
Lintang berjalan ke kamar Tania dan Widya. Sampai di depan kamar mereka, Lintang mengetuk pintunya.
Tania yang membukakan pintu untuk Lintang.
"Eh, Mbak Lintang. Dari mana aja?" tanya Tania.
"Ke kamar paman sama bibi. Terus mengajak mereka ke roof top. Paman kan butuh tempat buat merokok. Tadi bibi juga foto-foto di sana. Kamu mau ke sana juga? Biar aku anterin," tanya Lintang.
"Enggak ah, Mbak. Nanti aja. Lagian, kasihan bude lagi tidur." Tania menunjuk ke arah Widya yang sedang tidur lelap.
Lintang pun menatap ibunya yang terlihat kelelahan setelah perjalanan jauh.
"Ya udah. Sekarang kamu istirahat dulu aja. Nanti malam baru kita jalan-jalan. Aku pulang ke kontrakanku dulu," ucap Lintang berpamitan pada Tania.
"Mbak Lintang nanti malam tidur di sini, ya?" pinta Tania.
"Mm...lihat nanti deh. Soalnya kalau aku tidur di sini, bakal empet-empetan. Kan tempat tidurnya cuma satu," sahut Lintang.
"Enggak apa-apa, Mbak. Biar seru. Bude pasti kepingin juga Mbak Lintang tidur di sini, ya?" Tania tetap menginginkan Lintang tidur dengan mereka.
"Aku nanti bisa tidur di sofa. Mbak Lintang sama bude tidur di kasur," lanjut Tania.
Sofa di kamar itu cukup besar. Terlihat cukup nyaman juga buat tidur.
"Ya enggaklah. Masa kamu yang bayar, malah tidurnya di sofa," sahut Lintang.
"Enggak apa-apa, Mbak. Kayak ama siapa aja. Malah keliatannya anget tidur di sofa," sahut Tania.
"Udah, nanti gampang deh. Aku pulang dulu." Lintang buru-buru pergi meninggalkan kamar Tania.
Tania tak bisa menahan Lintang. Biar saja nanti Widya yang meminta Lintang tidur bersama mereka. Batin Tania.
Tania menutup pintu kamarnya, setelah Lintang keluar. Lalu melanjutkan chatnya dengan Rendi.
Rendi bilang besok pagi sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Asalkan ada perawat dari rumah sakitnya yang mengawasi perkembangan Rendi.
Dan Sari memilih Mila untuk merawat Rendi. Mila pun tidak keberatan. Karena dengan begitu, dia pun bakal mendapatkan uang tambahan.
Rendi pun bilang pada Tania, kalau selama dia belum sembuh, akan dirawat oleh Mila. Perawat dari rumah sakit yang direkomendasikan oleh dokter.
Tania senang, karena dengan begitu Rendi akan cepat sembuh dan bisa berjalan lagi.
Tania melihat Widya masih mendengkur. Sedangkan Tania sendiri tidak bisa tidur. Karena suara dengkuran Widya cukup keras.
Akhirnya Tania memilih mandi berendam di bath tub, sambil terus berkirim pesan pada Rendi.
Otak Rendi mulai nakal, saat Tania mengatakan kalau dia sedang berendam.
__ADS_1
Lalu Rendi mengatakan pada Sari, kalau dia ingin makan buah potong kesukaannya.
"Ma. Rendi kepingin makan buah potong yang dingin," ucap Rendi.
"Mama potongin, ya," sahut Sari.
"Rendi maunya yang dingin, Ma," tolak Rendi.
"Kalau begitu, Mama potongin sekarang terus dimasukin ke kulkas dulu." Sari mendekat ke meja dan mencari buah yang akan dipotonginya.
"Rendi maunya sekarang, Ma. Rendi juga maunya buah naga. Di situ kan enggak ada," rengek Rendi.
"Hh...! Kamu itu, kayak anak kecil aja," ucap Sari dengan kesal.
"Kalau Rendi bisa jalan sendiri, enggak akan minta sama Mama." Rendi pura-pura ngambeg.
"Iya deh. Iya. Sama apa lagi? Biar Mama sekalian keluar," tanya Sari.
Rendi langsung memutar otaknya. Memikirkan makanan apa yang kira-kira dibuatnya lama. Biar dia bisa bebas video call dengan Tania yang sedang berendam.
"Sama martabak manis ya, Ma. Yang coklat keju," jawab Rendi.
"Iya. Udah, itu aja?" tanya Sari lagi.
"Iya, Ma. Udah itu aja. Nanti Mama kecapekan jalannya," jawab Rendi.
"Ya udah, Mama tinggal dulu sebentar." Sari bergegas keluar dari kamar Rendi.
Kegiatan yang jarang sekali dilakukannya, karena Sari selalu sibuk dengan batik-batiknya.
Begitu Sari pergi, Rendi langsung melakukan panggilan video pada Tania.
Panggilan pertama, langsung ditolak oleh Tania. Karena dia malu kalau sampai Rendi melihatnya sedang berendam.
Rendi mengulang lagi panggilannya. Dan Tania tetap menolaknya.
Akhirnya Rendi mengirimkan pesan chat pada Tania, agar menerima panggilan videonya.
Ayolah, Sayang. Aku kangen banget sama kamu. Mumpung mamaku lagi pergi. Please. Waktuku enggak banyak. Ketik Rendi memohon.
Sebenarnya Tania merasa kasihan, karena sejujurnya dia juga kangen sama Rendi.
Tapi Tania tak berani mengangkatnya. Tania takut dia bakal kayak cewek-cewek gabut yang suka self servis di kamar mandi.
Apalagi situasi dan kondisinya mendukung.
Tania memilih mematikan ponselnya. Meskipun resikonya, Rendi bisa marah padanya.
__ADS_1
Nanti Tania akan bikin alasan yang masuk akal buat Rendi. Biar Rendi tak marah padanya.
Lalu Tania melanjutkan acara mandinya. Dia ingin memanjakan dirinya, mandi sambil berendam dan mainan busa sabun.
Tania jadi ingat dengan masa kecilnya dulu. Eni sering membiarkan Tania bermain sabun di bak besar yang biasa dipakai untuk mencuci.
Dan Tania kecil, belum mau keluar dari bak mandi kalau belum dibelikan es krim kesukaannya.
Saking nyamannya berendam, tak terasa Tania tertidur di dalam bath tub.
Dia baru terbangun, saat Widya menggedor pintu kamar mandinya dengan keras. Serta berteriak-teriak memanggil nama Tania.
Widya masih trauma saat dulu Tania mengalami depresi dan menguras air di kamar mandi, dengan menyiramkan ke tubuhnya.
Tania membuka matanya karena terkejut. Dia juga terkejut karena dirinya ternyata masih ada di dalam bath tub.
"Iya, Bude!" sahut Tania dengan suara kencang.
Lalu Tania buru-buru membersihkan badannya dari busa sabun. Dan mengeringkannya dengan handuk.
Dengan melilitkan handuk ke badannya, Tania keluar dari kamar mandi.
"Kamu ngapain aja di dalam?" tanya Widya dengan khawatir.
"Ketiduran di bath tub, Bude. Hehehe." Tania hanya nyengir.
Widya menghela nafas lega. Setidaknya Tania tidak melakukan hal-hal yang membahayakan.
"Nanti kalau mandi lagi, jangan kunci pintunya!" ucap Widya.
"Lah. Kalau ada yang melihat, gimana?" tanya Tania.
"Bude yang jagain. Pokoknya jangan kunci pintunya!" Widya yang sudah kebelet pipis, buru-buru masuk ke kamar mandi. Dan mengunci pintunya.
Ceklek.
Ya...bude sendiri malah mengunci pintunya. Tadi katanya enggak boleh ngunci pintu. Gumam Tania dalam hati.
Sementara Rendi menggerutu dengan kesal. Dia sudah menyuruh mamanya pergi, malah Tania tak mau menerima panggilannya.
Bahkan Tania malah mematikan ponselnya. Padahal Rendi sangat kangen pada Tania.
Tapi Rendi tak marah. Dia malah bangga pada Tania yang selalu bisa menjaga dirinya, meskipun pada Rendi yang sangat mencintainya.
Tak seperti Monica yang selalu gampangan. Jangankan cuma video call, live aja Monica pasti memberikannya.
Ceklek!
__ADS_1
Rendi langsung menoleh ke pintu. Matanya terbelalak melihat siapa yang berdiri di sana.
Ah, dia. Baru saja dibatin, sudah nongol aja.