HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 156 AKSI BRUTAL MONICA


__ADS_3

Tono langsung berlari ke arah Sari yang sudah tergeletak di lantai. Rendi tak bisa berbuat apa-apa dia hanya menatap penuh kebencian pada Monica.


Dan demi mendapatkan simpati dari Tono, Monica pura-pura terkejut dan sedih melihat Sari.


"Tante...!" Monica pun berlari ke arah Sari. Lalu berdua dengan Tono, dia memapah tubuh sintal Sari menuju ke sofa.


Rendi berinisiatif memanggil perawat dengan menekan tombol di atas kepalanya.


Tono berusaha melonggarkan pakaian Sari. Agar Sari tak kehabisan oksigen.


Monica hanya menatapnya saja. Sambil pura-pura terisak lagi.


"Jangan cuma menangis! Bantu pijat kaki istriku!" seru Tono pada Monica.


Monica mengangguk. Lalu dia berjalan memutari Tono dan mulai melepaskan sandal Sari. Lalu memijati kakinya.


Monica setengah menunduk, hingga menampilkan dua gundukan di dadanya menggelantung menggoda.


Monica sama sekali tak risi, kalau yang ada di dekatnya adalah orang tua Rendi.


Tono meliriknya sekilas.


Dalam hati Tono berpikir, begini amat pacarnya Rendi. Sebelas dua belas dengan Linda.


Ingat Linda, Tono jadi ingat pada penyakitnya. Jangan-jangan Linda lah yang menularinya. Karena sebelum berhubungan dengan Linda, Tono merasa kondisinya baik-baik saja.


Tidak! Rendi tak boleh menikahi Monica. Biarlah aku akan membayar Monica untuk menggugurkan kandungannya, kalau memang dia hamil.


Aku tak sudi mempunyai keturunan dari wanita model beginian. Dan aku juga tak akan membiarkan Rendi jatuh di pelukannya. Batin Tono.


Rendi pun yang melihat kelakuan Monica, hanya menatapnya dengan jengah.


Bagaimana tidak, Monica malah seolah menggoda Tono di depan mata Rendi.


Menjijikan sekali! Batin Rendi.


Tak lama, seorang perawat masuk ke ruangan Rendi.


"Ada apa, Mas Rendi?" tanya perawat yang dari kemarin menangani Rendi.


"Mama saya, Suster." Rendi menunjuk ke sofa.


"Oh, ya ampun. Bu Sari kenapa?" tanya perawat yang bernama Dina itu, sambil berjalan menghampiri Sari.


Lalu dengan sigap dia menolong Sari.


"Pak. Biar bu Sarinya dibawa ke IGD, ya? Untuk penanganan lebih lanjut," ucap Dina.


"Ya, silakan. Lakukan yang terbaik untuk istri saya," sahut Tono.


"Baik, Pak. Tunggu sebentar." Dina berlari kecil keluar dari kamar Rendi. Dia akan mencari pertolongan.


Monica menatap wajah Tono. Tono hanya melengos dan mendengus kesal.


Tono mendekati Sari dan menggenggam tangannya dengan erat. Tono benar-benar sangat menyesali perbuatannya selama ini.


Dia selalu mengabaikan istri dan anaknya, hanya demi wanita mennijikan seperti Monica.

__ADS_1


Dan sekarang, anaknya malah terperangkap di sana.


Hhh! Tono mendengus kesal. Rasanya dosa-dosanya malah menjadi karma yang jatuh pada anaknya sendiri.


"Pak. Biar kami bawa dulu bu Sarinya," ucap Dina yang sudah datang bersama dua orang perawat lain yang mendorong brankar.


"Iya, Suster," sahut Tono. Lalu buru-buru menyingkir.


Dengan sigap, tiga orang perawat itu memindahkan tubuh Sari ke atas brankar, lalu perlahan mendorongnya keluar dari kamar Rendi.


"Ren, Papa ikuti mama kamu dulu," ucap Tono.


"Iya, Pa. Papa juga hati-hati," sahut Rendi.


Monica masih berdiri di tempatnya.


"Puas kamu?" tanya Rendi pada Monica dengan suara keras.


"Belum! Sebelum aku bisa menyingkirkan Tania dan memilikimu!" jawab Monica.


Ya, di luar masalah pengakuan palsunya, Monica tak rela begitu saja disingkirkan oleh Tania.


Bagaimanapun, dia sudah menjalin hubungan dengan Rendi beberapa bulan ini.


Hubungan mereka Monica anggap baik-baik saja. Rendi selalu menurut apapun maunya. Rendi juga selalu bersikap baik dan manja padanya.


Bukan sekali dua kali mereka bercumbu. Hampir setiap saat mereka bertemu, Rendi selalu mau membalas cumbuan Monica.


Bahkan tangan Rendi sudah menjelajahi seluruh bagian tubuhnya. Sampai ke bagian-bagian vitalnya.


Tak jarang juga Rendi bersikap seperti bayi yang kehausan di dekapan dada Monica yang padat berisi.


Meski Rendi selalu menolak menyetubuhinya, tapi cumbuan panas mereka cukup membuat keduanya melayang tinggi.


Itu makanya Monica selalu mengenakan pakaian seksi yang mudah dibuka, agar memudahkan Rendi menjelajahinya.


Dan selama itu, Rendi menikmatinya. Tak pernah komplain. Rendi seakan menikmati semuanya.


Meski tanpa Monica ketahui, Rendi selalu membayangkan wajah Tania saat bercumbu.


Jadi yang ada dikepala Rendi, yang dicumbuinya adalah Tania. Bukan Monica.


Monica tak mau dilepaskan begitu saja. Sebagai wanita, dia juga berharap Rendi menjadi miliknya seutuhnya.


"Jangan harap!" sahut Rendi dengan ketus.


Rendi semakin membenci dan merasa marah pada Monica.


"Terserah apa katamu! Tapi aku yakin, akan bisa membuat kedua orang tuamu menerimaku!" ucap Monica dengan percaya diri.


"Oh, ya? Apa kamu yakin menerima kondisiku ini?" tanya Rendi.


"Kedua orang tuamu kaya raya, Rendi! Mereka tak akan membiarkan kamu cacat seumur hidup! Jadi, apa lagi yang mesti aku khawatirkan?" jawab Monica.


Monica sadar kalau keinginannya tadi siang untuk membawa Rendi ke luar negeri, hanya angan saja. Itu makanya dia kembali ke rumah sakit. Dia akan meralat perkataannya tadi.


"Hhh!" Rendi mendengus kesal.

__ADS_1


"Jangan lupakan apa yang telah kita lakukan, Ren. Aku tau, kamu sangat menikmatinya. Dan kita...bisa melakukannya lagi. Di sini....!"


Monica menutup pintu kamar Rendi dan menguncinya dari dalam.


"Heh! Apa yang kamu lakukan?" seru Rendi.


Monica menatap wajah Rendi sambil tersenyum licik. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu mengaktifkan mode videonya.


Monica meletakan ponselnya di meja, dan dia arahkan tepat ke tempat tidur Rendi.


"Kita akan membuat video panas! Di sini!"


Monica membuka semua kancing blouse ketatnya. Dan nampaklah dua gunung besar yang sangat menggoda.


"Jangan gila, kamu!" seru Rendi.


"Kamu yang membuat aku gila, Rendi...!"


Monica mulai beraksi. Dia mendekati Rendi dan berusaha mencumbui Rendi.


"Jangan, Monica! Jangan...!" teriak Rendi.


Rendi berteriak-teriak seolah dia akan diperkosa oleh Monica.


Monica tak peduli. Dia terus berusaha mencumbui Rendi.


Rendi terus menghindar sebisanya. Rendi terus bergerak meski harus menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Gila kamu, Monica. Minggir!" Sekuat tenaga Rendi berusaha menyingkirkan tubuh Monica yang hampir berada di atas tubuhnya.


Monica tertawa-tawa puas, sambil melirik ke arah kamera ponselnya. Memastikan adegan mereka terekam dengan baik.


Bahkan Monica mengarahkan dadanya ke wajah Rendi seperti biasanya.


"Eehhmmpptt!" Rendi menutup mulutnya rapat-rapat.


Rendi pun melirik ke arah ponsel Monica. Dia melihat adegan mereka terekam.


Wanita sialan! Pasti dia punya niat jahat! Batin Rendi.


Akhirnya Rendi nekat mengangkat tangannya yang masih diperban, dan menghempaskan ponsel Monica.


Pyar!


Ponsel Monica terlempar jauh dan jatuh berserakan di lantai.


"Rendi...!" teriak Monica.


Dia menatap ponselnya yang pecah berantakan.


"Kamu...!" Mata Monica nyalang menatap wajah Rendi.


Sejenak Rendipun terkesiap. Dan dia harus siap kalau sampai Monica menyerangnya.


Tangan Rendi meraih tombol pemanggil bantuan. Monica berusaha menjauhkannya.


Tapi Rendi yang sudah mengerahkan tenaganya, jauh lebih kuat. Dia berhasil menekannya berkali-kali.

__ADS_1


Hingga tak lama, suara ketukan di pintu terdengar.


"Tolong...! Tolong....!" teriak Rendi.


__ADS_2