
Rendi melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin segera sampai ke rumah paman Tania.
Tak butuh waktu lama untuk bisa sampai di sana. Karena Rendi memacu motornya seperti orang yang kesetanan.
"Assalamualaikum." Rendi mengetuk pintu rumah paman Tania yang tidak ditutup.
"Waalaikumsalam." Danu yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya menjawab salam dari Rendi.
"Ada apa?" tanya Danu agak ketus. Danu kurang suka Rendi datang lagi ke rumahnya.
Karena Danu berfikir kedatangan Rendi pasti akan membawa masalah buatnya. Meski sekarang Tania sudah berada di rumah suaminya.
"Tania di mana, Om?" tanya Rendi dengan sopan.
"Tania di rumah suaminya. Kenapa?" jawab Danu dengan sorot mata tajam.
Sebenarnya Danu bukan type orang yang jutek pada orang lain. Tapi khusus untuk Rendi, dia harus pasang tampang jutek agar Rendi tidak kembali lagi untuk mencari Tania.
"Di mana papa saya menyembunyikannya, Om?" tanya Rendi lagi. Karena dia tidak pernah tahu di mana papanya tinggal selama ini.
Tono memang merahasiakan rumahnya itu dari istri dan anaknya. Karena di sana adalah tempat Tono akan membawa istri-istrinya yang baru.
Walaupun usia pernikahannya dengan para perempuan itu rata-rata tidak lama. Paling lama tiga bulan, lalu sudah ganti lagi dengan perempuan lain.
"Kenapa tanya padaku? Tanyakan sama papa kamu!" Danu semakin ketus.
"Mbak Widya! Ayo cepetan. Udah siang!" teriak Danu yang akan mengantarkan kakaknya pulang.
Rencananya Eni juga akan ikut. Eni akan sekalian ke salon yang merias Tania untuk mengembalikan beberapa perhiasan imitasi yang tidak jadi dipakai Tania.
Widya keluar dari kamar Tania. Eni pun keluar dari kamarnya sendiri.
Mereka sama-sama terkejut melihat Rendi yang sedang berdiri di depan pintu.
"Rendi...!" seru Eni. Matanya hampir loncat seperti melihat hantu.
"Selamat pagi, Tante," sapa Rendi dengan sopan.
Rendi yang belum mengenal Widya, hanya mengangguk saja.
"Pa...pagi. Kamu...A...ada apa ke sini?" tanya Eni terbata-bata.
"Saya mau mencari Tania, Tante."
Eni menelan ludahnya. Matanya melihat ke arah Widya.
Melihat suasana yang kurang enak, Widya menarik tangan Rendi untuk duduk dulu.
"Danu, Eni. Kalian tunggulah dulu di mobil. Aku bicara sebentar sama Rendi," ucap Widya dengan tenang.
Danu dan Eni menurut. Eni langsung menarik tangan Danu agar segera menjauh. Eni yakin kalau nanti Danu bakalan marah-marah sama Rendi.
"Ayo Pak. Kita tunggu di mobil saja. Biar Mbak Widya yang urus."
__ADS_1
Danu yang memang malas menghadapi Rendi memilih menuruti istrinya.
"Kenalkan, saya Widya. Budenya Tania. Kakak kandung Danu, pamannya Tania." Widya mengulurkan tangannya pada Rendi.
"Saya Rendi, Bude. Saya kekasihnya Tania," sahut Rendi dengan sopan, lalu mencium tangan Widya.
Widya sampai ternganga melihat kesopanan anak muda yang duduk di depannya.
Sudah ganteng, anak orang kaya, sopan banget juga. Batin Widya.
Coba dia bisa jadi jodohnya Tania. Pasti mereka akan jadi pasangan yang serasi. Widya masih saja membatin.
"Rendi ke sini mau mencari Tania?"
Rendì mengangguk.
"Rendi kan tau kalau Tania sudah menikah. Jadi sebaiknya Rendi tidak perlu mencari Tania lagi. Tak baik mencari istri orang lain," ucap Widya perlahan. Mencoba memberi pengertian pada Rendi.
"Tapi, Bude. Kami telah melakukan hubungan suami istri. Bahkan, maafkan saya sebelumnya, saya yang telah mengambil keperawanan Tania, Bude. Saya akan bertanggung jawab pada Tania."
Dengan gamblang Rendi mengakui perbuatannya. Dia berharap budenya Tania akan membantunya agar bisa menemui Tania.
"Iya. Bude sudah tau. Tania sudah mengatakannya. Terus terang Bude kecewa dengan apa yang kalian lakukan. Tapi.. ya sudahlah. Mau diapakan lagi. Sudah terlanjur terjadi. Sekarang, Tania sudah kembali pada suaminya. Sebaiknya Rendi tak perlu mencari Tania lagi. Tak perlu merasa bertanggung jawab. Toh kalian hanya melakukannya sekali. Belum tentu akan membuat Tania hamil."
Panjang lebar Widya menjelaskan pada Rendi.
Rendi terkejut mendengar kata hamil. Dia tidak pernah mengira akan resiko itu.
"Iya, Bude. Maaf saya melamun."
"Kamu paham kan apa yang Bude katakan tadi?"
Rendi mengangguk. Tapi sebenarnya dia masih bingung.
"Sekarang kamu pulanglah. Bicarakan baik-baik pada papa kamu. Bagaimana pun papa kamu pasti akan kecewa karena kamu telah mengambil haknya. Minta maaflah padanya."
Rendi semakin bingung. Bagaimana dia akan mengatakannya pada papanya. Seandainya dia bisa bicara pada papanya, bukan untuk meminta maaf. Tapi dia akan meminta Tania kembali.
"Bude mau pulang ke rumah Bude sendiri." Widya bangkit dari duduknya dan berharap Rendi akan pulang.
Rendi pun bangkit.
"Maaf, Bude. Boleh saya tau alamat rumah dan nomor hapenya Bude?" tanya Rendi dengan sopan. Membuat Widya tidak mampu untuk menolaknya.
Rendi merasa budenya Tania lebih bisa diandalkan daripada paman dan bibi Tania. Terutama paman Tania yang sangat jutek padanya.
Lalu Widya menyebutkan alamat rumah dan nomor hapenya. Rendi langsung menyimpan nomor telpon Widya di hapenya.
Tring.
"Itu nomor whatsapp Rendi ya, Bude. Tolong disimpan. Kalau ada perlu, Rendi akan menghubungi Bude."
Widya mengangguk lalu mengunci pintu rumah adiknya.
__ADS_1
Rendi berjalan menuju ke motornya. Dan dengan sopan memberi hormat pada Widya.
Hm. Anak itu sangat sopan. Sayang sekali tidak berjodoh dengan keponakanku, batin Widya sambil berjalan menuju angkot Danu.
"Lama sekali sih, Mbak?" tanya Danu.
Danu dan Eni barusan sempat melihat Rendi keluar dari gang rumahnya dan memacu motornya menjauh.
"Aku kan harus pelan-pelan kasih pengertian sama Rendi, biar dia paham. Tidak seperti kamu yang bisanya marah-marah gak jelas. Yang ada anak itu semakin mengejar Tania," sahut Widya sambil naik ke dalam angkot.
Rendi diam-diam bersembunyi dan berniat mengikuti kemana angkot itu akan pergi.
"Masa bodo! Dia sudah dewasa! Mestinya paham kalau Tania sudah punya suami!" Danu tidak mau disalahkan.
"Kamu itu. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan marah-marah dan emosi. Lihat akibatnya!" Widya malah mengomelinya.
Danu merasa kesal karena kakaknya tidak membelanya.
"Terus tadi Rendi bisa menerima, Mbak?" tanya Eni yang duduk di samping Danu.
"Ya harus. Gila apa, ngejar-ngejar istri orang. Istri bapaknya sendiri!" sahut Danu yang sudah kesal.
Widya tak mempedulikan omongan adiknya. Karena kalau diladeni malah bikin darahnya naik.
"Aku tidak tau. Tapi setidaknya dia mau pergi dengan baik tanpa perlu aku usir," jawab Widya.
"Gimana ya si Tono saat nanti tau, kalau yang sudah mengambil keperawanan Tania itu anaknya sendiri?" Eni bertanya entah ditujukan pada siapa.
"Ya biar mereka selesaikan masalah itu. Tadi aku sudah bilang ke Rendi untuk minta maaf pada papanya," jawab Widya.
"Papa! Saya minta maaf karena sudah memerawani istri papa! Hahahaha!" Danu terbahak-bahak.
"Hush! Kamu itu bukannya prihatin malah ketawa!"
"Soalnya lucu, Mbak. Yang nikah bapaknya, yang memerawani anaknya. Kan lucu!" Danu kembali terbahak.
Eni hanya menahan senyumnya. Takut ikut dimarahi kakak iparnya.
"Sudahlah. Pusing aku memikirkannya." Widya menyandarkan kepalanya di jendela.
Bertepatan angkot Danu melewati polisi tidur dan Danu lupa mengurangi kecepatannya.
Jedugh!
"Danuu...!"
Widya memegangi kepalanya yang membentur kaca jendela.
Eni terkikik sambil menutup mulutnya.
"Maaf, Mbak. Gak sengaja!" sahut Danu sambil terbahak.
"Gak sengaja gundulmu!" Widya menoyor kepala adiknya dari belakang.
__ADS_1