HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 88 AKAL AKALAN TANIA


__ADS_3

"Beib. Nanti kita jalan-jalan ke mall, yuk," ajak Linda. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar didengar Tania yang lagi nonton televisi di ruang tengah.


"Memangnya kamu mau beli apa, Honey?" Tono juga ikutan mengeraskan suaranya.


Mereka pikir bisa membuat Tania cemburu. Padahal Tania malah tertawa sendiri.


Bagaimana enggak tertawa, orang setua Tono sok-sokan bersikap lebay kayak abege.


Linda yang merasa keinginannya direspon oleh Tono, langsung menjawab dengan manja.


"Aku pingin beli baju, sepatu juga tas, Beib."


"Belilah sesukamu. Uangku enggak akan habis kalau cuma beli barang-barang itu."


Lalu keduanya naik ke lantai dua.


Tania hanya menghela nafasnya. Lalu dia ingat dengan rencana Asih yang akan membantunya kabur dari sini. Juga rencananya masuk ke kamar Tono untuk mengambil chargernya.


Cepetan sana pergi. Aku udah muak lihat kalian. Batin Tania.


Lalu Tania kembali asik menonton televisi.


Tak lama, dua orang yang menyebalkan itu, turun lagi. Mereka berangkulan mesra.


Cih! Menjijikan sekali! Aku kalau enggak karena paman punya hutang padanya, enggak akan sudi jadi istrinya.


"Kami mau jalan-jalan ke mall. Kamu mau nitip apa? Gorengan?" ledek Tono.


Tania menatapnya dengan muak.


Linda menatap Tania dengan tatapan sangat menyebalkan.


"Uangmu cuma cukup untuk beli gorengan?" Tania balas meledek Tono.


"Heh! Jaga omongan kamu, ya! Untuk membelimu juga pamanmu yang dungu itu saja aku mampu, kan?"


Tania meradang. Dia paling emosi kalau Tono mengatai pamannya dungu.


"Oh, ya? Aku tak percaya. Buktinya, selama aku jadi istrimu, kamu tak mampu menafkahiku!" sahut Tania.


Kata-kata itu begitu saja muncul di kepalanya.


"Persetan dengan menafkahimu! Kamu bukan istri yang baik!" seru Tono.


"Lalu, apa kamu merasa jadi suami yang baik? Suami yang tak mampu menafkahi istrinya sendiri!"


Dada Tono terlihat naik turun. Hidungnya kembang kempis.


"Atau uang kamu sudah habis untuk membeliku dahulu?" Tania terus saja meledek Tono.


Tono merasa sangat terhina. Lalu dia mengeluarkan dompetnya yang tebal.


Dia keluarkan beberapa lembar uang pecahan seratusan, lalu dia lemparkan ke arah Tania.


"Nih! Cukup?" tanya Tono.


Tania memungut uang yang jatuh di bawah kakinya.


"Cuma segini kemampuan kamu?" Tania menunjukan uang itu ke arah Tono.

__ADS_1


"Kasihan sekali! Orang yang ngakunya kaya raya, cuma segini kasih uang ke istrinya!" Tania menyebarkan uang itu.


Tono menghela nafasnya lagi.


Kurang ajar sekali anak ini. Berani-beraninya menghinaku.


Lalu Tono mengambil semua uangnya. Dia mendekat ke arah Tania. Tania hanya diam saja.


"Nih! Makan tuh uang!" Tono menepukan uang itu di dada Tania.


Dan karena Tania tak meraihnya, uang itu jatuh berserakan. Tania hanya membiarkannya.


Linda membelalakan matanya. Melihat uang sebanyak itu berhamburan.


Jika saja enggak memikirkan gengsi, pasti akan diambilnya semua uang itu.


Tapi kemudian Linda berpikir akan mendapatkan uang lebih banyak dari itu.


"Ayo, Beib. Jangan urusi wanita matre itu." Linda menarik tangan Tono. Dia tak mau Tono memberikan uang lebih banyak lagi pada Tania.


"Yahya! Bukakan pintu gerbang!" teriak Tono.


Yahya yang ada di dapur, segera menyahut sambil berlari ke depan.


"Iya siap, Pak!"


Tania hanya menatap kepergian Tono dan Linda dengan senyum kemenangan. Akhirnya dia bisa dapat uang juga.


Tania tak menyangka Tono akan memberikannya uang sebanyak ini. Meskipun dengan cara yang sangat kasar.


Ah, bodo amat! Yang penting aku punya uang. Bisa aku simpan buat bekal aku kabur.


"Bik! Bik Asih!"


"Iya, Neng...!" Asih berjalan mendekat ke arah Tania.


"Ya Allah, banyak banget uangnya." Asih pun membelalakan matanya.


"Bantu aku mengumpulkannya, Bik," ucap Tania.


"Iya....Iya, Neng."


Asih membantu Tania membereskan uang yang berserakan di lantai. Yahya juga ikut membantu, tanpa diminta. Lalu menyerahkannya pada Tania.


"Ini, Neng." Asih menyerahkan semua uang yang dibawanya.


Tania mengumpulkannya jadi satu. Lalu memberikannya sebagian pada Asih.


"Ini buat Bik Asih dan mang Yahya. Kalian di sini kan enggak dibayar."


"Enggak, Neng. Buat Neng Tania semua aja. Nanti kan Neng Tania bakal membutuhkannya," tolak Asih.


"Ambillah, Bik. Bik Asih juga pasti butuh, buat pegangan." Tania tetap memaksa.


Asih menerimanya, lalu mengembalikan sebagian.


"Kami segini saja sudah cukup, Neng. Sisanya, simpan buat Neng Tania."


"Benaran segitu aja?" tanya Tania.

__ADS_1


"Iya, Neng. Iya kan, Pak?" Asih bertanya pada Yahya.


"Iya. Cukup kok, Neng," jawab Yahya.


"Ya udah. Kalau begitu, kasih tau aku dimana jalan keluar dari rumah ini, tanpa melalui pintu gerbang," pinta Tania.


"Mari saya tunjukan."


Yahya berjalan duluan ke bagian belakang rumah. Tania meninggalkan uangnya di atas meja.


Asih menatap Tania penuh rasa kasihan. Anak sebaik dia harus menerima nasib teramat menyakitkan.


Semoga kamu kuat menjalaninya, neng Tania. Doa Asih dalam hati.


Tania mengikuti langkah Yahya. Asih juga mengikuti mereka.


Yahya menyibak pepohonan yang cukup rimbun. Lebih mirip pagar hidup.


"Lewat sini, Neng. Nanti Neng Tania langsung ke kanan. Jalan aja lurus, lalu akan ketemu jalanan yang di depan sana. Tanpa terlihat dari balkon kamar juragan Tono," ucap Yahya menerangkan.


Tania mengangguk mengerti.


"Berarti saya jalan di samping rumah ini kan, Mang?" tanya Tania memastikan.


"Betul, Neng." Yahya mengangguk.


"Tapi perginya kalau kita lagi disuruh keluar ya, Neng. Nanti kita ketemu di depan pasar." Asih berusaha mengingatkan.


"Iya, Bik. Dan saat si Tono itu ada di rumah, kan?"


"Iya, Neng. Neng Tania naik angkot aja. Kan banyak tuh angkot yang melintas. Jangan naik ojek, nanti bisa ketahuan kalau Tono nyariin," sahut Asih.


"Iya, Bik," jawab Tania mengerti.


Mereka kembali ke dalam rumah.


"Kenapa pagar itu tidak ditembok saja, Mang?" tanya Tania.


"Entahlah. Sudah lama juragan Tono merencanakannya. Kayaknya dia lupa. Saya sendiri juga malas mengingatkannya. Karena kadang saya keluar lewat jalan itu," jawab Yahya.


"Keluar kemana, Mang?" tanya Tania.


"Sekedar ngopi di warung, kalau juragan Tono pergi. Ya sekalian ngobrol sama orang-orang di sekitar sini," jawab Yahya.


"Lho, memangnya kalian punya uang?" Setahu Tania mereka tak digaji oleh Tono.


"Uang sisa belanja, Neng. Biasanya Bibik simpan," jawab Asih.


"Ooh." Tania manggut-manggut.


Tania merasa kasihan pada dua orang tua ini. Sudah tua masih saja diperbudak oleh Tono.


"Ya udah. Simpan yang yang tadi, Bik. Buat pegangan kalian. Aku mau naik dulu."


Tania membawa semua uangnya, dan memasukan ke kantong celana pendeknya. Lalu segera naik ke lantai dua. Dia akan mengambil charger hapenya di kamar Tono.


Sampai di depan kamar Tono, Tania menghela nafasnya dulu. Lalu pelan-pelan membuka pintunya.


"Hah....!" Tania menangkupkan kedua tangannya di mulut.

__ADS_1


__ADS_2