HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 101 WANITA PENGGODA


__ADS_3

"Kenapa dia yang pegang uangnya? Dan kenapa ATM kamu juga ada sama dia terus?" protes Linda.


"Tania lebih bisa dipercaya pegang uang daripada kamu!" sahut Tono, lalu kembali ke kamarnya.


Linda mengikuti Tono dan terus saja ngomel-ngomel.


"Terus, aku harus minta uang ke dia kalau mau belanja?" Linda tadinya sudah membayangkan bakal belanja sesuka hatinya.


"Memangnya kamu mau belanja apa? Bukannya cuma mau belanja kebutuhan dapur? Kamu butuh garam? Gula? Atau minyak goreng? Tinggal ambil terus masukan troler. Beres, kan?" sahut Tono. Dia tak habis pikir dengan Linda yang maunya hanya bersenang-senang saja.


Linda langsung manyun.


"Kenapa? Kalau kamu enggak mau ikut, biar Tania sama Asih aja yang berangkat!" Tono merebahkan badannya. Dia sudah sangat capek.


"Tadi kamu bilang, dia boleh belanja apapun yang dibutuhkan. Kenapa aku enggak?" Linda kembali protes.


"Heh! Bisa diam enggak sih, kamu? Aku capek!" Tono membalikan badannya lalu memeluk guling dan kembali mendengkur. Matanya sudah tak bisa dikondisikan lagi.


Linda menghentakan kakinya di lantai. Dia sangat kesal pada Tono.


Setengah jam kemudian, Tajab datang. Dia sudah siap mengantarkan dua istri Tono belanja.


Tania juga Asih pun sudah rapi dan menunggu Linda di ruang tamu.


Tania memakai baju casual, atasan yang dibelikan Tono kemarin dan tas selempang bermerk yang juga pernah dibelikan Tono sebelum mereka menikah.


"Mana yang satunya?" tanya Tajab.


Tania merasa tak ditanya, hanya diam saja.


"Belum turun. Paling lagi ngajak berantem dulu," jawab Asih.


Asih sudah cukup mengenal Tajab. Meski tak terlalu akrab. Tajab sering ke rumah Tono dan meminta Asih membuatkan kopi pahit kesukaannya.


"Emang tuh perempuan seneng banget bikin masalah!" gerutu Tajab.


Sejak awal mengenal Linda, Tajab sering dibuat kalang kabut karena tingkah menyebalkan Linda.


Tajab juga punya tugas tambahan dari Tono untuk memata-matai Linda.


"Tapi suka, kan?" tebak Asih.


Tajab hanya nyengir saja. Siapa yang tak suka dengan perempuan seksi yang selalu menggoda mata laki-laki? Batin Tajab.


"Oh, kalian udah siap semua? Ayo kita berangkat sekarang," ucap Linda dengan gaya seperti nyonya besar.


Linda mengenakan perhiasan yang sangat mencolok. Entah kapan dia membelinya. Dan entah asli atau cuma sekedar imitasi.


Yang tahu hanya Linda dan Tono pastinya. Karena baik Tania maupun Asih, tak pernah mau tahu.


Sampai di mobil, Tania dan Asih duduk di bagian tengah. Sedangkan Linda tetap maunya di depan mendampingi Tajab.


"Wah, kalian serasi ya? Yang satu ganteng yang satunya cantik," sindir Asih.


"Iyalah. Perempuan cantik ya pasangannya lelaki ganteng," sahut Linda. Dia tak sadar dengan yang diucapkannya.

__ADS_1


Tania menahan tawanya. Tapi Asih kelepasan dan tertawa ngakak. Mumpung tak ada Tono, dia bisa tertawa lepas.


"Gantengan mana sebelahmu sama pangeran Martono?" tanya Asih setelah selesai ketawa.


Glek.


Linda tak bisa menjawab. Karena jawabannya jelas jauh lebih ganteng Tajab.


"Jangan ngaku cantik kalau enggak bisa nyari laki ganteng! Hahaha." Asih semangat sekali membully Linda. Mumpung tak ada Tono. Dan posisi mereka sebenarnya sama. Sama-sama orang yang diperbudak Tono.


"Berarti aku enggak cantik dong, Bik?" Tania mulai membuka suaranya.


"Cantik banget. Cuma apes! Hahaha."


"Ups! Kelepasan!" Asih menangkup mulutnya dengan tangan.


"Kamu ini, aku laporin ke juragan Tono, kena kamu!" ucap Tajab.


"Laporin aja sana. Paling yang lapor sebelahmu itu, Jab," sahut Asih.


Tajab melirik ke arah Linda. Lalu matanya turun ke arah dada Linda yang membusung dan sedikit menyembul.


"Cie...lirik-lirik...! Haus, Jab?" Asih terus saja meledek Tajab.


"Hush! Siapa yang melirik?" sanggah Tajab. Padahal jelas-jelas matanya menatap dua gunung kembar Linda yang menantang.


"Awas, bisa dicolok matamu sama juragan Tono!" ucap Asih.


"Cuci mata dikit, Sih!" sahut Tajab sambil tersenyum simpul.


Tania tak bisa lagi menahan tawanya. Dia tertawa sampai puas. Tak disangkanya Asih bakalan seberani itu membully Linda.


"Heh! Bisa enggak sih, kalian diam!" bentak Linda.


"Uluh-uluh....Nyonya besar marah. Eh, nyonya besarnya yang mana, ya? Yang pegang uang sama ATM apa yang cuma numpang duduk?" sahut Asih.


Di sini Asih tak mau kalah oleh Linda. Baginya Linda tak lebih dari sekedar wanita penghiburnya Tono.


Karena menurut Asih, istri Tono ya Tania. Meskipun dia tahu kalau hubungan Tania dan Tono tidak baik.


"Dia yang pegang uang, tapi aku yang bakal menghabiskan!" sahut Linda dengan ketus.


"Udah...udah! Berisik aja! Tuh, udah sampai. Ayo siap-siap turun!" ucap Tajab.


"Siap ganteng...!" sahut Asih meledek Tajab.


Tajab mencari tempat parkir. Niatnya mau parkir di area depan mall, tapi semua tempat penuh.


Akhirnya Tajab menuju lantai basement. Sebuah lantai parkir yang luas tapi tak terlalu terang.


Tajab dapat tempat parkir agak mojok. Karena di basement itu juga hampir penuh.


Tania dan Asih segera turun dari mobil. Dan tanpa menunggu Tajab dan Linda, mereka jalan duluan.


"Kamu enggak turun?" tanya Tajab pada Linda. Tajab sudah mematikan mesin mobilnya.

__ADS_1


"Bukain pintunya dong," jawab Linda dengan manja.


"Iih. Manja!" Tahab mencubit hidung Linda pelan.


Linda menangkap tangan Tajab. Dan sesaat pandangan mereka beradu.


Tajab yang dari awal melihat Linda sudah punya hasrat, meski sikap Linda selalu menyebalkan, mulai mendekatkan wajahnya.


"Kamu cantik Linda. Dan....seksi....!" ucap Tajab pelan.


"Masa sih...?" suara Linda pun bergetar.


Tajab mengangguk. Lalu dia segera menyambar bibir Linda yang sedikit terbuka.


Tangan Tajab tak mau diam. Dengan brutal, Tajab membuka beberapa kancing kemeja Linda.


"Wauw....!" Tajab terbelalak, terpesona dengan pemandangan indah yang dari tadi hanya bisa dibayangkannya.


Tajab menelan ludahnya.


Cleguks.


Linda tersenyum nakal dan menggoda.


Tajab berniat membenamkan wajahnya di sana. Tapi baru saja mau menempel, tiba-tiba...


"Tin...Tin...!"


Suara klakson sebuah mobil mengejutkan Tajab. Tajab langsung menjauhkan kembali wajahnya. Linda pun buru-buru memasang lagi kancing kemejanya.


"Ah! Sial!" umpat Tajab.


"Ayo turun. Kita lanjutin nanti aja!" Tajab mengajak Linda turun.


"Kamu masih menginginkannya?" tanya Linda.


"Kamu tak menolak kan?" Tajab balik bertanya.


Linda menggelengkan kepala sambil tersenyum menggoda. Membuat Tajab tak bisa lagi menahan hasratnya.


"Kamu disini aja sebentar. Aku cari Tania dan Asih." Tajab langsung turun dari mobil.


Linda diam menunggu. Dia tak tahu apa yang dimaui Tajab darinya.


"Asih!" panggil Tajab.


Asih dan Tania menoleh.


"Ada apa?" tanya Asih.


"Kalian belanja dulu aja. Habiskan uang juragan Tono. Aku beri kalian waktu tiga jam!" jawab Tajab.


Tania dan Asih berpandang-pandangan.


"Kamu mau kemana?" tanya Asih.

__ADS_1


"Aku haus!"


__ADS_2