HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 197 KEKECEWAAN WIDYA


__ADS_3

Tania dan Widya membawa Lintang ke rumah sakit terdekat. Mereka naik taksi online yang dipesan Tania.


Sedangkan Danu dan Eni, kembali ke hotel. Tugas mereka berdua mengambil mobil dan menyusul ke rumah sakit.


Tania sudah memberitahukan nama rumah sakitnya. Juga kira-kira jalannya menuju ke sana. Karena nanti di sharelok pun, mereka berdua tak bisa membacanya.


Sampai di rumah sakit, Tania berlari keluar mobil menemui security. Meminta mereka menolong membawakan Lintang ke IGD.


Security pun segera menghubungi bagian IGD.


Tania kembali ke mobil.


"Sabar, Bude. Lagi dicarikan brankar buat bawa mbak Lintang," ucap Tania dari luar.


Widya hanya bisa mengangguk. Dia masih merasa sedih melihat Lintang tak sadarkan diri di pangkuannya.


"Sebentar ya, Pak," ucap Tania pada sopir taksi online yang membawa mereka.


"Iya, Mbak. Santai aja. Saya tungguin," sahut sopir taksi dengan sabar.


Tania berjalan ke pintu dekat sopir, lalu membayar ongkosnya.


"Ini, Pak. Ongkosnya." Tania memberikan uang pada sopir taksi.


"Enggak usah, Mbak. Bawa aja. Kalian lebih membutuhkan," tolak sopir taksi dengan sopan.


"Enggak apa-apa, Pak. Ini hak Bapak." Tania meletakan uangnya di dashboard.


Sopir taksi tak bisa menolaknya, karena Tania sudah kembali ke belakang. Tapi dia juga tidak langsung mengambilnya.


Tak lama, beberapa perawat datang membawa brankar. Lalu mereka mengeluarkan Lintang yang masih tak sadarkan diri dari mobil.


Sopir taksi yang baik hati juga ikut membantu.


"Terima kasih banyak, Pak," ucap Tania pada sopir taksi sebelum dia mengikuti brankar ke ruang IGD.


Sampai di depan ruang IGD, seorang perawat menghadang mereka.


"Maaf, kalian tunggu di luar ya. Biar kami yang menangani pasien," ucapnya dengan sopan.


Tania dan Widya mengangguk. Lalu perawat itu menutup pintu ruang IGD.


Tania jadi teringat kembali saat dia dan Tono membawa Rendi ke ruang IGD. Saat itu hatinya hancur lebur. Ada kecemasan yang luar biasa karena kondisi Rendi waktu itu kritis.


Darah membasahi pakaian Tania. Dan sampai sekarang, Tania seperti masih mencium bau anyir darah Rendi.


"Lintang sakit apa, ya?" gumam Widya dengan cemas.


"Mbak Lintang enggak pernah bilang soal penyakitnya, Bude?" tanya Tania.


Widya menggeleng.


Selama ini kalau mereka telpon atau video call, Lintang terlihat baik-baik saja. Bahkan sangat ceria.


Memang terakhir Widya menghubungi Lintang, mereka hanya bicara melalui telpon, tidak video call seperti biasanya.

__ADS_1


Alasan Lintang waktu itu, dia lagi ada di tempat kerja. Jadi tidak enak kalau pembicaraan mereka didengar orang lain.


"Mungkin cuma kecapekan, Bude," ucap Tania berusaha menenangkan Widya.


"Iya, semoga saja begitu," sahut Widya.


Wajahnya masih memperlihatkan kecemasan.


"Lintang anak yang kuat. Dari dulu tak pernah mengeluh meskipun capek. Dan enggak pernah sampai pingsan juga," gumam Widya.


Tania membimbing Widya untuk duduk di bangku panjang di depan ruang IGD.


Lalu Tania menggenggam tangan Widya, seperti yang Widya lakukan pada Tania di mobil saat berangkat tadi siang.


"Kita doakan saja yang terbaik untuk mbak Lintang, Bude," ucap Tania.


Widya mengangguk. Mulutnya komat kamit merapalkan doa untuk anak satu-satunya itu, sebisanya.


Matanya terlihat berkaca-kaca. Kesedihan sangat jelas terpancar dari wajah tuanya.


Tania mengambil tissue di tas selempangnya. Lalu memberikan selembar pada Widya.


Widya mengambilnya lalu menghapus air matanya yang sudah menggenang.


Tania ikut sedih melihatnya. Baru saja mereka ingin bersenang-senang, malah dapat masalah baru.


Tapi semoga bukan masalah yang besar, batin Tania.


Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar. Di belakangnya ada seorang dokter wanita.


"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter wanita, yang dari tag name di dadanya bernama Dila.


"Iya, saya ibunya," jawab Widya.


Dokter Dila mengangguk sambil tersenyum.


"Anak Ibu enggak apa-apa. Dia cuma kecapekan saja. Mungkin juga sedikit stres pikiran. Usahakan jangan terlalu capek, dan dijaga juga pola makannya," ucap dokter Dila.


Widya mengangguk. Tania hanya menyimaknya.


"Iya, Dokter. Masalahnya kami tidak tinggal satu kota. Anak saya bekerja di kota ini. Jadi saya tidak bisa mengontrolnya," sahut Widya.


"Atau mungkin anak Ibu minta cuti dulu, satu bulan. Anak Ibu butuh istirahat yang cukup, biar pikirannya juga tidak terlalu stres. Karena dikhawatirkan bisa mengganggu perkembangan janinnya," ucap dokter Dila.


Widya dan Tania terhenyak.


"A...Apa? Janin? Maksud...Dokter?" tanya Widya tergagap.


Dokter Dila malah menatap Widya dengan kebingungan.


"Ibu tidak tahu kalau anak Ibu lagi hamil?" tanya dokter Dila.


Widya menggeleng sambil masih bengong. Widya belum percaya omongan dokter Dila.


"Anak Ibu sedang hamil muda. Tadi sudah kami USG juga. Kehamilan anak Ibu sudah menginjak delapan minggu. Ibu paham kan apa yang harus dilakukan saat usia kehamilan segitu?" tanya dokter Dila.

__ADS_1


Widya mengangguk lemah. Kepalanya jadi terasa berdenyut. Keringat dingin mulai keluar.


Tania yang melihatnya, langsung menahan tubuh subur Widya agar tak jatuh.


"Bawa ibunya duduk dulu, Mbak." Dokter Dila menunjuk ke bangku tempat Tania tadi duduk.


"Iya, Dok." Tania memapah tubuh Widya ke bangku yang tadi.


"Suster, tolong carikan air putih untuk ibu itu," perintah dokter Dila pada perawat yang berdiri di sampingnya.


"Iya, Dokter." Perawat itu mengangguk. Lalu pergi mencari air putih.


"Mbak. Nanti bisa ke ruangan saya?" tanya dokter Dila pada Tania.


Tania mengangguk.


"Saya akan buatkan resep vitamin dan penambah darah untuk kakaknya. Saya permisi dulu." Dokter Dila pergi ke ruangannya.


Tania mengangguk dan matanya mengikuti kemana dokter Dila masuk. Biar nanti tak kebingungan mencarinya.


"Bude. Bude yang sabar, ya," ucap Tania.


Setelah perawat datang membawakan segelas air putih, Tania menyandarkan kepala Widya.


"Bude minum dulu, ya." Tania membantu Widya minum.


Widya pun menurut. Tenggorokannya memang terasa kering. Badannya terasa lemas. Padahal tadi sebelum jalan-jalan, mereka sudah makan.


Setelah Widya merasa lebih segar, Tania berdiri.


"Apa kita bisa melihat kondisi mbak Lintang ya, Bude?" tanya Tania.


Widya menggeleng. Dia pun tak mengerti.


Tania mendekat ke ruang IGD.


"Suster, apa kami bisa melihat kondisi pasien?" tanya Tania pada perawat yang berjaga di sana.


"Silakan. Pasien juga baru saja siuman. Biarkan dulu pasien berbaring, sampai rasa pusingnya hilang," jawab perawat dengan ramah.


"Kakak saya tidak perlu rawat inap kan, Suster?" tanya Tania lagi.


"Sepertinya tidak perlu. Tadi dokter Dila tidak menyarankannya, kan?"


Tania menggeleng.


"Kalau begitu, silakan masuk. Tunggu sampai pasien sudah tidak merasa pusing lagi. Terus, nanti bisa menemui dokter Dila di ruangannya," lanjut perawat itu.


Tania mengangguk mengerti.


Lalu kembali menghampiri Widya yang masih terduduk dengan lemas.


"Bude mau lihat kondisi mbak Lintang? Mbak Lintang katanya baru saja siuman," tanya Tania perlahan.


Widya terdiam. Dia belum mampu mengangkat badannya yang terasa semakin berat.

__ADS_1


Widya merasa sangat kecewa pada Lintang.


__ADS_2