HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 79 RENDI TAK PEDULI


__ADS_3

Mike berjalan cepat menuju mobilnya. Tempat dimana Dito menunggu.


Dito sedang merokok sambil bersandar di mobil Mike.


"Sayang, aku kembali," ucap Mike pada Dito.


"Gimana, sukses?" tanya Dito sambil merentangkan tangannya untuk memeluk Mike.


Mike masih terengah-engah karena dia berjalan dengan cepat. Malah boleh dibilang setengah berlari.


"Masuk mobil dulu." Mike membuka pintu mobilnya.


Dito tercengang melihat keadaan Mike yang sedikit berantakan dengan nafas terengah-engah.


Dito pun memutar dan naik ke mobil.


"Jalan dulu, Sayang. Kita cari tempat yang aman," ucap Mike.


"Maksudmu, di sana tidak aman?" tanya Dito khawatir.


"Udah, nanti aja aku ceritain semuanya." Mike meraih botol minumnya dan menenggak hingga habis.


Dito menatap Mike dengan makin penasaran. Apa yang telah terjadi di dalam sana?


Tapi Dito menahan pertanyaannya, karena kelihatannya Mike tak mau bicara sekarang.


Dito pun melajukan mobilnya. Mencari tempat yang lebih nyaman buat Mike.


Sampai di sebuah restauran, Dito memarkirkan mobilnya.


"Ayo kita ngobrol di dalam sana," ajak Dito. Di restauran itu ada banyak saung yang tempatnya sangat nyaman.


Mike pun menurut. Lalu turun, mengikuti langkah Dito masuk ke restauran itu.


Setelah mendapatkan tempat, Dito memesan minuman untuk mereka berdua.


"Kamu mau makan dulu?" tanya Dito. Karena tadi pagi mereka belum sempat sarapan.


"Nanti aja. Aku belum lapar. Minum aja dulu," jawab Mike.


"Oke. Aku pesankan dulu." Dito memanggil pelayan restauran yang sedang melintas.


"Mbak." Dito melambaikan tangannya.


Pelayan itu datang.


"Ada apa, Mas?" tanyanya.


"Kami pesan minuman dulu. Orange juice dua," ucap Dito.


Pelayan itu mengeluarkan buku kecil dan mencatat pesanan Dito.


"Ini aja?" tanyanya lagi.


"Iya. Makanannya nanti aja. Belum laper katanya," jawab Dito.


Sebenarnya dia sudah lapar, karena semalam olah raga di ranjang Mike sampai gempor. Tapi karena Mike belum mau makan, Dito pun memilih nanti juga.


"Oke. Tunggu sebentar." Pelayan itu pergi.


"Sekarang udah lebih aman dan juga nyaman. Ayo cerita," ucap Dito.

__ADS_1


Mike menghela nafasnya. Dia sudah merasa tenang.


"Tania masih ada di sana. Bersama suaminya. Papanya Rendi." Mike memulai ceritanya.


"Sudah kuduga. Terus?" tanya Dito tak sabar.


"Tania enggak hamil. Dan suaminya...." Mike menghela nafasnya.


"Kenapa suaminya?" Dito semakin penasaran.


Lalu Mike menceritakannya dengan detail. Awal dimana dia masuk hingga akhirnya keluar dengan langkah cepat.


"Kurang ajar! Kamu dipegang-pegang?" tanya Dito penuh kemarahan.


"Enggak sempat. Karena Tania terus masuk dan melihat...aku menindih tubuh tua bangka itu!" jawab Mike dengan geram.


"Pantas saja Rendi sangat membenci papanya. Ternyata kelakuannya sangat menjijikan!" sahut Dito. Dia pun sangat geram membayangkan Mike menindih tubuh tua papanya Rendi.


"Suaminya Tania mencurigaimu?" tanya Dito.


"Sepertinya enggak. Karena aku memberi kode pada Tania agar pura-pura tak kenal," jawab Mike.


"Baguslah. Paling tidak, itu aman bagi Tania. Takutnya kalau dia mengenalimu, Tania bakal diapa-apain," sahut Dito.


Mike mengangguk mengerti.


"Silakan, Mas. Mbak." Pelayan yang tadi mengantarkan pesanan minum mereka.


"Terima kasih, Mbak," sahut Dito.


Pelayan itu pergi lagi.


"Kelihatannya Tania sangat tertekan. Dia tak pegang hape sendiri. Dan kamu bisa lihat kan, kalau pintu gerbangnya selalu digembok?" tanya Mike.


"Jangan-jangan Tania disekap disana," ucap Dito dengan khawatir.


"Oleh suaminya sendiri?" tanya Mike.


Dito mengangguk.


"Biar Tania tak bisa menemui Rendi. Dan Rendi pun tak bisa menemui Tania. Makanya papanya dulu bilang, kalau rumah itu akan dijual dan mereka pindah," ucap Dito.


Giliran Mike yang mengangguk.


"Dan papanya bilang kalau Tania sedang hamil, supaya Rendi tak ngejar-ngejar lagi," lanjut Dito.


"Padahal Tania tidak hamil. Oh iya, tadi waktu aku rias wajahnya, Tania menangis. Kayaknya dia benar-benar tertekan," ujar Mike.


"Kasihan sekali dia. Sejak kecil nasibnya tak pernah beruntung," gumam Dito. Bagaimana pun Dito pernah menyukai Tania.


Mike sudah tahu itu, dan tak pernah mempermasalahkannya lagi.


Apalagi sekarang, setelah melihat kondisi Tania. Mike semakin kasihan pada Tania.


"Sayang. Bagaimana kalau kita coba membebaskan Tania?"


"Iya. Tapi kita bicarakan dulu dengan Rendi. Bagaimana pun ini menyangkut urusan keluarganya. Kita jangan bertindak sendiri," sahut Dito.


"Kira-kira Rendi masih mau enggak ya, sama Tania?" tanya Mike.


"Entahlah. Kelihatannya tuh anak udah mulai move on dari Tania. Dan semalam dia enggak keberatan aku tinggalkan berdua dengan Monica," jawab Dito.

__ADS_1


"Kalau Rendi udah enggak mau menerima Tania, percuma juga. Siapa yang akan menerima Tania nantinya? Dia kan bakal jadi janda."


Mike berpikir kalau Tania sudah menjadi janda, akan sulit mendapatkan kekasih lagi.


"Kan ada paman dan bibinya," sahut Dito.


"Nyatanya mereka tak mencari Tania," ucap Mike.


"Kita jangan berpikiran negatif dulu pada mereka. Rendi saja dikelabuhi, sampai enggak mau nyariin Tania lagi. Bisa jadi paman dan bibinya Tania juga dikelabuhi. Biar enggak nyariin Tania," sahut Dito.


"Iya juga. Dasar tua bangka licik!" maki Mike.


"Hush! Enggak boleh bilang begitu. Dia papanya Rendi lho," sergah Dito.


"Biarin aja. Kamu enggak tahu sih gimana takutnya aku di sana tadi. Coba kalau Tania enggak masuk. Aku pasti udah diperkosa," sahut Mike.


"Kalau kamu diperkosa, aku bunuh dia. Aku enggak peduli meski dia papanya Rendi," ucap Dito dengan emosi.


Mike menepuk-nepuk tangan Dito.


"Coba kamu telpon Rendi. Suruh dia kesini," pinta Mike. Dia sudah tak sabar pingin tahu reaksi Rendi.


"Oke." Dito segera menghubungi Rendi.


Rendi tak segera mengangkat telpon dari Dito. Dipanggilan ketiga, baru Rendi mengangkatnya.


"Ada apa, Dit?" tanya Rendi.


Dito berpikir sejenak, apa Rendi sedang bersama mamanya? Kok tumben cara bicaranya lebih sopan. Enggak kayak biasanya.


"Ren, lo bisa nemuin gue ama Mike enggak?" tanya Dito.


"Mm. Kapan?" tanya Rendi.


"Sekarang. Kita tunggu di restauran Mandala, deket kosan gue," jawab Dito.


"Waduh. Kalau sekarang enggak bisa. Aku lagi bersama Monica, nih," sahut Rendi.


Mike yang ikut mendengarnya ternganga. Bagaimana tidak? Baru semalam ketemuan, pagi ini udah kencan.


"Hah, elo lagi sama Monica?" tanya Dito tak percaya.


Rendi merubah mode telponnya ke mode video call. Biar Dito percaya.


Glek.


Monica sedang melendot di lengan Rendi. Dan mereka sedang berada di sebuah tempat makan. Sama seperti Dito dan Mike.


"Percaya kan?" tanya Rendi.


Dito mengangguk.


"Rendi! Ini soal Tania!" Mike menyela.


Rendi berdecak mendengar nama Tania disebut. Apalagi di sebelahnya ada Monica.


"Udah dulu, ya. Kita mau makan."


Dan tanpa menunggu jawaban dari Dito ataupun Mike, Rendi menutup telponnya.


Dito dan Mike berpandang-pandangan.

__ADS_1


"Secepat itu?" tanya Mike.


Dito hanya mengangkat bahunya.


__ADS_2