HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 291 HATI SELUAS SAMUDERA


__ADS_3

"Heh! Ngaku kamu! Kamu kan yang menguntitku? Kamu kan yang mengambil foto itu?" bentak Dito pada Monica yang sedang berusaha bangun.


Sebenarnya Dito ingin sekali menendang tubuh Monica. Tapi sebagai lelaki, tak pantas menganiaya wanita. Meskipun yang dilakukan Monica sudah kelewatan.


Monica bangun dan berdiri. Dia kibas-kibaskan tangan dan pakaiannya yang berpasir.


Lalu dengan tanpa rasa berdosa, dia menatap Dito dengan tajam.


Dito membalas tatapan Monica lebih tajam lagi.


Kalau lelaki, udah aku habisin kamu! Dasar wanita sialan! Maki Dito dalam hati.


Mike paham kenapa Dito tak memghajar Monica saat itu juga. Lalu dia yang maju.


Sebagai istri Dito, dia juga tak terima kalau suaminya difitnah seperti itu.


Mike mendekati Monica, lalu mencengkeram kerah kemeja ketat Monica.


"Kamu mau merusak hubunganku dengan suamiku, hah!" bentak Mike.


Monica berusaha melepaskan tangan Mike. Tapi sayangnya cengkeraman tangan Mike sangat kuat.


Dan satu tangan Mike melayang ke pipi mulus Monica.


Plak!


Plak!


Dua tamparan membuat tubuh Monica oleng. Dan Mike langsung menghempaskan tubuh Monica yang sudah oleng, hingga kembali terjerembab.


"Auwh!" teriak Monica.


Namun kembali tak ada yang mempedulikannya.


Tono melepaskan genggaman tangannya pada Tania. Tania langsung berlari mendekati Mike.


"Udah, Mik. Tahan emosimu. Ini di tempat umum!" ucap Tania sambil menahan Mike yang akan kembali menghajar Monica.


"Biarin aja! Biar kapok dia!" sahut Mike dengan nafas terengah-engah.


"Tapi, Mik...."


Belum sempat Tania bicara, Mike sudah memotongnya.


"Kenapa? Kamu kuatir wanita gila itu lapor polisi?" tanya Mike dengan tatapan masih beringas pada Monica.


Tania mengangguk. Jujur, Tania tak mau sahabatnya ini sampai berurusan dengan pihak berwajib dengan tuduhan penganiayaan.


"Kamu pikir aku takut? Suruh saja wanita gila itu lapor polisi! Mau sampai manapun aku ladenin!" tantang Mike.


Mike bukan menantang Tania. Tapi lebih ditujukan pada Monica.


Monica kembali berusaha berdiri. Badannya terasa remuk redam.


Monica melihat ke sekelilingnya. Ingin rasanya dia kabur. Tapi rasanya tak mungkin.


Di sekelilingnya, berdiri banyak lelaki bertubuh tegap. Yang siap menangkapnya kalau dia kabur.


"Udah, Mik. Cukup. Dia udah kesakitan," ucap Rendi yang dari tadi hanya diam saja.


Sari pun tak bicara apa-apa. Dia merasa malu, juga kesal. Karena Monica telah memanfaatkannya.

__ADS_1


Mike menatap Rendi sekilas. Ada rasa kesal juga pada Rendi yang dengan mudahnya dipermainkan oleh Monica.


Dito mendekati Mike, lalu mendekapnya dari samping kanan. Karena di sisi kiri Mike ada Tania.


"Udah, sayang. Tahan emosimu, ya," bisik Dito di telinga Mike.


Mike mengangguk. Menurut apa kata Dito sebagai suaminya.


"Ma. Sebaiknya Mama minta maaf pada mereka," ucap Rendi pada Sari.


"Bukan Mama yang harus minta maaf. Tapi, tuh!" Sari menunjuk ke arah Monica.


Monica menundukan wajahnya. Dia sudah merasa mati kutu. Tak ada satu orangpun yang membelanya.


Tapi meski begitu, Monica masih merasa sangat membenci Tania. Bahkan dia masih ingin menyingkirkan Tania dengan cara lain.


"Pergilah kamu dari sini! Dan ingat! Jangan pernah ganggu kami lagi! Kalau itu sampai terjadi, aku yang akan membunuhmu!" ancam Rendi pada Monica.


Saat ini memang Rendi belum bisa berbuat apa-apa. Fisiknya masih belum sembuh. Hingga terpaksa sekuat mungkin Rendi menahan amarahnya pada Monica.


Monica menatap Rendi dengan tatapan memelas. Dia berharap dengan begitu, Rendi akan luluh padanya.


"Kamu enggak budeg, kan?" tanya Rendi karena Monica tak juga beranjak.


Dan Monica masih bergeming.


"Bang Diman! Bang Wardi! Seret wanita itu! Singkirkan dia jauh-jauh!" perintah Rendi pada centeng Tono.


"Siap, Mas Rendi!" sahut keduanya.


"Enggak... Enggak! Aku bisa pergi sendiri!" sahut Monica.


Dan Monica pun pergi dengan langkah masih penuh kesombongan. Seolah dia orang yang paling kuat dan tak bersalah sama sekali.


Rendi menghela nafasnya dalam-dalam.


"Udah selesai kan masalahnya, Ma?" tanya Rendi pada Sari.


"Iya. Dan sekarang kamu pulang sama Mama," jawab Sari.


"Enggak, Ma. Rendi pulang sama Tania. Kalau Mama mau bareng, ayo," sahut Rendi.


"Enggak! Mama enggak mau!" tolak Sari.


"Pulanglah, Ren. Aku nanti gampang," ucap Tania menengahi.


Tania tak mau kalau Sari akan kecewa pada Rendi dan malah semakin membencinya.


"Enggak, Tania. Aku pulang sama kamu!" sahut Rendi kekeh.


"Mama enggak bawa kendaraan, Ren," ucap Sari.


"Kalau begitu, biar pak Yadi yang mengantar Mama pulang. Rendi gampang nanti," sahut Rendi.


"Rendi!" seru Sari.


"Kamu pulang sama aku. Biar Rendi nanti saja," ucap Tono pada Sari. Tono siap.mengantarkan Sari, daripada membuat masalah lagi.


"Enggak mau! Aku mau pulang sama Rendi dan naik mobilku sendiri!" sahut Sari ketus.


"Ma! Tolong jangan paksa Rendi terus. Rendi udah dewasa, Ma. Rendi berhak atas diri sendiri!" ucap Rendi.

__ADS_1


"Jadi maksudmu, Mama udah enggak punya hak lagi padamu?" tanya Sari.


"Bukan begitu, Ma...!" Rendi tak bisa menjelaskannya lagi pada Sari.


"Terus apa? Kamu lebih memilih wanita itu?" Sari menunjuk Tania tanpa menatapnya.


"Ma! Tania calon istri Rendi. Calon menantu Mama," ucap Rendi.


"Cuih!" Sari meludah dengan kasar.


Tania terkesiap. Meski Sari tak membuang ludah ke arahnya, tapi itu ditujukan padanya.


"Mama tak akan sudi!" seru Sari.


Widya yang dari tadi sudah menahan emosinya, tak bisa lagi menahan diri.


Lalu dia berjalan ke arah Tania.


"Kita pulang! Kita masih mampu membayar taksi!" ucap Widya sambil menarik tangan Tania.


Sebagai bagian keluarga Tania, Widya merasa sangat terhina dengan ucapan Sari.


"Silakan! Siapa yang melarang orang seperti kalian naik taksi? Memang bisanya cuma itu, kan?" Sari benar-benar menghina keluarga Tania.


"Ma!" bentak Rendi pada Sari.


Tono pun tak bisa menguasai emosinya lagi. Dia mendekati Sari, lalu menyeret tangan Sari agar segera pergi dari situ.


"Pulang kamu!" bentak Tono.


"Apa-apaan sih, kamu!" Sari berusaha menepis tangan Tono.


Tapi tenaga Sari kalah kuat. Dia terseret oleh Tono. Dan dengan terpaksa mengikuti langkah Tono sambil terus bergumam.


"Tania...!" panggil Rendi.


Tania menoleh ke arah Rendi. Rendi sudah berusaha berdiri. Dan dengan langkah yang masih kepayahan, Rendi berusaha mendekati Tania.


Tania tak tega melihatnya. Dan dia pun melepaskan genggaman tangan Widya.


Lalu menghampiri Rendi.


Begitu Tania sudah dekat, Rendi langsung membuka satu tangannya. Dia ingin mendekap Tania.


Tania pun mengerti, dan langsung memeluk Rendi.


"Maafkan mamaku, ya," ucap Rendi.


Tania mengangguk.


"Bukan mama kamu yang salah, Ren. Tapi Monica," sahut Tania.


Meski hatinya sudah disakiti oleh ucapan Sari, tapi Tania masih saja tak mau menyalahkan Sari.


"Terima kasih, sayang. Hatimu sungguh mulia. Seluas samudera," ucap Rendi penuh haru.


"Hhmm! Gombal lu! Tadi aja, nuduh yang enggak-enggak!" ucap Dito.


Rendi yang masih memeluk Tania, menatap Dito dengan geram.


"Apa lu...!"

__ADS_1


__ADS_2