
"Neng, bapak sudah saya ganti pakaiannya. Sekarang bapak lagi tidur," ucap Yahya.
"Iya, Mang. Makasih."
Tania berjalan naik ke kamarnya. Dia mau melihat kondisi Tono.
Sampai di kamar, Tania melihat Tono tertidur pulas. Suara dengkurannya sangat keras. Tania hanya mengedikan bahunya. Lalu turun lagi ke ruang tengah. Dia mau menonton televisi di sana saja biar tak mengganggu Tono.
Dilihatnya Yahya dan Asih lagi nercengkrama di dapur sambil sesekali diselingi candaan.
Bahagia sekali mereka. Tania jadi ingat paman dan bibinya. Mereka juga selalu bahagia meski hidup dalam kekurangan. Tania sangat merindukan mereka.
Mereka lagi ngapain ya? Apa mereka juga merindukanku?
Tania tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada hape untuk sekedar menelpon mereka. Apalagi datang ke rumah mereka, jelas tak mungkin.
Tania menghela nafasnya. Lalu kembali mencari tontonan yang menarik.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Tono sudah mulai membaik. Dan sikapnya terhadap Tania tak juga berubah.
Tono masih menyekap Tania di rumah mewahnya. Tak mengembalikan ponsel Tania. Bahkan masih bersikap kasar pada Tania.
Hari itu, Tania kembali meminta ponsel lamanya.
"Enggak ada hape-hapean. Enak aja!" sahut Tono.
"Aku janji tak akan menghubungi Rendi lagi. Kan katamu Rendi sudah menikah. Aku tak mau mengganggu rumah tangga orang," ucap Tania.
"Aku tak mempercayai kamu! Kamu mau nangispun, aku tak akan memberikannya. Titik!"
Lalu Tono pergi lagi entah kemana. Tania hanya menatapnya dengan kesal.
Tania merasa sangat bosan di rumah ini. Tak ada yang bisa dikerjakannya selain nonton tv.
Sementara Rendi sudah dihasut oleh Tono. Suatu saat Tono pulang ke rumahnya. Tepatnya sebelum Tono jatuh kejebur kolam renang.
Pagi itu setelah sarapan bareng Tania, Tono pulang ke rumah Sari.
Sari dan Rendi sedang bersiap-siap ke pasar.
"Mau apa kamu ke sini lagi?" tanya Sari dengan ketus.
"Aku mau mengambil berkas-berkasku," jawab Tono dengan santai.
Matanya menatap Rendi sekilas. Sementara Rendi menatap Tono penuh kebencian.
"Berkas apa? Bukankah semua berkasmu sudah diambil semua?" tanya Sari.
__ADS_1
"Aku mencari sertipikat rumahku yang aku simpan di lemari. Aku mau menjual rumahku. Aku mau cari rumah lain, seperti kemauan istriku," jawab Tono berbohong.
Degh!
Ada rasa perih di dada Rendi mendengar kata istriku.
"Oh, baguslah. Pindahlah yang jauh sekalian. Dan jangan pernah kembali lagi ke sini," sahut Sari.
Dia sudah tak lagi merasa cemburu ataupun sakit hati. Sikap Rendi yang penurut akhir-akhir ini, mampu mengobati rasa sakit hatinya Sari.
Rendi sendiri sebenarnya sedang menyusun rencana. Dia akan menjebak papanya suatu saat nanti.
Rendi akan bersikap seolah-olah dia sudah bisa melupakan Tania. Biar mamanya tenang. Dan pelan-pelan Rendi akan menggiring mamanya agar mau berbaikan lagi dengan papanya.
Rendi juga akan berpura-pura baik pada Tono. Biar dia bisa mengeruk uang Tono.
Dan di saat itulah Rendi akan menyusup ke rumah Tono lalu membawa Tania kabur.
Tapi sayangnya, baru beberapa langkah, Tono sudah datang ke rumah Sari duluan.
Tono tersenyum licik.
"Iya, pasti. Tania juga minta kalau rumahku nanti diatas namakan dia. Aku menurutinya seperti dulu aku menurutimu, mengatasnamakan rumah ini dengan namamu. Karena Tania sekarang sedang hamil anakku!"
Sari dan Rendi terkesiap mendengarnya. Mereka saling berpandang-pandangan.
"Nah, kamu Rendi. Bersikaplah yang sopan pada istriku. Karena dia sedang mengandung calon adikmu. Paham?" ucap Tono.
Tono meradang. Kurang ajar sekali anaknya ini. Dirinya dipanggil pak tua.
Sari sendiri malah jadi ingin ketawa mendengarnya.
"Apa kamu mau bukti? Kita tes DNA. Kita buktikan siapa ayah dari anak yang sedang dikandung Tania!" tantang Tono.
"Tak perlu tes DNA. Karena aku yang telah melakukannya pertama kali," sahut Rendi penuh amarah.
"Hahaha. Kamu hanya melakukannya sekali. Dan besoknya Tania menstruasi. Sedangkan aku? Setiap malam kami bercinta. Permainan Tania di atas ranjang sangat hebat! Bikin aku ketagihan!" Tono membual untuk memanas-manasi Rendi.
"Dan sebagai wujud dari cinta kami, Tania memberikanku seorang calon anak di perutnya." Tono tertawa tergelak.
"Bohong! Tania membencimu! Tania tak pernah mencintaimu! Tania hanya mencintai aku!" teriak Rendi.
"Itu dulu, Sayang. Tapi uang telah membutakannya. Aku kasih banyak uang hingga dia tak bisa lagi menolakku!" .
Tono berkata seolah-olah Tania gadis matre yang gila uang.
"Karena dia sudah memberikan aku anak, aku pun akan memberikannya sebuah rumah megah. Jadi dua anakku mendapatkan hak yang sama." Tono terus saja membual.
__ADS_1
Rendi terlihat sangat emosi. Tangannya mengepal. Dadanya naik turun menahan amarah.
Ingin sekali Rendi menonjok muka Tono. Tapi Sari menahannya. Sari memegangi tangan Rendi yang siap melayang ke wajah Tono.
"Apa? Kamu mau membunuhku? Kamu tega melihat anak di perut Tania tak memiliki ayah, hah?" ucap Tono lagi.
"Sudahlah, Ren. Jangan dengarkan omongan tua bangka yang udah bau tanah ini." Sari ikut-ikutan mengatai Tono karena kesal.
"Biar tua bangka, tapi aku masih strong. Masih bisa memuaskan istriku. Dan masih bisa membuat anak lagi," sahut Tono.
Sari menghela nafasnya.
"Ya udah, sekarang apa maumu?" tanya Sari.
"Aku mau ambil sertipikat rumahku," jawab Tono.
"Ambilah. Setelah itu pergi yang jauh, dan jangan pernah kembali. Aku akan menggugatmu ke pengadilan agama," sahut Sari.
Dia sudah tak sudi lagi menjadi istri Tono. Toh, Rendi sudah dewasa. Tak perlu lagi Sari menjaga perasaan anaknya ini.
Sari hanya ingin hidupnya lebih tenang lagi. Tak diganggu oleh penjahat wanita seperti Tono.
Tono benar-benar mengambil sertipikat rumahnya yang dia simpan di lemari. Selama ini Sari tak pernah bisa membuka lemari itu. Karena Tono menyimpan sendiri kuncinya.
Sari dan Rendi menunggu Tono di ruang tamu.
"Udah?" tanya Sari dengan suara ditenang-tenangkan.
"Udah. Terima kasih," sahut Tono.
"Aku pamit."
Tak ada yang menjawab. Baik Sari maupun Rendi sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing.
Sari terus menggenggam tangan Rendi. Berusaha menguatkan anaknya. Meski dia sendiri sebenarnya sangat sakit.
Hatinya kembali terluka. Luka yang kemarin-kemarin sudah mulai sembuh, kini terkoyak lagi.
Rendi pun seperti melayang entah kemana. Dia seperti tak berpijak di bumi.
Harapannya sirna. Semua rencana yang telah disusunnya hancur berantakan.
Hatinya sangat sakit mendengar ocehan Tono.
"Sudahlah, Ren. Tak perlu disesali. Mama bilang juga apa? Ujung-ujungnya yang dicari Tania tetap uang," ucap Sari setelah Tono pergi.
"Enggak, Ma. Papa bohong! Tania bukan gadis matre. Bohong itu semua!"
__ADS_1
"Matre apa enggak, kenyataannya sekarang Tania sedang hamil. Anak papamu. Sadarlah, Ren. Lupakan Tania. Dia sudah bahagia dengan harta papamu. Raih kebahagiaanmu sendiri." Sari terus menggenggam tangan Rendi.
Rendi duduk di sofa dengan lemas. Semangatnya kembali sirna. Akibat hasutan Tono.