
Tania berlari naik ke lantai dua. Linda mengejarnya. Tapi karena tubuh Linda yang masih lemas, dia kembali tak mampu menangkap Tania.
Tania buru-buru masuk ke kamarnya dan menguncinya.
"Buka pintunya, Tania!" teriak Linda sambil terus menggedor-gedor pintu.
Tania tak menghiraukan. Dia merasa sudah aman di dalam.
Tania yang tak berniat menyebarkan video itu, hanya menyembunyikan benda itu dalam tasnya.
Ngapain repot-repot nyebarin video itu? Yang ada malah aku yang bakal diciduk polisi karena dianggap menyebarkan pornography. Batin Tania.
Dia pun hanya mengambil ponselnya sendiri dan mulai asik berselancar di dunia maya.
Sementara Linda terus saja menggedor pintu kamar Tania sambil teriak-teriak.
"Heh! Ngapain kamu di situ?" teriak Tono. Dia merasa terganggu oleh ulah Linda.
"Dia....Dia....!" Linda berusaha mencari alasan.
"Dia apa? Jangan ganggu istriku! Sekarang, kamu masuk ke kamar tamu, atau aku akan mengurungmu!" ancam Tono.
"Tapi, Beib...."
"Enggak ada tapi-tapian! Pergi!" Tono menunjuk ke arah tangga.
Linda berjalan mendekat ke arah Tono.
"Beib. Maafkan aku. Aku tidak bersalah. Hu hu hu." Linda terus memohon sambil menangis.
"Aku bilang, turun!" bentak Tono.
"Beib....!" Tono melotot ke arah Linda.
Dan tanpa Tono kira, Linda mendorong tubuh Tono, lalu mengunci pintu kamar dan mengantongi kuncinya.
"Heh! Mau apa kamu?" tanya Tono dengan marah.
"Kalau kamu bisa mengurungku, aku juga bisa mengurungmu!" sahut Linda tak mau kalah.
"Kurang ajar, kamu! Berikan kuncinya!" bentak Tono lagi.
"Enggak akan! Kita akan tidur bersama malam ini, di sini!" sahut Linda.
"Jangan harap kamu bisa tidur di kamarku lagi. Keluar!" teriak Tono.
"Hahaha. Kamu aja yang keluar dan tidur di kamar bawah! Kamu pikir enak tidur di sekap dalam kamar sekecil itu?" Linda tertawa terbahak-bahak.
Asih menempatkan Linda di kamar tamu yang kecil dan jarang dipakai. Hingga terasa pengap.
Tono tetap merangsek ke arah Linda. Linda berlari, Tono mengejarnya. Hingga mereka sampai di balkon.
Linda merogoh kantongnya dan mengambil kunci pintu.
"Ini yang kamu inginkan, Beib?" Linda memperlihatkan kuncinya.
"Berikan padaku!" teriak Tono..
__ADS_1
"Enggak!" sahut Linda.
"Aku akan membuang kunci ini, dan kita akan terkurung di sini semalaman!" ancam Linda.
"Kurang ajar!" Tono mendekat ke arah Linda.
Tono mengangkat satu tangannya. Dia hendak menampar Linda.
Hap!
Linda menangkap tangan Tono dan mencengkeramnya. Entah kekuatan dari mana, tiba-tiba Linda yang tadinya merasa lemas, jadi bertenaga lagi.
Tono berusaha melepaskan tangannya. Tapi cengkeraman Linda sangat kuat.
"Jangan memaksaku berbuat kasar! Aku bisa saja melemparkanmu ke bawah. Dan kamu akan mati seperti Tajab!" ucap Linda dengan geram.
"Bajingan kamu! Dasar pelacur!" sahut Tono.
"Dan kamu yang menjilati tubuh pelacur ini! Apa kamu masih mau menjilatiku lagi, Pak Tua?" ejek Linda.
"Kurang ajar kamu! Jangan harap aku akan menyentuhmu lagi! Aku akan memulangkanmu!" seru Tono.
"Oh, ya? Kalau begitu, berikan aku pesangon! Aku telah merelakan tubuhku ini kamu jilati, kamu gigit bahkan kamu tusuk dengan mainanmu yang tak berguna itu!" sahut Linda.
"Baik! Aku akan memberikanmu pesangon. Berapa yang kamu minta?" tanya Tono.
"Satu milyar!" jawab Linda dengan entengnya.
Mata Tono terbelalak. Dia saja tak sampai satu milyar mengeluarkan uang untuk Tania. Gadis yang jauh lebih berharga daripada Linda.
"Kamu pikir tubuhmu semahal itu?" ejek Tono.
"Kurang ajar, kamu! Berikan kuncinya!" Tono masih berusaha merebut kunci itu.
Tono terus saja merangsek. Hingga akhirnya kunci itu terjatuh ke bawah.
Plak!
Tono langsung menampar pipi Linda. Linda langsung memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.
"Kamu cuma bisa menggunakan kekerasan. Pantas saja Tania lebih memilih anakmu dan merelakan tubuhnya untuk anakmu itu!" ucap Linda. Air matanya menggenang. Menahan rasa sakit di pipinya.
"Jangan bawa-bawa anakku!" bentak Tono.
"Kenapa? Kamu marah pada anakmu yang ganteng itu? Sebentar lagi, kamu akan lebih marah! Karena anakmu itu akan membawa kabur Tania!" sahut Linda.
Dada Tono kembali bergemuruh. Nafasnya terdengar memburu. Emosinya seakan naik ke ubun-ubun.
Linda mendengus kasar. Lalu masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk milik Tono.
"Tidur kamu di sofa! Aku tidak sudi tidur satu ranjang lagi denganmu!" usir Tono.
Linda bangkit dan mengambil bantal yang biasa dipakai Tono. Lalu melemparkannya ke atas sofa.
"Tuh! Tidurlah kamu di sana, Pak Tua!" ucap Linda.
Tono sangat geram mendengarnya. Ingin sekali dia mencabik-cabik Linda. Tapi Tono merasakan tubuhnya lelah. Dan bisa saja Linda malah mencelakainya.
__ADS_1
"Dasar perempuan tak tau diri!" sahut Tono. Lalu dia berjalan ke sofa. Tapi tidak untuk tidur.
Dia mengambil ponselnya. Tono akan menghubungi Wardi ataupun Diman untuk datang ke rumahnya. Dia merasa sudah tak bisa menangani Linda sendirian.
Teriak memanggil Yahya pun percuma. Karena kamar Yahya jauh di lantai bawah. Dan hape Yahya telah dibantingnya tadi.
Linda yang cerdik, memperhatikan Tono. Lalu berjalan mendekat.
"Kamu mau menghubungi anak buahmu?" tanya Linda.
"Bukan urusanmu!" jawab Tono ketus.
"Sekarang akan jadi urusanku, Pak Tua! Berikan hapemu!" Linda meminta hape Tono.
"Enak aja!" Tono menjauhkan hapenya.
"Berikan atau aku akan membuat hapemu pecah berantakan seperti hapenya Yahya!" ancam Linda.
"Kamu semakin kurang ajar! Minggir!" Tono menyuruh Linda menjauh darinya.
Bukannya menjauh, Linda malah duduk di atas pangkuan Tono dengan pose yang menantang.
"Apa-apaan, kamu? Minggir!" Tono berusaha menjauhkan tubuh Linda. Tapi Linda malah melingkarkan kedua tangannya ke leher Tono.
"Jangan membuatku marah, Pak Tua! Sebelum kamu menghancurkan aku, aku akan membuatmu hancur lebih dulu!" ancam Linda di telinga Tono.
"Kurang ajar, kamu! Minggir!" Tono tetap berusaha menjauhkan tubuh Linda.
"Berjanjilah dulu padaku, kamu akan memberikan satu milyar padaku. Dan aku akan membiarkanmu tidur tenang malam ini!" ucap Linda.
"Tidak akan!" sahut Tono.
"Kalau begitu, aku akan membuatmu tidur selama-lamanya!" ancam Linda lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Tono.
"Kamu mau menyusul Tajab? Biar dia tetap jadi centengmu di neraka sana!" jawab Linda.
"Persetan dengan ancaman kamu! Aku tidak takut!" sahut Tono.
Hap!
Linda berhasil menangkap hape Tono. Lalu segera turun dari pangkuan Tono dan berlari ke tempat tidur.
Tono mengejarnya.
"Berikan hapeku!" teriak Tono.
"Tidak! Kembali ke sofa itu atau aku akan membantingnya?" Linda mengangkat hape Tono ke atas.
Tono menghela nafasnya. Berusaha meredam emosinya yang sudah sangat memuncak.
"Dasar wanita gila!" Tono menyerah dan kembali ke sofa.
Tubuh tuanya sudah sangat lelah menghadapi kegilaan Linda.
Akhirnya Tono pun tertidur pulas sambil mendengkur.
__ADS_1
Ggrrrrkkk.
Ggrrrrkkk.