
Sari membelalakan matanya.
"Apa maksud kamu, Rendi? Bukannya kamu sangat mencintainya? Jangan bilang gara-gara Tania, kamu jadi mencaci Monica!" tanya Sari.
"Monica tadi mau memperkosa Rendi, Ma. Bahkan dia hampir melukai, karena Rendi menolaknya!" jawab Rendi.
"Apa? Memperkosamu?" tanya Sari tak percaya.
"Iya. Kalau Mama enggak percaya, tanyakan saja sama perawat dan security. Untungnya mereka segera datang. Kalau tidak, mungkin Rendi sudah mati!" Rendi sengaja melebih-lebihkan. Biar Sari membenci Monica dan tak membela wanita itu lagi.
Sari masih diam tak percaya. Masa iya wanita mau memperkosa lelaki. Di kamar rumah sakit juga.
"Tadi selang infus Rendi sampai terlepas. Mama tau kan akibatnya kalau selang infusnya lepas?" tanya Rendi.
Sari mengangguk.
Lalu tak lama, perawat yang tadi menolong Rendi datang. Dia akan mengecek kondisi Rendi, sesuai perintah dokter.
"Selamat sore, Bu. Saya mau mengecek kondisi anak Ibu," ucap perawat dengan sopan.
"Oh, iya. Silakan," sahut Sari.
"Ini perawat yang tadi menolong Rendi, Ma. Iya kan, Sus?" Rendi menunjukan pada Sari.
Perawat itu mengangguk.
"Iya, Bu. Tadi ada insiden lagi di sini. Kami sebisa mungkin akan melarang saudari Monica datang lagi ke sini. Karena bisa mengancam nyawa anak Ibu," sahut perawat.
"Hah? Jadi benar kalau Monica mau memperkosa dan mencelakai anak saya?" tanya Sari dengan sangat panik.
"Iya, Bu. Dan sebaiknya Ibu juga menjauhkan saudari Monica dari anak Ibu. Kasihan anak Ibu. Belum bisa membela diri," sahut perawat.
"Iya. Iya, Suster. Pasti saya larang dia kesini," ucap Sari ketakutan.
"Kenapa dia enggak ditangkap saja, Suster. Lalu jebloskan ke penjara?" tanya Rendi.
"Kita tidak bisa melakukannya, Mas. Kecuali pihak keluarga sendiri yang melaporkannya pada polisi. Kami hanya bisa jadi saksi saja. Kira-kira begitu," jawab perawat, menjelaskan sesuai yang dia tahu.
"Semua baik-baik saja. Mas Rendi kondisinya sudah normal. Tinggal menunggu lukanya sembuh. Ini akan membutuhkan waktu yang lama. Tapi Mas Rendi bakal sembuh, kok. Jangan khawatir," ucap perawat.
Rendi tersenyum senang.
"Apa itu artinya saya bisa cepat pulang, Suster?" tanya Rendi.
"Kalau itu, tanyakan pada dokter. Beliau yang bisa memutuskan. Saya permisi dulu," ucap perawat. Lalu segera keluar dari kamar Rendi.
"Rendi pingin cepat pulang, Ma. Bosan di sini terus. Lagian, kasihan Mama. Jadi enggak bisa istirahat," ucap Rendi setelah perawat keluar dari kamarnya.
"Jangan pikirkan Mama, Ren. Yang penting kamu sembuh!" sahut Sari.
"Gimana Rendi enggak kepikiran Mama. Tadi aja Mama pingsan, kok," sahut Rendi.
__ADS_1
"Mama shock banget mendengar si Monica kalau sampai hamil. Mama enggak mau kamu punya anak dari dia, Rendi!" sahut Sari.
"Enggak mungkin dong, Ma. Kalau sampai dia hamil, itu bukan karena Rendi. Kami enggak pernah melakukannya!" ucap Rendi memastikan pada Sari.
Sari menatap wajah Rendi dengan tajam.
"Kamu yakin enggak melakukannya pada Monica?" tanya Sari.
Rendi menggeleng.
"Rendi hanya pernah melakukannya dengan Tania, Ma!" jawab Rendi.
"Rendi! Jangan sebut-sebut namanya lagi. Mama enggak mau kamu sama janda papamu itu!" ucap Sari dengan ketus.
"Ma! Rendi sangat mencintai Tania! Rendi enggak peduli dia janda atau apapun!" sahut Rendi dengan ketus juga.
"Ingat Rendi, dia jandanya papa kamu! Dia pasti tertular penyakit papa kamu!" ucap Sari.
"Tania enggak akan tertular, Ma. Mereka tak pernah melakukannya!" sahut Rendi.
"Dan kamu percaya omongan Tania? Dia pasti bilang begitu, biar kamu mau menerimanya kembali!" sahut Sari.
"Kenapa Rendi mesti enggak percaya? Papa juga bilang begitu." Rendi masih saja menyahut omongan Sari.
"Itu akal-akalan mereka saja. Papa kamu ingin melepaskan Tania, karena dia sudah punya istri baru. Dan seenaknya aja dia berikan Tania pada kamu! Enggak! Mama enggak setuju!" seru Sari.
"Bukan begitu alasannya, Ma. Papa sekarang sudah sadar. Makanya dia mau mengembalikan Tania pada Rendi," sahut Rendi.
Rendi menghela nafasnya. Rasanya berdebat dengan Sari tak akan ada habisnya. Dan tak ada titik temu.
Sari tetap kekeh tak mau menerima Tania. Dan Rendi pun tetap pada rencananya semula. Kabur bersama Tania setelah dia sembuh.
Rendi mengambil ponselnya lagi. Dia sudah malas berdebat dengan Sari.
Hallo, Sayang. Kamu lagi ngapain? Ketik Rendi di pesannya buat Tania.
Tania yang lagi duduk di ruang tamu sendirian, menunggu Dito dan Mike pulang, membaca pesan dari Rendi.
Lagi nunggu Mike sama Dito pulang. Apa mereka masih di sana? Tanya Tania.
Enggak, Sayang. Mereka baru saja pulang. Mungkin sebentar lagi sampai. Kalau tidak mampir-mampir dulu. Jawab Rendi.
Iya. Aku tungguin deh. Sepi juga sendirian di rumah ini. Ketik Tania.
Kangen sama aku, ya? Ledek Rendi.
Ih, GR! Siapa yang kangen sama kamu? Jawab Tania.
Beneran enggak kangen sama aku? Ketik Rendi lagi.
Tania hanya mengirimkan stieker gambar love.
__ADS_1
Rendi pun mengirimkan stieker yang sama. Sambil bibirnya terus mengulaskan senyuman.
"Ngapain kamu senyum-senyum terus?" tanya Sari. Ternyata dia dari tadi memperhatikan Rendi.
"Enggak apa-apa, Ma. Lagi bercanda aja sama temen di chat," jawab Rendi. Lalu menyimpan ponselnya di bawah bantal.
Sari malah semakin curiga. Karena tak biasanya Rendi menyembunyikan ponselnya.
Apa dia chatingan dengan Tania? Awas aja kalau sampai dia chat dengan Tania. Akan aku cari anak itu sampai ketemu. Biar enggak lagi mendekati Rendi. Ancam Sari dalam hati.
Rendi melihat wajah mamanya. Dia merasa mamanya sedang mencurigainya.
Rendi pura-pura bersikap biasa. Biar mamanya juga tak lagi curiga.
Bahkan pesan dari Tania selanjutnya, tak dibukanya.
Untungnya Tania bisa mengerti. Dia berpikir pasti ada mama dan papanya Rendi di sana.
Tania pun menutup ponselnya. Lalu berjalan ke dalam. Dia mau memasak buat makan malam nanti bersama Mike dan Dito.
Tania yakin kalau malam ini dia tak akan bisa menunggui Rendi. Penjagaan Rendi pasti lebih ketat.
Tak apalah. Yang penting aku masih bisa chat dengan Rendi. Batin Tania.
Tak lama Tania di dapur, Mike dan Dito pulang. Ternyata mereka sudah membawa makanan untuk mereka.
"Lagi ngapain kamu, Tan?" tanya Mike.
"Eh kamu, Mik. Ngagetin aja!" seru Tania.
Mike membawa kunci sendiri, jadi dia bisa masuk tanpa harus Tania membukakan pintunya.
"Oh, sorry. Aku kan bawa kunci sendiri. Kamu lagi ngapain?" tanya Mike.
"Masak. Buat makan malam," jawab Tania.
"Udah, enggak usah. Kita udah beli, kok. Ayo kita makan. Kita juga udah laper," ajak Mike.
Lalu Mike membongkar belanjaannya. Tania ikut membantu.
"Tan. Tadi kami ketemu dengan papanya Rendi. Katanya dia akan menyerahkan kamu pada Rendi," ucap Mike.
"Dia bilang begitu?" tanya Tania.
"Iya. Dia minta kita ikut mencari kamu," jawab Mike.
"Jangan percaya sama omongannya. Dia sudah terlalu sering membohongiku!" sahut Tania.
"Iya, Tan. Kita juga tak semudah itu mempercayainya. Kamu tenang aja di sini. Tunggu sampai Rendi sembuh," sahut Mike.
Tania mengangguk setuju.
__ADS_1