HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 229 RENDI NGAMUK


__ADS_3

"Tania! Kamu naik ke atas! Sembunyi di kamarmu! Kunci pintunya rapat-rapat!" seru Tono.


Tania menoleh pada Rendi. Dia minta pendapat Rendi.


"Naiklah, Sayang. Ajak mbak Lintang dan Mike." Lalu Rendi meraih dan mencium tangan Tania.


Rendi meminta Tania mengajak Lintang dan Mike, biar Tania tak merasa sendirian.


Tania pun mengangguk, lalu segera berlari mendekati Lintang.


"Ayo, Mbak." Tania menarik tangan Lintang.


Lintang yang tak tahu apa-apa, kebingungan.


"Ada apa ini, Tania?" tanya Lintang.


"Nanti aku jelaskan di atas!" jawab Tania. Lalu kembali menarik tangan Lintang.


Mike yang sudah paham, langsung mengikuti Tania dan Lintang. Dia pun ingin menemani Tania dan menguatkannya.


Dan mereka pun naik ke lantai dua. Tania, Lintang juga Mike memasuki kamar dan mengunci pintunya dari dalam.


"Ada apa ini Tania? Kenapa semua orang panik? Siapa Sari?" tanya Lintang bertubi-tubi.


"Duduklah, Mbak." Tania menggandeng tangan Lintang. Lalu mulai menceritakan semuanya pada Lintang.


Menurut Tania, sekaranglah saatnya Lintang tahu semua yang telah terjadi padanya. Toh, Lintang bakal ada bersama mereka terus.


Tania juga meminta maaf pada Lintang atas nama keluarganya, karena selama ini menyembunyikan cerita tentangnya pada Lintang.


Lintang mendengarkannya dengan serius. Mike duduk di sisi tempat tidur. Dia yang akan jadi saksi atas semua cerita Tania.


Di bawah, kepanikan luar biasa.


"Yahya! Bukakan pintu gerbang!" perintah Tono.


Tono tak mungkin juga membiarkan Sari terus di luar. Sementara dia sedang mencoba membuka pintu hati Sari lagi.


Walaupun setelah kejadian ini, bisa jadi situasinya makin kacau. Sari pasti bakalan marah besar padanya.


Tapi demi kebahagiaan dan masa depan Rendi, Tono akan melakukan apapun.


Saat Yahya keluar membukakan pintu gerbang, yang lainnya membereskan ruangan. Agar tak terlihat berantakan dan seolah tak terjadi apapun.


Semua duduk dengan rapi. Tak mungkin juga mereka ngumpet. Karena diluar ada mobil Dito dan angkotnya Danu.


Widya juga sudah siap di baris depan. Siap jadi tameng kalau Sari menyerang Danu dan Eni.


Dito menjauh, karena ini adalah urusan keluarga. Dan semua anak buah Tono ikutan menjauh juga.


Semua seperti tak ada apa-apa. Hanya pertemuan antara Rendi dengan keluarga Tania. Tanpa Tania tentunya.


Sari pun masuk ke dalam rumah Tono sendirian. Mila dan Yadi menunggu di mobil.


Sari melihat keluarga Tania serta Rendi dan Tono duduk dengan rapi di ruang tamu.


Sari menatap wajah keluarga Tania satu persatu, dengan tatapan penuh kecurigaan.


Apa Tono jadi, mau memberikan rumah ini pada Tania?

__ADS_1


Hhh! Jangan harap!


Aku akan membela hak anakku, Rendi.


Enak saja, baru dinikahi beberapa bulan, sudah minta rumah sebesar ini.


Sari yang baru pertama kali masuk ke rumah Tono, mengedarkan pandang ke seluruh ruangan itu.


Lalu matanya berhenti pada Rendi.


"Rendi! Pulang sekarang! Ngapain kamu disini?" perintah Sari.


"Ini kan juga rumah papa, Ma. Boleh kan sekali-kali Rendi di sini," sahut Rendi.


Tono memilih diam dulu. Belum saatnya dia bicara.


Tadi juga keluarga Tania sudah dibreefing sebentar, agar tak terbawa emosi kalau mendengar ocehan Sari. Karena Sari pasti akan menyerang mereka.


"Boleh! Tapi tidak bareng sama mereka." Sari menunjuk ke arah keluarga Tania.


"Kenapa, Ma? Mereka kan juga bakal jadi keluarga Rendi," tanya Rendi.


"Apa? Keluarga kamu? Enggak akan!" jawab Sari dengan ketus.


"Ma. Duduklah dulu," ucap Tono.


Hhh! Sari mendengus dengan kasar.


"Aku tidak sudi duduk dengan mereka!" Sari melirik sinis ke arah keluarga Tania.


"Ayo, Rendi. Pulang sekarang!" Sari menghampiri Rendi dan berusaha menarik tangan Rendi.


"Ma. Jangan tarik tangan Rendi. Rendi belum bisa jalan!" ucap Tono khawatir.


Tono khawatir kalau Sari nekat menarik tangan Rendi. Disangkanya Rendi kayak dulu yang bisa lari.


"Aku tau!" sahut Sari dengan ketus.


Lalu Sari berjalan ke arah pintu, dia teriak memanggil dua anak buahnya.


"Mila! Yadi! Kesini, kalian!"


Seperti biasanya, Mila dan Yadi sedang bercanda. Maunya Yadi sih bermesraan dengan Mila di dalam mobil. Kayak yang ada di adegan film-film romantis.


Tapi sayangnya, setiap sikap mesra Yadi malah dibercandain oleh Mila.


Dari awal ketemu, meski Mila terlihat begitu lengket dengan Yadi, Mila tak pernah terlalu serius menanggapi.


Mila hanya merasa nyaman dengan Yadi. Karena selama ini dia nyaris tak pernah memdapatkan kenyamanan.


Mila dan Yadi mendengar suara Sari.


"Bu Sari manggil kita, Pak," ucap Mila.


"Iya. Ayo ke sana." Yadi menarik tangan Mila.


"Kamu aja deh, Pak. Aku nunggu di sini. Takut kalau di dalam ada perang dunia," sahut Mila.


"Tenang aja. Ada pangeran Yadi yang akan melindungi putri Mila yang cantik jelita," ucap Yadi dengan gaya lebay.

__ADS_1


"Ish. Yang ada juga pangeran kodok!" sahut Mila.


"Mila! Yadi!" Sari kembali berteriak.


Spontan mereka berdua keluar dari mobil dan lari tunggang langgang.


"Iya, Bu. Ada apa?" sahut Yadi dengan nafas terengah-engah.


"Kalian itu, kebiasaan! Kalau dipanggil enggak cepet-cepet dateng!" Sari mulai ngomel.


Mila dan Yadi hanya diam saja.


"Bantu aku bawa pulang Rendi!" perintah Sari.


Lalu Sari kembali masuk dan memberi jalan pada Mila juga Yadi.


"Ma. Rendi enggak mau pulang sekarang! Rendi janji, nanti sore pulang!" ucap Rendi.


Rendi merasa belum puas bersama Tania.


"Enggak! Pulang sekarang!" Sari tetap ngotot.


"Mila! Yadi! Bawa Rendi pulang!" perintah Sari pada dua anak buahnya.


Mila dan Yadi saling berpandangan. Bagaimana mungkin mereka mengangkat Rendi, kalau yang diangkat menolak.


"Ayo cepat!" bentak Sari.


"Rendi enggak mau, Ma!" Rendi pun tetap menolak.


"Rendi! Jangan bandel, kamu!" Sari mendekati Rendi. Lalu menarik tangan Rendi pelan.


"Ren. Kamu pulanglah dulu. Nanti Papa nyusul," ucap Tono menengahi.


Mumpung Sari belum lebih marah lagi dan menyerang keluarga Tania.


"Tapi, Pa. Rendi masih kepingin di sini," rengek Rendi.


"Kita bisa ke sini besok-besok lagi," sahut Tono berusaha menghibur Rendi.


"Enggak ada kesini-kesini lagi! Apalagi kalau ketemu sama mereka! Aku enggak akan ikhlas dunia akhirat!" Sari menunjuk lagi ke arah keluarga Tania.


Baik Widya, Danu serta Eni, sudah sangat geram dengan sikap Sari yang angkuh dan sangat merendahkan mereka.


Tapi demi kebaikan bersama yang sudah disepakati tadi, terpaksa mereka memendam kemarahan. Hanya wajah-wajah mereka saja yang mengeras.


"Rendi mau pulang sekarang, asal Mama janji mengijinkan Rendi kesini lagi!" ucap Rendi.


Sari menatap Rendi dengan geram.


"Enggak ada janji-janjian!" ucap Sari dengan ketus.


"Kalau begitu, Rendi juga enggak akan mau pulang!" sahut Rendi. Lalu...


Brak!


Rendi melempar tongkatnya hingga menghantam tembok dan bengkok.


Semua yang ada di sana terbelalak melihat kekuatan satu tangan Rendi yang luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2