HUBUNGAN TERLARANG

HUBUNGAN TERLARANG
Bab 76 BERTEMU TANIA


__ADS_3

Mike sampai di depan pintu gerbang. Dadanya bergemuruh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Mike merasa seperti maling yang mau beraksi.


Beruntung di pintu pagar, ada bel. Jadi Mike tak perlu teriak-teriak, atau memukul pintu pagar dengan batu yang sudah disiapkan oleh Dito.


Mike menekan bel sekali. Tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.


Lalu Mike menekannya sekali lagi. Barulah pada bel ketiga, Yahya mendatangi pintu gerbang.


"Mau cari siapa, ya?" tanya Yahya.


Tak jauh dari rumah itu, Dito merekamnya. Untuk berjaga-jaga kalau saja ada kejadian diluar skenario mereka.


Dan nantinya, Dito akan memberikan video itu pada Rendi.


"Saya dari perusahaan kosmetik, Pak. Mau menawarkan produk terbaru kami. Ibunya ada?" tanya Mike.


Yahya memperhatikan penampilan Mike yang terlalu seksi dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Cleguk!


Yahya menelan ludahnya. Pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan indah. Meski hanya dari balik gerbang.


Mike mengangguk dan tersenyum nakal. Meski Mike yakin kalau yang menemuinya ini bukan si pemilik rumah. Tapi Mike belum pernah bertemu langsung dengan papanya Rendi.


Mike hanya berharap lelaki setengah baya ini terkesima dengannya dan mau membukakan pintu gerbang.


"Mm...Ada. Tapi saya tanyakan dulu, ya. Ibunya mau apa enggak," jawab Yahya.


"Baik, Pak. Saya tunggu di sini?" tanya Mike. Dia berharap si bapak tua ini mau membuka pintu gerbang untuknya.


Yahya mengangguk, lalu pergi meninggalkan Mike. Mike hanya menghela nafasnya.


Cahaya matahari pagi cukup menyengat kulit putih mulus Mike. Tapi Mike berusaha menahannya, demi kelancaran misinya.


Ternyata begini rasanya jadi sales door to door. Mesti sabar dan tahan panas. Batin Mike.


Mike tak berani menoleh ke arah mobilnya. Dia khawatir ada CCTV yang melihat gelagatnya. Jangan sampai misinya gagal karena dia mencurigakan.


"Pak, ada sales kosmetik mau menawarkan produknya buat Neng Tania. Apa boleh masuk?" tanya Yahya pada Tono yang baru selesai sarapan bersama Tania.


"Sepagi ini?" tanya Tono.


Yahya mengangguk.


Tono menatap Tania yang hanya diam saja. Bagi Tania, dia lebih baik diam. Karena semua keputusan ada di tangan Tono.


"Kamu mau?" tanya Tono.


Tono kasihan juga pada Tania yang tak pernah membeli kosmetik sama sekali. Karena dia tak pernah mengijinkan Tania keluar rumah.


Bahkan belanja online saja tak bisa, karena Tono tak pernah lagi memberikan ponsel pada Tania.


Tania hanya mengangguk. Mau dibelikan ya dia terima. Enggak pun tak jadi masalah. Karena Tania tak pernah keluar rumah. Jadi untuk apa berdandan. Pikir Tania.


"Ya udah. Suruh dia masuk. Di teras aja!" ucap Tono pada Yahya.

__ADS_1


Tono tak pernah mengijinkan orang asing masuk ke dalam rumahnya. Hanya orang-orang kepercayaannya saja.


"Baik, Pak."


Yahya bergegas kembali ke gerbang. Lalu membuka gembok dan mempersilakan Mike masuk.


"Silakan masuk. Tunggu di teras saja," ucap Yahya.


Mike bernafas dengan lega. Akhirnya penantiannya berdiri beberapa menit di depan pintu gerbang, tak sia-sia.


Dengan langkah gemulai, Mike berjalan mengikuti Yahya. Yahya malah menunggu Mike sampai di sebelahnya biar dia bisa berjalan beriringan.


"Mbaknya cantik. Kok mau jadi sales sih?" tanya Yahya setelah Mike sampai di sebelahnya.


"Namanya juga kerja, Pak. Apa saja yang penting halal," jawab Mike.


Yahya menoleh dan memandang Mike dengan tatapan nakal. Ingin sekali Mike mencolok matanya.


Udah tua masih saja ganjen. Kalau bukan karena misiku, aku enggak sudi jalan bareng. Batin Mike kesal.


"Silakan duduk. Saya panggilkan ibu," ucap Yahya setelah sampai di teras.


Mike mengangguk, lalu duduk di kursi teras. Yahya kembali menatap Mike, lalu masuk ke dalam.


Ibu? Apa Tania disini dipanggil ibu? Atau itu bukan Tania? Tanya Mike dalam hati.


Ah, terserahlah. Kalau itu bukan Tania, ya aku akan buru-buru kabur dengan alasan mengambil katalog di mobil. Batin Mike.


"Pak, salesnya sudah menunggu di teras," ucap Yahya.


"Ayo. Aku temani. Kalau kamu tertarik, beli aja apa yang kamu mau," ajak Tono.


Tania berdiri dan berjalan ke teras mengikuti Tono.


"Selamat pagi, Bapak. Ibu...." Mata Mike terbelalak menatap wajah Tania.


Ya. Itu Tania! Batin Mike.


Tapi rupanya Tania yang tak begitu memperhatikan wajah Mike, hingga tak bisa mengenalinya.


Apalagi penampilan Mike sangat berbeda. Mike tampil mirip wanita dewasa dengan make-up tebal. Agar meyakinkan kalau dia benar-benar seorang sales kosmetik.


Dan juga sudah lama Tania tak bertemu Mike.


Tono yang dasarnya mata keranjang, menatap wajah cantik Mike dengan tajam.


Hhm....cantik banget. Seksi juga. Tania harus beli produknya biar aku punya alasan meminta nomor hapenya. Batin Tono.


Mike merasa risi ditatap seperti itu. Dia jadi salah tingkah. Belum lagi Mike masih terperangah karena bisa melihat Tania lagi.


Ini suaminya Tania? Papanya Rendi? Busyet, tua amat. Batin Mike.


Tono duduk di kursi sebelah kursi yang diduduki Mike.


Tania hanya mengangguk dan duduk di sebelah Tono.

__ADS_1


Tono menggeser duduknya. Biar lebih dekat dengan Mike. Tania tak mempedulikannya.


Hanya mengumpat saja dalam hati. Dasar tua bangka tak tahu diri!


"Ehem. Ada apa, ya?" tanya Tono, karena Mike tak juga buka suara.


"Oh, iya. Maaf. Saya dari perusahaan kosmetik, Pak. Mau menawarkan produk terbaru kami," ucap Mike.


Tania terkejut mendengar suara Mike. Dia merasa pernah mengenali suara itu. Tapi di mana?


Tania menoleh ke arah Mike yang sedang membuka tasnya. Mike mau mengeluarkan beberapa sample produk yang akan ditawarkan.


Sebenarnya itu milik Mike sendiri. Beberapa masih baru dan bersegel, karena Mike belum sempat memakainya.


Dan kebetulan, kosmetik Mike dari satu brand. Jadi memudahkan penyamarannya.


"Kursimu pindahkan ke depanku saja. Biar Tania gampang melihat barangnya," ucap Tono.


Padahal maksud Tono, biar dia bisa menatap Mike dengan mudah.


"Baik, Pak," sahut Mike menurut.


Tania mendengar lagi suara Mike. Dia berusaha terus mengingatnya.


Mike berdiri dan menggeser kursinya tepat di hadapan Tania. Bukan di depan Tono seperti perintah tadi.


Mike? Tanya Tania dalam hati. Dia mempertajam matanya setelah Mike kembali duduk.


Mike mengedipkan satu matanya ke arah Tania. Memberi kode agar Tania pura-pura tak kenal.


Tania tersenyum. Mengerti maksud Mike.


Mike mulai mengeluarkan beberapa kosmetiknya. Mata Tono terus saja memperhatikan tubuh seksi Mike yang terbungkus pakaian ketat.


"Ini produk terbaru kami, Bu. Tapi yang saya bawa hanya sample-nya saja. Kalau Ibu berminat, nanti bisa hubungi nomor saya," ucap Mike dengan dada bergemuruh.


Mike takut ketahuan, karena yakin kalau Tania sudah mengenalinya.


Tania mengangguk setuju.


"Ibu bisa mencobanya. Apa mau saya pakaikan? Kebetulan wajah Ibu belum kena make-up hari ini, kan?"


Tania kembali mengangguk.


Ponsel Tono berdering. Lalu Tono mengeluarkan dari kantong celananya. Lalu Tono menjauh.


Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Mike.


"Saya mulai aplikasikan ke wajah Ibu, ya?" Mike sengaja mengeraskan suaranya agar Tono mendengar.


Mike langsung mendekati Tania. Ingin sekali Mike memeluk sahabatnya ini. Tapi ditahannya agar misinya sukses.


Mike hanya memandang wajah pucat Tania, sambil memberikan tanda untuk tak bicara, dengan jarinya.


Tania pun menatap wajah Mike penuh kerinduan. Dan tak terasa air matanya menetes.

__ADS_1


__ADS_2