HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 171 TONO SADAR


__ADS_3

Tania menundukan kepalanya. Air matanya mengalir perlahan. Bukan karena dia sedih, tapi Tania merasa sangat berdosa pada Tono.


Dia belum sempat menjadi istri yang baik bagi Tono. Malah cenderung jadi istri yang kurang ajar. Istri yang durhaka pada suami.


Meskipun sebagai suami, Tono juga telah mendzoliminya. Tono tak pernah menafkahi Tania, baik moril maupun materiil secara langsung.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Tono yang melihat air mata Tania.


Tania malah terisak.


"Bukankah mestinya kamu bahagia? Kamu bisa mewujudkan impianmu bersama Rendi," tanya Tono lagi.


Tania berjalan perlahan mendekati Tono. Lalu bersimpuh di bawah kaki Tono.


"Maafkan aku. Aku tak bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Aku selalu menolak keinginanmu menggauliku. Aku istri yang durhaka. Yang selalu melawanmu. Maafkan aku...!" ucap Tania sambil terisak.


"Aku yang mestinya minta maaf sama kamu, Tania. Aku tak bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Aku tak bisa membuatmu nyaman, selalu membuatmu ketakutan. Aku selalu menyiksa batinmu. Maafkan aku," sahut Tono.


Tania meraih tangan Tono, lalu menciumnya dengan takzim. Hal yang tak pernah dilakukannya selama dia menjadi istri Tono.


Tono membelai kepala Tania. Lalu dihapusnya air mata Tania.


"Jangan menangis lagi. Sambutlah kebahagiaanmu bersama Rendi. Terus dampingi dia. Rendi sangat mencintai kamu. Kamu mau kan?" tanya Tono.


Tania mengangguk.


Widya, Danu dan Eni ikut terharu. Bahkan Eni memeluk lengan Widya sambil terisak.


"Kalau kamu mau, pulanglah ke rumahku. Mulai sekarang, rumah itu aku berikan padamu. Untuk tinggal kamu dengan Rendi. Juga anak-anak kalian nanti. Cucu-cucuku," ucap Tono.


Tono pun sangat terharu. Bulir bening mengalir ke pipi tuanya.


Tania menatap wajah Tono dengan sendu.


"Tapi mamanya Rendi?" tanya Tania.


"Mamanya Rendi biar jadi urusanku. Nanti aku kasih dia pengertian. Biar dia bisa menerima kamu. Asal kamu berjanji akan menerima Rendi yang mungkin akan cacat selamanya," jawab Tono.


Air mata Tono kembali mengalir. Dia tak sanggup membayangkan kalau Rendi sampai cacat seumur hidupnya.


Semua karena sikap egoisnya yang tak mau mengalah pada anak satu-satunya itu. Tono sangat menyesalinya.


Tania semakin sesenggukan. Bukan dia tak mau menerima Rendi, seandainya cacat selamanya. Tapi dia tak sanggup membayangkannya juga.


"Kamu mau menerima Rendi, kan?" tanya Tono.


Tania mengangguk.


"Bagaimanapun kondisi Rendi nantinya, aku akan menerimanya," jawab Tania.

__ADS_1


"Terima kasih, Tania. Terima kasih juga kamu telah menyelamatkan Rendi. Kamu telah mendonorkan darahmu untuknya," ucap Tono..


"Aku akan berikan apapun asal Rendi selamat," sahut Tania.


"Terima kasih, Tania. Aku berhutang budi padamu. Aku akan membayarnya dengan memberikan kebahagiaan padamu. Berdirilah. Aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya," pinta Tono.


Tania pun menurut. Dia berdiri dan memeluk Tono yang juga sudah berdiri. Tak ada lagi rasa takut, meski merasa sedikit risi.


Tono pun memeluk Tania dengan erat. Bukan lagi seperti pelukan laki-laki terhadap wanita, tapi lebih pada pelukan seorang ayah pada anak perempuannya.


"Terima kasih, Tania. Kamu telah menyadarkan aku. Aku akan menuhi janjiku secepatnya." Lalu Tono melepaskan pelukannya dan mengecup kening Tania dengan lembut.


Widya, Danu dan Eni semakin merasa terharu. Tono yang selama ini mereka pikir, orang yang sangat kasar, ternyata bisa juga bersikap lembut.


"Aku pulang. Nanti aku akan minta tolong pengacara, untuk mengurus perceraian kita secepatnya. Biar kamu dan Rendi bisa secepatnya menikah," ucap Tono.


"Widya, Danu, Eni. Maafkan aku. Aku telah mendzolimi kalian. Sebagai wujud permintaan maafku, ambil semua yang telah aku berikan untuk kalian. Kalau kalian butuh legalitas, nanti aku akan urus balik namanya ke nama kalian," ucap Tono yang diangguki oleh ketiganya.


Lalu Tono keluar dan pergi dari rumah Danu.


Tania merasa ini adalah pertama kalinya dia merasa berat ditinggalkan Tono pergi.


Begitu Tono sudah tak terlihat lagi, Tania menghambur ke pelukan Eni. Dan menangis sesenggukan di sana.


Widya ikut memeluk keduanya.


"Bude sangat bahagia, Tania. Tanpa diminta, Tono akan menceraikan kamu," ucap Widya sambil mengelus punggung Tania.


"Iya, Bude. Tania juga sangat bahagia." Tania beralih memeluk Widya.


"Si Tono habis kepentok di mana, ya?" gumam Danu, sambil menggaruk kepalanya.


Widya melepaskan pelukan Tania. Lalu menoyor kepala Danu.


"Kamu itu! Mestinya kamu bersyukur, Tono mau melepaskan Tania!" ucap Widya.


Danu langsung bersujud.


"Terima kasih, Ya Allah. Terima kasih. Akhirnya sadar juga itu aki-aki," ucap Danu.


Semua yang tadinya menangis jadi tertawa melihat tingkah Danu.


"Ati-ati, entar kepala kamu kepentok kayak Tono!" ucap Widya sambil ketawa.


Danu langsung berdiri dengan hati-hati.


"Enggak ah. Ngapain nyama-nyamain si tua bangka itu!" ucap Danu.


Widya kembali tertawa ngakak.

__ADS_1


"Kayak kamu enggak tua aja!" Widya kembali menoyor kepala Danu.


"Tapi kan enggak sebangka dia, Mbak. Hehehe," sahut Danu sambil nyengir.


"Lho kok ditata lagi, En?" tanya Widya melihat Eni menata kembali dus-dus nasi.


"Kita berdoa lagi, Mbak," jawab Eni. Lalu dia memposisikan diri seperti tadi. Duduk sambil matanya merem.


"Memangnya kamu mau berdoa apa lagi?" tanya Widya.


"Meminta biar kepalanya Tono yang kepentok enggak sembuh-sembuh," jawab Eni.


"Tega amat! Memangnya kenapa kalau dia sembuh?" tanya Widya lagi.


"Entar dia ambil semua pemberiannya, kita mau tinggal di mana," jawab Eni.


"Aku juga mau berdoa lagi, ah. Aku enggak mau jadi pengangguran lagi." Danu pun duduk di sebelah Eni dan khusyu berdoa.


Widya dan Tania saling bertatapan. Lalu ketawa bersama melihat kelakuan sepasang suami istri yang unik itu.


"Udah, udah. Kelamaan berdoa nanti makananya keburu dingin. Antarkan ke tetangga," ucap Widya.


"Sisain satu buat aku, Bu. Aku laper," ucap Danu.


"Buat kamu udah aku siapin di meja makan, tuh!" Widya menunjuk ke meja makan di dapur.


Danu bergegas ke dapur.


"Eh, makannya nanti! Nungguin Eni selesai nganter-nganterin dulu!" cegah Widya.


"Yaelah, Mbak. Udah laper, masih harus nunggu," gumam Danu.


"Kamu enggak kasihan sama istrimu? Dia juga kepingin makan juga, kali!" ucap Widya.


"Kan bisa nyusul, Mbak," sahut Danu.


"Nyusul, emangnya kamu makan dimana?"


"Ya makan di sini. Masa mesti makan di pangkalan?" sahut Danu.


"Enggak! Pokoknya kita makan bareng-bareng. Keluar kamu!" Widya menarik tangan Danu agar keluar dari dapur.


"Nanti makanannya keburu dingin, Mbak!" Danu tetap ngeyel.


"Nanti aku panasin lagi biar panas! Apa kamu mau dipanasin sekalian, hah!" Widya langsung keluar sungutnya.


"Iya...Iya. Pelit amat sih!" Danu kembali ke ruang tamu sambil cemberut.


Widya tersenyum puas, bisa mengerjai adiknya yang konyol itu.

__ADS_1


__ADS_2