
"Kenapa, Bu?" tanya Danu. Dia meraih nota yang dipegang Eni.
Danu menghela nafas lega. Ternyata harganya sangat terjangkau. Sama seperti harga masakan serupa di kampungnya.
Dan ternyata juga, mereka tak perlu membayar semua yang tersaji. Hanya membayar yang mereka makan saja.
"Ya udah bayar," ucap Danu kepada Eni.
Eni pun mengeluarkan uangnya.
"Udah, ambil aja kembaliannya," ucap Danu pada pelayan yang ramah itu.
Eni hanya melongo. Karena tak biasa begitu. Kembaliannya masih cukup buat beli rokoknya Danu satu bungkus.
Maklum emak-emak. Itungannya lebih detail dari KPK.
Kalau Danu, sering seperti itu kalau makan di warung yang dia merasa puas dengan pelayanannya.
Danu berdiri. Eni pun terpaksa ikut berdiri.
"Terima kasih, Pak. Semoga Bapak dan Ibu puas dengan pelayanan kami. Selamat jalan dan sampai jumpa lagi," ucap pelayan itu dengan ramah.
Danu mengangguk sambil tersenyum. Kalau Eni diam saja sambil terus manyun.
"Sampai jumpa lagi...Sayonara dong. Kayak judul lagu aja!" gumam Eni sambil berjalan.
"Udah, enggak usah dipikirin. Yang penting kan kita puas," ucap Danu sambil berjalan pulang ke arah hotel.
"Puas sih puas. Tapi itu kembaliannya tadi kan, bisa buat beli rokok kamu satu bungkus, Pak." Eni masih saja menyayangkan uang kembalian yang tak diminta oleh Danu.
"Yaelah, Bu. Anggap aja beramal. Mereka kan udah kasih kita kepuasan. Nanti aku ganti uangnya!" sahut Danu.
"Kamu mah, selalu bilang kayak gitu. Ujung-ujungnya kalau beli rokok, minta uang aku juga!" Eni tetap uring-uringan.
"Memangnya aku mesti minta uang sama siapa? Kan uang setoran angkot, kamu juga yang pegang." Danu tak mau kalah.
"Selalu itu andalannya. Nyebelin!" Eni kembali manyun.
"Penghasilanku kan memang dari situ, Bu. Entar kalau aku jadi pejabat, aku kasih semua gajiku buat kamu. Biar kamu muntah-muntah kebanyakan duit!" Danu tergelak sendiri.
"Menghayal aja kerjaannya. Mana ada pejabat seperti kamu? Yang ada negara ini makin bobrok!" sahut Eni.
"Itu kan kalau, Bu. Kalau enggak, ya terima nasib aja jadi istri sopir angkot. Hahaha!" Danu kembali tergelak.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan hotel.
"Ayo buruan masuk. Nanti keburu ditutup pintunya!" goda Danu.
__ADS_1
"Ish. Mana ada hotel tutup. Bisa-bisa tutup selamanya, enggak bisa bayar gaji karyawan!" sahut Eni.
"Nah, itu paham. Ayo ah. Aku udah enggak tahan!" Danu menarik tangan Eni, biar bisa cepat sampai ke depan lift.
"Sabar kenapa sih, Pak!" Eni yang memakai sandal berhak tinggi, agak kesulitan berjalan cepat.
"Lagian kamu, gaya-gayaan sih! Segala pake sandal tinggi!" omel Danu.
"Yee...malah ngomel! Enggak tau apa, kakiku lecet semua!" Eni meringis merasakan kakinya yang mulai lecet.
"Mau aku gendong?" tanya Danu.
"Kayak kuat aja!" jawab Eni.
Mereka pun masuk ke dalam lift, setelah pintu lift terbuka.
"Kuat, Bu. Tapi nanti ya, di kamar. Aku udah enggak tahan, nih." Danu menghentak-hentakan kakinya pelan.
"Ngapain sih kamu, Pak. Malu-maluin aja!" Eni pun melihat ke arah bagian bawah Danu.
"Enggak ada orang ini!" Danu terus saja menggeliatkan bagian bawahnya.
Sampai di lantai teratas, pintu lift terbuka. Danu segera keluar.
"Mana kuncinya, Bu!" Danu menengadahkan tangannya.
"Aelah...kenapa mesti pakai kartu segala sih? Lama-lamain aja!" Danu menerima kartu itu dari Eni. Lalu bergegas menuju depan pintu kamarnya.
Dengan konsentrasi tingkat tinggi, Danu mampu membuka pintu kamarnya sekali gesek.
"Ayo buruan!" Danu mengambil kembali kartunya. Dia takut kartunya tertinggal di luar pintu.
Eni pun buru-buru masuk.
Busyet! Abis makan apaan sih dia? Sampai enggak sabaran begini?
Mana aku juga lagi kebelet. Hhh! Bisa ngompol di tempat tidur nih, kalau langsung tancap gas. Batin Eni.
Setelah Eni masuk dan pintu terkunci, Danu bergegas lari ke kamar mandi.
Hah? Apa dia mau mainnya di kamar mandi, kayak tadi? Bener-bener ya, itu orang. Enggak lupa. Tadi sore belum kelar, minta dilanjutin lagi. Gumam Eni dalam hati.
Eni pun segera melepas sandalnya dan melemparkan tasnya ke sembarang arah. Lalu menyusul Danu ke kamar mandi.
Enggak apa-apa deh kalau mainnya di kamar mandi. Bisa sekalian kencing. Jadi tempat tidurnya enggak bau pesing. Batin Eni.
"Ah...! Lega!" Danu menggelengkan kepalanya sedikit. Merasa lega karena kebelet pipis yang dari tadi ditahannya, bisa keluar dengan lancar.
__ADS_1
"Kamu mau ngapain, Bu?" tanya Danu sambil menarik lagi retsleting celananya.
"Mm...Kamu sendiri lagi ngapain?" Eni malah balik bertanya.
"Kencing!" jawab Danu singkat.
"Aku juga mau kencing," ucap Eni dengan menahan malu.
Ah, aku pikir suamiku ini enggak tahan kepingin cepet-cepet main. Enggak tahunya kepingin kencing. Untung dia enggak bisa baca pikiranku. Bisa habis diledekin kalau dia sampai tahu.
Selesai dari kamar mandi, Eni melihat Danu sudah terkapar di atas tempat tidur.
Ya...dia malah tidur. Padahal aku kan kepingin ngerasain main di atas tempat tidur ini. Batin Eni.
Eni duduk di tepi tempat tidur sambil enjrot-enjrotan. Berharap Danu terganggu terus bangun.
Tapi bukannya bangun, Danu malah semakin lelap tidurnya. Terdengar suara dengkurannya yang semakin kenceng.
Ih, ngeselin! Aku udah kepingin banget, malah ngorok! Aku mau tidur ajalah. Awas aja kalau nanti kepingin, terus gangguin, enggak bakalan aku kasih! Ancam Eni dalam hati.
Lalu Eni melakukan ritualnya sebelum tidur.
Sejak membuka salon, Eni jadi rajin merawat wajahnya. Dengan aneka cream, bonus dari sales yang menawarkan produk ke salonnya.
Setelah merasa wajahnya bersih dan kembali kinclong, Eni pun langsung menyusul Danu tidur.
Dia pun seperti Danu, begitu kena bantal dan kasur empuk, langsung mulutnya nganga.
Mereka terlelap sampai pagi. Bahkan saat Tania mengetuk pintunya, mereka masih saja terlelap.
Tania beberapa kali menghubungi nomor Danu dan Eni, tapi tak satupun yang aktif. Sebab mereka lupa ngechas hapenya yang pada mati.
Tania kembali ke kamarnya. Widya dan Lintang sudah rapi semua. Selesai sholat subuh tadi, mereka bergantian mandi.
"Udah pada bangun mereka?" tanya Widya.
"Belum, Bude. Diketuk-ketuk juga enggak ada yang denger," jawab Tania.
"Hmm...dasar mereka itu. Pasti semalaman pada begadang. Kebiasaan!" sahut Widya.
"Emang paman dan bibi suka begadang, Bu?" tanya Lintang.
"Tanya aja tuh, sama Tania!" jawab Widya.
Lintang menoleh ke arah Tania, meminta penjelasan.
Tania hanya menahan senyum. Dia sudah terbiasa dengan kelakuan paman dan bibinya. Mereka sering begadang kalau lagi pada kepingin olah raga malam.
__ADS_1
Lintang pun manggut-manggut. Dia paham apa yang dimaksud oleh Widya.