HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
117 KETAKUTAN TONO


__ADS_3

Tono dan Sari terkesiap. Sari yang tadi sudah hampir pingsan, langsung berdiri tegap. Dia menatap wajah Tania.


Tania tak mempedulikannya. Dia masih mengulurkan kedua tangannya pada dokter.


"Anda siapanya pasien?" tanya dokter.


"Dia istrinya pasien!" sahut Tono dengan tegas.


Sari kembali terkesiap. Dia menoleh pada Tono.


Tania pun seketika menjatuhkan kedua tangannya. Matanya menatap tajam pada Tono dengan mulut ternganga.


"Baiklah. Kalau begitu, kita coba periksa golongan darahnya dulu. Semoga bisa cocok."


Dokter masuk lagi ke ruang cek darah. Dia ingin mengecek sendiri biar bisa segera mengambil tindakan untuk Rendi.


Tania pun mengikutinya masuk.


Tania sudah bertekad, akan melakukan apapun demi kesembuhan Rendi. Dia tak mau Rendi sampai tak bisa tertolong. Meskipun Tania tak bisa banyak berharap.


Tania pun sudah pasrah, walaupun setelah Rendi sembuh, dia harus meninggalkannya. Yang penting dia telah melakukan semampunya.


"Kenapa kamu bilang dia istri Rendi?" tanya Sari pada Tono, setelah Tania dan dokter masuk ke ruangan.


"Biar urusannya gampang," jawab Tono.


"Tapi bukan berarti kamu akan memberikan jandamu pada Rendi, kan?"


Sari benar-benar tak mau kalau Rendi menikahi janda papanya sendiri.


"Kamu tidak menyukai Tania?" tanya Tono.


Sari menggeleng.


"Bukannya dulu kamu begitu membanggakannya?" Tono masih ingat saat Sari mengatakan mau ketemu dengan Tania dan dia begiti sangat antusias.


"Itu dulu. Sebelum kamu menikahinya," sahut Sari. Sari sangat kecewa pada Tania yang mau saja dinikahi Tono, meskipun Sari sudah tahu alasannya.


"Apa bedanya dengan sekarang? Tania belum pernah aku sentuh. Malah Rendi yang sudah mengambil keperawanannya!" ucap Tono.


"Aku tak peduli! Rendi yang mengambil keperawanannya atau bukan, bagiku tidak penting!" sahut Sari dengan ketus.


"Tapi penting bagi mereka. Nyatanya Rendi masih saja mencari Tania. Sampai akhirnya...." Tono hanya menghela nafasnya. Dia masih trauma mengingat kondisi Rendi saat terjatuh di depan matanya.


Tono pun akhirnya sadar, dia harus mengalah pada anaknya, sebelum semuanya benar-benar terlambat.


"Bukankah kamu yang telah menghamilinya? Kamu bilang sendiri kan, waktu itu?" Sari kembali mengingatkan Tono.


"Itu hanya akal-akalanku saja. Biar Rendi tak mencari Tania lagi. Dan nyatanya berhasil, kan?" sahut Tono.


Ya, Tono berhasil menghasut Rendi hingga tak mencari Tania lagi.


Tapi Tono juga menyesali perbuatannya sendiri. Di saat seperti itu, dia malah memilih menikahi Linda. Hingga akhirnya semua malah jadi petaka baginya.

__ADS_1


Ponsel Tono berdering. Diman menelponnya.


"Iya. Ada apa, Diman?" tanya Tono.


"Bang Tajab sudah selesai dioperasi, Juragan. Kata dokter, operasinya sukses. Tapi proses penyembuhannya bisa lama. Jadi bang Tajab harus dipakaikan tongkat penyangga untuk berjalan nantinya, sampai benar-benar pulih," jawab Diman panjang lebar.


Diman salah satu anak buah Tono yang paling cerdas di antara yang lainnya.


Tono terdiam. Dia membayangkan Rendi bakal mengalami hal yang sama dengan Tajab. Bisa jadi cacat seumur hidup.


"Hallo....! Juragan! Hallo!" Diman memanggil-manggil Tono dari telponnya.


Diman tak tahu kalau posisi Tono saat ini tak jauh dari ruang operasi.


Tono tak juga menjawab panggilan dari Diman. Dia masih membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya.


"Tidak....!" teriak Tono tiba-tiba.


Diman sampai menjauhkan hape dari telinganya.


"Juragan kenapa? Hallo...!" Diman kebingungan di ujung telponnya.


"Kenapa?" tanya Sari yang sedikit mendengar pembicaraan Tono.


"Aku enggak mau Rendi mengalami nasib seperti Tajab!" sahut Tono dengan nada keras.


"Tajab? Anak buah kamu? Kenapa dia?" tanya Sari tak mengerti.


Sari meraih hape Tono yang masih dalam mode panggilan. Di sana terpampang nama Diman.


"Hallo. Ini siapa?" tanya Sari.


Sari hanya mengenal Tajab saja. Karena Tajab yang paling lama ikut Tono, dan beberapa kali datang ke rumahnya.


"Saya Diman. Ini siapa?" Diman balik bertanya. Dia khawatir juragannya kenapa-napa.


"Aku Sari. Istri pertamanya Tono. Kamu siapa?" tanya Sari lagi.


Diman tahu kalau juragannya masih punya istri tua. Istri


pertama, meski dia tak tahu namanya.


"Oh, Ibu Sari. Saya anak buah pak Tono, Bu," jawab Diman dengan sopan.


"Hm. Ada berita apa, sampai suami saya histeris?" Sari tak sadar mengatakan kalau Tono adalah suaminya.


"Saya mengabarkan tentang bang Tajab, Bu. Dia baru selesai dioperasi. Dan operasinya sukses," jawab Diman.


Dia merasa tak ada yang salah dengan informasinya.


"Operasi? Operasi apa?" tanya Sari yang tidak tahu apa-apa.


"Bang Tajab kemarin jatuh dari balkon kamar bapak, Bu. Kakinya patah. Tapi sekarang udah disambung lagi sama dokter. Tapi katanya, bakal lama sembuhnya. Bang Tajab harus pakai tongkat penyangga untuk jalan," jawab Diman, mengulang penjelasannya pada Tono tadi.

__ADS_1


Sari pun terdiam. Tajab jatuh dari balkon rumah Tono dan kakinya patah? Rendi pun jatuh dari pintu gerbang rumah Tono.


Kepala Rendi luka parah sampai kekurangan darah. Lalu bagaimana dengan kaki Rendi.


Sari pun terdiam bengong membayangkan kodisi Rendi nantinya.


"Hallo...Bu....!" Diman kebingungan. Kenapa dua orang majikannya malah pada diam setelah dia menceritakan kondisi Tajab?


Diman mematikan telponnya. Dia terduduk sambil mengingat-ingat penjelasannya tadi.


Sepertinya tidak ada yang salah. Lalu kenapa mereka pada diam. Bahkan juragan Tono malah teriak.


Apa mereka tidak suka kalau bang Tajab selamat? Ah, enggak tau, ah. Pusing kepalaku. Batin Diman.


Lalu dia meninggalkan teras ruang operasi. Dia mau keluar dulu nyari kopi dan merokok.


Sepertinya dia juga butuh doping biar otaknya tidak buntu.


"Apa yang terjadi pada Tajab?" tanya Sari pada Tono.


Tono hanya menggeleng. Dia bingung cara menjelaskannya pada Sari. Karena bakalan ketahuan kalau dia punya istri lagi selain Tania.


Dan istri barunya malah berselingkuh dengan Tajab sialan itu.


Tono masih geram pada Tajab. Yang berani-beraninya meniduri Linda.


Meskipun Tono pada akhirnya mau juga bertanggung jawab pada Tajab. Dia berjanji akan membiayai Tajab sampai sembuh.


Anggap saja pesangon buat Tajab, yang sudah lama ikut Tono. Dan selama ini kerja Tajab sangat baik.


"Aku ke kamar mandi dulu, perutku sakit," pamit Tono pada Sari.


Begitu banyak kejadian yang datang padanya secara bertubi-tubi, membuat perut Tono jadi mules.


Tono berjalan mencari toilet. Tono lupa kalau hapenya masih dipegang Sari. Dia benar-benar lagi tidak konsentrasi.


Sari melihat ke ponsel Tono yang masih ada ditangannya. Mati.


Sari masih duduk di depan ruang lab. Menunggu hasil cek darahnya Tania.


Sari mengambil lagi hape Tono. Lalu membukanya.


Dikunci!


Iseng Sari menekan angka tanggal lahir Rendi. Sari ingat, Tono sering lupa dengan segala macam password bahkan nomor pin.


Sampai akhirnya Sari menyarankan pakai saja tanggal lahir Rendi, biar gampang diingat.


Dan ternyata berhasil. Sari berhasil membuka ponsel Tono.


Sari melihat wallpaper di hape itu foto lama mereka saat berlibur ke pantai. Dan Rendi masih kecil.


Sari memperhatikannya, sampai tak terasa air matanya menitik.

__ADS_1


__ADS_2