HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 36 SEMBUNYI DULU


__ADS_3

Semalaman Tania tidak bisa tidur. Dia bingung bagaimana menghadapi Rendi besok sore.


Haruskah dia datang memenuhi undangan mamanya Rendi? Atau mangkir dan mengecewakan mereka.


Tapi datang atau tidak, Tania tetap akan membuat mereka kecewa.


Hingga pagi, pamannya tak juga memberikan solusi.


Jam delapan pagi, Tania baru bangun. Karena semalaman dia hanya membolak balikan badannya saja.


Baru saja selesai mandi, Tono sudah datang. Dia mengantarkan seperangkat alat sholat untuk rangkaian seserahan.


Karena Danu dan Eni sedang pergi, terpaksa Tania yang menemui Tono.


"Kemana paman dan bibimu?" tanya Tono melihat rumah yang sepi.


"Ke pasar!" sahut Tania ketus.


"Kamu sendirian di rumah?" tanya Tono.


Perasaan Tania mulai tidak enak. Mau apa ini si bandot tua.


Tania menggeser duduknya karena Tono mulai bergeser juga mendekatinya.


Hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa inchi lagi.


"Mau apa, kamu?" Tania ketakutan.


"Mau...mencium aroma tubuh calon istriku," jawab Tono.


Wajahnya sudah didekatkan pada Tania dengan hidung mengendus-endus mirip anj*ng pelacak. Membuat Tania semakin ketakutan.


"Jangan takut, Cantik. Aku calon suami kamu," ucap Tono. Lalu tangannya menowel dagu Tania dan langsung ditepis oleh Tania.


Tono semakin mendekat.


"Jangan mendekat! Atau aku akan berteriak!" ancam Tania.


"Teriak saja. Tak akan ada yang mendengar. Semua telinga tetanggamu sudah aku ganjal dengan uang," ucap Tono.


Dan....Cup.


Tono berhasil mengecup pipi Tania. Tania yang semakin ketakutan langsung berdiri dan hendak berlari.


Tapi tangan Tono segera meraihnya. Hingga tarik menarik tangan Tania tak terelakan.


Tania merasakan tangannya sakit, sampai dia hampir menangis.


Tapi malah semakin membuat Tono gemas.


"Menangislah, Cantik. Malah semakin menggemaskan."


Tono menarik lebih keras tangan Tania. Dan...Brugh. Tubuh Tania jatuh tepat di pelukan Tono.


Tono memeluk erat tubuh Tania dan menciuminya seperti seorang bapak yang gemas dengan anak balitanya.


Tania berusaha terus menghindar dengan terus menundukan wajahnya, dan menangkup dadanya dengan kedua tangannya.


"Lepaskaan...!" Tania terus menjerit sambil menangis sampai akhirnya Tono melepaskannya dan Tania berlari masuk ke kamarnya.


Tono hendak pergi meninggalkan rumah Tania. Danu dan Eni pas kembali.


"Lho, kamu ada di sini?" tanya Eni yang kaget melihat Tono sudah ada di dalam rumahnya.

__ADS_1


"Mana Tania?" tanya Eni lagi.


Tono pura-pura tidak tahu. Lalu pamit pulang. Danu menatapnya curiga, karena dilihatnya pakaian Tono agak berantakan.


Danu segera mengetuk pintu kamar Tania. Sementara Eni berdiri di belakangnya.


Mereka berdua mendengar isakan Tania. Lalu keduanya berpandang-pandangan.


"Tania! Tania!" Eni berteriak memanggil Tania sambil menggedor-gedor pintu.


"Tania!" Danu ikutan panik.


Tak lama Tania membuka pintu kamarnya. Wajahnya memerah dan masih terisak.


Eni langsung memeluk tubuh keponakannya.


"Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?" tanya Eni penuh rasa khawatir.


Danu pun panik. Dia takut Tania diapa-apain oleh Tono saat mereka meninggalkannya.


Tania mengeratkan pelukannya. Tania merasa sangat ketakutan.


"Ada apa? Cerita sama Bibi," ucap Eni dengan panik.


"Tania...Tania takut, Bi," ucap Tania sambil sesenggukan.


"Takut kenapa? Tono berbuat apa tadi?" tanya Eni dengan tegang.


"Dia...Dia tadi...menarik tangan Tania dan menciumi Tania. Tania...takut Bi," jawab Tania masih sesenggukan.


"Bangsat itu orang! Terus kamu diapakan lagi?" tanya Danu penuh kemarahan.


Tania menggeleng.


Eni lalu membimbing Tania duduk di kursi ruang tamu.


"Biar nanti Paman yang akan menegurnya. Kalau perlu menghajarnya!" sahut Danu penuh kemarahan. Dia lupa kalau Tono akan menjadi suami keponakannya beberapa hari lagi.


"Ditegur saja, Pak. Jangan main hantam. Bisa berabe urusannya."


Eni berusaha mengingatkan. Danu baru sadar. Dia menepuk dahinya sendiri. Lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Sudah, kamu tenang saja. Nanti kami yang akan menegur Tono," ucap Eni berusaha menenangkan keponakannya.


Tania mengangguk, lalu menghapus air matanya.


Tania kembali ke dalam kamarnya. Ingin rasanya mengadu kepada Rendi, tapi itu tidak mungkin.


Tania pun belum berani mengaktifkan ponselnya. Dia hanya memandangi saja ponsel yang dari kemarin off.


"Bagaimana ini, Pak?" tanya Eni pada suaminya.


"Entahlah, Bu." Danu tak bisa berbuat apa-apa.


"Baru dipeluk saja takut, bagaimana nanti kalau jadi istrinya?" Eni memegangi kepalanya, bingung mesti bagaimana.


"Nanti aku akan bicarakan sama Tono. Biar bisa sabar menghadapi anak perawan," sahut Danu.


"Buatkan aku kopi, Bu. Pusing kepalaku," pinta Danu.


Eni pun ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya.


"Kamu sudah dapat wangsit, Pak?" tanya Eni setelah meletakan kopi di meja depan suaminya.

__ADS_1


"Wangsit apa?" tanya balik Danu. Dia lupa dengan omongannya semalam. Karena dia hanya asal omong saja.


"Kamu gimana sih? Semalam katanya mau cari wangsit!" sahut Eni dengan kesal.


"Wangsit yang mana?" Danu menyeruput kopinya, lalu menyalakan rokok.


"Tentang acara mamanya Rendi nanti sore. Tania mesti bagaimana?" Eni berusaha mengingatkan suaminya.


"Oh iya!" Danu menepuk lagi dahinya.


"Aku sampai lupa. Begini saja, Bu. Untuk sementara kalau perlu mulai hari ini, kita jauhkan Tania dari Rendi. Tania jangan pernah menghubungi Rendi lagi," ucap Danu.


"Bagaimana kalau Rendi ke sini?" tanya Eni cemas.


"Sementara Tania kita titipkan saja dulu di rumah mbak Widya. Hape Tania matikan dulu. Itu juga buat mengamankan Tania dari Tono," sahut Danu.


"Apa Tania mau?"


"Ya harus mau. Daripada nanti malah juga diganggu Tono terus?"


"Malam minggu kita jemput Tania pulang. Beres kan?" Danu merasa idenya jitu.


"Sebentar, aku tanya anaknya dulu." Eni beranjak dari duduknya.


"Gak usah ditanya. Suruh langsung siap-siap saja. Keburu Rendinya datang," ucap Tono.


Eni beranjak dari duduknya dan menghampiri Tania di kamarnya.


"Tania sudah dengar, Bi," ucap Tania.


"Lalu?" Eni duduk di ranjang Tania.


"Tania menurut saja apa kata paman. Toh, Tania ketemu mamanya Rendi pun tak akan merubah apapun," ucap Tania dengan sedih.


Eni meraih tubuh Tania dan memeluknya erat.


"Maafkan kami, Sayang." Eni tak mampu lagi membendung air matanya.


Sebagai sesama perempuan, Eni sangat memahami perasaan keponakannya.


"Tidak apa-apa, Bi. Kalian tidak salah. Takdir kita yang salah," sahut Tania menundukan wajahnya.


Ya, Tania memang masih menyalahkan takdirnya. Anak remaja seusianya belum bisa berfikir dewasa. Bahwa Allah akan memberi yang terbaik buat hambanya. Dan Allah tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambanya.


Apalagi, paman dan bibinya tak pernah memberinya pelajaran tentang agama yang baik.


Mereka hanya orang awam yang merasa ber-Tuhan. Tapi tidak paham apa kewajiban sebagai manusia yang ber-Tuhan.


"Kamu yang kuat, ya. Bibi dan paman akan selalu melindungimu. Tapi kamu harus janji, bilang sama kami apa yang terjadi sama kamu."


Tania hanya mengangguk.


"Terima kasih, Bi."


Eni melepaskan pelukannya.


"Sekarang kamu siap-siap. Malam ini kita akan menginap di rumah budemu."


Eni juga akan ikut menginap. Dia juga belum punya nyali untuk menghadapi Rendi.


"Kamu mau ikut menginap juga, Bu?" tanya Danu yang ternyata sudah ada di pintu kamar Tania.


Eni mengangguk.

__ADS_1


"Ya sudah, aku juga ikut!" sahut Danu.


__ADS_2