
"Bu. Saya permisi dulu. Saya akan mengambil barang-barang saya dulu. Nanti sore saya kembali lagi." Mila berpamitan pada Sari.
"Iya, Mila. Kamu balik ke mess dulu?" tanya Sari.
"Iya, Bu. Tapi saya ke rumah sakit dulu. Mau urus absensi," jawab Mila.
"Yadi! Tolong anterin Mila ke rumah sakit. Tuh, kunci motorku minta sama bapak!"
"Enggak usah, Bu. Saya bisa pulang naik ojek online," sahut Mila.
"Eh, jangan. Biar diantar aja." Sari tak mau dibantah.
"Siap, Bu," sahut Yadi.
"Saya ganti baju dulu. Sebentar ya, Mbak Mila." Dengan semangat Yadi masuk ke dalam. Di belakang rumah ada kamar kecil yang biasa dipakai Yadi buat istirahat.
Lumayan, buat hiburan. Kapan lagi bisa nganterin cewek cantik. Yadi melangkah sambil tersenyum senang.
Mila menurut juga.
Lumayan jugalah, ngirit ongkos. Batin Mila.
"Bu. Nanti setelah makan siang, mas Rendi jangan lupa minum obatnya."
Mila menyiapkan obat yang harus dikonsumsi oleh Rendi.
"Yang ini antibiotik. Harus dihabiskan," ucap Mila.
"Mulai nanti sore kan, itu tanggung jawab kamu, Mila," sahut Sari.
"Iya, Bu. Saya nanti sore udah ke sini lagi, kok."
Tak lama, Yadi sudah siap dengan jaket dan rambut yanh disisir klimis.
"Rapi amat kamu, Yadi. Mau kemana?" tanya Tono.
"Nganterin mbak Mila, Pak," jawab Yadi.
Sari pun menatap Yadi dari atas sampai ke bawah. Sari tertegun melihatnya. Tak biasanya Yadi berdandan serapi itu.
"Kenapa, Bu?" tanya Yadi.
"Enggak apa-apa. Cuma heran aja. Enggak biasanya kamu serapi ini," jawab Sari.
"Sekali-kali kan boleh, Bu. Apalagi mau boncengin cewek secantik mbak Mila. Malu dong kalau sayanya berantakan," sahut Yadi.
"Bisa aja kamu, Yadi."
Tiba-tiba Monica datang. Sari melihatnya lebih dulu.
"Eh, Yadi. Kalau boncengin cewek yang itu, gimana?" tanya Sari meledek Yadi.
Yadi pun melihat keluar. Ke arah Monica yang sedang berjalan masuk.
"Kalau yang model begituan sih, kagak usah pake celana, Bu. Hahaha." Yadi tergelak.
Ehem!
Rendi berdehem.
"Eh, maaf Mas Rendi. Keceplosan!" Yadi langsung ngeloyor keluar.
Mila pun mengikuti Yadi. Sampai saat dia berpapasan dengan Monica, matanya menatap tajam ke arah dada Monica yang sedikit terbuka.
Monica malah makin membusungkannya.
__ADS_1
Cleguks!
Yadi yang menoleh dan sempat melihatnya, menelan ludah.
Busyet! Tuh melon, gede amat. Kayaknya boleh nih dicoba kalau mas Rendi sudah bosen. Batin Yadi.
"Udah ayo, Pak. Jadi nganterin aku enggak?" tanya Mila.
"Iya, jadi Mbak. Maaf, lagi cuci mata sebentar," jawab Yadi.
"Cuci mata di wastafel, Pak. Kalau itu namanya cuci otak!" sahut Mila sambil berjalan keluar.
"Bukan malah ngotorin otak ya, Mbak?" tanya Yadi.
"Iya juga, ya. Udah, ah. Udah siang nih. Nanti aku terlambat." Mila bergegas keluar.
Kali ini boleh deh kamu menang, bisa berlama-lama di dekat Rendi. Tapi mulai nanti sore, jangan pernah berharap! Gumam Mila yang ditujukan pada Monica.
"Mbak Mila ngomong apa?" tanya Yadi sambil menstater motor matic Sari.
"Eh, enggak, Pak. Cuma bilang, entar sore saya harus kesini," jawab Mila berbohong.
"Mau saya jemput?" tanya Yadi menawarkan diri. Yadi akan dengan senang hati menjemput Mila.
"Enggak, Pak. Takut ngerepotin," jawab Mila.
"Enggaklah, Mbak. Untuk wanita secantik Mbak Mila, Yadi siap antar jaga!" sahut Yadi.
"Suami siaga dong, Pak?" Mila naik ke boncengan.
"Kalau Mbak Mila mengijinkan," ucap Yadi sambil menarik gasnya pelan.
"Mengijinkan apa?" tanya Mila tak mengerti.
"Mengijinkan saya jadi suami siaga," jawab Yadi.
Aduh! Malah nanyain soal istri. Kualat enggak ya, kalau aku bilang masih single? Tanya Yadi dalam hati.
Baru saja membatin, Yadi menabrak sebuah batu kecil di jalanan. Hingga motornya sedikit oleng.
"Ati-ati, Pak!" Spontan Mila memeluk pinggang Yadi.
Alhamdulillah. Dibalik kualat, malah dapat berkah. Yadi merasa punggungnya bolong tertabrak dua gunung Mila. Meski tak terlalu besar, tapi terasa sangat kenyal.
Mila melepaskan lagi pelukannya.
"Ati-ati dong, Pak. Kalau sampai jatuh gimana?" gerutu Mila.
Yadi hanya senyum-senyum. Mila sendiri tak sadar kalau dia telah menabrakan dua gunungnya. Untung saja tak sampai meletus.
"Iya, Mbak. Maaf. Mbak Mila pegangan kayak tadi, dong. Biar kalau oleng lagi, enggak jatuh," sahut Yadi.
"Kok oleng lagi? Memangnya Pak Yadi enggak bisa bawa motor?" tanya Mila.
"Bisa banget, Mbak.Justru saya mau ngebut ini. Saya mau kayak Valentino Rossi. Jadi Mbak Mila pegangan yang kenceng, ya."
Dan tanpa Mila sangka, Yadi benar-benar menarik gasnya dengan kencang.
Wush!
Mila seperti melayang. Dan sekali lagi, Mila memeluk pinggang Yadi dengan erat.
Yadi tersenyum bahagia. Pinggangnya terasa hangat. Sehangat punggungnya yang merasakan dekapan Mila.
"Pelan aja, Pak!" seru Mila.
__ADS_1
"Apa?" Yadi agak memundurkan kepalanya dan menoleh sedikit ke kanan.
Otomatis, pipinya hampir bertemu dengan pipi Mila.
"Pelan aja!" Mila semakin mendekatkan bibirnya ke telinga Yadi. Yadi pun semakin menoleh ke samping.
"Pelan, Pak!" seru Mila lagi.
"Oke!"
Ciiit!
Yadi sengaja mengerem mendadak. Dan dua gunung kembar Mila seakan makin menancap ke punggung Yadi.
Sempurna!
"Iih, Pak Yadi, rese!" Mila memukul punggung Yadi dengan gemas.
"Kok rese? Katanya suruh pelan?" Yadi tak mau disalahkan.
"Iya. Tapi jangan ngerem dadakan. Dadaku sakit, tau!" sahut Mila.
"Ooh maaf, Mbak. Nabrak punggungku, ya?" Yadi pura-pura menyesal. Padahal dia sangat menikmatinya.
"Iya, Pak," sahut Mila dengan manja.
Iih, gemesin banget sih. Jadi kepingin nguyel-uyel. Batin Yadi dengan bahasa daerahnya.
"Ya udah, sekarang pelan deh." Yadi mengegas tipis-tipis.
Biar enggak cepet nyampe. Walaupun Mila udah enggak nempel lagi, minimal tadi udah dapet bonus banyak. Yadi tersenyum sendiri.
"Kok, Pak Yadi senyum-senyum?" Mila melihatnya dari spion.
"Kan ngeboncengin cewek cantik. Masa iya cemberut. Rugi dong," jawab Yadi.
"Iih, Pak Yadi bisa aja!" Mila mencubit pinggang Yadi.
"Auwh!" Yadi menggeliat kegelian.
"Pak Yadi gelian, ya?" Mila malah tertawa terbahak-bahak.
"Iya, Mbak. Tapi kalau yang nyubit Mbak Mila, saya mau deh nahan gelinya," jawab Yadi.
"Yakin?" tanya Mila. Dia jadi merasa kepingin menggelitiki Yadi. Meskipun mereka masih ada di jalan raya.
Yadi mengangguk.
Dan benar saja, Mila malah menggelitiki perut Yadi.
"E...eh, Mbak. Jangan digelitiki. Nanti kita jatuh!" Yadi berusaha menahan gelinya.
Tadi dia bilang begitu hanya bercanda saja. Ternyata Mila malah beneran.
"Kan tadi Pak Yadi yang minta." Mila terus menggelitiki perut Yadi. Hingga motor yang dikendarai Yadi oleng ke kanan.
Tiiiin...!
Sebuah motor mengklakson dengan keras dan mendahului motor Yadi sambil mengumpat.
"Heh! Kalau mau pacaran jangan di jalan!"
Yadi dan Mila malah tertawa terbahak-bahak.
Bukan pacaran woy! Lagi ngelaba! Batin Yadi.
__ADS_1
Lalu Yadi meraih tangan Mila dan mendekapkannya ke pinggangnya. Mila pun tanpa sadar menyandarkan kepalanya di punggung Yadi.