
"Mbak Sri udah punya anak?" tanya Mila. Yang dia tahu, hanya status Sri sebagai janda.
"Punya, Mil. Satu. Dia tinggal dengan kedua orang tuaku di kampung," jawab Sri.
"Oh ya? Kenapa enggak diajak kesini aja?" tanya Mila.
"Ngaco kamu. Aku kan disini kerja. Masa bawa anak," jawab Sri.
"Kalau bilang sama bu Sari, enggak apa-apa juga kali, Mbak," ucap Mila.
"Enggaklah. Biar anakku sama kedua orang tuaku aja. Kasihan juga kalau ikut aku kerja. Nanti dia enggak punya temen main. Kalau di kampung kan temennya banyak."
Pikiran Sri melayang ke kampung halamannya. Pada anak semata wayangnya yang sudah mulai sekolah. Meski masih TK.
Sri pernah ijin pulang kampung hanya untuk menemani hari pertama anaknya itu sekolah.
Rasanya sangat menyenangkan melihat si kecilnya bermain dengan teman-teman sekolahnya. Kebetulan sekolahan anaknya hanya di sekitaran tempat tinggalnya. Jadi ketemunya juga dengan teman-teman main di rumah.
Waktu itu Sri tak lepas menatap anaknya yang berlarian kesana kemari dengan riangnya. Dan ingin sekali bisa selalu mendampingi jagoan kecilnya setiap saat.
Tapi keadaan tak memungkinkan untuk itu. Sri harus kembali ke kota. Mencari nafkah untuk bisa menghidupi anak dan kedua orang tuanya yang tak lagi punya penghasilan.
Sri punya satu kakak laki-laki. Tapi beban hidupnya juga sangat besar. Tak memungkinkannya membantu kedua orang tua.
"Mbak!" Mila menepuk lengan Sri yang lagi melamun.
"Eh, iya!" Sri segera berusaha mengembalikan pikirannya yang sedang melayang jauh.
"Malah melamun. Inget anaknya, ya?" tebak Mila.
"Iya, Mil. Dia anak yang lucu. Aku selalu merindukannya," sahut Sri.
"Mana coba liat. Ada fotonya, kan?" pinta Mila.
"Ada. Sebentar."
Dengan semangat, Sri mengambil ponsel yang selalu dikantonginya. Dan mulai membuka galeri.
Di galeri ponselnya, banyak sekali foto-foto anaknya. Kadang sepupu Sri yang kebetulan anaknya satu sekolah dengan anak Sri, mengiriminya foto.
Foto-foto kegiatan sekolah anaknya.
"Ini."
Sri memperlihatkan foto-foto itu pada Mila. Dengan antusias Mila melihatnya dengan menggeser-geser layar ponsel Sri.
"Lucu sekali, Mbak. Siapa namanya?" tanya Mila.
"Arya Pradana. Usianya baru lima tahun," jawab Sri.
__ADS_1
Mila mengangguk sambil matanya terus menatap foto-foto itu.
Mila pun jadi ingat dengan kehidupan di panti asuhan tempat tinggalnya dahulu. Kini di sana hanya ada beberapa saja anak-anak yang masih kecil. Seusia anaknya Sri.
Melihat mereka yang lagi lucu-lucunya, membuat Mila tak tega membayangkan mereka kekurangan.
Makanya Mila merelakan sebagian gajinya untuk kehidupan mereka. Itung-itung balas budi.
"Heh! Kok kamu malah melamun?" Sri menepok lengan Mila.
"Eh! Iya, Mbak. Aku jadi ingat anak-anak di panti. Mereka juga seumuran Arya. Aku sering mengunjungi mereka kalau lagi libur. Menyenangkan banget bisa bermain sama mereka," ucap Mila.
"Dunia mereka tanpa beban. Ceria. Walaupun kalau bisa protes, mereka pasti akan nanya kenapa sampai dipisahkan dari orang tuanya," lanjut Mila.
Mila ingat, dulu dia dititipkan di panti juga saat seusia Arya, anaknya Sri.
Mila masih bisa mengingat kenangan itu. Kata ibu Hani pemilik panti, berhari-hari Mila hanya menangis. Sampai akhirnya Mila bisa berinteraksi dengan teman-teman seusianya.
Dan setelah itu, Mila kecil bisa melupakan ibunya.
Sampai sekarang, Mila tak pernah tahu ibunya ada di mana. Masih hidup atau sudah tiada.
Apalagi keberadaan bapaknya yang menghilang sejak Mila masih berumur dua tahun. Wajahnya pun Mila sudah lupa.
Tak terasa matanya berair.
Mila segera menghapus air matanya.
Sri menarik tangan Mila untuk duduk. Dan membiarkan Mila hanyut dalam perasaannya.
Bukan apa-apa. Hanya biar Mila merasa lega saja.
Lalu Mila menceritakan pada Sri tentang kehidupan masa lalunya. Masa lalu yang menyedihkan, sekaligus menyenangkan.
"Jadi kamu enggak pernah ketemu ibu dan bapak kamu lagi, Mil?" tanya Sri.
Mila menggeleng sedih.
"Kamu enggak berniat mencari mereka?" tanya Sri.
Mila kembali menggeleng.
"Kenapa? Bagaimana pun, mereka tetap orang tua kamu, Mil," tanya Sri lagi.
"Mereka saja tak pernah mencariku, Mbak. Ibuku kan mestinya tau, aku tinggal dimana. Karena dia yang udah nitipin aku di panti." Mila menelan ludahnya.
"Tapi nyatanya, ibu enggak pernah datang lagi sejak meninggalkan aku di sana," lanjut Mila.
Sri bertanya sendiri dalam hati. Kok ada orang tua yang tak peduli sama sekali pada anaknya? Meninggalkan begitu saja tanpa ada niat mendatanginya.
__ADS_1
"Apa mungkin ibu kamu sudah...." Sri tak tega mengatakannya.
"Meninggal?" tanya Mila.
Sri mengangguk.
"Entahlah, Mbak. Aku pasrah saja. Kalaupun dia udah meninggal, semoga diampuni semua dosa-dosanya, yang telah menelantarkan aku," jawab Mila.
Mila benar-benar belum mau memaafkan kedua orang tuanya. Makanya sampai sekarang, belum ada niat sedikitpun untuk mencari mereka.
Bagi Mila, orang tuanya ya bu Hani. Pemilik panti yang sudah merawatnya sejak kecil.
Juga suster Maya. Orang yang akhirnya memfasilitasi Mila hingga bisa sekolah di SMK Keperawatan.
Sri tercekat mendengar penuturan Mila. Dia membayangkan, bagaimana kalau anaknya juga suatu saat tak mau mengakuinya sebagai ibu?
Ah, enggak mungkin. Aku kan selalu menafkahinya. Meski aku jarang ketemu. Batin Sri.
Memang Sri tak bisa sering-sering menghubungi anaknya. Karena kedua orang tuanya tak bisa menggunakan ponsel. Dibelikan pun percuma saja.
Saat pulang dulu, Sri pernah mengajari kedua orang tuanya menggunakan barang smart itu. Tapi tetap saja tidak bisa.
Akhirnya ponsel itu hanya tergeletak saja di kamar ibunya. Padahal Sri sudah bela-belain membelikannya dari sisa uang yang dipegangnya.
"Tapi misalnya ibu atau bapak kamu mencarimu, apa kamu mau menemuinya?" tanya Sri.
Mila menggeleng.
Sri menajamkan pandangannya pada Mila.
"Maksudnya?" tanya Sri.
"Aku enggak pernah memikirkannya, Mbak. Membayangkannya aja enggak pernah," jawab Mila.
Sri terdiam mendengarnya.
"Aku juga udah lupa wajah mereka. Apalagi wajah bapakku. Enggak ada bayangan sama sekali," lanjut Mila.
Sama seperti anakku. Dia juga tak pernah mengenal wajah bapaknya. Karena Sri bercerai sejak anaknya masih bayi. Dan lelaki itu pergi tak pernah kembali.
"Miris dengernya, Mil. Tapi kamu hebat. Bisa hidup mandiri di usia yang masih muda," puji Sri, untuk membesarkan hati Mila.
"Kepepet, Mba. Setelah lulus SMP dan pihak panti tak bisa membiayai sekolahku lagi, aku kan harus bekerja. Biar enggak merepotkan dan membebani," sahut Mila.
"Iya, Mil. Tapi bagaimana pun kondisinya, kamu tetap anak yang hebat. Kamu juga bisa membantu panti dengan uang gajimu." Sri kembali memuji Mila.
"Cuma itu yang bisa aku lakukan untuk balas budi, Mbak. Ya...semoga uang dariku yang tak seberapa, bisa membantu mengurangi beban panti," sahut Mila.
"Mil. Boleh kapan-kapan aku diajak ke panti itu?" Rendi tiba-tiba muncul.
__ADS_1