
Mereka sampai di rumah Widya, kakaknya Danu. Kakak dari ibunya Tania juga yang telah menghilang tak tentu rimbanya.
Karena mereka tadi terburu-buru, lupa memberi kabar pada Widya kalau mereka mau datang.
Alhasil, mereka mesti menunggu di teras dulu sampai Widya pulang. Dan apesnya lagi, ponsel Widya tidak bisa dihubungi.
Hingga lebih dari satu jam, Widya baru pulang.
"Lho, kalian kapan datang?" tanya Widya.
Tania segera mencium tangan budenya. Juga Danu dan Eni. Mereka memang sangat menghormati Widya.
"Satu jam lebih," sahut Danu dengan kesal.
Walau pun mestinya yang kesal itu Eni dan Tania. Kalau Danu kan sambil menunggu dia asik menghisap rokoknya.
"Kenapa tidak kasih kabar dulu?" tanya Widya sambil membuka pintu rumahnya.
Widya memang tinggal sendirian. Sejak suaminya kabur dan anaknya merantau ke kota metropolitan.
Sehari-hari Widya hanya berjualan nasi kalau pagi, di depan rumahnya.
Tapi karena anak Widya selalu mentransfer uang untuknya, hidupnya boleh dibilang berlebih.
"Mbak Widya dari mana?" tanya Eni melihat tentengan yang dibawa kakak iparnya.
"Oh. Aku dari pasar. Beli batik buat besok minggu. Baju batikku yang lama sudah kesempitan."
Widya memang semakin subur saja badannya. Alasannya karena sudah tidak mikir apa-apa lagi. Jadi enak makan juga enak tidur.
Eni melihat paper bag yang bertulis batik Sari.
Tania pun melihatnya. Dan mereka saling berpandangan.
"Kenapa?" Widya heran melihat adik ipar dan keponakannya yang saling menatap.
"Enggak apa-apa kok. Oh iya, malam ini kami boleh menginap di sini, Mbak?"
"Boleh. Silakan saja. Tapi apa urusan kalian di rumah sudah beres?" tanya Widya. Karena umumnya orang yang akan mengadakan hajatan di rumahnya pasti akan sangat sibuk menjelang hari H-nya.
"Sudah, Mbak. Kan semua makanan sudah aku pesan di catering. Dan untuk riasan, akan datang minggu pagi," jawab Eni penuh percaya diri.
"Ya sudah. Tapi besok kalian harus sudah pulang ya? Persiapan buat hari minggunya."
Eni dan Danu mengangguk. Tania hanya diam saja. Memainkan game offline di ponselnya yang dia matikan datanya.
"Bu, aku mau kopi dong," pinta Danu pada istrinya.
Eni yang telah terbiasa di rumah kakak iparnya, langsung ke dapur membuat kopi.
"Bagaimana kabar calon mempelai laki-lakinya?" tanya Widya yang tak pernah tahu kalau calon suami Tania adalah Tono.
__ADS_1
Danu hanya bilang calon suami Tania jauh lebih tua. Tapi sudah mapan.
Dan Widya tidak pernah bertanya lebih detail. Karena sejak rencana pernikahan itu, Danu dan Eni baru sekali datang ke rumah kakaknya ini.
Yang kata Eni mengantarkan undangan, tapi undangan itu tak pernah ada. Hanya mengabari langsung saja.
Waktunya tak akan cukup kalau mesti cetak undangan. Dan Tania pun melarang bibinya membuat undangan resmi.
"Malu, Bi. Semua orang akan membaca nama calon suamiku. Mereka kan tau siapa Tono, Bi." Itu alasan Tania waktu itu.
"Paman dan Bibi kan bisa bicara langsung sama yang akan diundang. Jangan bahas soal calon suaminya. Tania malu," lanjit Tania kepada paman dan bibinya saat mereka mau mengabari beberapa saudara.
"Baik, Mbak. Dia kan datangnya nanti hari minggu."
Baru saja Danu menjawab seperti itu, ponsel Danu berbunyi. Panggilan dari Tono.
Panjang umur nih orang, baru diomongin sudah menelpon saja.
Danu keluar menjawab panggilan dari Tono.
"Dimana kalian? Kenapa rumahnya sepi?" tanya Tono diujung sana.
"Kami lagi di rumah kakakku. Aku lagi meminta restu padanya. Bagaimana pun Tania kan keponakannya juga." Danu memberi alasan yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
"Oh. Aku kira kalian kabur!"
Danu sangat kesal dengan tuduhan Tono. Lalu tanpa babibu langsung mematikan panggilannya.
"Pak, ini kopinya!" seru Eni dari dalam.
Danu berjalan masuk sambil memasukan ponselnya ke kantong celana.
"Telpon dari siapa, Pak?" tanya Eni karena melihat wajah suaminya jadi butek.
"Teman pangkalan." Danu sengaja berbohong agar Eni tak bertanya lagi. Khawatir Widya akan banyak bertanya.
"Kok wajahmu butek gitu? Temanmu mau ngutang duit ya?" tanya Eni lagi asal.
Karena kebiasaan para tetangga atau pun kawan-kawan Danu, tidak bisa lihat orang punya uang banyak. Bawaannya ngutang saja.
"Hush! Sembarangan saja." Danu mengalihkan omongan istrinya dengan meminta piring lepek yang lupa diberikan istrinya.
"Oh iya, lupa." Lalu Eni berjalan lagi ke dapur mengambilkan piring lepek untuk suaminya minum kopi.
"Kamu ada uang, En?" tanya Widya.
Degh. Baru saja Eni berfikir tentang orang yang tak bisa lihat orang lain pegang uang, sekarang malah kakaknya yang menanyakan.
"Ada, Mbak. Cuma tinggal sedikit. Tinggal buat pegangan saja. Soalnya sudah buat bayar catering, rias dan....Ya Allah, Pak. Kita lupa belum pesan tenda!" pekik Eni sambil menepuk jidatnya.
"Kamu gimana sih, En. Hal penting kok malah dilupakan. Udah sana sekarang cari tukang sewa tenda. Tuh di jalan ke arah pasar kayaknya ada. Moga-moga saja barangnya masih ada. Soalnya kalian dadakan banget."
__ADS_1
Eni segera menyeret suaminya yang lagi ngopi.
"Nanti dulu sih, Bu. Aku habisin kopinya."
"Ah, nanti bisa disambung kopinya. Kalau perlu aku bikinkan lagi."
Sifat jelek Eni memang begitu, grusa grusu. Kalau punya mau, harus langsung dipenuhi.
"Lah kamu yang dipikirin cuma catering melulu!" sungut Danu, setelah mereka ada di dalam angkotnya.
"Kamu juga mestinya bantu mikir dong. Enggak cuma bisanya minta uang buat ngopi sama rokok!" sahut Eni tak mau kalah.
"Dasar egois!" sungut Danu pelan.
"Siapa yang egois? Enak saja kalau bilang!" Eni terus saja ngomel sepanjang perjalanan.
Danu hanya menganggapnya angin lalu. Karena kalau ditanggapi hanya akan membuat emosi Danu naik.
"Tuh tempatnya. Kamu gimana sih, Pak. Kebablasan kan?" Eni masih saja mengomel.
"Lah kamu ngoceh terus. Aku kan tidak tau tempatnya!"
Lalu Danu putar balik. Dia tidak mau memperpanjang masalah. Daripada istrinya makin kayak burung beo.
"Pak, kami akan pesan tenda buat hari minggu. Bisa enggak?" tanya Eni pada pemilik persewaan tenda.
"Hari minggu besok?" tanya orang itu.
"Besok baru hari sabtu, Pak." Dengan jujurnya Eni menjawab.
"Iya. Maksud saya lusa?"
"Nah itu baru bener!"
Danu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"Kok mendadak sekali, Bu? Coba saya cek dulu ya." Pemilik persewaan itu membuka buku catatannya.
"Masih ada satu. Tapi tinggal yang ukuran kecil."
Lalu Eni bergaya seperti seorang arsitek. Dia minta secarik kertas, lalu menggambar halaman tetangganya yang bakal dipakai untuk pasang tenda.
Danu yang melihatnya mengerutkan dahi.
"Eh, Bu. Bapak ini kan sudah bilang kalau tendanya tinggal yang ukuran kecil. Lagian itu halaman tetangga. Jangan dihabisin. Nanti mereka tidak bisa lewat."
"Biarin saja sih, Pak. Kan tidak setiap hari ini," jawab Eni dengan percaya diri.
"Kamu sudah minta ijin sama yang punya halaman?"
Eni hanya menggeleng sambil nyengir.
__ADS_1