
Mila membawa keluar makanan untuk Tono. Kalau saja tak memikirkan Tono yang lagi lapar, Mila pasti akan memaksa Eni cerita tentang masa lalu Tono.
"Ayo, Pak. Dimakan dulu," ucap Mila.
Tono berusaha meraih piring yang diberikan Mila. Tapi tangan Tono bergetar. Rupanya Tono sudah mulai mengalami tremor.
Rendi dan Tania yang melihatnya, saling bertatapan. Mereka sangat kasihan melihatnya.
"Mila! Kamu aja yang nyuapin papa!" seru Rendi.
"Iya, Mas Rendi," sahut Mila. Mila pun tak tega melihat tangan Tono yang bergetar hebat.
Mila perlahan menyuapi Tono. Tak lama, Eni keluar dari dapur sambil membawa segelas teh hangat untuk Tono.
Bagaimanapun, Tono banyak berjasa dalam hidupnya. Tanpa Tono, mungkin Eni masih jadi seorang pembantu rumah tangga.
Dan Danu masih jadi sopir angkot omprengan yang penghasilannya minim.
Tono juga sebentar lagi bakalan jadi besannya. Jadi Eni harus menghormatinya.
"Terima kasih, Eni," ucap Tono dengan suara bergetar.
Eni sampai terkejut mendengarnya. Apalagi saat melihat mulut Tono yang belepotan, meski Mila sudah menyuapinya dengan baik.
Sesekali Mila pun mengelap mulut Tono dengan tissue. Persis seperti menyuapi bayi yang baru belajar makan.
"I...Iya," sahut Eni.
Eni duduk di sebelah Tania.
"Minum tehnya dulu ya, Pak," ucap Mila.
Tono mengangguk. Dan Mila pun membantu Tono minum.
"Mila. Kamu mau kan, kalau terus kerja di keluarga kami?" tanya Tono.
"Maksudnya, Pak?" Mila balik bertanya.
"Jangan cuma sebulan aja. Tapi selamanya. Selama kamu mau," jawab Tono.
"Tapi sebentar lagi, mas Rendi kan sudah sembuh, Pak," sahut Mila.
Mila memang dikontrak keluarga Rendi, hanya satu bulan. Itu atas permintaan Rendi.
Setelah sebulan, Rendi mau belajar berjalan sendiri. Dia tak mau ketergantungan dengan orang lain.
"Kamu merawat aku, Mila," ucap Tono.
Tono terlanjur merasa nyaman dengan Mila. Dan hanya Mila yang telaten dan sabar melayaninya.
"Tapi, Pak. Saya kan kerja di rumah sakit." Mila mencoba memberikan pertimbangan pada Tono.
"Berapa gaji kamu disana?" Tono rela menggaji Mila sebanyak gaji yang diterimanya dari rumah sakit.
Mila menoleh ke arah Rendi. Dia ingin minta pendapat Rendi. Karena awalnya Mila dipekerjakan untuk merawat Rendi.
Rendi menatap ke arah Tania dulu. Dia juga ingin mengetahui pendapat Tania.
Tania mengangguk. Lalu Rendi pun mengangguk ke arah Mila.
__ADS_1
Rendi pun merasa puas dengan cara kerja Mila. Mila sangat telaten dan sabar.
Meskipun kadang sikap Mila urakan. Tapi dia sangat profesional dalam pekerjaannya.
"Udah, Mil. Enakan juga kerja di rumahan. Enggak saklek kayak kerja di rumah sakit. Kalau majikan jalan-jalan, kamu juga bisa ikutan. Nah, kalau di rumah sakit? Atasan kamu jalan-jalan? Kamu tetep aja nungguin pasien." Eni ikut-ikutan mendukung Tono.
Mila menghela nafasnya. Bagaimana pun bekerja di rumah sakit, sudah jadi cita-citanya dari dulu. Dia ingin jadi seorang perawat. Bukan cleaning service yang kerjaannya cuma nyapu dan bersih-bersih.
"Iya, Mil. Kita kan bisa terus berteman," ucap Tania.
"Ih, berteman ama Mila? Ogah!" ledek Rendi.
"Iih, Mas Rendi sukanya gitu!" Mila pura-pura ngambeg.
"Ada yang ngambeg. Aku panggilin pak Yadi, mau?" Rendi kembali meledek Mila.
Mila langsung manyun.
"Gimana, Mila?" tanya Tono.
"Saya pikir-pikir dulu ya, Pak," jawab Mila.
"Jangan kelamaan mikirnya, Mil. Keburu tua kamunya," ledek Rendi lagi.
"Biarin tua, yang penting masih laku!" sahut Mila dengan kesal.
"Belum tua aja udah pikun. Itu makannya papa gimana?" tanya Rendi.
Mila melihat ke piring yang tadi diletakannya di atas meja.
"Oh, iya. Lupa. Hehehe." Mila terkekeh sendiri. Lalu kembali menyuapi Tono.
Mila bisa beradaptasi dengan siapapun. Bahkan dengan Sari yang sering keluar judesnya pun, Mila bisa cepat akrab.
"Udah, Mil. Aku kenyang," ucap Tono.
Usia Tono yang semakin lanjut dan penyakit yang dideritanya, membuat nafsu makan menurun.
Mila meletakan piring kembali ke atas meja. Lalu memberikan minum lagi pada Tono.
"Ren. Mama kamu udah telpon?" tanya Tono.
Baik Rendi, Tania juga Mila, langsung terdiam.
"Kenapa?" tanya Tono.
Rendi menghela nafasnya.
"Nanti sebelum jam empat sore kan, Pa," jawab Rendi. Rendi masih ingin berada di dekat Tania.
Sebenarnya Tono juga maunya begitu. Tapi dia juga harus menjaga emosi Sari biar tak meluap lagi.
"Kalau begitu, jam tiga kita siap-siap," ucap Tono.
Rendi meraih tangan Tania. Yang punya tangan sudah GR. Ternyata Rendi mau melihat jam di pergelangan tangan Tania.
Padahal dari ponselnya saja, dia bisa melihat jam. Tapi dasarnya Rendi suka iseng, ada saja yang dilakukannya.
"Satu jam lagi dong, Pa." Rendi langsung cemberut.
__ADS_1
"Biar mama kamu enggak marah, Rendi," ucap Tono.
"Iya, Pa. Enggak ada perpanjangan waktu ya." Rendi berusaha menawar.
"Kayak main bola aja," ucap Tania. Dia sering mendengar kalimat itu kalau Danu lagi nonton bola.
"Kamu kok lucu, Sayang?" Rendi menoleh ke arah Tania.
Wajah Tania langsung bersemu merah. Dia masih malu dipanggil sayang oleh Rendi di depan orang lain.
"Aku telponin mas Danu. Biar dia nganterin kalian pulang." Eni berdiri mau mengambil ponselnya.
"Pakai ponsel Tania aja, Bi." Tania memberikan ponselnya pada Eni.
Tono melihat sekilas ponsel Tania. Lalu dia tersenyum. Tono senang barang yang dibelikannya, dipakai oleh Tania.
"Mana nomor paman kamu, Tania?" Eni kebingungan mencarinya.
Tania mengambil ponselnya kembali. Lalu mencari dan mendial nomor Danu.
Di ponsel Tania, tak banyak menyimpan nomor orang lain. Karena Tania juga tak banyak punya teman.
Teman sekolah yang dia simpan nomornya hanya Rendi, Dito dan Mike.
Bahkan nomor Tono pun, Tania tak menyimpannya. Karena Tania tak pernah berhubungan langsung dengan Tono.
"Ini, Bi." Tania kembali memberikan ponselnya yang sudah terhubung dengan nomor Danu, pada Eni.
"Hallo, Pak. Kamu dimana? Nanti jam tiga nganterin Rendi pulang. Buruan sekarang pulang. Jangan nongkrong aja di warung kopinya janda gatel itu!" cerocos Eni.
"Iya, Bu. Sabar ngapa. Ini juga lagi jalan," sahut Danu. Dia lagi jalan menuju rumahnya.
"Jalan kemana?" tanya Eni, masih dengan suara tinggi.
"Ke hatimu, Bu," jawab Danu.
"Ish! Gombal!" Eni langsung menutup panggilannya. Wajahnya bersemu merah mendengar gombalan suaminya sendiri.
"Nih!" Eni memberikan ponsel Tania kembali.
"Hhhmm. Gombal tapi kalau paman ngobrol ama wanita lain, ngambeg," ledek Tania.
Eni melotot ke arah Tania. Dia malu pada Tono juga Mila.
"Sampe sandal kesayangan jadi korban." Tania kembali meledek Eni.
"Tania...!" desis Eni.
"Iya, Bibiku yang cantik jelita," sahut Tania.
"Hallo, istriku yang cantik jelita," sapa Danu tiba-tiba. Danu barusan lari biar bisa cepat sampai ke rumahnya.
Wajah Eni kembali merah merona.
"Hhmm. Bibi itu kayak abege. Baru digituin ama paman aja, wajahnya kayak kepiting rebus!"
Grrr....!
Semua pun tertawa.
__ADS_1