HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 73 SAHABAT KOPLAK


__ADS_3

Sejak termakan hasutan Tono, Rendi tak pernah lagi mencari Tania. Apalagi Rendi tak tahu kemana mereka pindah.


Tono yang licik, setelah pulang dari rumah Sari, dia memasang plang di gerbang rumahnya yang bertuliskan : Rumah Ini Dijual.


Padahal Tono tak pernah berniat menjualnya. Dia pun memasang nomor telponnya yang sudah tak bisa lagi dihubungi.


Setelah itu Tono masuk ke dalam rumahnya. Hingga terjadilah peristiwa kejeburnya dia ke dalam kolam renang.


Bisa jadi itu balasan dari yang Maha Kuasa karena Tono menyakiti hati istri dan anaknya.


Tapi Tono yang tak pernah merasa bersalah, tak mau menyadarinya. Dan nyatanya, meskipun Tania telah menolongnya, setelah dia sehat, kembali dia bersikap kasar pada Tania.


Hari pertama dia keluar lagi, dia melepas plang di pintu gerbangnya.


Sehari setelah Tono mengatakan kalau rumahnya mau dijual, Rendi sengaja lewat depan rumah Tono. Dan Rendi percaya kalau omongan Tono benar.


Sebenarnya Rendi sempat bilang pada Sari untuk membeli rumah itu. Karena Rendi yakin Sari punya banyak uang.


Tapi Sari menolaknya mentah-mentah. Dia tak mau sakit hati lagi karena Sari yakin kalau itu adalah tempat Tono selama ini menyimpan wanita-wanitanya.


Rendi tak bisa berbuat apa-apa karena kenyataannya dia tak punya uang sendiri.


Akhirnya Rendi hanya bisa pasrah. Dan perlahan dia mulai melupakan Tania.


Suatu malam Rendi nongkrong di sebuah cafe bersama Dito, sahabatnya. Dia ingin menghilangkan penatnya setelah seharian membantu Sari di pasar.


Rendi datang terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikannya.


"Kampret, lu. Katanya jam delapan. Ini udah setengah sembilan!" Dito marah-marah karena dia menunggu sendirian.


"Halah, cuma setengah jam aja ngomel-ngomel. Ban motor gue tadi gembos. Maklum jarang dipake tuh motor. Jadi gue mesti pelan-pelan nyari tukang tambal ban," jawab Rendi.


"Kayak orang susah aja, lu! Kan ada mobil! Ngapain lu mikirin ban motor?"


"Bosen gue pake mobil terus. Entar dikira gue sombong," sahut Rendi.


"Emang elu sombong! Kagak sadar?"


"Biarin deh sombong. Yang penting tetep ganteng. Hahaha." Rendi tertawa ngakak. Seperti orang yang tidak punya masalah.


"Kayaknya ada yang udah move on, nih?" ledek Dito.


"Udahlah. Gue udah gak mikirin Tania lagi," jawab Rendi.


"Nah gitu dong. Kalau mau jadi playboy harus tahan banting," komentar Dito. Dia menepuk-nepuk bahu Rendi.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong, kok bisa elu move on?" tanya Dito. Karena selama ini yang Dito tahu, Rendi selalu memikirkan Tania terus.


"Tania lagi hamil, Dit. Anak bokap gue," jawab Rendi dengan kesal.


"Weeh...mau punya adik dong elu. Adik yang lahir dari perut sang kekasih. Hahaha." Dito ngakak menertawakan jalan kehidupan Rendi yang menurutnya sangat lucu.


"Dodol lu, ah. Malah ngetawain gue." Rendi menoyor kepala Dito.


"Habisnya lucu. Asli lucu. Eh, elu yakin itu anak bokap lu? Bukan anak lu? Kan elu bilang, elu yang merawanin si Tania," tanya Dito dengan keponya.


Rendi mengangkat bahunya. Meski dalam hatinya ada juga pikiran itu.


"Bisa jadi lho, Ren," ucap Dito.


"Kata bokap gue, sehari setelah gue perawanin, Tania menstruasi. Berarti fix kan, itu bukan anak gue?"


Dito manggut-manggut.


"Apa jangan-jangan punya elu enggak berfungsi maksimal? Jadi Tania langsung mens?" ledek Dito lagi.


"Sialan, lu! Elu pikir gue mandul?" Rendi tak terima ledekan Dito.


"Ya kali. Coba aja dicas ke tempat lain. Siapa tau gue bener. Hahaha." Dito terus saja meledek Rendi.


"Sembarangan lu! Emang punya gue cilok? Bisa celup sana celup sini?"


"Ogah! Biarin deh kalau gue mandul. Yang penting tetep ganteng." Rendi mengedip-ngedipkan matanya dengan menyebalkan.


"Ganteng kalau mandul juga percuma, Bro. Kayak gue dong. Udah ganteng, kagak mandul pula," ucap Dito keceplosan.


"Maksud lu? Mike hamil?" tanya Rendi.


Dito menepuk jidatnya.


"Ayo ngaku, lu!" paksa Rendi.


"Hmm. Ketahuan deh. Jadi gini, Bro. Bulan lalu, Mike terlambat mens. So, kita belum siap punya anak. Lalu Mike dan gue nyari obat buat ngelunturin," sahut Dito tanpa penyesalan sedikitpun.


"Gila lu! Ternyata udah sejauh itu hubungan lu ama Mike!"


"Ya abisnya gimana? Rumah Mike sering kosong. Lu kan tau sendiri, orang tuanya Mike sering ke luar kota," sahut Dito.


"Ah, dasar gila lu pada. Eh, Dit. Gue ingetin ke elu ya. Sampai kapanpun jangan pernah elu tinggalin tuh Mike. Kasihan kan kalau dia udah enggak perawan lagi. Siapa yang mau coba?"


"Ya itu tergantung Mikenya. Kalau dia yang bosen ama gue? Masa gue mesti paksa dia?" sahut Dito dengan entengnya.

__ADS_1


Tapi faktanya, hubungan mereka masih baik-baik saja. Dito dan Mike sama-sama menjaga kesetiaan.


"Ah, itu mah yang elu harapkan. Terus elu bisa merawanin cewek lain," ucap Rendi.


"Ternyata enak ya Bro, merawanin cewek? Hahaha."


Rendi menghela nafasnya. Dia teringat kembali saat dia merawanin Tania di hotel. Rasa yang belum pernah Rendi alami sebelumnya. Apalagi mereka saling mencintai.


"Eh, malah melamun? Lagi ngebayangin ya?" ledek Dito lagi.


Rendi hanya mendengus. Mestinya dia dan Tania sudah bahagia. Dan mungkin mereka sudah menikah, lalu Tania hamil anak darinya.


"Udah lah, Ren. Di dunia ini masih banyak stock kok. Jangan kuatir kehabisan. Apalagi sekarang elu udah banyak duit. Juragan batik." Dito bangga pada Rendi yang mau bekerja meski hatinya sedang hancur saat itu.


Rendi menghela nafasnya.


"Elu mau pesen apa lagi? Gue bayarin. Sayang nih, duit gue utuh. Dompet gue sampe kagak cukup!"


Rendi mengalihkan pembicaraan.


"Mulai deh, sombongnya. Hari gini masih nyimpen duit di dompet. Kayak emak-emak aja, lu!"


"Lha kan yang belanja di toko gue emak-emak semua. Mana ada yang bayar pake transfer-transferan?" sahut Rendi.


"Ada enggak Bro, yang bayar pake uang logaman?" tanya Dito kepingin tahu.


"Adalah. Banyak malah. Tapi kagak gue kantongin. Gue bagi-bagi, biar berkah rejeki gue!"


Jawaban yang membuat Dito kesal. Tapi dia seneng karena sahabatnya udah bisa tertawa lagi. Dito merasa menemukan Rendi yang dulu. Saat mereka masih gokil-gokilan di SMA.


"Iya deh. Gue doain biar rejeki lu berkah. Kalau kepingin lebih berkah lagi, bagi ke gue." Dito menengadahkan tangannya.


Rendi merogoh kantongnya. Dia ingat masih menyimpan beberapa uang logam sisa beli rokok.


"Nih. Doain rejeki gue makin berkah!"


"Anjrit....! Gue disamain pengamen di perempatan!" Dito melemparkan uang logaman itu ke meja.


"Eh, jangan sia-siain uang kecil lho. Gini-gini kalau dikumpulin, bisa buat beli Alphard." Rendi memasukan uang itu ke kantongnya lagi.


"Alphard dari hongkong. Sampe kakek-kakek juga enggak bakalan kesampaian," sahut Dito.


Dan keduanya ngakak bareng. Dasar cowok-cowok koplak.


Tawa Rendi dan Dito terhenti ketika seorang wanita cantik tau-tau berdiri di depan meja mereka.

__ADS_1


Rendi dan Dito menatapnya sambil ternganga.


__ADS_2