
Mila dan Sri langsung menoleh ke arah Rendi.
"Mas Rendi udah selesai mandinya?" tanya Mila.
"Udahlah. Kalau masih mandi masa jalan-jalan," jawab Rendi.
Mila langsung cemberut mendengar jawaban Rendi.
Dengan langkah tertatih menggunakan bantuan tongkat, Rendi berjalan menghampiri Mila dan Sri.
Tadi saat keluar dari kamar, Rendi mendapati kedua orang tuanya lagi berdebat.
Seperti biasanya, mereka memperdebatkan hubungan Rendi dengan Tania.
Rendi yang tak mau terpancing emosi, memilih pergi ke dapur. Di dapur Rendi malah bisa enjoy. Berbincang dengan karyawan-karyawan orang tuanya.
Memang sih, perbincangan mereka hanya sekedar perbincangan receh. Tapi mampu menghibur Rendi yang belum bisa keluar rumah sendiri.
"Gimana, Mil. Mau kan kapan-kapan bawa aku ke panti?" tanya Rendi pada Mila.
"Siap, Mas. Nanti ya, kalau aku udah gajian," jawab Mila.
"Memangnya kenapa mesti nunggu kamu gajian? Aku enggak minta dijajanin kamu, kok," tanya Rendi lagi.
"Iih, bukan gitu. Aku kalau kesana mesti bawa oleh-oleh. Buat tiga bocil di sana. Mereka pasti ngarepin jajanan dari aku. Maklum, mereka kan enggak pernah jajan," jawab Mila.
"Owh. Bawa jajanan? Gampang kalau itu. Nanti beli aja di minimarket. Besok ya, kita kesananya?"
Lho...gimana sih ini? Tadi katanya kapan-kapan. Sekarang malah maunya besok.
Tapi enggak apa-apa deh. Aku juga kangen sama bu Hani dan bocil-bocil itu. Batin Mila.
"Aku sih, oke aja. Tania diajak kan?" tanya Mila.
"Ajaklah. Nanti aku kabarin dia, kalau kamu udah oke," jawab Rendi.
Sri hanya bisa menghela nafas. Dia pasti tak diajak. Padahal kalau diajak, Sri bisa menyesuaikan waktu kerjanya.
Dia bisa selesaikan pekerjaannya sebelum berangkat. Di rumah kan juga ada Yadi yang nunggu. Lagian siapa juga yang mau menggotong rumah segede ini.
Sri berkali-kali menggerutu dalam hati.
Rupanya Rendi memperhatikan perubahan wajah Sri.
"Mbak Sri mau ikut?" tanya Rendi.
Mata Sri langsung berbinar.
"Boleh?" Sri balik bertanya.
"Kalau aku nawarin, berarti boleh lah. Mau?" Sekali lagi Rendi menawari Sri.
"Mau banget. Aku kan juga kangen ama anakku di kampung. Kalau liat bocil, kan bisa buat obat kangenku," jawab Sri bersemangat.
__ADS_1
"Ya udah. Nanti pak Yadi yang nyupirin," ucap Rendi.
"Loh, nanti yang nungguin rumah siapa?" tanya Sri khawatir.
"Dikunci aja. Enggak lama juga, kan?" jawab Rendi.
"Apa...ibu enggak marah, kalau rumah sepi?" tanya Sri takut-takut.
"Kita berangkatnya kalau mama udah berangkat ke pasar," jawab Rendi.
"Tapi kadang ibu suka pulang lebih awal. Kayak tadi. Gimana dong?"
Sri masih saja khawatir.
"Udah deh, Mbak Sri mau ikut apa enggak?" tanya Rendi.
"Kalau mau ikut, enggak usah mikirin itu. Biar itu tanggung jawabku," lanjut Rendi.
"Iya, Mas. Aku ikut." Sri mengembangkan senyuman. Antara senyuman senang karena bisa jalan-jalan. Dan senyuman khawatir bakal kena omel Sari kalau ketahuan.
"Nah, gitu dong, Mbak. Sekali-kali ikut," komentar Mila.
Bukannya selama ini aku emang enggak pernah diajak? Tanya Sri dalam hati. Tak berani dia nanya begitu, karena ada Rendi.
Sri juga belum pernah ke rumahnya Tania. Bahkan wajah Tania pun dia belum pernah melihatnya.
Sri hanya bisa membayangkan wajah wanita muda yang cantik. Sampai-sampai Rendi berjuang mati-matian untuk mendapatkannya.
"Kalau begitu, udah fix ya. Kita berangkat besok pagi. Jauh enggak tempatnya, Mil?" tanya Rendi pada Mila.
Rendi dan Sri bengong mendengarnya.
"Apa? Tiga jam?" tanya Rendi tercengang.
Dengan lugunya Mila mengangguk.
"Ya ampun, Mila. Bilang dong dari tadi. Itu sih jauh banget. Aku kira deket-deket sini aja," ucap Rendi.
Sri pun hanya bisa menelan ludahnya.
Itu sih sama aja aku pulang kampung. Kampungku juga sekitar tiga jam perjalanan naik bus dari sini. Batin Sri.
Ini mah bakalan gagal acaranya. Gagal juga healing kayak teman-teman medsosku. Sri masih saja membatin.
"Gimana? Masih berminat ke sana?" tanya Mila pada Rendi.
Mila tak yakin Rendi akan mau, melakukan perjalanan sejauh itu, cuma untuk mengunjungi panti asuhannya dahulu.
"Kayaknya dipending aja dulu, deh. Kamu tau sendiri kan, kondisiku. Kalau terlalu lama kakiku nekuk di mobil, bisa enggak bisa digerakan lagi," jawab Rendi.
Mila hanya mengangkat bahunya saja.
Bagi Mila perjalanan sejauh itu bukan masalah kalau dia lagi libur kerja.
__ADS_1
Biasanya Mila berangkat sore setelah pulang kerja. Menginap semalam di panti. Baru besok sorenya dia kembali ke rumah sakit.
Tapi Mila menyadari kondisi kaki Rendi yang masih dalam masa penyembuhan. Dia tak mau disalahkan karena resikonya bakal fatal.
Rendi melirik wajah Sri yang terlihat kecewa.
Pasti tadi mbak Sri sudah membayangkan bisa jalan-jalan.
Hhmm. Kalau begitu, aku rubah saja tujuannya. Bukan lagi berkunjung ke panti. Tapi jalan-jalan aja ke tempat rekreasi yang dekat sini. Batin Rendi.
"Mbak Sri. Ada rekomendasi tempat rekreasi yang dekat-dekat sini, enggak?" tanya Rendi.
Rendi hanya ingin membayar kekecewaan Sri dengan mengajaknya healing.
Sri memandang ke arah Mila. Mila menggeleng.
Mila hampir tak pernah jalan-jalan yang hanya akan menghabiskan waktu dan uang. Setiap habis gajian, Mila hanya menyempatkan diri pulang ke panti.
Apalagi Sri. Tak pernah sekalipun keluar rumah kecuali belanja ke pasar.
Ke mal saja dia belum pernah. Hanya melihat kondisi mal dari medsos yang kadang dibukanya saat santai.
"Memangnya kalian enggak pernah piknik?" tanya Rendi dengan heran.
Sri dan Mila kompak menggeleng.
Rendi geleng-geleng kepala melihatnya.
"Ya udah, kalau begitu besok kita jalan-jalan aja. Soal tempatnya, gampanglah itu. Yang penting kalian siap-siap aja," ucap Rendi.
Rendi kasihan melihat pegawai di rumahnya kurang piknik.
"Perlu masak enggak, Mas Rendi?" tanya Sri.
"Kayaknya ide bagus itu, Mbak. Nanti kita bawa tikar, terus makan sambil gelaran deh," sahut Mila.
"Repot amat pake masak segala? Kita bisa makan di resto. Kalau mau duduk lesehan, di sana banyak tempat. Makanannya juga kalian bisa pilih sesukanya. Aku yang bayar," jawab Rendi.
Sri dan Mila bertatapan. Lalu sama-sama mengangguk sambil tersenyum bahagia.
"Gimana? Deal?" tanya Rendi.
"Deal....!" seru Sri dan Mila berbarengan.
"Kalian mau kemana?" tanya Sari yang tiba-tiba sudah ada di depan pintu dapur.
"Mama...!" Mata Rendi langsung terbelalak.
Sri dan Mila pun terdiam. Lalu sama-sama menundukan kepala.
Bakal gagal lagi, deh. Batin Sri yang sudah berangan bisa healing.
Mila pun berpikiran sama. Dia sudah membayangkan bisa selfie dan memamerkan di akun medsosnya.
__ADS_1
Sari menatap mereka satu persatu dengan tatapan curiga. Tapi sayangnya Sri dan Mila sudah menyembunyikan wajahnya dengan menunduk.