
Rendi terdiam.
Bicara tentang Monica? Mau bicara apa lagi? Tanya Rendi dalam hati.
"Ada apa, Ren?" tanya Tania.
"Enggak apa-apa," jawab Rendi terpaksa berbohong.
Rendi tak mungkin berterus terang tentang isi pesan mamanya. Karena menyangkut Monica. Rendi khawatir Tania akan salah mengerti dan malah menganggapnya masih punya hubungan dengan Monica.
"Kamu disuruh pulang sekarang?" tanya Tania masih penasaran.
"Enggak, sayang. Mama masih di toko. Nanti sore aja pulangnya. Biar papa juga cukup istirahatnya," jawab Rendi.
Rendi kasihan pada Tono. Kalau pulang ke rumahnya, Sari pasti tak akan mau mengurusnya. Bahkan bisa jadi Sari malah akan semakin membebani pikiran Tono.
"Nanti Bibi telponin paman. Biar cepet pulangnya," ucap Eni.
Biasanya Danu kalau sudah ngumpul sama teman-temannya, suka lupa waktu.
"Enggak usah, Tante. Papa juga masih tidur, kan?" Rendi merasa tak enak kalau malah merepotkan.
"Paman itu kalau enggak diingetin suka lupa waktu. Malam bisa pulangnya," ucap Tania.
"Ooh, gitu. Ya udah, bilang aja nanti sore om suruh nganterin kita pulang, Tante." Rendi mengalah saja. Saat ini dia memang sedang tak bisa berbuat apa-apa.
Jangankan untuk nyetir, jalan kaki aja belum bisa tanpa bantuan alat.
Di tokonya, Sari merasa tak enak hati. Rendi susah dihubungi. Ditelpon tidak diangkat, dikirimi pesan juga hanya dibaca saja.
"Put. Kamu handle semua dulu, ya. Aku mau pulang. Kayaknya ada yang tidak beres, nih," ucap Sari pada Putri.
"Apanya yang tidak beres, Bu?" Putri khawatir kalau yang dimaksud adalah pekerjaannya.
"Urusan di rumah. Rendi. Ini, buat bayar makannya. Sisanya kamu bawa aja dulu." Sari memberikan lembaran seratus ribuan pada Putri.
"Iya, Bu," sahut Putri.
Sari pun bergegas turun ke tokonya, mengambil tas dan kunci motor. Dia berpamitan dulu pada beberapa karyawannya.
Sari melihat rumahnya lengang. Meskipun biasanya juga begitu, tapi
Sari melangkah masuk. Tak ada suara Mila yang biasanya terdengar. Mila yang bawel dan suka sekali bercanda dengan siapapun.
Bahkan kadang dengan Rendi pun dia bisa enjoy. Apalagi dengan Yadi dan Sri yang suka keluar gilanya.
Suasana yang beberapa saat terakhir ini membuat Sari cukup terhibur. Karena Rendi bisa tertawa lepas meski lukanya masih belum kering dan masih butuh waktu panjang untuk kembali normal.
"Mila...! Sri...! Yadi....!" Sari berteriak memanggil semua pekerjanya.
"Iya, Bu...!" Sri bergegas menghampiri.
Waduh! Jam segini kenapa bu Sari udah pulang?
Gawat! Bisa ngamuk lagi ini. Mana enggak ada orang, lagi. Sri sudah kebingungan sendiri.
__ADS_1
"Rendi mana?" tanya Sari.
Nah! Benar, kan? Sri mulai berpikir untuk menyusun kalimat supaya dia tidak disalahkan.
"Tadi...tadi mas Rendi..." Sri kesulitan menemukan alasan yang tepat.
"Kenapa, Rendi? Kemana dia? Menemui Tania lagi?" tanya Sari bertubi-tubi.
Jelas saja membuat wajah Sri pucat. Karena bisa dipastikan dia juga bakalan kena marah.
Aduh...gimana ini? Aku gak mau ikut dimarahi. Bukan salahku mereka pergi.
"Saya....saya enggak tau, Bu. Tadi...mas Rendi yang mengajak bapak...keluar," jawab Sri.
Sri sengaja mengatakan itu. Biar bukan Tono lagi yang kena marah Sari.
Sri kasihan kalau melihat Sari memarahi Tono. Meskipun Sri sudah sering melihatnya dari dulu. Tapi sekarang kondisinya berbeda.
Tono tak sekuat dulu. Yang bisa pergi begitu saja kalau Sari marah-marah. Atau melawan dengan segala kekuatannya.
Tono kini hanyalah seorang lelaki tua yang lemah. Yang kadang mengeluhkan penyakitnya pada Sri, Mila juga Yadi.
"Rendi mengajak bapak keluar?" tanya Sari.
Sri mengangguk sambil menundukan wajahnya.
"Bukannya bapak tadi ke rumah sakit?" Sari terus saja memberikan pertanyaan pada Sri.
"Mas Rendi menelpon bapak, Bu. Dia minta bapak segera pulang." Sri masih berusaha melindungi Tono dari amukan Sari nantinya.
"Hhh! Anak itu, kalau didiamkan malah ngelunjak!" Sari mulai tersulut emosi pada Rendi.
"Bukan....bukan salah mas Rendi juga, Bu," ucap Sri. Dia kembali berpikir untuk menyusun kalimat.
Sari menatap wajah Sri.
"Terus salah siapa? Kamu yang menyuruh Rendi pergi?"
Ck!
Sri berdecak kesal.
Masa iya, dia yang menyuruh Rendi pergi. Apa kuasanya?
"Tadi pagi, Monica datang ke sini, Bu," ucap Sri.
"Monica kesini? Mau ngapain?" tanya Sari.
Ooh, jadi anak sialan itu udah menemui Rendi duluan? Kurang ajar sekali itu anak! Gumam Sari dalam hati.
"Saya kurang tau, Bu. Tadi pas saya ke teras, Monica lagi ribut dengan Mila," jawab Sri.
"Hah...! Mila? Ada apa dengan Mila?" Sari makin tak mengerti.
Hhh! Saatnya aku jatuhkan si wanita sialan Monica itu. Batin Sri.
__ADS_1
"Monica seperti biasanya, Bu. Mau deketin mas Rendi lagi. Mas Rendi sudah menolak, tapi Monicanya nyosor terus."
Sri sengaja menghentikan ceritanya. Dia ingin tahu reaksi Sari. Kalau memang reaksi Sari kurang emosi, Sri siap menambahi bumbunya lagi.
Sari membelalakan matanya.
Berani kurang ajar itu anak, di belakangku! Sari terlihat sangat geram.
Sri merasa pelurunya sudah tepat sasaran. Tinggal sekali lagi disulut. Dan...Monica bakal tak berani datang lagi ke rumah ini.
"Terus?"
"Mila berusaha melindungi mas Rendi. Tapi Mila kurang galak. Akhirnya...saya yang maju. Saya berhasil mengusir...Monica. Maaf, Bu."
Sri pura-pura menyesal.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Sari tak mengerti.
"Karena saya...sudah mengusir Monica yang...ngakunya calon menantu Bu Sari." Sri kembali menundukan wajahnya.
"Hhh! Enak aja! Aku enggak sudi punya calon menantu kayak dia!" sahut Sari dengan ketus.
Sari melangkah ke sofa. Lalu duduk sambil menghela nafasnya.
"Tadi dia malah datang ke toko," ucap Sari.
"Monica, Bu?" tanya Sri. Dia duduk di karpet dengan rasa kepo yang tinggi.
"Iya. Dia bilang kalau lagi hamil," jawab Sari.
"Hah...! Hamil...?" Mata Sri melotot sampai hampir keluar.
"Iya! Dan gilanya lagi, dia mengaku hamil anaknya Rendi!" sahut Sari.
Sri semakin melotot saja.
Dasar wanita gila! Awas aja kalau berani kesini lagi! Ancam Sri dalam hati.
"Sri. Aku mau tanya sama kamu. Jawab yang jujur, ya." Sari menatap tajam wajah Sri.
Sri mengangguk. Meski belum tahu apa yang akan ditanyakan oleh Sari.
"Apa Monica pernah masuk ke kamar Rendi?" tanya Sari.
Demi melindungi Rendi dan Sari yang bakal semakin menyalahkan Monica, Sri menggeleng.
"Kamu enggak bohong, kan?" tanya Sari lagi.
"Pernah sih, Bu. Waktu itu Monica mau nyelonong saja masuk ke kamar mas Rendi. Tapi sebelum sampai di sana, saya yang kebetulan lagi ada di lantai atas, mengusirnya!" jawab Sri berapi-api.
"Rendi ada di kamarnya?" Sari semakin kepo.
"Enggak ada, Bu. Mas Rendinya lagi pergi," sahut Sri.
Sari manggut-manggut.
__ADS_1
"Bagus! Mulai sekarang, jangan biarkan si Monica itu masuk ke rumah ini!" ucap Sari.
"Iya, Bu. Siap!" Sri merasa bangga karena bisa menghasut Sari agar semakin membenci Monica, dan mengalihkan perhatian Sari pada Rendi.