HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 102 KETEMU TEMAN LAMA


__ADS_3

Tajab terus berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan teriakan Asih.


"Heh! Tajab! Mau kemana kamu? Mana Linda?"


"Udahlah, Bik. Biarin aja. Mungkin dia memang lagi haus," ucap Tania.


"Iya. Galonnya gede, di depan mata juga," sahut Asih.


"Lagi penuh-penuhnya, Bik," timpal Tania.


"Bisa mabok kekenyangan, tuh si Tajab!"


Mereka pun tertawa bersama. Lalu melanjutkan berjalan masuk ke area mall.


"Dasar wanita penggoda. Tak ada akar, rotanpun jadi," umpat Asih sambil terus jalan.


"Kebalik, Bik. Tak ada rotan akarpun jadi," sahut Tania.


"Lha...kan si Tono itu akarnya?"


Tania diam sesaat.


"Hahaha. Bik Asih bisa aja!" Asih pun ikut tertawa.


Hari ini mereka terlihat sangat bahagia. Bisa lepas dari rumah Tono juga tak diikuti Tajab.


Mereka tak mempedulikan apa yang akan dilakukan Tajab dan Linda di luar sana.


"Kita jalan-jalan dulu aja ya, Bik. Kita kan punya waktu tiga jam." Tania melihat ke jam di pergelangan tangannya.


"Siap, Neng. Bibik juga sudah lama banget enggak healing," sahut Asih mengiyakan.


"Eh, darimana Bik Asih tau istilah healing?" tanya Tania. Setahunya Asih hanya berkutat di dapur saja.


"Dari televisi lah, Neng. Dari mana lagi?" jawab Asih.


Asih tak punya hape. Semua akun medsosnya yang dulu, sudah di tutupnya.


Hanya ada satu hape, itu juga pemberian Tono untuk sekedar komunikasi dengan Yahya.


Dan Yahya yang selalu memegangnya. Asih tak mau lagi berhubungan dengan dunia luar. Dia malu dengan kondisinya sekarang yang hanya jadi babu di rumah Tono.


Bahkan lebih parah dari seorang babu. Asih dan Yahya diperbudak oleh Tono. Bekerja gratisan selama sepuluh tahun, demi melunasi semua hutang mereka.


Hanya sesekali Tono memberikan uang pada Asih. Itu pun untuk belanja keperluan dapur. Dan bisa-bisanya Asih saja mengirit-irit uang belanjanya. Jadi dia punya uang sisa.


Begitu juga dengan Yahya. Tono kadang memberi uang pada Yahya, untuk beli keperluan kebunnya di belakang rumah.


Dan biasanya sebagian uang itu dipakai Yahya untuk beli rokok dan ngopi di warung belakang rumah Tono.


Mereka menikmati kehidupannya itu. Toh, menolakpun tak bisa menyelesaikan masalah mereka.


Mereka akan tetap dikejar-kejar Tono untuk melunasi hutang. Dan mereka pun tak punya tempat tinggal lagi.


Semua harta Asih sudah ludes untuk pengobatan anak semata wayangnya dahulu.

__ADS_1


"Iya, Bik. Kasihan banget kita, ya? Jadi kayak narapidana," sahut Tania.


"Nikmati aja, Neng. Dan sekarang narapidanya lagi dapat remisi. Bebas bersyarat. Hahaha." Asih terus saja tertawa. Dia terlihat sangat bahagia.


Di depan sebuah outlet selluler, Tania menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Neng?" tanya Asih.


"Bik. Aku sudah menemukan hapeku. Tapi datanya tidak ada. Aku coba beli pulsa di situ, ya? Siapa tau jual," ucap Tania.


"Silakan, Neng. Kalau perlu, nomor hapenya ganti baru. Biar enggak ketahuan Tono," sahut Asih.


Asih sebenarnya bukan orang yang gaptek. Dia cukup melek teknologi. Keadaan yang memaksanya untuk tak mengenal teknologi lagi.


Tapi Asih masih bisa update berita melalui televisi. Hiburan satu-satunya di rumah Tono. Selain radio kecil yang ditemukan Yahya di gudang rumah Tono.


"Bibik janji jangan bilang siapa-siapa, ya?" pinta Tania.


"Iya, Neng. Bibik akan tutup mulut. Neng Tania juga ati-ati makenya. Jangan sampai ketahuan dan disita lagi sama Tono," sahut Asih.


"Iya, Bik. Aku pasti akan lebih hati-hati," jawab Tania.


Tania dan Asih mendekat ke etalase outlet selluler itu.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya penjaga outlet.


"Ada kartu perdana?" tanya Tania. Dia melihat di dalam etalase tak ada satu pun kartu perdana dipajang.


"Waduh, maaf, Bu. Kami tidak menjual kartu perdana. Di seberang mall ini ada counter hape. Ibu bisa membelinya di sana," jawab penjaga outlet.


"Wah, jauh ya," sahut Tania.


"Ini, si ibu mau beli kartu perdana. Di sini enggak jual," jawabnya.


Tania dan Asih masih setia menunggu di depan etalase.


Lelaki itu memperhatikan wajah Tania.


"Hey, bukannya kamu Tania? Anak sos tiga, kan?" tanya lelaki itu.


Tania memperhatikan wajah lelaki itu.


"Rudi?" Tania sedikit mengingat wajah itu.


Di SMA dulu, Tania tak populer. Temannya pun sedikit.


"Iya. Apa kabar, Tan? Makin kece aja." Rudi mengajak Tania bersalaman.


Tania pun menjabat tangan Rudi.


"Ini...ibu kamu?" Rudi menunjuk ke arah Asih.


"Bibiku. Kenalkan." Tanpa malu-malu, Tania memperkenalkan Asih sebagai bibinya sendiri. Bukan bibik sebagai seorang pembantu.


"Saya Rudi, Bi. Teman sekolahnya Tania," ucap Rudi memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Oh, iya. Saya Asih." Asih pun menjabat tangan Rudi.


Seorang lelaki ganteng seumuran Tania.


"Nerusin kuliah dimana kamu, Tan?" tanya Rudi.


Tania diam sebentar.


Ya, sebagian besar teman-temannya meneruskan kuliah. Dan sebagian lagi memilih bekerja karena keterbatasan dana.


Tapi Tania? Mungkin Tania satu-satunya yang memilih menikah di usia muda.


Bukan memilih. Lebih tepatnya, terpaksa menikah.


Tania menghela nafasnya.


"Aku enggak kuliah, Rud. Kamu tau sendiri kan, siapa orang tuaku?" sahut Tania.


Sebagian besar teman Tania tahu kalau dia hanya anak sopir angkot dan ibunya hanya seorang ART. Tapi Tania tak pernah malu mengakuinya.


Meskipun pada akhirnya, jarang ada yang mau berteman dengannya. Mungkin mereka takut ketularan miskin. Begitu pikir Tania saat itu.


Hanya beberapa teman saja yang mau dekat dengan Tania. Termasuk Mike, Dito dan Rendi.


"Oh, iya. Santai aja kali, Tan. Aku juga enggak kuliah. Belum mood. Malah sekarang iseng-iseng buka counter selluler kecil-kecilan di rumah." Rudi menceritakan aktifitasnya tanpa ditanya Tania.


"Ooh, baguslah. Calon pengusaha," sahut Tania.


"Kamu beneran nyari kartu perdana?" tanya Rudi.


"Iya. Kamu punya?"


"Ada. Kebetulan tadi baru belanja. Terus mampir ke sini." Rudi membuka tasnya dan mengeluarkan satu box kartu perdana.


"Kamu mau pakai kartu apa? Pilih aja. Apa mau nomor cantik? Biar sama cantiknya sama yang pakai?" goda Rudi.


"Ah, bisa aja kamu, Rud." Tania tak mempan digoda seperti itu. Dia hanya bersikap biasa aja.


Tania memilih dan menemukan satu nomor cantik. Enam digit terakhirnya adalah tanggal lahir Rendi. Sama persis dengan nomor pin ATM milik Tono.


"Aku ambil ini aja. Sekalian dipasangin bisa, kan? Nomorku yang lama, dilepas aja," pinta Tania. Dia mengeluarkan hape yang dibelikan Tono.


"Bisalah. Apa sih yang enggak bisa buat cewek secantik kamu." Rudi kembali menggombali Tania.


Tania hanya tersenyum simpul.


"Hape baru, ya? Wiih, ini keluaran terbaru. Mahal dan keren banget," ucap Rudi sambil memperhatikan hape Tania.


"Udah lama, kok," sahut Tania merendah. Meskipun dia tak mungkin merendah soal harga. Karena orang counter pasti hafal harganya.


"Nih, udah beres. Tinggal dipake aja." Rudi menyerahkan kembali hape Tania.


"Berapa, Rud?" tanya Tania sambil mengeluarkan dompetnya.


"Buat kamu, gratis. Tapi ada syaratnya," jawab Rudi.

__ADS_1


Tania melongo.


"Apa syaratnya?"


__ADS_2