HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 151 TONO SUDAH TAHU


__ADS_3

Rendi tercenung sesaat. Lalu segera membalas pesan dari Tania.


Jangan ke kamarku dulu. Si tua bangka ada di sini. Ketik Rendi.


Tapi sayangnya pesan dari Rendi tak langsung dibuka oleh Tania.


Ayo dong, Tania. Baca pesanku. Gumam Rendi dengan panik.


Sementara di depan area rumah sakit, Tania sedang asik memilih makanan dan minuman untuknya nanti saat menunggu Rendi.


Semenit. Dua menit. Hingga lima menit. Tania masih harus mengantri untuk membayarnya. Dia pun lupa membuka ponsel yang ditaruhnya di dalam tas.


Rendi semakin panik. Karena Tania tak juga membaca pesannya.


"Kamu kenapa, Ren?" tanya Tono yang melihat Rendi seperti orang kebingungan.


"Eng...enggak apa-apa, Pa," jawab Rendi.


Rendi menghela nafasnya. Lalu nekat menelpon Tania. Dia tak mau Tania tiba-tiba muncul dan bertemu dengan Tono.


Tania yang baru saja membayar belanjaannya, mendengar ponselnya berbunyi.


Rendi!


Tania segera mengangkatnya.


"Iya hallo, Ren. Ada apa?" tanya Tania santai.


"Mm...baca pesanku!" jawab Rendi pelan. Lalu segera mematikan panggilannya.


Hhmm. Ada apa? Batin Tania. Lalu membuka pesan Rendi.


Glek!


Aduh, gawat!


Tania segera memakai lagi maskernya. Lalu membalas pesan Rendi.


Oke. Aku tunggu di luar rumah sakit. Kabari kalau papamu sudah keluar.


Rendi langsung membacanya dan mengiyakan.


Rendi bernafas lega. Ponselnya terus saja dia genggam.


"Ren. Maafkan Papa belum bisa membawa Tania ke sini," ucap Tono.


"Mm. Iya. Enggak apa-apa, Pa. Kapan Papa bisa pulang?" tanya Rendi.


"Besok pagi Papa ketemu dokter. Papa mau minta dipulangkan saja. Papa juga harus mencari....eh, maksud Papa membawa Tania ke sini," jawab Tono.


Dia hampir saja keceplosan, mengatakan mencari Tania. Meskipun Rendi sudah tahu kalau Tania sudah tak ada lagi di rumah Tono.


"Papa yakin, mau membawa Tania ke sini?" tanya Rendi lagi.


"Iya, Ren. Papa akan serahkan Tania padamu. Percayalah," jawab Tono.


"Papa tak akan mengurung Tania lagi?" Rendi kembali bertanya. Dia ingin memastikan omongan Tono.


"Papa janji, setelah Papa pulang nanti, Papa akan ceraikan Tania," jawab Tono.


"Kamu masih menginginkannya, kan?" tanya Tono.

__ADS_1


"Iya, Pa. Pasti. Tapi...." Rendi ragu untuk menanyakannya.


"Tapi apa?" tanya Tono.


"Mama bilang....Papa kena penyakit kelamin!" jawab Rendi.


Duar!


Tono merasa seperti dihantam oleh pertanyaan Rendi. Dia pikir Rendi tak tahu dan tak akan menanyakannya.


"I...iya. Maafkan Papa, Ren." Tono menundukan wajahnya.


"Lalu bagaimana dengan Tania?" tanya Rendi.


Tono mengangkat wajahnya. Dia pandangi wajah Rendi.


"Papa tak pernah menyentuhnya. Tapi Papa tetap akan memeriksakan Tania. Untuk memastikannya," jawab Tono.


Rendi mengernyitkan dahi.


"Memastikan?" tanya Rendi tak mengerti.


Barusan katanya tidak pernah menyentuh, kenapa harus memastikan? Gumam Rendi dalam hati


Tono mengangguk.


"Kenapa?" serang Rendi.


"Ren. Bagaimana pun, kami hidup satu rumah. Bisa jadi penyakit itu menyerang dari hal lain," sahut Tono.


"Hal lain apa? Kalian pernah berciuman? Atau Papa memaksa Tania untuk...." Rendi memalingkan wajahnya.


Rendi tak kuasa melanjutkan pertanyaannya. Karena itu sangat menjijikan dan Rendi tak bisa membayangkannya.


"Papa menikah lagi? Setelah Papa menikahi Tania?" tanya Rendi tak percaya. Meskipun Rendi sudah paham dengan kelakuan Tono yang hobi kawin.


Tono hanya bisa mengangguk.


"Menjijikan sekali! Apa Papa tak pernah puas dengan wanita-wanita yang Papa nikahi?" Rendi kembali menyerang Tono.


Tono menghela nafasnya dalam-dalam.


"Ren. Papa kan pernah bilang sama kamu. Papa punya kebutuhan biologis. Papa...."


Belum sempat Tono melanjutkan kalimatnya, Rendi langsung menyambar.


"Papa selalu saja beralasan itu! Kebutuhan biologis yang tak normal!" seru Rendi.


Tono mengangguk pasrah.


"Ya. Mungkin benar katamu. Papa memang tidak normal. Dan itu yang membuat Papa melakukan semua ini." Tono terpaksa mengakuinya.


"Hhh! Menjijikan!" Rendi mendengus kasar dan kembali memalingkan wajahnya.


"Maafkan Papa, Ren. Dan alasan Papa menikah lagi, karena Tania selalu menolak kalau disentuh," ucap Tono.


"Jadi Papa selalu berusaha menyentuh Tania?" tanya Rendi dengan berang.


Dia ingat cerita Tania sebelum Tono menikahinya. Bahwa Tono pernah hampir memperkosa Tania. Meskipun pada akhirnya Tono hanya bisa mencium Tania.


"Itu hak Papa sebagai suami, Rendi!" Tono berusaha membela diri.

__ADS_1


"Hak? Papa bicara soal hak? Lalu mana hak Rendi? Papa malah mengambil hak Rendi! Papa mengambil paksa Tania! Papa jahat!" Rendi mulai emosi.


"Ren. Papa tak tahu kalau Tania itu pacar kamu!" Tono tak mau disalahkan.


"Dan setelah Papa tau, Papa malah menyembunyikan Tania! Dan Papa terus saja mempertahankan Tania! Papa egois!" Emosi Rendi semakin tinggi.


Tono hanya bisa diam. Karena semua yang dikatakan Rendi, benar.


"Dan Papa lihat sendiri kan, akibat dari keegoisan Papa? Rendi sampai seperti ini!" Mata Rendi berkaca-kaca.


Dia harus merasakan rasa sakit yang luar biasa. Dan bukan hal yang mudah untuk menjalaninya nanti.


"Maafkan Papa, Ren. Papa juga harus membayar kelakuan salah Papa dengan penyakit yang memalukan ini," ucap Tono pelan.


"Dan Rendi harus ikut membayarnya? Papa harus mengorbankan Rendi dulu, baru Papa menyadari semuanya?" Rendi menatap mata Tono yang juga sudah mulai berkaca-kaca.


"Maafkan Papa."


Tono langsung keluar dari kamar Rendi. Dia tak sanggup lagi menghadapi anaknya ini.


Rendi menatap kepergian Tono dengan penuh kebencian.


Dasar tua bangka tak tahu diri! Maki Rendi dalam hati.


Setelah bisa menenangkan hatinya, Rendi menelpon Tania untuk masuk ke kamarnya.


Sebenarnya Tania sudah melihat Tono keluar dari kamar Rendi. Dia duduk di tempat biasanya.


Cuma Tania masih menunggu kabar dari Rendi. Khawatirnya Tono akan kembali lagi.


Tania bergegas masuk, dengan senyuman mengembang. Senyum yang dipaksakannya. Karena sejujurnya, dia tak sanggup melihat kondisi Rendi yang mengenaskan.


"Hallo, Ren...!" Tania langsung mendekati Rendi dan memeluknya pelan.


Tania tak mau pelukannya membuat Rendi semakin sakit.


"Hallo, Sayang. Kamu nunggu di mana tadi?" tanya Rendi. Tangan kanannya masih mendekap Tania.


"Di tempat biasanya. Aku juga melihat papamu keluar tadi," jawab Tania.


"Kenapa enggak langsung masuk, heh?" tanya Rendi dengan senyuman yang juga dipaksakan. Karena hatinya masih sangat kesal pada Tono.


"Takutnya papa kamu akan kembali lagi," jawab Tania.


Rendi yang sudah sangat rindu, meraih leher Tania dan ******* bibirnya.


Tono yang kembali lagi ke kamar Rendi, melihat adegan itu dari celah pintu yang tak ditutup rapat oleh Tania.


Tania...!


Mata Tono hampir saja melompat.


Jadi dia...


Di mana dia selama ini?


Tono masih terpaku di tempatnya. Dia tak mau mengganggu ciuman mereka.


Tono pun tak ada rasa cemburu sama sekali. Karena sejujurnya, Tono tak pernah mencintai Tania. Dia hanya berambisi dan bernafsu saja melihat Tania pada saat itu.


Setelah puas berciuman, mereka saling melepaskan. Senyuman kebahagiaan jelas terlihat dari wajah mereka.

__ADS_1


Tono menghela nafasnya. Lalu melangkah pergi, kembali ke kamarnya sendiri.


__ADS_2