
Tania memalingkan wajahnya. Dia berusaha menahan air matanya yang nyaris tumpah.
Perlahan Tania menghapus air mata itu. Dadanya terasa sesak. Sakit sekali melihat lelaki yang telah mengambil kesuciannya, bermesraan dengan wanita lain.
Ingin rasanya Tania lari dan menghilang. Biar tak lagi melihat bagaimana mesranya Rendi merangkul wanita itu.
Tapi posisinya sekarang tak memungkinkan. Dia harus menunggu kasir selesai menghitung belanjaannya.
Lalu dia harus membayarnya. Cash atau dengan kartu debit yang bahkan pin-nya adalah tanggal lahir Rendi.
Mata Tania kembali menatap ke arah Rendi, meski dia berusaha agar tak melihatnya lagi.
Tapi seperti ada yang menuntun Tania untuk menatap ke arah mereka.
Dan Rendi masih saja menatap Tania. Mereka berhenti di sebuah outlet pernak-pernik wanita. Dan wanita yang bersama Rendi sedang asik melihat-lihat.
"Udah, Neng. Itu mbaknya udah selesai," ucap Asih.
Tania diam saja. Matanya masih menatap lekat ke arah Rendi.
"Neng." Asih menyentuh tangan Tania.
"Oh iya, Bik. Berapa?" Tania langsung salah tingkah.
"Ini totalnya, Mbak." Petugas kasir menunjuk ke arah layar komputernya.
"Mau cash atau pakai kartu debit?" tanya petugas itu.
Tania sedang kalut, akan lebih mudah kalau membayarnya pakai kartu debit.
"Ini, Mbak." Tania menyerahkan kartu itu.
Dan mata Tania tak mau diajak kompromi. Malah kembali menatap ke arah Rendi. Membuatnya tak bisa fokus.
Dan Rendi pun terus saja menatapnya. Karena wanitanya terus saja asik melihat pernak-pernik.
"Nomor pin-nya, Mbak. Silakan." Petugas itu memberikan alat gesek kartu.
"Oh, iya." Tania melihat alat itu. Mestinya dia menekan angka pin-nya. Angka yang sangat dihafal Tania. Tanggal lahir Rendi.
Tapi tiba-tiba otak Tania nge-blank. Angka-angka itu hilang begitu saja dari otak Tania.
Aduh, bagaimana ini? Tania kebingungan.
Enggak mungkin kan kalau Tania berlari ke arah Rendi dan menanyakan tanggal lahirnya?
Tania berusaha fokus dan mengingatnya. Tapi di otaknya hanya ada bayangan wajah Rendi yang sedang menatapnya.
Tania sudah mulai berkeringat dingin. Matanya pun kembali berkaca-kaca.
"Mbak," panggil petugas kasir.
"Eh. I...Iya," sahut Tania.
Di belakang Tania, mulai gaduh suara orang yang sudah lama antri. Tania menoleh ke arah mereka.
Lalu perlahan dia mulai menekan angka pin-nya. Tanpa Tania sadari, jarinya seperti sudah hafal.
"U....udah, Mbak," ucap Tania.
"Oke," sahut penjaga itu.
__ADS_1
"Transaksi berhasil ya, Mbak. Ini struknya."
Tania menerima struk belanjaannya. Dia pun bisa bernafas dengan lega.
Ternyata tanggal lahir Rendi benar-benar sudah dihafalnya, di luar kepala.
"Ayo, Neng. Biar Bibik yang bawa belanjaannya." Asih segera menjauh dari tempat kasir karena antrian di belakangnya sudah maju.
"I...Iya, Bik. Aku bantu." Tania meraih satu kantung belanjaan.
Tania kembali menoleh ke arah Rendi. Tapi kali ini Rendi tak menatapnya. Dia lagi bicara dengan wanitanya.
Tania pun memalingkan pandangannya. Hatinya kembali teriris.
"Neng Tania kenapa?" tanya Asih setelah mereka mulai berjalan.
"Enggak apa-apa, Bik," jawab Tania. Berusaha menyembunyikannya dari Asih.
"Tapi mata Neng Tania basah." Asih melihat ada bulir bening di mata Tania.
"Oh. Aku...aku kelilipan, Bik." Tania buru-buru menghapus lagi air matanya.
"Kelilipan?" Asih menoleh kembali ke arah supermarket. Tak ada debu sama sekali.
Terus neng Tania kelilipan apa? Tanya Asih dalam hati.
Asih tak bertanya lagi. Hanya hatinya saja yang terus bertanya-tanya. Ada apa dengan Tania?
Mereka terus berjalan tanpa ada pembicaraan seperti saat masuk mall tadi. Semua keceriaan Tania hilang.
"Tania! Tania! Tunggu!"
Sebuah suara yang tak asing bagi Tania memanggilnya. Dada Tania berdegup sangat kencang.
"Tania! Tunggu!" seru Rendi lagi.
Tania mempercepat langkahnya. Asih terus mengikuti.
"Neng. Ada yang manggil," ucap Asih.
"Biarin aja, Bik. Aku enggak kenal!" sahut Tania.
Rendi berhasil mendekat dan meraih tangan Tania.
Tania menepiskan tangan Rendi. Dia kembali berjalan cepat.
"Tania! Tunggu!" Rendi kembali mengejar.
Rendi meraih tangan Tania lagi. Dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Lepasin!" seru Tania dengan air mata berderai.
"Enggak! Aku mau ngomong sama kamu!" sahut Rendi.
Asih hanya diam terpaku. Dia menatap wajah Rendi. Lelaki yang sangat ganteng. Postur tinggi dan gagah.
Rendi menahan langkah Tania.
"Tania! Kita harus bicara!" seru Rendi. Lalu dia menarik tangan Tania hingga agak menjauh dari keramaian.
Asih masih terpaku di tempatnya. Dia tak berani mendekat. Karena dia yakin kalau lelaki itu bukan orang jahat. Dan Tania juga mengenalnya.
__ADS_1
"Bicara apa lagi?" tanya Tania setelah mereka sudah menjauh.
Rendi menatap wajah Tania. Wajah yang berlinang air mata.
Rendi memeluk tubuh Tania dengan erat. Dia sangat merindukan pujaan hatinya.
Pujaan hati yang ingin dia lupakan dan menggantikannya dengan yang lain. Tapi belum mampu dilakukan oleh Rendi.
Tania menangis sesenggukan di pelukan Rendi. Rendi membelai punggung Tania denga lembut.
Lalu setelah Tania puas menangis, Rendi mengurai pelukannya. Dia menatap kembali wajah Tania.
Dengan jemarinya, Rendi menghapus air mata Tania. Lalu mata Rendi melihat ke perut Tania.
Perut itu masih rata. Tania tidak hamil seperti yang dikatakan papanya dahulu.
"Kamu tidak hamil?" tanya Rendi sambil mengelus perut Tania.
Tania memicingkan matanya. Tak paham apa maksud pertanyaan Rendi. Tapi Tania menggeleng juga. Karena dia memang tidak sedang hamil.
"Bajingan!" gumam Rendi penuh kekesalan. Dia merasa dibohongi oleh papanya sendiri.
"Siapa?" tanya Tania tak mengerti.
"Si tua bangka itu!" jawab Rendi. Dadanya naik turun. Telapak tangannya terkepal.
"Maksudnya?" Tania sama sekali tak paham.
"Dia....Dia bilang kamu telah hamil anaknya! Bajingan itu membohongiku!" jawab Rendi.
Tania mulai paham. Jadi selama ini Tono berbohong pada Rendi, kalau dia hamil anak dari Tono.
Lalu Rendi tak lagi mencarinya. Tania ikut geram.
"Aku tidak hamil, Rendi! Bahkan dia tak pernah meniduriku!" ucap Tania.
"Benarkah?" tanya Rendi sambil menatap wajah Tania dengan tajam. Seakan mencari kebenaran di sana.
Tania mengangguk. Lalu dia memeluk Rendi dengan erat. Seakan tak mau melepaskannya.
"Aku selalu menjaganya, Ren. Aku selalu menunggumu menjemputku." Tania kembali menangis.
"Maafkan aku, Tania. Maafkan aku. Bajingan itu telah menghasutku," ucap Rendi.
Tania melepaskan pelukannya.
"Dan....wanita...i...tu...istri...kamu?" tanya Tania sambil sesenggukan.
Rendi menggeleng.
"Bukan! Aku belum menikah, Tania. Aku belum menikah," jawab Rendi berkali-kali untuk meyakinkan Tania.
"Tapi tadi?" tanya Tania.
Dengan mata kepala sendiri, Tania melihat Rendi merangkul mesra wanita itu.
"Tidak! Tak akan lagi!" sahut Rendi dengan mantap.
Tania menatap wajah Rendi. Seperti halnya Rendi tadi, Tania mencari kebenaran di sana.
Rendi mengangguk, lalu kembali memeluk Tania dengan erat.
__ADS_1
"Hey! Apa yang kalian lakukan!"