HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 253 PRO KONTRA


__ADS_3

"Iih...sakit, Om!" Mila mengelus dahinya. Rupanya Danu menepoknya cukup keras.


"Siapa suruh kamu malah cengar-cengir!" Danu bukannya minta maaf, tapi malah ngomel-ngomel.


"Lagian ngapain sih pada tegang gitu? Bu Sari kan orangnya baik," ucap Mila.


Selama ini di mata Mila, Sari adalah sosok yang baik. Meskipun kadang sedikit cerewet. Tapi bagi Mila, itu hal yang biasa.


Mila malah merasa senang kalau dimarahi oleh Sari. Dia merasa ada yang memperhatikannya. Mila merasa seperti punya orang tua.


"Kita bakal kena semprot, tau!" geram Danu.


"Lah, emang kenapa? Kan adem kalau disemprot. Hehehe." Mila malah cekikikan.


"Udah! Ayo kita turun!" ajak Tono. Dia tak mau Sari semakin marah padanya.


Mila yang merasa tak punya salah apa-apa, turun duluan. Lalu membantu Tono turun dari mobil.


"Kamu bantu Rendi. Aku bisa jalan sendiri." Tono menyingkirkan tangan Mila.


Lalu dengan langkah sempoyongan, Tono mencoba berjalan sendiri. Rendi menatapnya tak tega.


"Mila! Bantu papa!" ucap Rendi.


Mila kebingungan harus bagaimana.


"Cepat! Aku bisa sendiri!" lanjut Rendi.


Gimana sih, ini? Semua maunya sendiri. Gumam Mila.


Mila menoleh ke arah Tono. Lalu dia berlari, karena Tono hampir tersungkur.


Danu pun segera turun. Dia memilih membantu Rendi turun dari mobil.


"Ayo, aku bantu, Ren." Danu mengulurkan tangannya.


Rendi yang memang merasa kesulitan, meraih tangan Danu. Dia tak mau mengambil resiko jatuh, saat turun.


"Dari mana, kalian?" tanya Sari dengan ketus.


Mata Sari menatap tajam pada Danu yang sedang menolong Rendi. Danu pura-pura tak melihat.


Sari berjalan menghampiri Rendi. Lalu menepis tangan Danu.


Sari seperti tak rela kalau anaknya disentuh Danu.


"Biar aku yang membantu Rendi!" ucap Sari dengan ketus.


Danu pun tak mau ambil resiko dimarah-marahin Sari. Dia lepaskan tangan Rendi.


"Rendi bisa sendiri, Ma," ucap Rendi.


"Nanti kamu jatuh!" sahut Sari.


"Enggak, Ma. Rendi bisa." Rendi tetap kekeh.

__ADS_1


Sari hanya menghela nafasnya. Lalu mengikuti lamgkah Rendi. Menjagainya dari belakang. Sari tak mau kalau Rendi sampai jatuh dan akan membuatnya semakin parah.


Danu mengikuti langkah mereka.


Sari menoleh ke belakang. Tatapannya masih tajam pada Danu.


"Mau apa lagi, kamu?" tanya Sari pada Danu dengan suara ketus.


Danu menghela nafasnya.


"Saya...mau mengembalikan ini." Danu mengulurkan kunci mobil Tono.


Sari langsung merampasnya.


"Udah! Pulang sana!" hardik Sari, setelah mendapatkan kunci mobil.


Tono dan Rendi juga Mila, menoleh.


"Ma. Biarkan om Danu masuk dulu," ucap Rendi.


"Mau apa lagi? Dia enggak ada urusan di rumah kita!" sahut Sari dengan ketus.


"Biar Yadi yang mengantarnya pulang," ucap Tono dengan nafas terengah.


Kondisi Tono sedang tak baik. Setiap kali emosinya meningkat, dia akan merasa sesak nafas.


"Yadi lagi pergi!" sahut Sari.


Baru saja Yadi disuruh Sari membeli beras. Sri barusan mengatakan kalau stock beras di dapur sudah menipis.


Tono melihat jam tangannya. Yadi biasanya akan pulang setelah jam lima sore.


"Belanja sembako!" jawab Sari.


"Kalau begitu, biarkan Danu masuk dulu," ucap Tono.


"Biar aku pulang sendiri aja!" ucap Danu. Dia tak mau ada perdebatan di antara mereka karenanya. Pasti ujung-ujungnya, dia juga yang bakalan kena semprot Sari.


Mila hanya menyimak saja. Dia tak paham alasan Sari begitu ketus pada Danu.


"Jangan, Om. Tunggu aja pak Yadi pulang. Pasti tak akan lama," ucap Rendi.


Rendi menghargai dan menghormati Danu, karena bagaimanapun dia akan jadi menantu keponakan dari Danu.


"Enggak apa-apa, Ren. Om bisa pulang sendiri, kok. Permisi." Danu membalikan badan lalu berjalan meninggalkan rumah Sari.


Rendi tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tangan Sari sudah menariknya masuk menjauh dari Danu yang juga sudah melangkah jauh.


Tono pun hanya menghela nafasnya. Dia tak bisa juga menahan Danu. Karena bisa dipastikan, Sari akan semakin memaki-maki Danu.


Tono justru kasihan pada Rendi nantinya. Pasti Rendi akan merasa sedih kalau calon mertuanya dimaki-maki Sari.


Rendi duduk di sofa ruang tamu. Tono sudah duluan duduk di situ.


"Kalian belum jawab pertanyaanku. Darimana saja?" tanya Sari mengulangi pertanyaannya tadi.

__ADS_1


"Dari rumah Tania, Ma," jawab Rendi dengan jujur.


Rendi sudah siap apapun yang akan dikatakan oleh Sari. Siap dengan jawaban dan konsekuensinya. Toh, Tono sudah ada di pihaknya. Tak perlu lagi ada yang dikhawatirkan.


"Dari rumah Tania?" Mata Sari melotot seakan mau lepas.


Rendi mengangguk.


"Mau ngapain kamu kesana? Dengar ya, Rendi. Mama tak akan pernah menyetujui hubungan kalian. Titik!"


Dan tanpa mau didebat lagi, Sari masuk ke kamarnya sendiri. Lalu mengunci pintunya dari dalam.


"Tania...! Kenapa harus dia lagi! Aku benci padamu, Tania!" gumam Sari dengan geram.


Lalu Sari merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sari tak mau Tania yang jadi pendamping Rendi nantinya.


Sari merasa sangat malu kalau sampai orang lain tau. Tania adalah mantan istri Tono. Pasti bakalan jadi berita besar. Seorang anak menikahi bekas istri papanya sendiri.


Sari merasa tak siap mendengar cibiran orang-orang di sekitarnya. Sementara selama ini dia sangat membangga-banggakan Rendi.


Tapi siapa? Sari tak punya kandidat yang bisa dia tawarkan ke Rendi.


Hampir semua anak teman-temannya, payah. Tak ada yang istimewa di mata Sari.


Apalagi Monica. Wanita culas itu, yang hanya bakalan bikin malu Sari.


Belum apa-apa saja, dia sudah berbohong. Bagaimana kalau dia sudah menikah dengan Rendi?


Tono menghela nafasnya dalam-dalam. Dia merasa kasihan dan sangat berdosa pada Rendi.


Bagaimana pun, dia ikut andil besar dalam masalah Rendi. Bahkan boleh dibilang, semua masalah Rendi berawal dari dirinya yang terlalu egois.


Meskipun Tono tak mengetahui sebelumnya, kalau Tania adalah kekasih Rendi.


Tapi seandainya pada hari pernikahannya dengan Tania, Tono mau mengalah, pasti Rendi sudah bahagia hidup bersama Tania.


Toh, untuk mendapatkan wanita lain, bahkan yang lebih dari Tania, bukan hal yang sulit bagi Tono.


"Mila. Ambilkan aku minum," pinta Tono pada Mila.


"Iya, Pak." Mila mengangguk patuh. Lalu melangkah ke dapur.


"Jangan dengarkan omongan mama kamu, Ren. Tetap perjuangkan Tania. Papa akan mendukungmu," ucap Tono dengan pasti.


"Iya, Pa. Apapun yang akan terjadi, Rendi akan terus berjuang untuk Tania," sahut Rendi.


"Sekarang yang harus kamu perjuangkan dulu adalah mama kamu. Bagaimana caranya agar mama kamu bisa menerima keadaan. Papa akan membantumu," ucap Tono.


Tono selalu berusaha menguatkan dan mendukung Rendi. Sebab Tono juga sudah paham siapa Tania. Wanita yang diyakini Tono, bisa membahagiakan Rendi.


"Iya, Pa. Makasih," ucap Rendi.


Rendi sangat berterima kasih atas dukungan Tono. Meskipun sebenarnya sudah terlambat. Dukungan itu datang setelah Sari menolak Tania.


Dan bukan hal yang mudah menaklukan hati Sari yang keras.

__ADS_1


__ADS_2