
"Kalau begitu, berikan hapemu ke om dan tante," pinta Rendi pada Tania.
Padahal saat itu hape dalam mode louds speaker on. Tapi Tania reflek memberikan ponselnya pada Danu dan Eni.
"Hallo, Rendi," sapa Danu duluan.
"Iya, Om. Tante juga bisa denger suara saya, ya?" tanya Rendi memastikan. Agar masalahnya bisa segera selesai.
Rendi tak mau kalau hubungannya dengan Tania ada yang mengganggu lagi. Masalah dengan mamanya saja belum ada titik temu.
"Iya, denger," jawab Eni yang duduk di sebelah Danu.
"Baik. Sekarang saya mau klarifikasi. Biar lebih jelas."
Lalu Rendi menceritakan tentang hubungannya dengan Monica beberapa saat yang lalu, sebelum akhirnya bertemu Tania lagi.
Rendi juga mengatakan sejauh mana hubungan mereka. Tak ada yang ditutupi kecuali tentang hal-hal yang memang sangat pribadi.
Tak mungkin Rendi menceritakannya. Nanti malah Tania salah persepsi. Dan menganggapnya sudah melakukan dengan Monica.
Tono pun ikut menyimak cerita Rendi. Dia juga mau tahu sampai sejauh mana hubungan Rendi dengan wanita yang bernama Monica itu.
Danu dan Eni manggut-manggut. Tanpa mereka sadari kalau Rendi tak akan melihatnya.
"Gimana? Tante dan om udah paham kan?" tanya Rendi.
"Tapi bagaimana kalau Monica benar-benar hamil?" Eni masih saja khawatir.
"Biarin aja, Tante. Kan bukan perbuatan Rendi. Jadi kenapa Rendi yang mesti tanggung jawab?" tanya Rendi.
"Yakin bukan kamu yang melakukannya?" Danu merasa masih kurang yakin.
"Bukan, Om. Kalau saya yang melakukannya, kenapa Monica enggak datang langsung ke saya? Kenapa mesti ke Tania?" sahut Rendi.
Danu kembali manggut-manggut. Benar juga apa yang dikatakan Rendi, batin Danu.
Eni menatap Danu dengan perasaan aneh. Karena paham kalau Rendi tak akan bisa melihat Danu yang manggut-manggut.
"Udah? Percaya?" tanya Eni pada Danu.
"Untuk sementara udah," jawab Danu.
"Lho, kok sementara?" tanya Tania.
Di seberang sana juga pertanyaan yang sama meluncur dari mulut Rendi. Sebab ponsel Tania masih pada mode panggilan.
"Iya. Kita lihat aja nanti. Kita kan belum tau kelanjutannya," jawab Danu.
Lalu Danu meletakan ponsel Tania di meja. Dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Perasaannya lagi tak menentu. Tadi di rumah Sari dia diperlakukan tak enak. Sekarang malah ada kabar yang lebih tak enak lagi.
Tania dan Eni saling berpandangan. Lalu Tania mengambil ponselnya.
Ponsel Tania masih dalam mode panggilan.
"Hallo, Ren," ucap Tania. Memastikan Rendi masih ada di seberang telepon.
"Iya, Sayang," sahut Rendi.
Tono naik ke kamar atas. Kamarnya Rendi yang untuk sementara ditempatinya. Karena Rendi belum bisa naik turun.
Sebenarnya masih ada satu kamar besar lagi di atas. Tapi Tono lebih suka tidur di kamarnya Rendi.
Rendi kembali asik ngobrol dengan Tania lewat telpon. Sedikit-sedikit Rendi berusaha meyakinkan Tania kalau apa yang disampaikan Monica hanya bohong belaka.
Meskipun Tania sudah merasa yakin, tapi Rendi masih saja merasa khawatir.
"Mila. Coba kamu lihat papa di atas," ucap Rendi pada Mila yang kebetulan lewat.
"Siap!" Mila pun naik ke lantai dua.
Sampai di depan pintu kamar, langkah Mila terhenti. Dia melihat Tono sedang menangis.
Mila kebingungan sendiri. Tak tau apa yang mesti dilakukannya.
Mila masih terdiam di tempatnya. Sampai kemudian Tono menoleh.
Tono segera menghapus air matanya. Lalu mencoba bersikap biasa saja.
"Bapak kenapa?" tanya Mila. Perlahan dia dekati Tono.
"Enggak apa-apa," jawab Tono.
Mila mengangsurkan tissue yang ada di kamar Rendi. Tono meraihnya dan menyusut ingus yang hampir saja keluar.
"Makasih Mila." Tono menyingkirkan tissue bekasnya.
"Bapak baik-baik aja?" tanya Mila pelan. Bagaimana pun dia merasa khawatir juga.
Mila sudah menganggap Tono dan Sari seperti orang tuanya sendiri.
"Mil. Apa penyakitku ini bisa disembuhkan?" Tono malah balik bertanya.
Mila duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur. Kursi itu sengaja dibawa masuk ke kamar Rendi. Untuk duduk Mila kalau lagi mengurus Tono.
"Bisa, Pak. Asal Bapak rajin kontrol dan minum obatnya. Bapak enggak lagi berhubungan badan, kan?" tanya Mila.
Mila tak bisa memastikannya, karena kadang Tono pergi sendiri entah kemana.
__ADS_1
Tono menggeleng. Setelah mengetahui dia mengidap penyakit memalukan itu, Tono tak pernah lagi tertarik pada wanita.
"Bagus. Itu salah satu yang bisa membuat Bapak cepat sembuh. Dan juga tak menularkan virus penyakit itu pada orang lain," sahut Mila.
"Kalau soal obat, biar itu jadi tanggung jawab saya, Pak. Yang penting Bapak tetap kontrol sesuai anjuran dokter. Soalnya saya tak bisa mengantar Bapak ke rumah sakit. Tugas saya masih harus mengawasi mas Rendi," lanjut Mila.
"Iya, Mil. Aku selalu mematuhi anjuran dokter. Tapi badanku rasanya udah enggak kuat lagi," ucap Tono.
"Pak. Jangan bilang begitu, ah. Bapak harus semangat biar cepat sembuh. Obat saja tak akan cukup menyembuhkan. Perasaan Bapak juga harus tetap bahagia dan optimis," ucap Mila.
Meski hanya sebagai pembantu perawat, Mila sering memberi motivasi pada para pasien. Mila paling suka kalau berinteraksi langsung dengan pasien.
Salah satu sebabnya, karena Mila tergolong gadis yang bawel. Banyak omong. Tapi itu yang membuatnya banyak disukai pasien.
"Iya, Mil. Tapi bagaimana aku bisa bahagia, kalau anakku saja belum bahagia," ucap Tono.
"Mas Rendi maksudnya?" tanya Mila.
"Iya. Siapa lagi? Anakku cuma Rendi. Dia satu-satunya harapanku. Aku ingin Rendi bisa hidup bahagia dengan Tania," jawab Tono.
"Ya tinggal dinikahkan saja, apa susahnya?" Mila belum tahu masalah yang sebenarnya.
"Masalahnya enggak semudah itu, Mila. Kamu tau sendiri kan, sikap ibu kayak apa," ucap Tono.
Mila mengangguk. Yang Mila tahu hanya Sari tak setuju hubungan antara Tania dan Rendi. Alasannya apa, Mila belum paham.
"Ibu melum mau menyetujui hubungan mereka," ucap Tono.
Mila merasa sekaranglah saatnya dia mengorek keterangan dari Tono tentang semua yang jadi pertanyaannya.
"Kalau boleh tau, apa alasan bu Sari tak menyetujuinya?" tanya Mila dengan sopan.
"Kamu belum tau masalahnya?" Tono balik bertanya.
Mila menggeleng.
Lalu Tono pun menceritakannya pada Mila, semua yang terjadi pada keluarganya. Yang pada akhirnya membuat Sari tak menyetujui hubungan Tania dengan Rendi.
Mila ternganga mendengarnya. Dia tak menyangka kalau ternyata Tono yang setua itu telah menikahi Tania.
"Terus sekarang, bagaimana nasib pernikahannya?" tanya Mila.
Karena yang Mila tahu, Tono tak tinggal serumah dengan Tania. Dan Tania begitu cuek dengan Tono.
"Aku lagi mengurus perceraian. Biar Tania bisa menikah dengan Rendi. Aku ingin mereka bahagia, Mil," jawab Tono.
Apa karena Tania pernah menikah dengan Tono, yang membuat Sari tak menyetujui hubungan mereka?
Mila hanya bisa menebak-nebak saja. Sebab, Tono pun tak tahu alasan pastinya.
__ADS_1