HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 129 KEMARAHAN TONO


__ADS_3

Sari langsung menoleh pada Tono. Sudah dua kali Tono menyebut kalau Tania adalah istri Rendi.


Tono tak mempedulikan tatapan tajam Sari. Baginya kini yang penting Rendi sembuh kembali.


"Apa yang mendonorkan darahnya pada pasien tadi?" tanya perawat itu.


"Iya, benar. Tania yang mendonorkan darahnya untuk anak saya!" sahut Tono dengan tegas.


Maksudnya biar Sari mendengar dan merasa berempati pada Tania. Karena sepertinya Sari sangat tak menyukai Tania, meski Tania sudah menolong Rendi.


"Kalau begitu, panggilkan saja, Pak. Biar pasien tenang. Dan itu bisa mempercepat proses penyembuhannya," ucap perawat.


"Memang apa hubungannya, Suster?" tanya Sari kurang suka.


"Nanti pasien meracau terus, Bu. Dia akan terus bergerak mencari istrinya itu. Padahal kan pasien masih membutuhkan istirahat yang cukup," jawab perawat.


Dalam hati perawat itu heran, mau ketemu istrinya kok sepertinya tidak boleh.


"Saya panggilkan sekarang, Suster!" Tanpa menunggu persetujuan Sari, Tono berjalan keluar kamar inap Rendi.


"Kami tinggal dulu ya, Bu. Usahakan membuat pasien tenang. Hubungi kami kalau ada apa-apa," pamit mereka. Lalu segera keluar dari kamar inap Rendi.


Sari hanya diam terpaku.


Sari tak tahu apa yang harus dilakukannya. Satu sisi hatinya, menolak kehadiran Tania, meski Tania telah mendonorkan darahnya pada Rendi.


Sisi lain hatinya, dia ingin Rendi bisa tenang dan segera sembuh.


Rendi terus saja memanggil nama Tania. Kini sudah tak disertai erangan kesakitan.


"Iya, Ren. Papamu lagi menjemput Tania. Kamu tenang, ya." Sari berusaha menenangkan Rendi.


"Tania, Ma...Rendi mau Tania..."


Sari meneteskan air matanya.


"Iya. Sayang. Sabar, ya," sahut Sari. Sari menggenggam tangan Rendi.


"Rendi haus, Ma," ucap Rendi.


Sari kebingungan. Di ruangan Rendi belum ada apapun.


Dia menekan tombol untuk memanggil perawat.


Tak lama seorang perawat masuk.


"Ada apa, Bu?" tanya perawat.


"Anak saya haus. Tapi saya belum punya minuman," jawab Sari.


"Oh, iya. Saya ambilkan." Perawat itu keluar dan kembali beberapa saat kemudian.


"Bu. Berikan sedikit saja. Buat sekedar membasahi tenggorokan saja. Pasien jangan dikasih makanan dulu sebelum buang angin," ucap perawat itu.


"Kentut maksudnya, Sus?" tanya Sari tak mengerti.


"Iya. Bersendawa juga bisa, Bu. Tolong Ibu kontrol ya," ucap perawat itu lalu dia keluar kembali.


Dengan telaten, Sari membantu Rendi minum.

__ADS_1


"Dengar kata perawat tadi kan, Ren. Usahakan kamu kentut dulu, ya," ucap Sari.


Rendi mengangguk. Dia belum merasa lapar, hanya tenggorokannya saja yang terasa kering.


Perutnya Sari sendiri sebenarnya sangat lapar. Dia baru makan tadi sore. Saat Tono membelikannya.


Sari hanya bisa menahan rasa laparnya. Dia tak mungkin meninggalkan Rendi sendirian.


Sementara Tono mengendarai mobilnya pulang. Dia mau menjemput Tania.


Sampai di depan pintu gerbang rumahnya, Tono membunyikan klakson berkali-kali. Dia merasa tak sabar ingin segera membawa Tania ke rumah sakit.


Yahya, Asih dan Diman saling berpandangan. Mereka sangat ketakutan. Sebab Tania belum juga ditemukan.


"Bagaimana ini?" tanya Yahya.


Diman hanya diam. Keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya.


Asih juga gemetar, membayangkan kemarahan Tono nanti.


Karena tak ada jawaban, Yahya melangkah keluar. Dia sudah pasrah, apapun yang bakal terjadi. Toh, yang kena mereka bertiga.


Yahya membukakan pintu gerbang.


Tono langsung memasukan mobilnya. Yahya menutup kembali pintu gerbang. Dan melangkah masuk dengan lunglay.


Begitu turun, Tono langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Mana Tania?" tanya Tono pada Asih.


Asih menundukan kepalanya.


"Heh! Mana Tania. Panggilkan sekarang!" seru Tono.


Diman pun ikut menundukan wajahnya.


"Neng Tania...kabur, Juragan!" sahut Yahya yang baru saja masuk.


"Apa...!" Mata Tono terbelalak. Nafasnya langsung memburu.


Tono menatap tiga orang anak buahnya itu satu persatu. Tono sangat geram pada mereka.


"Kabur?" tanya Tono pada Asih, sambil mengguncang lengannya.


Asih mengangguk. Lalu matanya berkaca-kaca.


"Sialan! Kenapa bisa kabur...?" tanya Tono dengan suara keras.


Tak ada yang bisa menjawab. Semua menutup mulutnya.


"Apa yang kalian lakukan di rumahku, hah? Tidur? Bermalas-malasan?" tanya Tono.


"Kami menunggu di teras, Juragan," jawab Diman.


"Menunggu di teras, tapi Tania bisa kabur? Apa dia terbang, sampai kalian tak melihatnya?" tanya Tono dengan geram.


"Dia tidak lewat pintu gerbang, Juragan," sahut Yahya.


"Lalu lewat mana? Genteng?" Tono masih belum paham dengan alasan anak buahnya.

__ADS_1


"Neng Tania lewat jalan di belakang rumah, Pak. Lewat kebon," sahut Asih.


"Kebon?" tanya Tono.


Asih mengangguk.


"Yahya! Kenapa kamu bisa teledor? Bukannya aku pernah menyuruhmu menutup jalan itu?" tanya Tono pada Yahya.


"Juragan kan belum memberi uang pada saya. Jadi cuma saya tanami pohon-pohon saja," jawab Yahya tak mau disalahkan begitu saja.


"Kenapa kamu tak minta, bodoh? Kamu pikir aku tak punya urusan, sampai harus aku juga yang mengurusnya?" sahut Tono, tetap menyalahkan Yahya yang dianggapnya menyepelekan.


"Saya takut untuk memintanya, Juragan," ucap Yahya.


"Takut? Tapi kamu tidak takut kalau Tania kabur lewat sana?" Tono semakin emosi.


"Dan kamu, Asih! Kenapa kamu tak menjaganya, hah?" Giliran Asih yang kena.


"Saya tadi lagi di kamar mandi, Pak," jawab Asih.


"Aah! Bangsat kalian semua!" teriak Tono.


Prang!


Tono menghantam vas bunga besar yang ada di ruang tamu.


Yahya, Asih dan Diman langsung mengkerut.


"Pokoknya aku tak mau tau! Kalian harus bisa menemukan Tania malam ini juga! Atau kalian akan aku kurung di gudang sampai mati!" ancam Tono.


Mereka semua saling berpandangan.


"Kenapa pada diam? Cari sekarang, bodoh!" teriak Tono lagi.


"Kami sudah mencarinya kemana-mana, Juragan. Tapi tidak ketemu," sahut Diman.


Diman dan Yahya tadi sudah mencarinya. Mereka menyusuri jalanan sekitar rumah Tono. Tapi Tania tak ditemukan juga.


Mereka juga sudah bertanya kesana-kesini, tapi tak ada yang melihat Tania.


Jelas saja, di sekitar rumah Tono, tak ada yang mengenal Tania. Karena sejak tinggal di rumah Tono, Tania tak pernah keluar rumah.


"Oke! Diman! Kamu ikut aku! Kita ke rumah si Danu sekarang! Kamu yang bawa mobilnya. Aku capek!" Tono melemparkan kunci mobilnya ke muka Diman.


Diman langsung menangkapnya. Lalu bergegas keluar rumah.


"Dan kalian, tetap di rumah! Jangan coba-coba kabur! Aku akan mencincang kalian kalau berani melawanku!" ancam Tono pada Yahya dan Asih.


Yahya dan Asih hanya bisa mengangguk. Lalu Yahya berlari keluar membukakan lagi pintu gerbang.


Diman mengendarai mobil Tono ke rumah baru Danu. Rumah yang dibelikan oleh Tono sesuai permintaan Tania.


Bukan rumah mewah, tapi cukup kalau hanya untuk tinggal Danu dan Eni saja.


Waktu sudah menunjukan jam sembilan malam. Rumah kecil Danu sudah tertutup rapat. Dan Tono yakin kalau Tania ada di dalam.


Tono langsung turun dari mobil. Dan mengetuk pintu rumah dengan keras.


"Danu! Keluar kamu!"

__ADS_1


__ADS_2