi aku, kamu? Pagi-pagi udah di dapur. Terus jualan sendirian..." Widya terus saja mengoceh.
"Biar Tania bantu, Bude. Bibi biar istirahat dulu," ucap Tania yang dari tadi cuma diam saja.
"Bibi kamu jangan dibelain terus. Ngelunjak dia. Danu! Kamu ngelipetin dus-dusnya. Biar cepet!" ucap Widya. Dia sudah terbiasa kerja dengan cepat. Sag seg kalau Widya bilang.
"Iya, baginda ratu!" sahut Danu. Padahal dia merasa ngantuk, meski baru saja ngopi.
Mereka pun mengerjakannya beramai-ramai. Dapur rumah Eni yang kecil, tak terlalu nyaman juga buat mengerjakannya.
Jadi beberapa bahan masakan, dibawa Eni ke ruang tamu. Dia kerjakan di sana.
Tania membantu Eni memotong-motong sayuran. Sambil sesekali membalas pesan dari Rendi.
"Kamu WA-an sama siapa, Tania?" tanya Eni.
"Sama Rendi, Bi," jawab Tania.
Eni memperhatikan ponsel Tania.
"Hape kamu bagus banget." Eni melihat bagian belakangnya.
"Wah, merk-nya apel kegigit. Pasti mahal, ya?" tanya Eni.
"Baik juga dia. Beliin kamu hape mahal. Kapan beliinnya?" tanya Eni.
"Udah lama, Bi. Cuma terus disita sama Tono," jawab Tania.
"Lho, memangnya kenapa?" tanya Eni.
"Ketahuan kalau Tania ngubungin Rendi," jawab Tania sambil nyengir.
"Ooh, ya pantes disita. Tono pasti cemburu kamu berhubungan sama Rendi lagi. Terus hape lama kamu?" tanya Eni lagi.
"Sama aja. Disita semua. Makanya Tania kan enggak bisa ngubungin siapa-siapa. Tania udah kayak narapidana. Enggak bisa kemana-mana juga," jawab Tania.
"Iya, Tania. Yang penting sekarang, kamu udah bebas dari Tono. Moga-moga Tono enggak meminta rumah ini lagi. Mau tinggal dimana kita, kalau dimintai lagi semuanya?" ucap Eni.
Tania langsung sedih mendengarnya. Tania jadi berpikir, kalau sampai dia menuntut cerai dari Tono, lalu Tono mengambil lagi semua pemberiannya, bakal belangsak kehidupan mereka.
"Hush! Jangan ngomong kayak gitu ah, Bu. Kalau memang Tono minta semuanya ya kasihin aja. Aku lebih baik enggak punya apa-apa, daripada harus kehilangan Tania lagi," ucap Danu.
Tania jadi trenyuh mendengarnya. Ternyata pamannya tidak matre. Tapi bukan berarti Tania menilai Eni matre. Apa yang dikatakan Eni juga benar.
__ADS_1
"Nanti Tania bantu cari uang, Paman. Tania mau kok, kerja apa aja. Yang penting halal," sahut Tania.
"Iya. Betul itu, En. Kamu juga bisa cari kerja di salon. Kan kamu punya ijasah kursus. Udah lumayan bagus juga hasil kerja kamu," sahut Widya dari dapur.
"Iya, Mbak," jawab Eni.
Eni cuma takut Tania bakal sengsara, kalau semua fasilitas yang diberikan Tono diambil semua.
"Bibi jangan kuatir, Tania udah dewasa. Bukan anak kecil lagi yang bisanya cuma minta uang buat jajan. Tania akan bantu bibi sama paman cari uang. Ya, Paman?" Tania menatap Danu yang lagi serius melipati dus.
"Iya. Nanti Paman carikan kamu pekerjaan yang enak, tapi gajinya gede. Hehehe." Danu nyengir.
"Mana ada kerja enak, gajinya gede? Jangan suka kasih harapan, ah. Kalau enggak kejadian malah kecewa," sahut Widya.
"Oh iya, Tania. Bude boleh nanya soal pribadi?" tanya Widya hati-hati. Mumpung ada Danu dan Eni juga. Biar mereka tak bertanya-tanya lagi.
"Nanya apa, Bude?" tanya Tania.
"Tapi kamu jangan marah, ya? Dan jawab dengan jujur!" pinta Widya.
"Iya, Bude. Tania akan jawab dengan jujur. Tania juga janji enggak akan marah," sahut Tania.
Widya menghela nafas dulu. Dia mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya.
Eni dan Danu jadi tegang. Karena mereka belum tahu, apa yang akan ditanyakan oleh Widya.
"Apa selama kamu di sana, Tono sering menggaulimu?" tanya Widya dengan sangat hati-hati.
"Enggak, Bude. Tono enggak pernah menyentuh Tania," jawab Tania.
"Hanya...." Tania menundukan kepalanya.
Dia ingat kalau Tono pernah sekali memaksanya. Dan saat Tono mengetahui kalau Tania sudah tak perawan lagi, Tono langsung menghentikannya.
Tono marah dan sejak itu tak pernah lagi melakukannya. Karena Tania juga selalu menolaknya.
Tania terpaksa menceritakannya. Meskipun ada rasa malu. Karena itu masalah yang sangat pribadi
"Memangnya kenapa, Bude?" tanya Tania setelah selesai cerita.
"Kalau begitu, besok Bude antar kamu ke rumah sakit," jawab Widya.
"Mau ngapain, Mbak? Operasi selaput dara?" tanya Eni asal.
"Ngaco aja, kamu! Merikasain Tania. Memastikan dia enggak ketularan penyakitnya Tono!" jawab Widya.
Degh!
__ADS_1
Ketularan penyakitnya Tono?
Tania merasa kepalanya berdenyut dan berkunang-kunang.