HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 46 PENGANTINNYA KABUR


__ADS_3

"Sah?" tanya Penghulu kepada seluruh yang hadir.


"Saaah...!" ucap semua orang yang hadir hampir bersamaan.


"Tidaaak...!!" teriak Rendi yang baru saja datang bersama Sari.


Semua orang menoleh kepadanya, termasuk Tania dan Tono yang tak lain adalah papanya Rendi, suami dari Sari.


"Rendi...!" seru Tania tertahan.


Tania hendak bangkit dari duduknya, tapi tangannya ditahan oleh Tono yang kini sudah sah menjadi suaminya.


Rendi berjalan mendekati sepasang suami istri yang baru saja disahkan oleh penghulu itu.


"Papa! Apa yang Papa lakukan pada Tania? Tania calon istri Rendi, Pa!"


Tania tersentak. Dia tak mengira kalau lelaki tua bangka yang menikahinya adalah bapak dari lelaki yang sangat dicintainya.


Danu dan Eni melongo. Mereka pun tak mengira kalau Rendi adalah anak dari Tono.


Terlebih Tono, tak mengira kalau yang dinikahinya adalah kekasih dari anaknya sendiri.


"Rendi...!" Tono tercekat mendengar perkataan anak kesayangannya.


"Oh, jadi ini gadis bau kencur yang kamu nikahi, hah?" Sari berkacak pinggang menatap ke arah suaminya.


"Ma...!"


"Jangan pernah panggil mama lagi. Hari ini juga, aku minta cerai!" teriak Sari.


"Ma! Papa bisa jelaskan semua ini!" Tono melepaskan tangan Tania, lalu berjalan mendekati istrinya.


Sari mundur menjauh. Tono tetap maju mendekat.


"Jangan dekati aku, aku tak sudi lagi disentuh olehmu!" Sari masih terus saja berteriak.


"Ma..! Papa bisa jelaskan!"


"Apa lagi yang akan kamu jelaskan, hah! Dasar tua bangka tak tau diri!" Sari bukannya diam, dia malah semakin emosi.


Saat semua orang sedang fokus menyaksikan pertengkaran antara Tono dan istrinya, Rendi diam-diam menarik tangan Tania dan membawanya pergi.


Kebetulan tadi Rendi dan Sari datang terlambat, sehingga Rendi memarkirkan mobilnya jauh dari gang rumah Tania. Karena banyak mobil angkot teman-temannya Danu yang diparkir di sana. Mereka juga sedang menjadi saksi pernikahan Tania.


"Ayo cepat naik!" Rendi membukakan pintu mobil untuk Tania.

__ADS_1


Tania menurut saja, karena dia juga memang tak pernah menginginkan pernikahan itu.


Setelah Tania naik, Rendi pun langsung berlari ke sisi lain dan menaiki mobilnya.


Rendi segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Pakai sabuk pengamanmu!" seru Rendi, dan Tania segera mengancingkan sabuk pengamannya.


Klek.


Wuush...!!


Rendi langsung melaju dengan kecepatan diatas rata-rata seperti orang kesetanan.


Tania hanya pasrah sambil berpegangan pada sisi pintu. Seperti halnya Rendi, Tania pun tak memikirkan keselamatannya.


Toh hidup pun tak ada gunanya lagi. Mending mati bersama kekasih hatinya. Hanya itu yang ada di otak Tania.


Di rumah Danu terjadi kehebohan, saat Eni menyadari kalau Tania sudah tidak ada di kursinya.


"Tania...!" seru Eni.


Semua orang menoleh ke arah Eni. Lalu melihat kursi Tania yang telah kosong.


"Rendi...!!" Teriak Tono dan Sari hampir bersamaan.


"Kemana?" tanya Tono.


"Ke selatan!" sahut juru parkir dadakan itu.


"Kejar!" teriak Tono pada anak buahnya.


Dan secepat kilat mereka berlari ke arah parkiran. Tapi karena mobil mereka terjepit diantara angkot teman-teman Danu, membuat anak buah Tono kesulitan mengeluarkan mobilnya.


"Ayo cepat!" teriak Tono yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Mobil tak bisa keluar, Pak!" teriak centeng Tono yang ditugaskan sebagai sopir.


"Panggil pemilik angkot sialan ini!" teriak Tono pada juru parkir yang kesulitan memberi aba-aba.


Mendengar kemarahan Tono yang terkenal sebagai lintah darat dzalim, si juru parkir berlari kembali ke rumah Danu mencari pemilik angkot itu.


"Bu Sari, maafkan saya. Saya tidak tau kalau Tono adalah suami dari Bu Sari dan juga bapak dari Rendi. Sekali lagi maafkan saya!" Seru Eni sambil bersimpuh di kaki Sari.


Eni benar-benar tidak tahu kalau Tono masih punya istri. Karena yang Tono katakan pada Eni dan Danu, dia baru saja bercerai dari istrinya.

__ADS_1


Sari menghela nafasnya dalam-dalam. Dia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Eni, teman barunya.


Widya yang dari tadi diam saja pun, ikut berbicara.


"Bu Sari, mari kita duduk dulu. Biar Bu Sari tidak hanya menyalahkan adik saya ini."


Sari yang sebenarnya masih diliputi emosi tingkat tinggi pun, akhirnya menurut.


Dia duduk di kursi yang sudah ditata untuk tamu sedemikian rupa.


Danu, Eni dan Widya ikut duduk dekat dengan Sari.


"Jadi begini, Bu Sari. Adik saya, Danu ini mempunyai hutang pada Tono. Yang jumlahnya saya sendiri tak paham. Karena menurut mereka, Tono telah melipat gandakan hutang mereka dengan alasan bunganya terus bertambah." Widya memulai keterangannya.


"Karena mereka berdua tak punya uang untuk mencicil, bahkan membayar hutangnya, Tono mengancam akan memenjarakan Danu. Kecuali mereka mau menikahkannya dengan Tania, keponakan saya." Sari menyimak dengan seksama keterangan dari Widya.


Perempuan yang juga telah membeli baju batik di tokonya, beberapa hari yang lalu.


"Mereka tak punya pilihan lain. Tania pun tak ingin Danu yang telah mengasuhnya sejak kecil, dijebloskan ke penjara. Dan terjadilah pernikahan ini. Begitu kira-kira kejadiannya. Benar kan, Dan?" tanya Widya kepada Danu.


Danu dan Eni mengangguk bersamaan. Sari menatap tajam mereka berdua.


"Bukankah kamu pernah mengatakan kalau yang akan menikahi anakmu adalah pengusaha sukses?" tanya Sari pada Eni.


Sari masih sangat ingat, ketika Eni menceritakan pernikahan anaknya dengan antusias.


"Maafkan saya, Bu Sari. Saya berbohong soal itu. Masa iya saya bilang kalau calonnya anak saya adalah seorang rentenir? Dan untuk status Tono, demi Allah kami tak mengetahuinya. Tono bilang dia sudah tidak punya istri satu pun," sahut Eni panjang lebar.


"Andai saya tau rencana ini sejak awal, pasti akan saya gagalkan Bu Sari. Karena saya tau persis kelakuan si Tono. Tono adalah temanku dari jaman sekolah dulu. Dan kami adalah musuh bebuyutan," ucap Widya.


Sari menatap satu persatu wajah Widya, Danu dan Eni. Tak ada kebohongan di wajah-wajah polos mereka.


Mereka hanyalah korban dari keserakahan suaminya, termasuk Tania.


Dan akhirnya, Rendi ikut jadi korbannya. Karena Sari tahu kalau anaknya itu sangat mencintai Tania. Dan kelihatannya Tania juga begitu.


"Apa kalian tau kalau Rendi dan Tania memiliki hubungan yang dekat? Pacaran maksudku?" tanya Sari pada Danu dan Eni. Mereka hanya mengangguk.


"Lalu kenapa kalian membiarkannya? Kalian tau, dengan membiarkannya, membuat anak saya sangat terluka," tutur Sari.


"Sekali lagi maafkan saya, Bu Sari. Saya tidak tega melarang hubungan mereka."


Eni kembali memohon maaf atas kesalahannya.


"Oke. Saya maafkan. Tapi sekarang saya minta, kalian bisa menemukan mereka dan kembalikan Rendi pada saya. Biar saya yang akan berusaha menghibur anak saya. Bagaimana pun Tania sudah terlanjur dinikahi oleh bapak dari anak saya. Tak baik tetap membiarkan mereka berhubungan," ucap Sari lalu pamit pulang.

__ADS_1


Sari meninggalkan tempat pernikahan suaminya dengan langkah lunglay. Sari pun menolak ketika Danu menawari untuk mengantarkannya.


Yang dia inginkan saat ini hanya satu. Rendi kembali.


__ADS_2