
Setelah daya batre ponselnya terisi cukup banyak, Tania mengaktifkannya.
Benar saja. Ada banyak pesan chat yang belum terbaca dari Rendi.
Tania langsung membacanya.
Maaf, Ren. Aku lupa ngechas hape. Ketik Tania.
Iya, enggak apa-apa, Sayang. Balas Rendi.
Rendi paham kondisi psikis Tania. Pasti dia sangat terluka karena omongan mamanya.
Aku kangen sama kamu, Sayang. Pingin video call lagi, tapi enggak bisa. Mamaku ada di sini. Ketik Rendi lagi.
Simpanlah rindumu jadikan telaga. Agar tak usai mimpi panjang ini. Balas Tania mengcopy dari lirik lagu penyanyi kesayangan Tania.
Rendi tersenyum membacanya.
Itu kan lirik lagu. Kamu hafal liriknya? Tanya Rendi.
Hafal dong. Itu kan lagunya penyanyi kesayanganku. Jawab Tania.
Masa sih? Kok kita sama ya. Dia juga penyanyi idolaku lho. Balas Rendi.
Tania jadi berpikir, apa Rendi jodohnya? Karena punya penyanyi idola yang sama.
Seperti paman dan bibinya yang punya banyak kesamaan. Dan menurut budenya mereka memang berjodoh.
"Chat sama Tania lagi?" tanya Sari. Ternyata Sari dari tadi memperhatikan Rendi.
Rendi hanya diam saja. Dia kembali menutup ponselnya.
"Mama harus bilang bagaimana lagi sama kamu, Rendi? Biar kamu mau menjauhi Tania?" tanya Sari dengan geram.
Rendi hanya menghela nafasnya. Lalu menyembunyikan lagi ponselnya di bawah bantal.
Rendi memilih pura-pura tidur. Daripada harus kembali berdebat dengan Sari.
Sementara Tania mengetikan rencana keluarganya, membawanya jalan-jalan untuk refreshing.
Selesai mengetik, Tania memperhatikan chat yang dikirimnya tak dibaca oleh Rendi.
Pasti ketahuan mamanya lagi. Batin Tania.
Dan Tania pun meletakan ponselnya lagi, di atas meja. Biar pengisian dayanya full.
"Tania. Kamu enggak sholat?" tanya Widya.
"Iya, Bude. Tania mandi dulu," jawab Tania.
"Kamu juga sholat, En. Jangan terus lupa sholat, mentang-mentang udah punya usaha sendiri," ucap Widya pada Eni, yang duduk di kursi dekat Tania.
"Iya, Mbak. Aku mau sholat." Eni pun keluar dari kamar Tania.
"Tania. Handuk kamu di lemari. Semua pakaian kamu juga ada di situ," ucap Eni setelah sampai di pintu, sambil menunjuk lemari baru buat tempat pakaian Tania.
"Iya, Bi," sahut Tania.
Tania memperhatikan kamar yang akan ditempatinya ini. Banyak barang baru.
Kelihatannya bibi mengganti hampir semua peralatan rumahnya. Apa memang Tono memberikan banyak uang untuk paman dan bibi, ya? Pantas saja bu Sari sampai marah. Batin Tania.
__ADS_1
Tapi Tania tak pernah mengetahuinya. Karena Tono memutuskan hubungannya dengan mereka.
Tono melarang Tania menemui paman dan bibinya. Bahkan untuk keluar rumah saja dilarang oleh Tono.
Setelah mengambil handuk dan baju ganti, Tania pergi ke kamar mandi.
Sembari berjalan, Tania memperhatikan handuk dan baby doll lamanya.
Pakaian tidur yang dibelikan Eni di pasar. Meski harganya murah, tapi nyaman dipakai. Dan Tania lebih menyukainya daripada baju-baju mahal yang dibelikan Tono.
Baju mahal yang kadang Tania merasa sayang untuk memakainya sehari-hari. Dan semua masih teronggok di kamarnya, di rumah Tono.
Tania hanya membawa beberapa saja. Karena pakaian yang dibawa Tania dulu saat pertama kali datang ke rumah Tono, kata Eni dikembalikan lagi.
Alasan Tono waktu itu, Tania sudah tak membutuhkannya. Karena di rumahnya, Tono sudah menyiapkan banyak baju baru.
Waktu itu Eni senang mendengarnya. Karena dipikir Eni, Tono sangat memperhatikan dan menyayangi Tania.
Eni dan Danu, juga Widya tak pernah tahu kalau hidup Tania bagaikan di sangkar emas. Yang kemudian berganti dengan sangkar madu.
Selesai mandi, Tania masuk kembali ke kamarnya. Dia bergantian sholat maghrib dengan Widya.
Widya keluar dan menyiapkan makan malam bersama Eni.
"Danu mana, En?" tanya Widya.
"Tidur lagi, Mbak," jawab Eni.
"Apa? Tidur lagi? Enggak sholat dia?" tanya Widya.
Eni cuma mengangkat bahunya. Malas kalau harus terus mengingatkan Danu untuk sholat.
Bagaimana Eni bisa jadi makmum yang baik, kalau imamnya aja milih molor daripada sholat.
"Dasar anak itu, enggak ada sadar-sadarnya. Kamu ingetin dong, En," ucap Widya.
"Capek ngingetinnya, Mbak," sahut Eni, sambil menata makanan yang dipanasi Widya.
Mereka makan masih dengan menu yang sama dengan tadi siang.
Bagi orang-orang kelas bawah kayak mereka, pamali membuang makanan. Mereka lebih suka memanasinya dengan alasan klasik. Semakin sering dipanasi, rasanya semakin mantap.
"Ya kalau kamu malas mengingatkan, terus siapa lagi?" tanya Widya.
"Entar juga ada waktunya sadar, Mbak," jawab Eni dengan entengnya.
"Entar kapan? Nunggu malaikat Izrail dateng?" tanya Widya dengan geram.
"Ish. Jangan bilang gitu dong, Mbak. Bikin takut aja," sahut Eni.
"Makanya, ingetin suami kamu!" sahut Widya.
Suamiku kan juga adikmu, mbak. Gumam Eni dalam hati.
"Udah, bangunin Danu sana. Suruh dia makan," ucap Widya.
"Iya, Mbak." Eni bergegas ke kamarnya.
"Pak! Bangun, sholat maghrib dulu!" Eni mengguncang bahu Danu.
"Nanti aja. Aku masih ngantuk." Danu malah mencari guling dan memeluk dengan erat.
__ADS_1
"Ealah. Disuruh sholat malah tidur lagi." Eni menarik guling Danu.
"Kamu aja duluan deh, Bu. Aku nanti nyusul," ucap Danu.
"Nyusul kemana?" goda Eni.
"Ya kemana aja deh. Yang penting aku nanti nyusul," sahut Danu.
"Ke neraka mau?" tanya Eni.
"Enggak mau, kalau itu. Kamu sendirian aja!" Entah sadar atau tidak Danu menjawabnya. Lalu dia membalikan badannya membelakangi Eni.
"Ish...! Pak. Bangun. Nanti dimarahi mbak Widya, lho." Eni kembali mengguncang bahu Danu.
"Bilangin mbak Widya. Aku ijin sehari," sahut Danu.
"Emangnya sekolah, pakai ijin segala! Ayo bangun!" Eni terus saja mengguncang bahu Danu.
"Bu. Jangan ganggu aku, dong. Aku kan ngantuk banget," sahut Danu dengan kesal.
"Mbak....! Nih, mas Danu enggak mau bangun!" teriak Eni.
"Yaelah, pake manggilin malaikat Izrail, lagi!" ucap Danu, lalu dia terpaksa bangun.
"Kamu mau malaikat Izrail bener-bener dateng? Aku panggilin sekarang, nih!" Widya ternyata sudah berdiri di depan pintu kamar.
"Enggak...enggak, Mbak. Aku belum mau mati!" Danu bergegas turun dari tempat tidur.
Dengan langkah terhuyung, Danu masuk ke kamar mandi.
"Mau ngapain dia, En?" tanya Widya.
"Mana aku tau...!" Eni mengangkat bahunya, lalu membereskan tempat tidur yang acak-acakan.
Widya kembali ke dapur. Lalu duduk menunggu yang lainnya datang.
Salah satu hal yang membuat senang Widya di rumah Danu, karena bisa makan bersama-sama. Tak seperti di rumahnya yang selalu sepi, sejak Lintang bekerja di kota.
Juga suasana yang selalu seru dengan sikap konyol Danu. Meski kadang menyebalkan.
Danu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
"Abis ngapain, kamu?" tanya Widya.
"Wudhu, Mbak. Aku kan juga mau masuk surga. Takutnya malaikat Izrail keburu dateng," jawab Danu.
"Alhamdulillah. Semoga tiket masuk surga masih ada," ledek Widya.
"Kalau udah abis?" tanya Danu.
"Ya di tempat lain," jawab Widya.
"Di neraka, dong?" tanya Danu lagi.
"Ya, mau dimana lagi? Adanya cuma dua tempat itu," jawab Widya.
"Ya udah, deh. Enggak jadi sholat. Percuma kalau tiketnya udah abis." Danu menarik satu kursi untuknya duduk.
"Eeh...! Enggak ada makan kalau enggak sholat. Sana buruan. Keburu isya!" bentak Widya.
"Iya...! Galak amat!" Dengan langkah lunglay, Danu melangkah ke kamarnya.
__ADS_1