HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 144 KABAR MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Ada apa, Ma?" tanya Rendi.


"Papamu, Ren....!" jawab Sari dengan pikiran kalut.


"Papa kenapa, Ma?" tanya Rendi lagi.


"Pingsan di rumahnya. Sekarang dibawa ke rumah sakit ini," jawab Sari.


Sari berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Mama temui papa dulu, aja. Rendi enggak apa-apa kok ditinggal sendirian," ucap Rendi.


"Beneran kamu enggak apa-apa?" tanya Sari. Dia khawatir Rendi juga kenapa-napa.


"Iya, Ma," jawab Rendi.


"Ya udah. Nanti kalau kamu butuh sesuatu, hubungi perawat, atau telpon Mama," ucap Sari dengan khawatir.


"Iya, Ma. Rendi udah sehat, kok," sahut Rendi.


Jelas saja Rendi sehat, karena sudah bisa ketemu Tania lagi. Meski harus ngumpet-ngumpet.


Sari berjalan menuju ruang IGD. Di sana dia melihat Diman juga Danu dan seorang lelaki yang tak dikenal Sari.


Sari menatap tak suka pada Danu. Sari merasa kesal pada Danu. Karena dia berpikir, Rendi terjatuh gara-gara Tania.


"Gimana keadaan suamiku?" tanya Sari pada Diman.


"Oh, Bu Sari. Juragan masih di dalam, Bu," jawab Diman.


Sari mencari tempat duduk yang agak jauh dari mereka. Matanya terus saja tertuju pada pintu ruangan yang masih tertutup.


Sementara tadi setelah mengantar Sari membeli buah dan kembali ke kamar rawat Rendi, Dito berpamitan.


"Ren, gue balik dulu, ya. Ada kuliah siang ini," ucap Dito pura-pura.


"Iya, Dit. Makasih ya, udah jenguk gue. Mau enggak nanti malam nginap di sini? Biar mama bisa istirahat di rumah," tanya Rendi. Matanya memberi kode pada Dito.


Dengan begitu, Tania bisa semalaman menungguinya.


"Boleh. Entar malam gue nungguin elo deh," jawab Dito. Dia paham dengan kode dari Rendi.


"Ma, nanti malam biar Dito yang menemani Rendi ya? Mama bisa istirahat di rumah," ucap Rendi.


"Kalau enggak merepotkan Dito. Mama bisa kesini paginya," sahut Sari.


"Enggak repot kok, Tante," sahut Dito.


Sari mengangguk. Lalu Dito pun pamit pulang.


Tak lama, dokter keluar dari ruangan itu. Sari langsung menghampiri.


"Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?" tanya Sari dengan cemas.


"Ibu istrinya?" tanya dokter.


"Iya, Dok. Saya istrinya," jawab Sari.


Ah! Menyebalkan banget, mesti mengakui Tono sebagai suami. Gerutu Sari dalam hati.


"Ikut ke ruangan saya, Bu," ucap dokter.

__ADS_1


Saripun, mengikuti dokter ke ruangannya. Perasaan Sari tak karu-karuan.


Ada apa dengan Tono? Kenapa aku disuruh ikut dokter ke ruangannya? Berbagai pertanyaan muncul di kepala Sari.


Dokter sampai di ruangannya. Sari pun ikut masuk.


"Silakan duduk, Bu," ucap Dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih," sahut Sari.


"Jadi begini, Bu. Dari hasil pemeriksaan tadi, sepertinya suami ibu terkena satu penyakit yang cukup berbahaya," ucap dokter.


"Penyakit apa, Dok?" tanya Sari dengan cemas.


"Kami belum bisa memastikannya. Nanti kita akan uji darah pasien di laboratorium," jawab dokter.


"Tapi, kemungkinannya penyakit apa, Dok?" tanya Sari lagi.


Dokter menatap wajah Sari. Lalu menghela nafasnya.


"Sepertinya suami Ibu, menderita penyakit....sifilis!" jawab dokter.


"Apa?" tanya Sari dengan mata terbelalak.


"Iya, Bu. Dari beberapa hal yang kami periksa tadi, mengarah ke sana. Maaf sebelumnya, apa suami Ibu sering...melakukan...." Dokter seperti tak enak menanyakannya.


"Berganti-ganti pasangan, maksudnya?" tanya Sari.


"Iya," jawab dokter.


Sari mengangguk.


"Hhmm. Apa Ibu juga bersedia kami periksa? Untuk memeriksa apa Ibu juga tertular," tanya dokter.


"Maaf, seberapa lama? Karena bisa jadi penyakit suami Ibu juga sudah lama diderita," tanya dokter lagi.


Sari berusaha mengingat-ingatnya.


"Sekitar sepuluh tahunan, Dok. Kami sudah pisah rumah juga," jawab Sari.


"Ibu yakin selama itu tak pernah berhubungan badan dengan suami?" tanya dokter, seperti meragukan jawaban Sari.


"Iya, Dok. Sejak itu, suami saya sering berganti pasangan. Kami masih berstatus suami istri, hanya demi anak saya," jawab Sari.


"Baik, Ibu. Tapi bagaimana kalau untuk memastikannya, Ibu juga kami periksa. Biar Ibu lebih tenang," ucap dokter.


"Silakan, Dok. Semoga saya tidak ketularan," sahut Sari.


"Kalau begitu, Ibu bisa ikut perawat kami ke laboratorium. Dan untuk suami Ibu, untuk sementara rawat inap dulu di sini. Sampai kondisinya membaik," ucap dokter.


"Sampai berapa lama itu, Dok?" tanya Sari.


"Sampai kondisinya membaik, Bu. Untuk selanjutnya, suami Ibu bisa melakukan rawat jalan. Sekalian teraphi. Nanti akan ada panduan selanjutnya," jawab dokter.


"Iya, Dok." Sari mengangguk pasrah.


Lalu dokter memanggil perawat yang membantunya, untuk membawa Sari ke lab.


Dengan perasaan tak menentu, Sari mengikuti perawat ke laboratorium. Meskipun Sari yakin kalau dirinya aman dari penyakit Tono.


Setelah diambil sample darahnya, Sari diperbolehkan keluar. Sari diminta untuk mengurus administrasi Tono, untuk memindahkannya di ruang rawat inap.

__ADS_1


Sari berjalan sendirian ke bagian administrasi. Perasaannya sangat sedih. Rendi belum sembuh, sekarang Tono harus dirawat juga.


Setelah mendapatkan kamar rawat buat Tono, Sari mencari Diman dan teman-temannya.


"Siapa disini yang bisa menunggui Tono? Dia harus rawat inap beberapa hari," tanya Sari.


"Yahya saja, Bu. Saya masih harus bergantian dengan Wardi menunggui Tajab," jawab Diman.


Sari melihat ke arah lelaki yang diyakininya bernama Yahya.


"Kamu yang namanya Yahya?" tanya Sari.


"Iya, Bu. Saya Yahya. Saya yang bekerja di rumah juragan Tono," jawab Yahya.


"Ya udah. Kalau begitu, kamu yang menunggui juraganmu itu. Aku harus menunggu anakku sendiri," ucap Sari.


"Baik, Bu. Kalau boleh tau, juragan sakit apa ya?" tanya Yahya.


Sari menghela nafasnya dalam-dalam.


"Sifilis!" jawab Sari. Lalu pergi meninggalkan mereka yang terperanjat.


"Sifilis?" gumam Danu. Badannya langsung lemas dan merosot ke lantai.


"Kenapa lu?" tanya Diman dengan khawatir.


"Tania....!" jawab Danu. Air mata mengalir di pipinya.


Diman menepuk dahinya.


Benar juga. Tania adalah istri Tono. Bisa jadi dia juga tertular penyakit itu.


Diman yang merasa kasihan pada Danu, mengangkatnya untuk duduk di kursi.


"Yang sabar, Dan. Nanti kalau Tania ketemu, coba dia suruh periksa ke dokter. Semoga masih ada keajaiban," ucap Diman, berusaha menenangkan Danu.


Danu mengangguk lemah. Hatinya sangat sakit. Dia sangat menyesal karena pernah memaksa Tania untuk menikah dengan Tono.


Andai saja waktu bisa diulang, Danu lebih rela dirinya dijebloskan ke penjara saja. Daripada Tania harus tertular penyakit itu.


"Aku antar kamu pulang ya?" tanya Diman.


"Istri dan kakakku masih di rumah Tono," jawab Danu.


"Iya, aku tau. Kita jemput mereka dulu," sahut Diman.


Setelah pamit pada Yahya, mereka berdua kembali ke rumah Tono.


"Gimana Pak, Tono sakit apa?" tanya Eni setelah Danu dan Diman sampai.


Danu menghela nafasnya dalam-dalam.


"Tono kena penyakit sifilis..." jawab Danu pelan.


"Hah...!" Widya, Asih juga Eni terperangah.


"Mampus lu, Tono! Doaku diijabah. Burungnya si Tono bakal membusuk!" sahut Eni dengan lantang dan puas.


"Tapi Tania, Bu....?" tanya Danu.


Otak Eni langsung eror. Dia baru sadar kalau Tania adalah istri Tono.

__ADS_1


"Tania....!" Tubuh Eni pun merosot tak sadarkan diri.


__ADS_2